Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 43. Kita akan melewatinya bersama.



Kamu adalah duniaku. Kamu adalah mataku saat aku tidak bisa melihat. Kamu adalah kakiku saat aku tidak bisa berjalan dan kamu adalah tanganku saatku tak bisa meraba.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Sayang, kenapa sih melamun?". Tanya Kayhan menghampiri istrinya dengan membawa kantong berisi makanan yang dia beli.


"Ehhh, tidak Kak". Ara baru tersadar dari lamunannya.


"Ini". Kayhan menyerahkan sebotol air mineral "Sini aku bantuin". Kayhan membantu Ara meminum air dalam botol kecil itu.


"Terima kasih Kak". Senyum Ara mengembang bahagia, meskipun banyak masalah dan tantangan jika hidup bersama orang yang dicintai semua bisa terlewati.


"Sayang, setelah ini kita cari kontrakan ya". Ucap Kayhan "Uang didompet aku hanya ini, jadi kita tidak bisa sewa Apartement. Tidak apa-apa kan sayang?". Lirih Kayhan terasa berat mengatakan itu pada istrinya. Sambil menunjukkan isi dompetnya. Semua kartu kredit dan kartu lainnya diblokir oleh Bagaskara. Kayhan yang memang jarang memang uang cash hanya ada beberapa saja didompetnya.


Ara tersenyum hangat, lalu mengenggam tangan suaminya "Tinggal dikolong jembatan saja, aku siap Kak. Asal itu bersama Kakak". Goda Ara sambil mengedipkan matanya kearah Kayhan.


"Uw uwu istriku pandai sekali mengombal". Kayhan mencubit hidung Ara dengan gemes.


"Kakak". Ara memukul lengan Kayhan pelan


"Sini, aku bantu elus. Maaf ya sayang, habisnya kau ingin sungguh menggemaskan sekali". Kayhan terkekeh sambil mengelus hidung Ara dengan sayang.


"Apa sebaiknya kita tinggal bersama Kak Roger saja?". Ara sedikit menawarkan dan memberi solusi.


Kayhan menggeleng "Tidak sayang! Kita tidak boleh melibatkan orang lain dalam hubungan kita, walaupun Kak Roger itu Kakak kamu, tidak baik jika kita mengadu padanya. Kita harus menyelesaikan masalah kita sendiri tanpa melibatkan saudara atau orangtua. Ingat ya sayang, masalah apapun yang sedang menghadang rumah tangga kita jangan sesekali melibatkan orang lain. Kita sudah dewasa dan kita harus berani bertanggung jawab terhadap keputusan kita sendiri. Apa kau mengerti sayang?". Jelas Kayhan panjang lebar.


Ara mengangguk tersenyum "Maaf ya Kak. Aku berjanji akan melewati ini bersamamu". Ucap Ara.


Kayhan menyatukan tangannya dengan tangan Ara "Kita akan melewatinya bersama". Balas Kayhan "Ya sudah ayo, kita cari kontrakan". Kayhan berdiri sambil mengambil kopernya. Tangan kanan Kayhan mengenggam erat tangan Ara.


"Ayo Kak". Mereka berdua kembali melanjutkan jalannya.


Hari sudah sore, matahari juga mulai tenggelam ditempat peraduan. Namun kedua pasangan suami istri itu tak juga merasa lelah, keduanya mengobrol saling bercanda ria, seolah tak terjadi apapun pada keduanya.


Kayhan memilih kontrakan sederhana sesuai dengan isi dompetnya, besok dia akan berusaha mencari pekerjaan. Awalnya pemilik kontrakan cukup kaget saat melihat seorang pengusaha kaya raya seperti Kayhan mengontrak padanya. Ingin bertanya tapi tidak enak karena itu hal privasi seseorang.


"Sayang, tidak apa kan tempat nya kecil?". Tanya Kayhan sambil meletakkan kopernya.


"Aku suka Kak". Ucap Ara.


Mereka berdua beberes barang-barang dan menyusun baju didalam lemari yang sudah tersedia.


Kontraknya sederhana itu, hanya terdapat lemari pakaian satu, meja makan dengan dua kursi, lemari kompor dan lengkap dengan kompornya serta beberapa peralatan rumah tangga.


"Sayang, maaf ya kita hanya mampu menyewa tempat ini". Kayhan benar-benar merasa gagal menjadi suami yang tidak bisa membahagiakan istrinya.


"Kak, aku sudah terbiasa hidup sudah. Yang aku khawatir kan itu Kakak yang tidak pernah masuk kedalam rumah sekecil ini". Ara terkekeh melihat wajah cemberut suaminya.


"Baiklah, aku akan belajar membiasakan diri sayang". Ucap Kayhan semangat


"Pasti tidak pernah terbayang seorang CEO tinggal dikontrakkan?". Ejek Ara.


Kayhan terkekeh "Dan sekarang bisa dibayangkan jika CEO itu benar-benar tinggal dikontrakkan, bersama istri kecilnya". Sambung Kayhan lalu mereka berdua tertawa lepas.


Ara menyusun makanan diatas meja, makanan sederhana yang mereka beli tadi.


"Kak, ayo makan". Ajak Ara pada suaminya yang sedang asyik memainkan ponsel.


"Iya sayang". Kayhan meletakan ponselnya lalu mengikuti istri kecilnya menuju meja makan sederhana dengan dua kursi plastik itu.


"Berdoa dulu Kak". Sudah menjadi rutinitas bagi keduanya sebelum makan berdoa, walaupun sebenarnya Kayhan tidak terbiasa tapi setelah menikah dengan Ara pria itu tidak bisa makan tanpa berdoa.


"Sayang, sepiring berdua saja ya. Aku ingin makan disuapin olehmu". Renggek Kayhan manja.


Ara terkekeh dan tertawa kecil melihat suaminya yang suka manja seperti anak kecil itu.


"Sini, sayang ku". Ara menarik kursinya berdekatan dengan Kayhan.


"Sayang, tadi kau panggil aku sayang. Coba ulangi sekali lagi sayang". Kayhan bahagia bukan main saat Ara memanggilnya sayang, karena selama ini memang Ara tidak pernah memanggil dirinya dengan panggilan sayang.


"Tidak".


"Ayolah sayang".


"Tidak".


"Tidak".


"Sekali saja". Kayhan merenggek ingin dipanggil sayang.


Tawa Ara pecah saat melihat ekspresi menggemaskan suaminya. Astaga kenapa pria dingin ini terlihat sangat menggemaskan.


"Iya sayang". Akhirnya Ara mengalah, karena jika tidak mengalah mereka tidak akan makan-makan.


"Terima kasih sayangku". Kayhan mengecup kening Ara dengan gemesnya.


Mereka berdua makan dengan canda dan tawa, saling suap-suapan dan sepiring berdua. Keduanya terlihat bahagia, tanpa memikirkan bahwa mereka sedang menghadapi masalah besar tapi itulah cara keduanya menghadapi masalah agar tidak menjadi beban.


Ara yang dewasa sebelum waktunya sangat pandai mengimbangi Kayhan, mereka berdua selalu kompak jika ada masalah, saling berbagi dan beri solusi tak ada yang disembunyikan satu sama lain.


"Sayang, besok aku akan kerja dan tadi aku sudah menghubungi temanku. Jadi besok aku akan bekerja di caffe". Jelas Kayhan saat mereka sudah berada dikamar dan siap untuk tidur.


"Kakak yakin ingin bekerja sebagai pelayan dicaffe?". Tanya Ara tak percaya.


"Jangan meremehkan kemampuan suami mu ini sayang". Kayhan memincingkan matanya sambil berkedip kearah Ara.


"Jangan memaksakan diri Kak". Jujur Ara panik jika suaminya bekerja ditempat yang tidak ada bakat suaminya sama sekali. Bayangkan seorang CEO terkenal menjadi pelayan caffe.


Kayhan malah terkekeh mendengar ucapan sang istri. Dia menarik Ara masuk dalam pelukkannya, membenamkan wajah istrinya dada bidang miliknya.


"Jangan khawatir sayang, apapun akan aku lakukan demi kebahagiaan mu. Mau aku bekerja jadi apa saja aku siap". Senyum Kayhan membelai kepala istrinya.


"Kak". Mata Ara berkaca-kaca.


"Sayang, boleh aku minta sesuatu?". Ucap Kayhan.


Ara mendongkrak kan kepalanya menatap wajah Kayhan "Apa Kak? Selagi aku memilikinya pasti aku akan memberikannya pada Kakak". Seru Ara dengan penuh keyakinan.


Kayhan tersenyum, tangannya terulur membelai rambut panjang milik Ara "Boleh tidak jangan panggil aku Kakak? Rasanya aku seperti Kakakmu dan bukan suamimu?". Ucap Kayhan sedikit kesal. Kayhan ingin Ara memanggilnya dengan panggilan special yang hanya khusus untuknya.


Kening Ara berkerut "Lalu aku harus panggil apa?". Tanya Ara polos.


Kayhan gemes sendiri dengan ucapan Ara "Terserah asal jangan Kakak".


Ara mengetuk jari dikeningnya, seolah sedang berpikir sangat keras "Aha". Kayhan terjingkrak kaget mendengar pekikkan istrinya.


"Astaga sayang, kau hampir membuatku jantungan. Jangan berteriak". Kayhan mengelus dadanya karena terkejut dengan suara Ara.


"Hehhe maaf Kak, jika suaraku menganggumu". Ara menampilkan rentetan gigi putihnya "Setelah aku berpikir sangat keras jadi aku putuskan memanggil Kakak dengan panggilan Hubby! Bagaimana suamiku apa kau menyukainya?". Ara mengedip-ngedipkan matanya dan itu terlihat menggemaskan dimata Kayhan. Ahh Ara-nya benar-benar gadis yang membuatnya gila.


"Aku sangat menyukainya istriku".


Cup cup cup cup cup cup cup


Kayhan menghujani wajah Ara dengan kecupan bertubi-tubi.


"Kakak geli". Ara tertawa karena merasa geli dengan bibir Kayhan yang menempel diwajahnya.


"Sekali lagi memanggil ku Kakak, aku akan mencium mu". Ancam Kayhan sambil menggelitik Ara.


"Hahahah, iya Hubby iya". Ara menyerah. Keduanya terlihat lelah karena banyak tertawa hari ini. Padahal harusnya mereka menangis, tapi nyatanya keduanya terlihat tanpa beban.


"Tidur yuk sayang". Kayhan menarik tubuh Ara masuk kedalam pelukkannya.


"Selamat tidur Hubby". Ucap Ara sebelum memejamkan matanya


"Selamat tidur istriku tercinta". Kayhan mengecup kening Ara, dan dia juga terlelap dalam tidur nya.


Kasur kecil yang terlihat sederhana itu, hanya mampu menampung dua orang saja. Pasangan suami istri yang selalu berbahagia itu terlelap begitu nyaman saling berpelukan didalam selimut tipis yang membuat keduanya terbang ke alam mimpi.


**Bersambung.........


Bayangin aja kalian udah nikah😂 ya kalau jomblo kan cuma berani ngebayangin aja🤣**


**Salam hangat.


Kayhan ❤️ Kimara**