Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 83. Teknik Bone Marrow Aspiration.



Aku akan kuat apapun yang akan aku hadapi, demi kamu dan untuk kamu....


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Ara berbaring menyamping, disebuah ruangan pemeriksaan. Hari ini dia melakukan suntikan tulang sumsum belakang, untuk mengetahui gejala penyakit yang bersarang di tubuh Ara.


Jolenta, Jovan dan Roger berdiri disamping Ara. Sambil memberi kekuatan pada wanita hamil.


Shella dan Joana saling merangkul dan memberi kekuatan satu sama lain.


Sedangkan Aldo mengenggam tangan Ara. Dia tak mau jauh dari Bunda Ara-nya itu.


"Maaf ya Ra. Ini akan sedikit sakit". Ucap Hansel selaku dokter yang menangani Ara.


Ara mengangguk. Dia mengigit jarinya untuk berusaha terlihat tenang dan takut.


Jarum suntik itu dimasukkan secara perlahan dibagian sumsum Ara. Ara meringgis menahan sakit yang luar biasa.


"Bunda hiks". Aldo menangis melihat Ara yang kesakitan. Tangan kanannya digenggam oleh Aldo, sedangkan tangan kirinya memeluk perutnya.


"Sayang, sini sama Mami". Shella segera mengendong putranya "Kalian temani Ara, aku akan menenangkan Aldo". Ucap Shella.


"Baik".


Roger mengenggam tangan Ara, wanita yang biasa terlihat kuat itu justru kelihatan rapuh dan kesakitan.


"Apa masih lama Han?". Tanya Jovan pada adik iparnya, dia tak sanggup melihat Ara yang kesakitan.


"Tidak lama! Hanya mengambil sampel darah dari sumsumnya". Jawab Hansel.


"Sayang". Roger menggenggam tangan adiknya, menstranfer kekuatan untuk Ara.


Ara memaksakan senyum dengan menahan tangis. Dia tidak mau membuat orang-orang khawatir.


"Harus kuat". Ucap Roger.


Jolenta ikut mendekat. Sedangkan Joana keluar bersama Shella untuk menenangkan Aldo.


"Hai gadis kecil ayo pasti bisa". Jolenta itu menyemangati Ara. Hampir saja air mata Jolenta jatuh saat melihat Ara kesakitan.


Ara mengangguk dengan memaksakan senyum. Dia masih berbaring menyamping, agar lebih mudah mengambil darah dari tulang sumsumnya.


Jovan sampai merinding saat Hansel menarik darah Ara melalui jarum suntik yang menancam ditulang sumsum Ara.


Wajah Ara tampak pucat menahan sakit. Bibirnya sampai bergetar, namun tak ada air mata yang berjatuhan. Ara memang, tidak mau menangis dia tidak mau cenggeng dan dia harus kuat demi anak yang ada didalam kandungan nya.


"Ra". Roger tak mampu menahan tangisnya lagi. Sungguh dia tersiksa melihat Ara kesakitan seperti itu.


Hansel pun selesai mengambil darah Ara dan langsung menyerahkannya pada perawat untuk melakukan tes sampel di laboratorium.


"Bagaimana Ra?". Tanya Hansel pada Ara. Dia juga sudah menganggap Ara sebagai adiknya.


"Rasanya seperti digigit semut Kak". Celetuk.


Mereka terkekeh dan tahu jika Ara hanya berbohong karena terlihat tadi wanita hamil itu kesakitan.


"Setelah ini, Ara akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Jadi untuk sementara sampai hasil nya keluar Ara akan dirawat, nanti kita akan melakukan kemo setelah kondisi Ara stabil".


"Baik". Sahut mereka bertiga bersamaan.


Ara turun dari brangkar dibantu Jovan dan Roger. Kandungan nya yang memasuki Minggu ke dua puluh itu sudah terlihat membesar.


Ara dibawa keruang rawat inap nya. Rawat inap VVIP yang disiapkan oleh Hansel.


Jovan sengaja meminta Hansel untuk menyediakan ruang rawat yang nyaman dan tidak membuat Ara stress. Kasur kecil yang tersedia lengkap dengan selimut, bantal dan beberapa boneka panda yang dibelikan oleh Jovan dan Roger untuk Ara.


"Dimana yang sakit Bunda?". Aldo meneliti tubuh Ara.


"Tidak ada sayang". Balas Ara tersenyum sambil mendudukkan Aldo dibibir ranjang rumah sakit.


"Ado, biarkan Bunda istirahat jangan diganggu dulu". Tegur Shella pada putranya.


Aldo mencibik kesal "Ado, tidak ganggu Bunda. Ado ingin menemani Bunda". Jawab Aldo membela diri. Ara gemes sendiri mendengar jawaban Aldo.


"Ado, mau tidur dipeluk Bunda?". Tawar Ara.


Aldo mengangguk dengan antusias. Pria kecil itu paling suka jika tidur dalam pelukkan Ara.


"Ya sudah sini". Aldo berbaring disamping Ara, dan Ara memeluk pria kecil itu sambil memeluknya supaya tertidur.


Shella menggelleng dengan senyum. Ara memang selalu bisa menghilangkan segala resah didalam diri putranya.


Jovan dan Roger malah mencebik kesal. Aldo seperti seorang suami yang prosesif pada istrinya.


Sedangkan Jolenta menatap tak percaya. Bagiamana Aldo begitu menempel dan menyukai Ara? Terkesan berlebihan malah. Seperti pada Ibu kandungnya sendiri.


Joana hanya tersenyum simpul.


"Maaf Tuan, Dokter Hansel menyuruh anda segera ke ruangannya". Ucap salah satu perawat membuyarkan mereka.


"Baik". Sahut Roger "Shell, Na. Kalian berdua boleh pulang duluan. Biarkan saja Ara dan Aldo istirahat". Perintah Roger.


"Baik".


Shella menatap Ara dan Aldo yang sudah terlelap. Padahal baru saja dua orang berbeda usia itu berbincang dan berbicara satu sama lain namun dalam sekejap sudah terbang ke alam mimpi.


Shella dan Joana meninggalkan rumah sakit. Kedua nya akan kembali melakukan beberapa pemotretan untuk sampul majalah terkini. Joana memang model ternama di Belanda, selain cantik dan memiliki body yang menarik dia juga memiliki beberapa salon kecantikan yang elit. Salon miliknya selalu dikunjungi oleh artis papan atas.


Shella, namanya sedang buming dan menjadi top model beberapa bulan ini. Pesona Ibu anak satu itu, mampu menarik perhatian publik. Hingga beberapa agensi yang mengontrak Shella untuk bergabung dengan perusahaan agensi ternama di Belanda.


Setelah kepergian para Kakak nya, Ara membuka matanya. Sebenarnya dia tidak tidur hanya pura-pura tidur. Agar mereka meninggalkan Ara dan memberi waktu Ara untuk istirahat. Ara sedang ingin sendiri dan merenungi segala yang sedang dia alami.


Ara menatap wajah Aldo dalam pelukkannya. Ara tersenyum mendengar dengkuran halus dari pria kecil itu.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidup Bunda sayang. Terima kasih sudah membuat Bunda merasa betapa bahagianya menjadi seorang Ibu". Ara mengelus pelan wajah Aldo yang sudah dianggap putranya itu.


Ara menyingkir pelan-pelan dari tubuh Aldo. Takut membuat pria itu terbangun dengan gerakkannya.


Ara turun dari brangkar, dia menatap keluar jendela rumah sakit yang terlihat transparan menampilkan indah nya Negara Kincir Angin itu.


"Ayah". Ara menatap keluar, menatap langit biru yang tampak indah dan terlihat panas "Ara rindu Ayah. Apa Ayah tahu, Ara merasa masalah dalam hidup Ara tak pernah berhenti". Ara menahan tangisnya, takut jika isakkannya terdengar oleh Aldo.


"Ayah tahu, sebentar lagi Ayah akan jadi seorang Kakek. Ara sedang mengandung cucu Ayah, dia sangat aktif Yah". Ara mengelus perut buncitnya yang berusia lima bulan itu "Dia suka menendang-nendang malam hari kalau Ara mau tidur". Ara terkekeh sambil menyeka air matanya "Rasanya bahagia sekali Ayah bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Ibu". Ara tersenyum sambil tangannya tak henti mengelus perutnya.


"Walaupun dia lahir tanpa seorang Ayah, tapi tidak masalah untuk Ara. Ada Kak Roger, Kak Jovan dan Jo yang akan jadi Ayah untuk nya".


Ara kembali menatap kedepan. Dia tersenyum kecut, saat hatinya selalu saja mengingat sang suami.


"Kak Han".


"Apa kabar kamu Bby? Apa kamu sudah bisa jalan? Apa kamu rindu aku?".


"Kamu tahu tidak Bby, sekarang perutku sudah membucit dan kelihatan besar. Sebentar lagi dia akan hadir didunia ini". Ara mengelus perutnya "Hal yang selalu mimpikan dalam hidup, adalah ketika malam sebelum tidur kamu mengelus perutku lalu mengecupnya dan mengucapkan selamat tidur padanya".


Ara menghela nafas "Tapi semua hanya mimpi. Apalagi sekarang kamu sangat membenciku. Maafkan aku Bby". Dada Ara terasa sesak kembali. Sekuat tenaga dia menahan tangisnya untuk tidak pecah, namun tetap saja dia menangis dalam diam. Ara hanyalah wanita lemah dan haus akan kasih sayang seorang suami. Meskipun selama ini Roger dan Jovan memperlakukannya dengan baik, namun tetap saja Ara butuh perhatian dari suaminya, Kayhan.


Bersambung..........


Kayhan ❤️ Kimara