
Happy Reading đź’—đź’—đź’—đź’—đź’—đź’—
William dan Martha meninggalkan rumah mewahnya. William melajukan mobilnya. Sesuai dengan perintah Nathan untuk segera meluncur ke kediamaman Bagaskara.
“Kita mau kemana Daddy?”. Tanya seorang gadis cantik berusia tiga tahun.
“Kita akan kerumah Grandfa sayang”. Sahut Martha mewakili. Karena suaminya sedang focus menyetir.
“Glandfa Bagaskala ya Mommy?”. Tanya gadis kecil itu lagi.
“Iya sayang”. Sambung William tersenyum sambil menoleh kebelakang melihat anak dan putrinya.
Disampinya seorang bocah berusia lima tahun sedang sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya. Dia tak menghiraukan percakapan adik dan kedua orangtuanya.
“Edgar?”. Martha memanggil putranya.
“Iya Mom”. Sahut Edgar tak beralih pada ponsel ditanganya.
“Nak, letakkan ponselmu. Jangan main ponsel terus”. Tegur Martha pada putranya.
“Baik Mom”. Edgar menurut.
Edgar yang menyukai dunia game terpaksa harus menuruti perintah sang Mommy. Meski dia nakal dan juga sulit diatur, namun tetap menurut apa saja yang dikatakan oleh Ibunya.
“Memang nya ada apa dirumah Grandfa Dad?”. Tanya Edgar malas. Edgar memang tidak menyukai Bagaskara. Entah kenapa dia bisa merasakan jika aura Bagaskara membuatnya bergidik ngeri.
“Menjengguknya”. Sahut William sambil tersenyum melihat kearah putranya.
“Apa boleh aku tidak ikut?”. Seloroh Edgar dia masih memasang wajah malasnya. Apalagi sedang asyik-asyik bermain game namun dipaksa untuk meletakkan ponselnya.
“Tidak bisa sayang. Karena Uncle Nathan yang menyuruh kita kesana”. Jelas Martha lembut. Putranya memang begitu malas dan tidak suka bertemu dengan orang ramai.
“Baiklah”. Edgar mengalah. Dia menyenderkan tubuhnya di jok mobil sambil menutup mata. Menikmati perjalanan yang cukup jauh.
William dan Martha hanya tersenyum gemes. Edgar adalah pria kecil yang sulit ditebak. Meski usianya baru lima tahun. Namun pria kecil ini memiliki tempralemental yang sulit ditebak. Mood nya bisa baik bisa juga memburuk. Dia sedikit sulit diatur. Itulah sebabnya William dan Martha tidak mau menggunakan bahasa yang keras saat menegur putra mereka. Karena Edgar tidak bisa ditegur dengan cara yang keras.
“Mommy, siapa Aunty Ala?”. Tanya Eidra, putri bungsu William dan Martha.
William dan Martha terkesiap mendengar pertanyaan putrinya “Dari mana kau mendengar nama Aunty Ara sayang?”. Cecar Martha menyelidik. Begitu juga dengan William yang tampak tak sabar mendengar jawaban putrinya. Sementara Edgar acuh dan tak mau tahu.
“Ei, dengar dali Kak Leon dan Kak Ed”. Sahut Eidra.
Kini tatapan William terarah pada Edgar yang malah asyik menutup matanya. Seakan dia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh saudara perempuannya itu.
“Edgar”. William dan Martha serentak memanggil putranya.
“Jangan bertanya padaku Dad, Mom. Tanyakan pada Leon. Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya membantunya saja”. Sahut Edgar acuh, dia masih memejamkan matanya. Sambil kedua tanganya dia lipat didada.
William masih menatap putranya menyelidik. Darimana putranya tahu? Leon? Darimana juga putra Kakaknya itu tahu? Usia nya baru lima tahun, bahkan mereka tak pernah membahas tentang Ara dihadapan anak-anak.
“Will”.
“Mar”.
“Fokus menyetir Dad. Aku belum siap mati jika kita kecelakaan”. Sindir Edgar. Tanpa ada niat membuka matanya.
William lagi-lagi dikejutkan dengan ucapan putranya. Begitu juga dengan Martha. Mereka benar-benar heran dengan sikap Edgar yang jauh berbeda dari mereka berdua. Padahal usia Edgar baru lima tahun, tapi aura Edgar sudah terlihat.
Sampai di Mansion mewah keluarga Bagaskara. Mereka langsung turun dari mobil. William mengendong Eidra dalam gendongannya, putri kecil itu melingkarkan lengan munggilnya dileher sang Ayah.
Martha berdiri disamping anak dan suaminya sambil menenteng plastic ditangannya. Buah tangan yang dia bawa dari rumah tadi.
Sementara Edgar berjalan dengan santai dibelakang mereka sambil memasukkan kedua tanganya disaku celana pendek selutut miliknya. Pria kecil itu berjalan seperti orang dewasa.
“Kak Naira”. Sapa Martha saat mereka sudah masuk.
“Kalian sudah datang, ayo masuk”. Ajak Naira menyambut adik iparnya.
“Iya Kak”. Sahut Martha tersenyum.
Mereka semua menuju meja makan. Kebetulan Naira baru selesai masak. Makanan sudah tertata rapih diatas meja. Dengan dibantu oleh para pelayan.
“Grandfa”. Sapa William dan Martha serentak ketiga melihat Bagaskara sudah duduk dikursi meja makan.
“William, Martha”. Sambut Bagaskara dengan lembut “Ayo silahkan duduk. Kita makan bersama”. Ajak Bagaskara.
“Baik Grandfa”. Sahut William sambil meletakkan putrinya dikursi sampingnya dan Martha.
“Edgar, silahkan dudukk”. Sapa Bagaskara pada cicitnya yang satu ini.
Edgar tak menjawab dia duduk disamping Leon yang sudah memakan makanan dalam piringnya. Mereka sudah tak heran melihat sikap Edgar yang memang begitu selalu acuh dan tak peduli dengan keadaan disekitarnya.
“Kau mau makan apa Son? Biar Mommy ambilkan?”. Tanya Martha sambil mengambil piring.
“Ayam kecap saja”. Sahut Edgar singkat. Lalu Martha mengambil nasi dan sayur seperlunya untuk putranya.
Mereka makan dalam diam, tidak ada yang bersuara. Sudah menjadi peraturan di keluarga tersebut bahwa dilarang berbicara dimeja makan, pamali katanya.
Edgar makan tanpa ekspresi. Sebenarnya dia malas berada di Mansion ini. Biasanya dia selalu menemukan alasan untuk menghindar saat diajak kedua orangtuanya. Namun kali ini dia tidak bisa menolak karena dia ancam oleh sang Ayah.
Begitu juga dengan Leon. Dia makan tanpa peduli pada adik kecilnya yang merenggek disuapin.
“Leon, suapi adikmu?”. Perintah Naira.
“Aku tidak mau diganggu makan Mom. Dia bisa makan sendiri”. Ketus Leon
Nathan menggeleng, bagaimana mungkin bisa makan sendiri putri bungsunya baru berusia satu tahun lebih “Sini, sayang sama Daddy saja”. Ucap Nathan kasihan pada putrinya yang sudah menangis.
“Iya Daddy”. Lirih Lea beralih pada Daddy nya.
Martha dan Naira juga menggeleng. Sifat Leon dan Edgar hampir sama. Entah sifat siapa yang menurun pada kedua pria kecil itu. Mereka berdua selalu kompak dalam menunjukkan ekspresi wajah. Ekspresi orang dewasa yang tergambar jelas.
Bersambung.....
Kayhan ❤️ Kimara