Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 62. Kehangatan keluarga Van Derg



Ternyata terbiasa tanpamu tak semudah yang kubayangkan.....


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Meja makan di rumah mewah keluarga Van Derg terasa ramai. Suara dentingan sendok saling bersahutan satu sama lain. Sambil makan dan mengobrol hangat


"Jadi semua usahamu diurus oleh Jolenta, termasuk perusahaan?". Tanya Van Derg pada putranya.


"Iya Vad". Sahut Jovan sambil menyuap makanan.


Sedangkan Ara hanya melamun, dia mengaduk makanan dalam piringnya tanpa berniat untuk memakannya. Dalam suasana makan seperti ini, Ara teringat pada Kayhan suaminya itu biasa selalu merenggek minta suapi. Mereka akan berakhir dengan makan saling suap-suapan.


"Sayang". Roger menyentuh lengan adiknya.


Ara tersadar "Iya Kak?". Jawab Ara.


"Aunty Ara, biar Ado suapi". Pria kecil itu mengambil piring Ara dan menyendokkan makanan dimulut Ara.


Ara tersenyum hangat "Harusnya Aunty yang suapi Ado, bukan Ado". Sergah Ara sambil mengunyah makanan yang di berikan Aldo padanya.


Shella menggeleng melihat sikap putra kecilnya.


"Bialkan Ado, yang gantikan posisi Uncle Kay. Bial Ado yang jagaian Aunty Ara". Ucap Aldo dengan wajah polosnya.


Yang lain terkesiap mendengar ucapan polos Aldo. Apa bocah itu mengerti yang dia ucapkan. Sedangkan Ara, menelan salivanya kasar. Bocah itu, terlihat begitu dewasa saat mengucapkannya


"Sayang, tidak boleh bicara begitu pada Aunty". Tegur Shella merasa tak nyaman.


"Ado, sayang banget ya sama Aunty Ara?". Sambung Syaneth tersenyum lembut.


Aldo mengangguk dengan polosnya "Aunty Ara, orang baik, Aunty Ara juga sayang Ado". Jawab Aldo.


Yang lain menghela nafas termasuk Roger. Kakak Ara itu bahkan mengaruk tengguknya yang tidak gatal.


"Uw uwu, tampan nya Aunty Nana, pintar banget sihhh". Joana mencubit pipi Aldo dengan gemes..


"Aunty Ara". Adu Aldo manja sambil mengambil tangan Ara untuk mengelus pipinya "Aunty Nana jahat sama Ado. Tidak ada yang boleh pegang pipi Ado selain Aunty Ara". Seru Aldo kesal, dia menatap Joana dengan tajam.


Joana menelan salivanya kasar saat melihat tatapan bocah kecil itu. Sedangkan yang lain hanya menggeleng saja.


"Ayo lanjut makan". Lerai Van Derg pada anak-anak nya.


Keluarga besar itu tampak harmonis, apalagi ditambah kedatangan Ara dan yang lainnya. Sikap Aldo yang menempel pada Ara, menjadi hiburan tersendiri untuk mereka.


Sementara Jovanka, saudara kembar Jovan sudah pulang kerumahnya. Memang setelah menikah, Jovanka memutuskan untuk mandiri bersama suaminya. Suaminya yang berprofesi sebagai dokter tentu membutuhkan tempat yang lebih tenang.


Saat ini mereka sedang berkumpul diruang keluarga sambil menikmati cemilan yang dibuat oleh para pelayan.


"Bagaimana jika Ara, Roger dan Shella tinggal disini saja?" Tawar Syaneth.


"Maaf Moe, bukan Roger menolak tapi Roger dan Ara ingin mandiri saja Moe". Sahut Roger tak enak hati menolak permintaan Syaneth.


Syaneth tersenyum hangat mendengar jawaban Roger, memang Roger dari dulu mandiri.


"Benar Moe. Ara dan Roger akan tinggal bersama Jovan di rumah milik Jovan". Sambung Jovan menyambung.


"Bagaimana kalau Kak Shella saja yang tinggal disini. Sekalian kerjasama sama aku, kebetulan Kak Shella mantan model 'kan?". Saran Joana. Shella memang mantan model pada zamannya.


"Bagaimana Shella?". Tanya Van Derg melihat kearah Shella.


"Apa tidak merepotkan?". Tanya Shella tak enak hati. Keluarga ini terlalu baik padanya, padahal mereka baru saja kenal.


"Sangat tidak merepotkan Kak Shella". Senyum Joana.


"Tidak mau, Ado tidak mau jauh dari Aunty Ara. Bialkan Mami tinggal disini. Ado sama Aunty Ara saja". Tolak Aldo berhasil membuat mereka semua melihat kearah nya.


"Sayang....".


"Hiks hiks, Ado tidak mau jauh dari Aunty Ara, hiks". Tangis Aldo.


Ara dengan segera mendekap tubuh kecil Aldo yang kebetulan duduk disampingnya "Jangan nangis ya sayang. Nanti Aunty nangis juga". Ucap Ara sambil mengelus pipi pria kecil itu.


Aldo mendongrakkan kepala menatap Ara "Ado tidak mau pisah sama Aunty". Adu Aldo dengan manjanya.


Jovan menghela nafas "Baiklah, biarkan saja Aldo dan Shella tinggal bersama kami". Timpal Jovan, jujur saja Jovan terkadang jengkel dengan sikap manja Aldo pada Ara. Pantas saja jika Kayhan dulu selalu cemburu.


"Sudahlah, tidak apa Shella". Potong Van Derg tersenyum hangat kearah Aldo yang masih setia memeluk Ara bahkan makanan dalam piringnya belum juga tandas.


Setelah makan bersama, mereka berkumpul diruang keluarga. Saling bercerita satu sama lain.


"Bagaimana karir mu Na?". Tanya Jovan sambi menyesap kopinya.


"Yah lancar seperti biasa". Sahut Joana. Matanya tak beralih pada Roger, yang semakin hari semakin tampan saja.


Jovan mendecak kesal "Kondisikan matamu Joana, atau kau mau Kakak congkel mata jelekmu itu". Ancam Jovan. Dia tidak suka melihat sikap Joana pada Roger. Takut Roger merasa tidak nyaman.


"Ck, pelit". Sindir Joana.


Syaneth dan Van Derg menggeleng melihat sikap kedua anaknya. Mereka memang suka sekali berdebat hal-hal kecil jika bertemu.


Ara dan Shella datang membawa kue kedalam piring yang mereka letakkan diatas nampan. Shella membawa minuman dan beberapa cemilan untuk dinikmati bersama.


"Silahkan dinikmati". Ara meletakkan kue itu dengan pelan dan telaten.


"Aunty". Aldo merenggek sambil memeluk lengan Ara.


"Sayang jangan begitu sama Aunty". Tegur Shella.


"Tidak apa-apa Kak". Balas Ara tersenyum manis "Ado mau Aunty suapi". Ara mengambil satu kue dari dalam piring.


Aldo menggeleng "Bial Ado yang suapi, karena Ado laki-laki". Aldo mengambil alih kue itu dari tangan Ara.


Jovan dan Roger menggeleng saja melihat sikap Aldo yang temperamental menempel pada Ara.


"Ini Ara yang buat?". Joana mengambil satu "Enak sekali. Kapan-kapan ajari aku Ra". Sambil Joana memasukkan kue itu kedalam mulutnya "Enak sekali". Joana menguyah nya dengan cepat.


"Cih, makan yang kalem dikit bisa tidak? Makanmu seperti orang sesat?". Sindir Jovan melihat adiknya dengan kesal.


"Kakak ini kenapa sih? Selalu saja sewot dengan adiknya". Cemberut Joana.


"Sudah, sudah kalian ini. Selalu saja bertengkar". Tegur Syaneth jenggah melihat sikap kekanakkan kedua anaknya.


"Enak Ra". Puji Van Derg mencicipi kue buatan Ara.


"Terima kasih Vad, silahkan dinikmati". Sahur Ara sopan sambil menerima suapan dari tangan Aldo.


Mereka menikmati cemilan buatan Ara dan Shella dengan sesekali obrolan terselip. Lalu tertawa melihat tingkah Aldo, dan jengkel melihat Jovan dan Joana yang tak bosan-bosannya memperdebatkan sesuatu.


"Astaga, kalian ini". Geram Syaneth menarik telinga Jovan dan Joana dengan kedua tangannya.


"Awwwww, Moe sakit". Rintih keduanya.


"Kakak duluan yang ajak Nana berdebat Moe". Adu Joana mengusap telinganya.


"Ck, kau yang duluan". Jovan tak mau kalau.


"Mau Moe jewer lagi?". Ancam Syaneth.


"Tidak Moe". Sahut keduanya kompak, lalu saling melempar tatapan tajam.


Van Derg menghela nafas, keempat anaknya memang memiliki sifat yang sama. Suka berdebat dan bertengkar, belum lagi jika ada Jolenta dan Jovanka pasti suasana rumah akan ribut setiap hari. Namun mereka saling mengasihi satu sama lain.


"Malam ini kalian menginap saja disini, besok kalian baru pindahan. Bagaimana?". Saran Van Derg mengalihkan pembicaraan.


"Baik Vad". Sahut Roger, Jovan, Shella dan Ara bersamaan.


Malam itu pun mereka memutuskan untuk menginap satu malam dikediaman Van Derg. Van Derg dan Syaneth memang selalu memberi kebebasan pada anak-anak nya untuk memilih tempat tinggal. Mereka memiliki rumah sendiri-sendiri dan itu rumah hasil kerja kerasnya sendiri.


Joana juga memiliki Apartement mewah, namun dia jarang tinggal di Apartement nya itu. Mengingat pekerjaan nya seorang model terkenal, tentu disibukkan dengan beberapa job.


Sedangkan Jovanka setelah menikah memutuskan tinggal bersama suaminya, dan memutuskan karier untuk berumah tangga.


Jovan dan Jolenta, memang sedari duduk dibangku sekolah menengah atas sudah tinggal di Indonesia, hingga keperguruan tinggi pun keduanya menetap di Indonesia. Jovan kuliah di Indonesia, sedangkan Jolenta di Australia.


Bersambung............


Kayhan ❤️ Kimara.