
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nickho dan Hansel masih berjuang diruang operasi. Keduanya tak mau menyerah, meski nyatanya detak jantung gadis itu sudah berhenti dan bahkan seluruh alat medis sudah tak berfungsi
“Ara, aku mohon bangun Ara”. Nickho sambil menekan-nekan CPR didada Ara, air mata luruh bersamaan dengan ucapannya.
“Ara, come on Ara Come on”. Ucap Hansel juga berusaha kembali mengontrol deteksi jantung ara.
Sedangkan para dokter dan perawat yang lainnya hanya diam saja menyaksikan. Mereka sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena memang Ara tidak bisa diselamatkan. Bagaimana mungkin selamat dalam keadaan sakit luar biasa, dia harus melakukan operasi yang tentunya kan menghancurkan bagian perutnya.
“ARA”. Teriak Nickho memeluk tubuh Ara, dia menangis dengan histeris. Sedangkan Hansel sudah mematung ditempatnya seluruh tubuhnya serasa melumpuh seketika.
“ARA”.
Tit tit tit tit tit tit tit
“Dok”.
Nickho menatap layar monitor yang bergaris-garis bengkok.
“Cepat atur deteksi jantungnya Han”. Hansel mengikuti perintah Nickho.
Kedua pria itu tersandar didinding. Mereka hampir saja mati jantungan ketika melihat jantung Ara berhenti beberapa menit dan sebuah keajaiban terjadi dimana detak jantung Ara kembali lagi.
“Hiks, terima kasih sudah kembali Ra”. Ucap Nickho dengan nafas tersenggal-senggal dan begitu juga dengan Hansel.
Nickho menyeka keringatnya. Dia setengah mati berjuang agar Ara bisa kembali hidup dan usahanya tak sia-sia. Ara-nya kembali lagi. Dia takut gadis itu pergi. Jika Ara pergi entah bagaimana kehidupan keempat anaknya yang bahkan belum pernah melihat wajahnya sama sekali.
“Pindahkan pasien ke ruang rawat inap”. Perintah Hansel.
“Baik Dok”. Sahut salah satu perawat sambil mendorong brangkar Ara keluar dari ruangan.
Nickho dan Hansel keluar dari ruang operasi. Wajah kedua pria itu tampak kusut dan nafas mereka seakan tersekat.
“Bagaimana operasinya Nick?”. Cecar Jolenta tak sabar. Operasi yang berjalan selama sepuluh jam itu membuat mereka khawatir dan juga takut.
Hansel dan Nickho tak menjawab kedua pria itu malah terduduk dikursi tunggu depan operasi. Kedua nya masih belum ingin bicara dan ingin menenangkan pikiran mereka.
Jolenta, Roger dan Jovan menatap keduanya bingung, bukannya menjawab Nickho dan Hansel malah melamun seperti orang yang baru saja melihat hantu dan belum sadar.
Sedangkan Joana, Shella dan juga Aldo menjaga bayi Ara diruang bayi. Disana ada Syaneth dan juga Jovanka yang ikut menenangkan keempat bayi itu yang menangis sedari tadi. Sejak keluar dari ruang operasi keempatnya terus menangis tanpa henti. Bayi premature itu seakan merasakan sakit dan juga ketakutan.
“Nick”. Jolenta menepuk bahu Nickho yang masih belum juga sadar dari lamunannya
“Hiks hiks hiks hiks hiks hiks”. Tiba-tiba tangis Nickho pecah membuat jolenta dan yang lainnya kebingungan.
“Nick ada apa?”. Tanya Jolenta bingung, Nickho tak menjawab dia malah menangis dengan menutup kedua wajahnya. Sudah tak peduli lagi dengan gengsi dan harga diri. Saat ini dia hanya ingin menangis meluapkan semua perasaannya, perasaan syukur dan senang karena Ara bertahan dan kembali lagi.
“Han, apa yang terjadi?”. Kali ini Jovan menempuk pundak adik iparnya yang masih juga terdiam mematung.
“Hans”. Roger juga ikut memanggil. Dia mulai khawatir jika terjadi sesuatu pada Ara “Hans kata kan padaku apa yang terjadi? Apa Ara baik-baik saja? Katakan Hans!!!”. Desak Roger menguncang tubuh Hansel, dia menatap dokter itu dengan tatapan memohon agar Hansel menjelaskan apa yang terjadi dan kenapa Nickho seperti orang gila yang menangis tanpa sebab.
“Kita hampir kehilangan Ara”. Jawab Hansel pelan, tapi matanya masih menatap kedepan. Dia masih belum bisa menormalkan perasaan dan emosinya.
“Apa maksudmu?”. Sentak Roger menarik kerah kemeja Hansel yang ditutupi jas dokternya.
Roger terdiam mematung tanpa sadar cengkraman tangannya dikerah baju Hansel terlepas. Jantungnya seakan ikut berhenti saat mendengar ucapan Hansel.
“Dan dia kembali lagi”. Lanjut Hansel.
“Ara”.
Roger langsung berlari keruang rawat adiknya. Dia tidak bisa bayangkan jika Ara benar-benar pergi meninggalkan dia sendirian. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain Ara.
Jolenta dan Jovan ikut terduduk, keduanya membeku saat mendengar penjelasan Hansel. Pantas saja Nickho tidak sanggup mengatakannya.
“Lalu bagaimana keadaannya Hans?”. Lirih Jovan pelan, dia menatap Hansel dengan kosong
“Dia koma, dia masih kritis. Ginjal yang didonorkan tidak cocok karena tubuh Ara menolak akibat efek dari kemoterapi. Ara harus rutin cuci darah setiap minggu”. Jelas Hansel.
“Ara”.
Jovan dan Jolenta menyusul Roger keruangan Ara. Kedua pria itu panic bukan main, khawatir dan juga takut. Ara sudah seperti adik mereka sendiri. Apalagi keluarga mereka sangat menyukai kehadiran Ara.
“Sayang, bangun. Lihat Kakak sayang. Jangan tinggalkan Kakak. Apa kau tidak ingin melihat anak-anakmu?”. Suara Roger terdengar begitu rintih dan sakit. Dia menangis sambil mengenggam tangan adiknya. Wajah pucat dan tak berdaya, tubuhnya disiksa dengan alat medis yang menempel dibagian tubuhnya.
“Ara”.
Jovan dan Jolenta ikut masuk kedalam ruang rawat Ara. Keduanya menatap Ara yang terbaring lemas, suara dentingan alat-alat itu terdengar menggema bersama tangisan Roger yang menyayat hati.
Jovan mendekat kearah brangkar Ara. Lelaki itu berjongkok sambil menatap Ara dengan dekat. Kondisinya sungguh membuat hati terasa ngilu. Begitu banyak penderitaan yang gadis ini alami. Bahkan harus melahirkan bayi dalam keadaan premature karena penyakit yang mengerogoti tubuhnya.
“Ra”. Lirih Jovan. Dia juga ikut menangis bersama Roger. Dia bisa merasakan betapa rapuhnya wanita yang baru saja melahirkan empat bayi kembar itu.
Jolenta juga ikut menangis, dia bersandar didinding untuk menopang tubuhnya. Dia ikut menangis bersama kedua orang itu. Tangisan kesedihan dan patah hati mereka bertiga terdengar memilukan, rintihan dan rasa sakit seakan menandakan tak ada celah kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Diruangan bayi…..
Shella, Joana, Jovanka dan Syaneth mengendong masing-masing bayi Ara. Bayi-bayi yang tadi sempat menangis histeris, kini tidur dengan lelap dalam gendongan mereka.
“Mami, Dedek bayi nya lucu”. Ucap Aldo menoel-noel hidung bayi perempuan yang ada digendongan Shella “Mi, wajahnya sangat milip dengan Bunda”. Timpal Aldo menujuk wajah bayi itu.
“Iya sayang. Namanya juga anak Bunda yang harus mirip sama Bunda”. Jelas Shella lembut pada putranya.
“Tapi kenapa Ado tidak milip Mami?”. Tanya Aldo wajahnya sendu dan juga kecewa, karena sedikit pun wajahnya tidak mirip Shella.
“Siapa bilang? Ado itu mirip Papi nya Ado”. Shella menutup mulutnya saat sadar dirinya menyebut pria itu didepan putranya.
“Memangnya Ado punya Papi. Kata Mami, Papi Ado sudah tidak ada?”. Ucap Aldo polos.
Shella mengaruk tengguknya yang tidak gatal. Bagaimana dia menjelaskannya pada putranya ini “Maksud Mami, walaupun Papi sudah tidak ada tapi kan Ado tetap mirip Papi”. Jelas Shella dengan sabar.
Syaneth, Jovanka dan Joana hanya tersenyum mendengar percakapan Ibu dan anak itu.
Bersambung......
Kayhan ❤️ Kimara