
**Jika tak kuat boleh kah aku menyerah? Dan pergi begitu saja?.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹**
Hansel menghela nafas kasar, saat dia membaca hasil tes Ara. Dia cukup terkejut dengan hasilnya, dan tentu ini bukan penyakit biasa.
"Bagaiamana Han?". Tanya Jovan menatap kearah adik ipar nya yang terlihat tak tenang.
Hansel menatap ketiga orang yang duduk didepannya itu.
"Fibroid Rahim".
"Apa itu?". Tanya Roger.
"Fibroid Rahim adalah Leiomyoma atau Mioma yang sering kita kenal dengan benjolan yang tumbuh dirahim". Jelas Hansel.
"Lalu bagaimana pengobatan nya Han?". Timpal Roger merasa sangat khawatir dengan kondisi adiknya.
"Ada beberapa jenis obat yang bisa digunakan untuk mencegah penyebaran kanker ini. Hanya saja Ara dalam keadaan hamil, ini akan beresiko untuk kondisi janinnya. Apalagi kandungan Ara sudah memasuki Minggu ke dua puluh, ini sangat rentan dan bahaya untuk Ibu maupun untuk bayi dalam kandungan".
Terdengar helaan nafas berat antara ketiga pria tampan itu.
"Selain itu ada lagi?". Sambung Jolenta.
"Satu-satunya hanya kemoterapi. Nanti aku akan menjadwalkan kapan Ara bisa di kemo. Kemo tidak terlalu berbahaya untuk kandungannya, tapi kemungkinan ini akan sedikit menyakiti Ara karena efek kemo bermacam-macam. Mulai rambut rontok, mata bengkak, paru-paru basah dan juga gagal ginjal. Mengingat Ara yang hanya memiliki satu ginjal kita juga harus melakukan cuci darah rutin setiap Minggunya. Aku akan menghubungi rumah sakit lain untuk mencari pendonor ginjal".
Rasanya seluruh tubuh Roger mati rasa saat mendengar penjelasan Hansel. Betapa menderitanya kehidupan adiknya. Mulai dari kehilangan kedua orang tua dan adiknya, sampai harus dipaksa berpisah dengan sang suami. Dan sekarang dalam keadaan hamil pun harus melawan penyakit mematikan itu.
"Pastikan semua nya lancar Han. Selamatkan Ara dan bayi nya. Jangan sampai salah satu dari mereka celaka". Ucapan Jovan terdengar memohon pada adik iparnya. Meskipun dia tidak bisa memiliki Ara tapi Jovan sudah berjanji akan menjaga gadis itu seperti adiknya sendiri.
"Aku akan berusaha". Sahur Hansel tersenyum melihat kekhawatiran diwajah Kakak iparnya. Tentu Hansel tahu seberapa berharga nya Ara bagi Jovan.
"Setelah ini Ara akan dibawa ke dokter Obgyn untuk mengacek kandungan nya". Lanjut Hansel.
Mereka bertiga keluar dari ruangan Hansel. Wajah ketiga sama, menampilkan wajah sedih, sendu dan terlihat pasrah. Memikirkan seorang Ibu hamil yang harus berjuang.
Mereka duduk dikursi ruang tunggu pasien, didepan ruang rawat Ara.
"Van, batalkan saja peluncuran aplikasi itu". Timpal Roger.
"Kenapa?". Tanya Jovan heran.
"Perusahaan baru yang menjalin kerjasama dengan kita itu perusahaan baru milik Kayhan. Jika Kayhan berada disini itu akan bahaya untuk Ara. Kita haris fokus pada kesehatan Ara". Ucap Roger.
"Baik. Aku akan menghubungi Rio untuk membatalkan semua nya". Sahut Jovan.
Sejenak ketiganya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Apa yang harus mereka lakukan? Bagaimana nantinya kondisi Ara dan bagaimana mereka harus jelaskan pada Ara tentang dirinya.
"Ra, maafkan Kakak. Kakak sangat menyanyangi mu, Kakak mohon kamu harus bertahan, hanya kamu yang Kakak miliki didunia ini". Batin Roger memejamkan matanya.
"Apa harus kita katakan pada Ara tentang hasil pemeriksaan ini?". Tanya Jolenta
Roger mengangguk "Bagaimana pun dia harus tahu Jo". Jawab Roger "Aku yakin dia bisa. Dia wanita kuat". Timpal Roger.
Jolenta menghembuskan nafas kasar "Aku akan menghubungi temanku mencarikan Ara dokter spesialis". Ucap Jolenta "Tapi aku tidak tahu apakah bisa dia datang kesini, karena sekarang dia bertugas di Australia". Sambung Jolenta.
"Jika memang dia bisa tolong bawa saja Jo. Demi Ara". Pinta Jovan dengan memohon pada adik kembarnya.
Jolenta memincingkan mata penuh selidik pada Jovan "Aku usahakan nanti". Sahut Jolenta "Aku akan menghubungi nya nanti".
"Ya sudah ayo kita masuk ke dalam". Mereka bertiga masuk kedalam ruang rawat Ara.
Terlihat Ara tengah duduk dengan memangku kanvas dan kuas. Sedangkan Aldo masih terlelap disamping Ara. Dengkuran halus terdengar dari mulut pria kecil itu.
"Iya Kak". Ara meletakkan kanvas nya.
Roger, Jovan dan Jolenta berjalan kearah Ara sambil menampilkan senyum manis diwajah tampan mereka.
"Sedang lukis apa?". Tanya Roger duduk dikursi sambil ranjang Ara.
"Wajah Kak Roger, Kak Jovan dan Kak Jo". Ara menunjukkan hasil lukisannya pada ketiga pria itu.
Mereka terkagum-kagum dengan hasil coretan tangan Ara. Lukisan yang menempel diatas kanvas itu sangat mirip dengan wajah ketiganya.
"Bagus sekali". Puji Jolenta. Ara hanya tersenyum menanggapi.
Ditempat lain......
Joana dan Shella selesai melakukan pemotretan, setelah ini mereka akan pulang kerumah untuk menganti baju dan membawa makanan kerumah sakit. Mereka sudah sepakat akan menjaga Ara bersama-sama.
"Kak".
"Iya Na".
Saat ini mereka tengah memasak didapur mewah milik Jovan. Joana kadang-kadang menginap ditempat Kakak nya itu, dan sesekali pulang kerumah orangtuanya.
Joana menghela nafas sambil memotonh sayuran "Aku khawatir melihat kondisi Ara". Ucap Joana.
Shella menghentikan aktivitas masaknya. Entah kenapa setiap kali mengingat kondisi Ibu hamil itu selalu saja membuatnya tak berdaya.
"Kita sama-sama berdoa dan mendukung Ara. Dia pasti bisa melewati ini". Sahut Shella. Walaupun dirinya juga rapuh dengan kondisi Ara, tapi Shella berusaha kuat. Ara bukan hanya sahabat bagi Shella tapi juga adik yang sudah mengajarkan nya banyak hal.
"Kakak kenal Ara dari mana?". Lanjut Joana sambil memotong sayuran.
"Dia karyawan Kakak". Sahut Shella.
Joana manggut-manggut sambil beroh-ria saja.
Setelah masakkan mereka selesai. Kedua wanita beda usia itu, menata makanan itu kedalam rantang. Malam ini mereka semua akan menginap dirumah sakit. Karena besoknya Ara akan dicek kandungan nya.
Shella dan Joana sudah sampai dirumah sakit. Ditangan mereka terdapat beberapa rantang nasi untuk orang-orang yang sedang menunggu disana.
"Kalian sudah sampai?". Tanya Jovan.
"Iya Kak. Ini makanannya". Joana meletakkan beberapa rantang nasi diatas meja.
Ruang rawat inap Ara memang mewah, disana dilengkapi dengan beberapa fasilitas, seperti televisi, AC, kamar mandi mewah, dan meja makan yang sengaja dipesan oleh Jovan sendiri.
"Ra makan yuk". Ajak Shella pada Ara yang masih dibrangkar nya.
"Iya Kak". Ara turun.
"Pelan-pelan sayang". Roger dengan sigap membantu adiknya, takut jika Ara jatuh apalagi sedang berbadan dua.
"Terima kasih Kak". Senyum Ara.
Aldo ikut memegang tangan Ara, takut jika Bunda Ara-nya jatuh. Ara tersenyum melihat perhatian Aldo padanya.
Mereka semua duduk dikursi meja makan. Makanan sudah tertata rapih, masakkan Joana dan Shella.
Akibat ngidam Ara yang aneh membuat keduanya chef jadi-jadian. Joana yang notabene tidak pernah memegang alat dapur, jadi ahli dalam memasak. Begitu juga dengan Shella yang awalnya tidak terlalu pandai memasak, kini dia malah jadi juru masak. Kadang nilai positif nya juga ketika Ara mengidam. Tapi kebanyakan negatif nya, karena mereka selalu dibuat repot.
**Bersambung......
Kayhan ❤️ Kimara**