Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 24. Aku bisa memilih



**Aku tak sepandai kamu yang pandai menebak rasa, yang mudah memahami hanya dengan mengamati.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹**


Dikediaman Mansion mewah keluarga Bagaskara, keluarga besar tersebut tengah asyik makan malam. Kebetulan Nyonya Besar dan Tuan Besar keluarga Bagaskara datang berkunjung ke Indonesia untuk memantau beberapa perusahaan yang ada disini.


"Jadi apakah sudah ada pilihan hatimu Kay?". Tanya sang Ayah yang tidak lain adalah Bagas.


"Belum Dad". Jawab Kayhan cuek karena tidak biasanya orangtuanya menanyakan perihal menikah dan pasangan hidup, biasanya Ayahnya itu selalu saja cuek dan tak mau tahu.


"Kapan lagi Son? Usiamu sudah 30 tahun dan sudah waktunya memikirkan tentang rumah tangga?". Timpal Erna, istri Bagas dan Mommy nya Kayhan.


"Kay, belum memikirkan hal itu Mom". Sahut Kayhan datar, pria itu paling malas jika berbicara masalah pasangan hidup.


"Kay, kita akan kasih kamu waktu satu bulan. Jika dalam waktu satu bulan belum juga mendapatkan calon istri, maka jangan salahkan kami untuk memilihkan calon istri sendiri untuk mu". Kali ini Wena yang ikut bicara, Grandma Kayhan istri Bagaskara.


"Tidak perlu memaksa Kay begitu, biarkan saja dia memilih pasangan hidupnya sendiri". Timpal Bagaskara menyambung.


Kayhan menarik nafas dalam, jika sudah Grandma yang berbicara akan sulit untuk dibantah.


"Aku bisa memilih sendiri". Jawab Kayhan singkat.


"Kapan?". Tanya Erna jengkel pada putra keduanya itu "Lihatlah adikmu, Aira sudah menikah dan memiliki anak. Lah kamu, boro-boro anak melihat mu dekat dengan wanita saja tidak pernah". Jelas Erna.


"Kenapa Mommy dan Daddy tidak suruh Kak Seem saja yang menikah duluan. Bukankah dia juga sudah dewasa dan umurnya diatasku?". Tanya Kayhan memutar bola mata malas.


Sedangkan Bagaskara hanya menggeleng saja mendengar perdebatan antara anak dan cucu nya itu.


"Kakakmu itu sangat dingin dan sulit didekati". Sambung Erna.


"Lah, bukannya aku sama dingin juga kan?". Kayhan tak mau kalah.


"Ada apa ini?". Suara baritone yang sangat familiar


"Seem, ayo Son ikut makan". Ajak Erna ramah. Seem tak menjawab dia hanya mengambil makanan seperlunya saja.


Seem pria berusia 32 tahun, Kakak kandung Kayhan. Pria ini paling dingin tak tersentuh, dia seorang pelukis hebat dan bahkan memiliki galeri lukisan diberbagai Negara termasuk Indonesia. Seem juga memiliki beberapa perusahaan Arsitektur di Indonesia dan Negara lainnya, perusahaan nya dijalan oleh orang kepercayaan Seem. Seem memilih menepikan dirinya dengan tinggal di London, Ingrris.


"Kapan Kakak datang?". Tanya Kayhan sekedar basa-basi.


"Tadi". Sahutnya singkat.


Bagas, menghela nafas kasar dua putranya sama-sama dingin. Entah sifat siapa yang mengalir pada kedua putranya itu, padahal dirinya sendiri adalah pria yang hangat dan humoris.


"Seem, kapan kau akan menikah?". Tanya Bagaskara pada cucu tertuanya. Seem tak menjawab dia malah asyik menikmati makanannya tanpa peduli pada ocehan orang-orang yang ada dimeja makan.


Suasan terasa canggung dan dingin. Bagaskara dan Bagas hanya bisa menghela nafas berat, jika kedua putranya bertemu dipastikan gunung Semeru ikutan membeku bersama dua gunung es berjalan itu.


Seem masih trauma masalah percintaan dirinya pernah ditinggal saat Seem sedang sayang-sayangnya. Hal itulah yang membuat pria yang satu ini menjadi lebih dingin.


Selesai makan malam Kayhan segera menuju kamarnya dia tidak tertarik untuk berkumpul bersama keluarga besarnya, yang pasti mereka akan membahas menikah dan menikah.


Kayhan, membaringkan badannya diatas kasur king size miliknya. Bayangan Ara sekilas melintas dibenak Kayhan.


"Bagaimana kabar Ara? Apa dia baik-baik saja?". Gumam Kayhan. Pria itu mengambil ponselnya dan menscrol nama kontak yang ada disana.


"Hallo Ra".


"Malam Tuan, ada apa?".


"Bagaimana perasaanmu?".


"Saya baik-baik saja Tuan. Terima kasih".


"Besok, jika masih belum kuat jangan masuk dulu. Istirahat lah".


"Tidak Tuan! Saya baik-baik saja, besok saya akan masuk".


"Baiklah, selamat beristirahat". Tanpa menunggu sahutan Ara, Kayhan langsung menutup telpon nya.


Kayhan menghela nafas kasar. Ara adalah satu-satunya gadis yang tidak terpesona padanya dan gadis itu selalu saja dingin dan cuek. Namun, entah kenapa Kayhan justru tertarik dengan sifat Ara gadis itu unik.


"Ra, aku berjanji akan menjaga dan melindungi mu". Kayhan memeluk ponselnya dimana ada foto Ara disana "Aku berharap suatu saat kau akan menyadari perasaanku Ra". Kayhan memejamkan matanya dan terbang kealam mimpi.


Seem keluar dari pagar rumahnya sambil memasuki mobilnya yang terparkir digaransi mobil. Seem membelah jalanan kota Jakarta. Sudah berpuluh-puluh tahun dia meninggalkan Indonesia dan baru kembali sekarang.


Mobil Seem terparkir disebuah taman kota. Taman yang selalu dia kunjungi jika datang ke Indonesia. Seem duduk dibangku taman, menatap kearah bintang dilangit. Malam ini, taburan bintang dilangit malam tampak indah menghiasi malam Seem yang terasa hampa.


"Seandainya kau tidak mengkhianati ku, mungkin sekarang kita sudah bersama". Seem memejamkan matanya, menikmati indahnya malam dibawah bintang dilangit.


Trauma nya akan masa lalu membuat pria itu jijik dan anti wanita. Inilah sebabnya mengapa sampai saat ini Seem tidak juga menemukan pendamping hidup? Setiap kali berdekatan dengan wanita dirinya pasti gatal-gatal, atau bahkan bisa muntah kecuali Grandma, Mommy dan adik bungsunya Aira.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks". Tiba-tiba seorang gadis duduk dibangku yang sama dengan Seem.


Seem membuka matanya dan menatap heran kearah gadis yang masih menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Anehnya lagi gadis itu tidak menyadari bahwa ada orang disampingnya.


"Hiks, apa semua salahku Tuhan?".Tangis gadis itu semakin menggema. Seem malah mengerutkan keningnya heran, apa gadis ini tidak malu atau memang tidka tahu jika ada dia disana?


Gadis itu membuka wajahnya dan melihat kedepan. Dia masih tidak menyadari ada orang disampingnya.


Sedangkan orang disampingnya langsung terpesona dengan wajah cantik gadis itu, meskipun matanya sembab tapi tak mengurangi kadar kecantikan gadis itu.


"Tuhan, izinkan aku bahagia sekali saja. Aku ingin merasakan bagaimana bahagia itu sesungguhnya! Aku telah kehilangan dua orang yang berarti dalam hidupku, Kakakku masuk penjara dan adikku membenciku, hiksss". Kembali gadis itu menangis lagi dan lagi dia memukul dadanya berulang kali berusaha menembus pasokkan udara yang hampir menipis diparu-parunya.


"Tuhan ,hiks hiks hiks bolehkah aku juga pergi? Boleh kah juga aku meninggalkan dunia ini?". Gumamnya sambil menyeka air matanya.


Lalu gadis itu mengalihkan pandangannya kearah samping dan dia terkejut saat melihat seorang pria yang tengah menatapnya dengan intens bahkan tatapan pria itu seakan mampu menembus tembok pertahanan gadis itu.


"Maaf Tuan". Gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain, lalu bangkit.


"Tunggu". Seem mencengkram tangan gadis itu "Duduklah". Dia mendudukkan kembali gadis itu disampingnya "Ini". Dia menyerahkan sapu tangan milik nya kepada gadis itu.


Ara mengambil sapu tangan dari tangan Seem, ya gadis itu adalah Ara dan tempat ini adalah tempat yang selalu menemaninya kala dirinya merasa seluruh dunia menghakiminya.


**Bersambung.....


Salam hangat


Kayhan ❤️ Kimara**