
Jika melepaskan lebih baik, aku akan melakukan. Ku harap, kau baik-baik saja tanpa aku disisimu. Aku kalah bukan karena aku menyerah, tapi inilah jalan yang akan membawamu pada titik bahagia. Maaf ingkar janji, karena pada kenyataannya perpisahan yang kita hindari kini terjadi.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kimara POV.
Aku tertawa sinis, mentertawakan takdir hidupku. Setelah kehilangan Ayah yang membuat duniaku runtuh, seminggu kemudian aku juga harus kehilangan Ibu ku wanita yang bersusah payah melahirkan ku ada didunia ini. Setelah nya disusul dengan adikku Mey yang juga pergi tanpa permisi. Sekarang aku harus berpisah dari dia yang sudah menjadi suamiku.
Hari ini, aku melihatnya keluar dari ruang operasi. Setelah melakukan negosiasi dan pengorbanan diri, akhirnya Bagaskara mau menolongku untuk menyelamatkan Kak Han. Seharusnya tak perlu mengemis, karena Kak Han adalah cucu tapi seperti yang sudah kuduga mereka sengaja melakukan cara ini agar aku terpisah dari suamiku.
Kak Han terlihat begitu pucat saat keluar dari ruang operasi, sudah tiga hari dia tak bangun-bangun dari komanya. Sepertinya sangat asyik didunia mimpi tanpa memikirkan ku yang setengah mati menahan rindu.
Aku merenggek minta waktu, saat Bagaskara dan keluarga nya menyuruhku meninggalkan Kak Han dengan segera. Aku ingin pergi setelh suamiku selesai dioperasi, setidaknya aku bisa melihatnya untuk terakhir kali. Meski setelah ini kami akan menjadi dua orang yang asing.
"Waktumu tidak banyak, setelah ini pergilah sejauh mungkin sebelum Kay sadar". Bagaskara kembali mengingatkan ku akan hal itu, sudah ribuan kali dia mengucapkan kata yang sama. Ingin aku meneriakinya tapi percuma aku takkan menang dari manusia kejam itu.
"Baik Tuan".
Kak Roger meremes bahuku, berusaha menyalurkan kekuatan padaku. Aku tahu Kak Roger emosi bukan main bahkan dia berniat menyerang Bagaskara. Untung saja aku berhasil membujuknya untuk tak bertindak lebih, sebab rakyat jelata sepertiku takkan mampu melawan seorang Bagaskara.
Aku maju mendekati ranjang suamiku. Kutatap wajah tampan itu. Wajah pertama yang kulihat saat ku membuka mata, kini wajah itu akan terasa asing bagiku.
Kugenggam tangan Hubbyku. Semua yang ada pada dirinya, aku rindu. Aku rindu canda dan tawanya, aku rindu sifat manjanya, aku rindu saat dia merenggek mengajakku bercinta, aku rindu makan sepiring berdua dengannya, dan aku rindu mandi didalam kamar mandi kecil bersama meski akhirnya berujung pada bercinta dikamar mandi. Semua yang ada padanya aku rindu.
Dia sangat tampan, tak kusangka pria menyebalkan dan dingin itu adalah suamiku, lebih tepatnya mantan suami. Aku juga tak percaya jika dia bisa bucin akut padaku, padahal aku hanyalah gadis biasa yang terkesan cuek tapi dia berhasil meluluhkan pertahanan ku untuk tidak mencintai dan malah aku mencintainya dengan sangat.
Dia sudah mengorbankan segalanya untukku, rela kehilangan harta dan jabatan hanya demi bisa bersamaku. Dia juga mengorbankan nyawanya agar aku tetap hidup bersamanya, namun takdir berhendak lain tanpa aku diselamatkan pun kami takkan bisa bersama.
Kini giliran aku yang berkorban. Mengorbankan hati dan juga jiwa untuknya, meski berakhir dengan perpisahan. Biarlah, aku yang pergi dan biarlah aku yang mengalah. Bukan aku menyerah, hanya saja jika aku terus melangkah maka dia semakib menderita.
"Selamat berpisah Bby. Maaf, aku menyerah dan cukup sampai disini kisah kita. Setelah ini kita hanya dua orang asing yang pernah bersama meski pada akhirnya perpisahan yang kita hindari terjadi. Maaf, atas semua yang kulakukan padamu, mungkin aku banyak menyusahkanmu, dan membuatmu menderita bersamaku. Tapi percayalah Bby, aku sangat mencintaimu sangat malah. Terima kasih sudah hadir dihidupku, kamu adalah orang yang membuatku bangkit dari patah hati setelah kehilangan yang menguras air mataku. Maaf, karena tidak menepati janji untuk tidak pergi, aku tidak bermaksud menyerah tapi aku kalah oleh takdir yang memang menginginkan kita berpisah. Aku berharap kau tidak membenciku setelah bangun tidak mendapati aku ada disampingmu, namun hati ini akan tetap menjadi milikmu selamanya. Aku mencintaimu suamiku". Aku mengecup kening nya untuk terakhir kali, lama sekali aku membenamkan bibirku dikening kekarnya. Tuhan, bolehkah perpisahan ini dibatalkan saja? Rasanya aku tidak sanggup.
"Sudahkan, jangan lama-lama dia bukan suamimu lagi. Tidak muhrim mencium pria yang tidak sah". Mertuaku, Nyonya Erna menarik tanganku dengan kasar.
"Tidak perlu kasar Nyonya". Hardik Kak Roger menarikku mendekat padanya. Sorotan mata Kak Roger terlihat tajam, bahkan dengan beraninya Kak Roger melawan Nyonya Erna.
Nyonya Erna hanya mencibir dengan ledekkan. Aku bisa lihat betapa bahagianya mereka setelah aku berpisah dengan suami ku.
"Ayo Ra". Kak Roger menarikku menjauh
"Tapi Kak.......".
"Sudahlah Ra".
Aku menatap kearah suamiku yang semakin jauh dibawa oleh Dokter.
"Hubby". Lirihku.
Kak Han semakin menjauh hingga mataku tak sanggup lagi menangkap bayangnya. Inilah akhir dari cinta yang selama ini kuperjuangkan. Pada nyatanya perpisahan adalah akhir dari jalan ini.
"Kak hiks hiks hiks hiks". Aku tak mampu lagi menahan tangis.
Kak Roger memelukku erat. Dia adalah satu-satunya kini orang yang kumiliki didunia ini. Kak Roger akan menjadi pelindung ku, hanya dia tempatku berpulang.
"Ikhlas kan sayang. Jika memang kamu dan Kay berjodoh lagi, percayalah suatu saat kalian akan kembali bersama". Kak Roger berusaha menenangkan ku dengan kalimat palsu itu.
Aku menggeleng dan tak setuju "Tidak Kak, aku dan Kak Han takkan pernah bisa kembali bersama. Dunia kita berbeda". Bantahku.
"Aunty Ara". Aku terkesiap mendengar suara pria kecil itu.
Aku melepaskan pelukkan Kak Roger lalu beralih pada pria kecil yang juga sangat spesial dihatiku.
"Iya sayang". Aku menjongkokkan badan menatap Aldo sambil mengusap kepalanya.
"Jangan nangis, ada Ado dan Mami untuk Aunty". Ucap Aldo mengusap wajahku dengan tangan munggilnya.
"Terima kasih sayang". Aldo memelukku. Seandainya aku memiliki anak, pasti aku akan sebahagia Kak Shella.
"Ya sudah Ra, ayo kita siap-siap". Ajak Kak Jovan.
Aku mengangguk dan mengiyakan saja, karena menangis takkan pernah membuat semuanya kembali seperti semula.
"Kamu harus sabar Ra". Kak Shella mengelus pundak ku.
"Kami selalu bersamamu Ra". Kak Jovan turut menyemangatiku.
Aku tersenyum pada mereka. Mereka sangat peduli dan baik padaku dan Kak Roger.
"Ayo". Kak Roger merangkul ku.
Kak Jovan dan Kak Roger akan membawaku pergi jauh sangat jauh ke tempat yang tidak akan bisa ditemukan oleh keluarga Bagaskara. Karena menurut pendapat Kak Jovan, bahwa Bagaskara takkan berhenti mengusikku selama aku masih ada dibumi ini.
Kak Shella dan Aldo juga ikut bersama kami, karena Kak Shella tidak mau jauh dariku begitu juga dengan Aldo yang selalu menangis jika tidak ada aku.
Aku akan memulai hidup baru, memulai segalanya. Aku tidak tahu apakah aku sanggup atau tidak tanpa Kak Han? Namun inilah jalan takdir hidupku, mungkin ini yang sudah digariskan oleh Tuhan untukku.
"Selamat berpisah cinta, semoga kau bahagia tanpa aku. Aku masih berharap ada keajaiban yang akan mempertemukan kita dititik terbaik menurut takdir. Terima kasih untuk satu tahun yang boleh kita lewati, aku mencintaimu akan selalu mencintaimu".
Bersambung......
Kayahn ❤️ Kimara
Author sampai nangis nulisnya, sakit banget rasanya😭 Ini bukan kisah nyata author tapi entah kenapa author ngerasa gimana berada disposisi Ara😭