
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ara sedang memperbaiki pakaian putrinya Nara. Hari ini putri bungsunya itu akan mengikuti lomba melukis antar kesenian kota.
"Wahhh cantik sekali putri Mommy ini". Ara menoel hidung Nara dengan gemes.
"Siapa dulu Mommy-nya". Sahut Nara bangga sambil bercakak pinggang. Membuat Ara terkekeh mendengar ucapan putrinya itu.
"Wahhh, cantik sekali Dek". Zero, Zeno dan Naro menghampiri kedua wanita itu.
"Telima kasih Kakak". Senyum Nara.
"Ya sudah ayo". Ara mengandeng tangan putrinya.
"Sudah siap?". Tanya Jovan. Mereka semua mengangguk.
Seem, Shella dan Aldo sudah berangkat duluan. Karena Seem menjadi salah satu juri. Meski Aldo sempat menolak karena dia ingin bersama Bunda Ara-nya, namun ketika Ara memberi pengertian akhirnya Aldo mau dan menurut.
"Cantik sekali putri Papa ini". Nickho mencium pipi ara dengan gemes. Dia juga memangku gadis kecil itu.
"Puyli Papa gitu lhooo". Ujar Nara bangga.
Mereka menuju tempat perlombaan. Nara berpangku manja di pangkuan Nickho. Sedangkan Jovan mengemudikan mobil. Ara dan ketiga anaknya duduk dibangku penumpang.
Ara tersenyum hangat melihat kearaban putrinya dengan Nickho, yang tak lain adalah Kakak iparnya. Ara selalu berharap jika Kayhan kembali dan bersama dengannya merawat keempat anaknya. Ara berharap mimpinya selalu bisa dia gapai.
Ara mulai merasakan sakit dibagian pinggangnya. Sepertinya pompa darah ke bagian ginjalnya mulai menipis. Namun wanita empat anak itu berusaha kuat dan tidak mau membuat anak-anak nya panik. Ara terluka sedikit saja keempat anaknya bisa menangis berhari-hari, apalagi jika mereka tahu kondisi Ara yang sebenarnya.
Sampai ditempat perlombaan mereka sudah turun. Disana sudah banyak para peserta yang menunggu.
Ketika mereka turun sontak saja menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak wajah Naro, Zero dan Zeno sangat mirip dengan Kayhan, CEO ternama dan nomor satu di Negara ini.
"Tangan Mommy dingin. Apa Mommy kedinginan?". Tanya Naro, dia sedikit panik apalagi melihat wajah Ara yang pucat.
"Tidak sayang. Tadi AC didalam mobil terlalu dingin jadi badan Mommy ikut dingin". Kilah Ara berbohong sambil memaksakan senyum.
"Kau baik-baik saja Ra?". Sambung Jovan yang sengaja menunggu Ara dan Naro. Sedangkan Nickho dan yang lainnya sudah duluan.
"Iya Kak". Ucap Ara.
Acara perlombaan pun di mulai. Nara salah satu peserta termuda disana. Karena perlombaan itu bersifat umum yang tidak dibatasi oleh usia.
Ara tersenyum bangga melihat putrinya. Kemampuan melukisnya memang menurun pada putrinya. Sedangkan ketiga putranya menuruni kemampuan Kayhan dibidang IT.
"Mommy bangga padamu Nak". Batin Ara tersenyum
Acara perlombaan berlangsung selama hampir satu jam. Setelah satu jam para peserta kembali ketempat duduk mereka sambil menunggu hasil penjurian.
Kayhan baru saja turun dari mobil. Dia salah satu juri yang dipilih dalam event ini. Kedatangan Kayhan menjadi sorotan media. Para wartawan berlomba-lomba memotret dirinya. Kayhan sangat tampan dengan jas mahal yang melekat ditubuhnya. Meski wajahnya dingin tak tersentuh tak mengurangi aura ketampanan diwajahnya.
Kayhan masuk, beberapa bodyguard mengiringi langkahnya. Sedangkan Cody juga mengekor dari belakang. Setelah Cody menjelaskan kenapa dia menghianati Kayhan, akhirnya Kayhan memberi Cody kesempatan untuk bekerja lagi bersamanya, dengan satu syarat dia harus mencari keberadaan Ara dan anak-anaknya.
Kayhan duduk dibangku juri, disamping Seem.
"Kau terlambat". Ucap Seem dingin ketika adiknya duduk disampingnya
"Aku tahu". Jawab Kayhan dingin.
"Beri penilaian". Suruh Seem.
"Baik".
Mereka sedang mendiskusikan lukisan yang dibuat oleh peserta. Satu lukisan benar-benar menarik perhatian Kayhan. Dimana terlukis jelas senyum seorang perempuan yang tengah duduk ditepi sungai, disampingnya ada empat orang anak dan tidak jauh dari mereka duduk terlihat seorang pria tengah berdiri menatap mereka.
"Kenapa lukisan ini sangat mirip dengan lukisan Ara?". Batin Kayhan
"Apa mungkin Ara ada disini? Apa dia ikut lomba?". Batin Kayhan lagi
Setelah pencurian selesai. Waktunya MC mengumumkan siapa pemenang dari lomba lukisan tahun ini.
"Nara, Nara, Nara, Nara". Teriak Nickho memanggil putrinya.
"Papa". Nara melambaikan tangannya kearah Nickho dan tersenyum.
"Baiklah kita akan mendengarkan lomba melukis tahun ini". Ucap sang MC.
"Siapa yang sudah tidak sabar?". Seru MC dengan suara nyaring.
suara teriakka tepuk tangan menggema. Para suporter menyebut nama penggemar mereka berharap mereka bisa menang. Aldo yang awalnya antusias sekali ingin ikut lomba, mengurungkan niatnya karena dia malas berada ditempat ramai seperti ini.
"Bunda". Panggil Aldo menatap Ara.
"Iya sayang?". Tanya balik Ara "Ada apa?". Senyum Ara lembut.
"Kenapa wajah Bunda pucat?". Tanya Aldo.
"Iya Mommy?". Sambung Naro "Apa Mommy sakit?". Tanya Naro khawatir.
Ara menggeleng "Tidak sayang. Mommy baik-baik saja". Sahut Ara mengelus kepala putranya.
"Pemenang lomba melukis tahun ini adalah......".
"Adalah siapa hayo?". MC sengaja membuat para penonton penasaran.
Semua suporter menyebut nama penggemar mereka. Teriakan riuh begitu menggema. Ada sekitar seratus lima puluh peserta dari berbagai usia termasuk Nara. Nara duduk dengan tenang didepan sambil tak sabar menunggu hasilnya.
"Tuhan, kenapa dia sangat mirip Ara?". Kayhan yang menatap Nara dari bangku juri, menutup mulut tak percaya
"Pemenang nya adalah........".
"Keynara Mahendra".
Nara langsung berjingkrak senang. Gadis itu melompat-lompat.
"Papa, Mommy". Nara memeluk Nickho dan Ara secara bergantian.
"Selamat putri Papa". Nickho menciumi wajah Nara dengan gemes.
"Terima kasih Papa". Balas Nara.
"Mommy". Nara berhambur memeluk Ara.
"Putri Mommy hebat". Ara juga menghujani wajah putrinya dengan banyak ciuman.
"Terima kasih Mommy". Balas Nara mencium pipi Ara.
"Kepada Keynara Mahendra, silahkan maju kedepan untuk mengambil hadiah dan penghargaan".
Nara naik keatas panggung dengan lengak-lenggok sambil tangannya melambai kepada penonton yang riuh. Dia seperti artis model yang tengah melakukan fashion show.
"Tuan Kayhan Mahendra Bagaskara, untuk naik keatas panggung menyerahkan hadiah kepada juara kita".
Ara, Jovan, Nicko, dan Naro langsung bungkam. Ara bahkan membeku ditempatnya. Astaga Tuhan, pria itu akan melihat putrinya dari jarak dekat.
Kayhan naik keatas panggung dengan berkaca-kaca. Matanya menatap gadis kecil yang tengah tersenyum tak sabar sambil menantikan hadiah yang akan dia serahkan.
"Silahkan Tuan".
MC memberikan piala kejuaraan serta medali dan sertifikat kepada Kayhan.
Kayhan mengambil dengan badan bergetar. Andai saja dia sedang tidak menjadi juri, sudah pasti dia akan berlari memeluk putrinya itu.
Kayhan memasangkan mahkota dikepala Nara kecil. Dia juga memasangkan slemoang bertulisan juara satu ditubuh putrinya. Serta menyerahkan piala kepada putri kecilnya itu.
"Terima kasih Uncle". Senyum Nara bahagia.
Satu tetes butiran bening lolos dipelupuk mata Kayhan. Kenapa rasanya sakit saat putrinya memanggilnya Uncle? Apa dia tidak akan punya kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya?
Sementara Ara yang melihat putrinya tersenyum hanya bisa mengigit bibir bawahnya menahan tangis. Hanya Nara yang belum tahu jika Kayhan adalah Ayah kandungnya. Andai saja putri kecilnya itu tahu, sudah pasti dia akan memeluk Kayhan dengan bahagia.
**Bersambung............
Kayhan ❤️ Kimara**