Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 37. Akan selalu bersama.



Bersamamu aku menemukan bahagia, bersamamu aku menemukan sebuah cahaya, Bersamamu aku tidak takut lagi menjadi seorang pemimpi, karena hanya bersama kamu segala sesuatunya ada.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah acara pernikahan sederhana itu selesai, Kayhan segera membawa istri kecilnya. Meskipun Kayhan sedikit berat membawa Ara ke tempat kediaman Bagaskara, tapi Kayhan tidak punya pilihan karena dia sudah berjanji akan mengalah dan membawa Ara tinggal bersama keluarganya.


Kayhan dan Ara masuk kedalam kamar mewah milik Kayhan. Kamar yang berinterior cat abu-abu dan putih itu didesain dengan sedemikian rupa. Lukisan-lukisan yang harganya ratusan juga ikut bertempelan didinding kamar.


"Sayang, aku mandi dulu". Ucap Kayhan sambil mengecup kening Ara.


"Iya Kak". Senyum Ara.


"Sini sayang, aku bantu buka resleting nya". Pinta Kayhan saat melihat Ara kesusahan membuka gaun nya.


Ara membalikkan badannya dan membiarkan Kayhan membuka resleting gaunnya. Kayhan membukanya dengan pelan dan penuh perasaan. Kayhan meneguk salivanya kasar saat disungguhkan dengan punggunh mulus putih milik Ara. Tiba-tiba saja tubuh Kayhan serasa panas. Namun secepat kilat dia menepis perasaannya, dia tidak mau memaksa istrinya jika belum siap.


"Aku ke kamar mandi dulu sayang". Segera Kayhan masuk kekamar mandi menghilangkan rasa gugupnya. Ahh tubuh Ara benar-benar menggoda imannya. Memang sudah haknya memiliki Ara seutuhnya tapi Kayhan tahu jika Ara belum siap.


Ara menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ara tersenyum saat mengingat jika dirinya sudah menikah, rasanya tidak percaya bisa menjadi istri dari seorang pria bernama Kayhan.


Selang dua puluh menit Kayhan keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


"Sayang". Ara membalikkan badannya dan matanya terbelalak melihat Kayhan yang telanjang dada.


"Astaga Kakak". Ara menutup wajahnya merasa sangat malu.


"Kenapa sayang?". Tanya Kayhan panik.


"Kak, kenapa keluar belum pakai baju?". Tanya Ara tangannya masih menutup wajahnya.


Kayhan terkekeh lucu mendengar pertanyaan istrinya, maklum gadis polos.


"Ya sudah! Sekarang giliran kamu mandi". Suruh Kayhan.


Tanpa ba-bi-bu Ara berlari kekamar mandi dengan tergesa-gesa. Kayhan menggeleng melihat tingkah Ara yang menurut nya lucu dan menggemaskan.


Kayhan tersenyum menatap pakaian diatas ranjang yang sudah disiapkan oleh istrinya, kecuali pakaian dalam. Ara benar-benar membuat Kayhan gemes dan ingin segera memiliki gadis itu.


Dikamar mandi Ara berendam bath up, jantungnya berdegup kencang saat melihat roti sobek milik suaminya. Ara menggeleng menghilangkan pikirannya yang sudah traveling kemana-mana.


Namun Ara teringat kewajiban sebagai seorang istri ya untuk melayani suaminya, sudah sepantasnya Ara melayani Kayhan apalagi ini malam pertama mereka.


Ara keluar dari kamar mandi dengan piyama yang sudah lengkap. Ara duduk dikursi meja rias, menyisir rambutnya dengan pelan.


"Sayang, sini biar aku yang sisir". Pinta Kayhan mengambil sisir dari tangan Ara.


Ara mengangguk dengan senyum "Terima kasih Kak". Ucap Ara tulus. Perlakuan lembut Kayhan membuat Ara bahagia memiliki suami yang bisa menghargai dan memperlakukan nya dengan baik seperti Kayhan.


Kayhan menyisir rambut Ara dengan telaten. Wangi rambut Ara menyuar dihidung Kayhan yang membuat nya seakan candu dengan shampoo yang dipakai Ara.


"Tidur yuk sayang". Ajak Kayhan.


Ara mengangguk dan mengikuti suaminya menuju ranjang, mereka berdua terlihat canggung satu sama lain.


Ara tersenyum mendengar ucapan suaminya yang begitu menghargai dirinya, Ara tahu jika sekarang suaminya tengah menahan hasrat.


"Sayang, apapun yang terjadi aku ingin kita selalu bersama". Ucap Kayhan "Mungkin setelah ini akan banyak masalah yang menyerang kita dan aku harap kamu tidak memilih pergi saat nanti ada yang mencoba memisahkan kita". Kayhan menangkup wajah istrinya dan menatapnya dengan penuh cinta.


Ara memegang tangan Kayhan yang melekat kedua pipinya "Aku berjanji Kak, akan selalu bersama Kakak. Aku tidak akan pergi dan meninggalkan Kakak. Aku mencintai Kakak". Ujar Ara dengan penuh keyakinan.


"Maaf jika kedua orangtuaku tidak menerima kehadiran mu, tapi aku yakin suatu saat nanti mereka akan mengerti kondisimu". Timpal Kayhan yang merasa sakit ketika melihat istrinya ditatap sebelah mata.


Ara menggeleng "Tidak apa-apa Kak, aku paham perasaan mereka. Maaf jika aku tidak bisa memberimu keturunan, tapi jika kedua orangtuamu menginginkan seorang cucu, maka menikahlah dengan wanita pilihan mereka aku ikhlas asal Kakak bahagia". Ucap Ara, hatinya sakit saat mengatakan hal itu.


"Tidak, tidak. Apa yang kau bicarakan sayang? Aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun selain dirimu". Bantah Kayhan "Anak itu bukan investasi masa tua kita. Sebagai manusia normal tentu kita ingin menjadi orangtua dan memiliki anak, tapi flashback lagi apa sih tujuan menikah? Jika menikah hanya karena ingin memiliki angkat, kenapa tidak angkat anak saja atau membeli rahim orang lain? Sayang, jika Tuhan mengizinkan kita punya anak kita pasti punya anak, dan jika pun tidak mungkin Tuhan ingin kita menghabiskan waktu hanya berdua sampai tua". Jelas Kayhan panjang menatap wajah istrinya sambil berkaca-kaca. Dalam hidup Kayhan takkan ada yang namanya poligami atau membagi hati. Bagi Kayhan, Ara adalah segalanya. Jika Ara bisa membuatnya bahagia, lantas untuk apa anak?


Ara menatap Kayhan "Kak, terima kasih hiks. Aku mencintaimu". Ara memeluk suaminya dengan Isak tangis bahagia. Betapa Tuhan baik untuk Ara. Setelah Ara ditinggalkan oleh kedua orangtua dan adiknya, Tuhan mengirimkan Kayhan untuk menjadi suami yang menyanyangi Ara dengan tulus tanpa peduli tentang kondisi Ara.


Ara melepaskan pelukkan "Kak, lakukan lah". Perintah Ara


"Tapi sayang.......".


"Kak, aku sudah siap". Potong Ara. Ara harus melayani suaminya malam ini.


Senyum mengembang dibibir Kayhan "Baiklah sayang, aku akan melakukan nya dengan pelan". Kayhan mengecup kening, hidung, kelopak mata, dan kedua pipi Ara dengan gemes.


"Aku akan melakukan nya dengan pelan". Bisik Kayhan ditelinga Ara dengan suara yang sudah mulai serak. Sedari tadi sesuatu yang ada dibalik celananya sudah mengeras ingin dikeluarkan untuk dipuaskan.


Kayhan mengecup bibir Ara dengan lembut, ciuman pertama bagi keduanya. Meskipun mereka belum memiliki pengalaman, keduanya hanya menggunakan insting saja.


Kayhan ******* bibir Ara dengan lembut, mengecap rasa manis bibit istri kecilnya. Sepertinya bibir ini akan menjadi candu untuk Kayhan.


Malam pertama mereka dilalui dengan penuh cinta dan kemesraan. Cinta pertama akan menjadi cinta terakhir untuk keduanya.


"Terima kasih sayang, sudah menjaganya untukku". Kayhan mengecup kening Ara yang sudah terlelap setelah mencapai kenikmatan penyatuan keduanya.


Dibalkon kamarnya, Seem duduk dengan tatapan kosong. Pria itu memegang dadanya yang terasa sesak saat mengingat Kayhan dan Ara yang mengucapkan janji suci didepan Tuhan.


"Ra, kenapa?". Lirih Seem memegang dadanya sambil matanya terpejam menikmati angin malam yang membuat kulitnya terasa terkikis.


"Apa kau tahu Ra? Hati ini terasa sakit saat melihatmu bersanding dengan orang lain! Harusnya aku yang disana, Ra". Seem memukul dadanya berkali-kali menahan sakit dihatinya.


Badan Seem bergetar, dia terduduk dan menelungkupkan wajahnya dikedua lututnya. Patah hati yang Seem alami saat ini lebih sakit dari pada saat dikhanati oleh kekasihnya.


"Hiks hiks hiks". Pertama kalinya Seem menangis setelah dewasa. Ketika kekasihnya selingkuh Seem tidak menangis sedikit pun walaupun hatinya sakit luar biasa, tapi ketika melihat wajah Ara dan mengingat gadis yang sudah sah menjadi adik iparnya itu membuat Seem merasakan bagaimana rasanya hancur dan kehilangan yang teramat sangat.


Padahal Seem hanya baru beberapa kali bertemu Ara, tapi gadis itu sudah berhasil membuatnya jatuh cinta dan terbang melayang diudara hingga tanpa Seem tahu dan siap seketika dia terhempas sangat jauh.


**Bersambung..........


Salam hangat


Kayhan ❤️ Kimara**