
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Seorang pria tampan tengah duduk dikursi kebesaran. Kakinya dia naikkan keatas meja. Tatapannya kosong dan hampa. Entah apa yang sedang dia pikirkan hanya dia saja yang tahu.
"Tuan". Cody masuk bersama Nickho.
Nickho yang heran tiba-tiba dipanggil oleh Kayhan. Ketika bertanya pada Cody, Cody hanya menjawab perintah dari Kayhan.
"Ada Tuan Nickho". Ucap Cody.
"Hmmmmmmmm". Kayhan hanya merespon dengan deheman.
"Silahkan Tuan. Saya permisi keluar".
Nickho duduk soffa ruangan Kayhan "Ada apa kau memanggilku kesini?". Tanya Nickho heran.
Kayhan menghampiri Nickho dan duduk disamping sepupunya itu.
"Aku bertemu Ara".
"Apa?". Pekik Nickho terkejut. Padahal dia sudah tahu karena dia yang membawa anak-anak Ara menggunakan mobilnya. Namun sayang ditengah jalan, Nara menangis mencari dimana Mommy-nya.
"K-kau serius?". Tanya Nickho. Dia sangat pandai berakting
Kayhan mengangguk "Iya. Aku bertemu dengannya di Mall. Dan kau tahu, ada empat bocah kembar yang tiga begitu mirip denganku sedangkan yang satu nya sangat mirip dengan Ara". Jelas Kayhan. Nickho manggut-manggut. Meski sebenarnya dia tidak tertarik dengan cerita Kayhan.
"Lalu?". Tanya Nickho. Kening Kayhan berkerut, kenapa Nickho tidak terkejut sama sekali? Tapi Kayhan tak peduli.
"Anak-anak itu memanggil Jovan dengan panggilan Ayah. Awalnya kupikir mereka anak-anak ku, karena bisa jadi Ara melahirkan bayi kembar empat lima tahun yang lalu. Tapi saat dia memanggil Jovan Ayah, aku jadi ragu".
Tangan Nickho terkepal tanpa Kayhan sadari. Nickho memejamkan mata berusaha tidak emosi.
"Bahkan mereka juga memanggilku Papa. Tapi bukan berarti mereka anakku". Batin Nickho.
"Kenapa kau ragu?". Tanya Nickho penasaran.
"Entahlah". Kayhan mengedipkan bahunya
"Apa kau masih mencintai Ara?". Mulut Kayhan langsung bungkam. Dia tidak tahu apa yang harus dia jawab.
"Kenapa?". Tanya Nickho yang melihat Kayhan hanya diam saja.
"Aku tidak tahu". Kilah Kayhan memalingkan wajahnya.
Keduanya kembali terdiam dalam pikiran masing-masing. Emosi Nickho masih terasa memuncak saat Kayhan meragu kan anak-anak nya. Ingin sekali Nickho memberitahu yang sebenarnya, namun ini bukan waktu yang tepat biarlah Kayhan mencari tahu sendiri nantinya. Dia akan menyesal sendiri ketika tahu semuanya.
"Apa kau tidak berusaha menyelidiki?". Tanya Nickho.
Kayhan menggeleng "Untuk apa? Tohh dia sudah bahagia bersama pria pilihannya". Kayhan tersenyum getir "Orang yang mencintaimu takkan meninggalkanmu meski pun ada seribu alasan membuat nya menyerah dia akan menemukan satu alasan untuk bertahan".
"Kau benar? Jika bukan demi menyelamatkan nyawamu yang tidak berharga itu, Ara takkan semenderita ini". Sambung Nickho dalam hati.
Lama-lama dia juga geram dengan sikap Kayhan yang kekanak-kanakan itu. Harusnya Kayhan berusaha mencari tahu keberadaan Ara dan anak-anaknya. Bukankah Kayhan berkuasa dan bahkan di juluki crazy rich CEO. Tentu hanya untuk mencari info sekecil itu sangat mudah baginya.
Ditempat lain.
Seem duduk sambil tersenyum hangat. Dia baru saja menyelesaikan meeting disebuah caffe yang sudah di boking oleh John, diruang VVIP.
"Bagaimana John? Apa kau sudah menemukan identitas Ara?". Tanyanya sambil menyesap minuman digelasnya. Sedangkan klien yang melakukan pertemuan sudah pulang duluan.
"Sudah Tuan".
"Bacakan".
"Selama ini Nona Ara memang tinggal di Belanda Tuan bersama keluarga Van Derg dan Tuan Roger". Ucap John.
"Dugaanku benar". Seem tersenyum smirk "Lanjutkan".
"Nona Ara, mengandung bayi kembar empat..".
"Bayi kembar empat?". Potong Seem menatap asisten nya
"Iya Tuan".
"Lanjutkan". Tintah Seem.
"Nona Ara menderita Fibroid Rahim, atau yang disebut kanker rahim".
"Kanker Rahim?". Seem kembali memotong ucapan John sebelum sang asisten selesai berbicara.
"Iya Tuan". Sahut John "Nona Ara melakukan kemoterapi dan harus mengeluarkan keempat bayinya secara paksa". Mata Seem terpejam mendengar penderitaan Ara.
"Lalu?".
"Apa?". Seem menatap John tak sabar.
"Gagal ginjal terminal Tuan".
Deg
Jantung Seem serasa berhenti berdetak. Begitu banyak penderitaan yang gadisnya itu rasakan selama hidup. Kini harus kembali menghadapi satu penyakit dan kenyataan.
"Gagal ginjal terminal?". Tanya Seem memastikan.
"Benar Tuan".
Seem memejamkan matanya. Kenapa dia jadi gelisah begini? Apa perasaannya pada Ara masih ada?
"Lalu apa kau menemukan alasan kenapa Ara pergi meninggalkan Kayhan?".
"Ini Tuan". John menunjukkan layar iPad ditangannya
Seem melihat rekaman CCTV yang diyakini tempatnya di Mansion mewah keluarga Bagaskara.
Mata Seem membulat sempurna saat apa yang dilakukan Kakek Nenek-nya pada Ara, serta kedua orang tuanya. Seem menggeleng tak percaya.
Disana terlihat Ara sedang menjilati sepatu Bagaskara lalu mengelapnya dengan rambut pendek Ara. Setelah itu dia ditampar dan dipaksa menandatangani surat perceraian mereka.
Seem memalingkan wajahnya. Tanpa sadar satu tetes air mata jatuh dipipinya. Segera Seem menghapus air matanya.
"Kita pulang". Seem berdiri.
John menatap tak percaya saat Seem menghapus air matanya. Baru kali ini dia melihat pria dingin itu menangis. Ketika berpisah dengan kekasihnya sepuluh tahun yang lalu Seem tampak biasa saja dan tidak sesedih itu. Namun ketika melihat semua penderitaan Ara, hatinya sangat sakit dan juga kecewa.
John mengikuti langkah kaki Seem yang keluar dari ruang VVIP dan menuju pintu keluar.
Semua mata menatap Seem dengan kagum. Mereka juga cukup mengenal Seem karena selain pelukis hebat Seem juga pengusaha terkenal yang namanya sering muncul dimajalah bisnis.
Brakkkkkkkkkkk
Tak sengaja Seem bertabrakan dengan seseorang. Bahkan tangannya menahan pinggang orang yang dia tabrak.
Deg deg deg deg deg
Mata Seem dan wanita itu bertemu. Keduanya membeku ditempat.
"Tuan". John segera menghampiri Seem. Dia tahu pria itu alergi wanita. Bisa gawat jika Seem mengamuk dikeramain seperti ini.
"Tu-tuan". John juga membeku saat melihat siapa yang sedang berada dipelukkan Tuan-nya.
Mereka menjadi pusat perhatian penghujung. Seperti sebuah drama Korea yang menjadi penonton.
"Kau........". Wanita itu segera melepaskan diri dari pelukkan Seem.
"Michelle Lavigne?". Seem menatap wanita itu.
Sang wanita mencoba kabur. Secepatnya Seem mencekal tangan sang wanita. Membuat John semakin tercenggang. Alergi Seem hanya akan hilang bersama Ara. Tapi kini ada wanita lain yang membuat Seem tidak alergi lagi
"Mau kemana?". Seem menarik wanita itu hingga jatuh kedalam pelukkannya.
Mata sang wanita membulat sempurna. Dia takut dan teringat pada kejadian sepuluh tahun yang lalu. Wajah pria ini masih sama, menyeramkan.
"L-lepaskan aku Tuan". Wanita itu berusaha memberontak namun tetap dia tak bisa mengalahkan kemampuan Seem.
"Tidak, aku mencarimu selama sepuluh tahun". Tatap Seem.
John diam tak bergeming. Dia juga tak menyangka wanita yang dicari Tuan-nya selama sepuluh tahun ini kini ada dihadapan mereka. Sialnya lagi wanita ini sangat cantik dengan body gitar spanyol nya.
"Ak-aku tidak mengerti maksudmu Tuan". Kilah sang wanita.
Seem tersenyum licik. Dia tidak tahu jika sedang menjadi pusat perhatian banyak orang disana.
Seem mendekati telinga wanita itu "Jangan lupa sayang, kau pernah mendesah dibawahku. Sekarang kau harus bertanggung jawab karena telah merebut keperjakaanku". Bisik Seem terdengar menggoda
Buku kudung wanita itu berdiri. Dia menggeleng mengusir pikiran jahatnya
"Kau tidak hamil Tuan, kenapa aku harus bertanggung jawab?". Ujar wanita itu. Dia masih menempel didada Seem.
"Aku yang akan bertanggung jawab". Seem menarik tangan wanita itu "Ayo ikut aku". Dia membawa wanita itu keluar dari caffe, dan langsung masuk kedalam mobil.
Kayhan ❤️ Kimara