Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 16. Kalian tidak akan mengerti



**Seandainya kamu merasakan jadi aku sebentar saja. Takkan sanggup hatimu terima, sakit ini begitu berat.


@Judika.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹**


Ara bangun pagi sekali, hari ini dia tidak boleh terlambat kekantor. Kemarin dia tidak masuk, sudah pasti dia akan mendapat hukuman lagi dari Boss nya.


Ara tersenyum melihat kearah meja makan, dimana makanan sudah tersedia dengan rapih.


"Selamat pagi Bu, Mey". Sapa Ara pada dua wanita berbeda usia itu.


"Pagi juga Nak".


"Pagi Kak".


Sahut keduanya secara bergantian. Ara mengambil makanan secukupnya untuk sarapan, sebab Ara tidak boleh makan terlalu banyak karena bekas operasi nya itu pasti akan terasa sakit.


Mereka sarapan dalam diam, ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Benar-benar terasa ada yang berbeda dari sarapan hari ini yang biasa ditemani sang Ayah kini hanya mereka bertiga.


"Apa Kak Roger pulang semalam Bu?". Tanya Ara setelah menyelesaikan sarapan nya.


"Iya Nak, seperti biasa dia pulang dalam keadaan mabuk". Ara menghela nafas kasar saat mendengar jawaban Ibu nya.


"Mey, hari ini berangkat sendiri ya. Pakai motor ini". Ara menyerahkan motor peninggalan Ayahnya pada Mey, motor itu motor satu-satunya milik keluarga, sedangkan motor buntut yang biasa Ara pakai sekarang masih dibengkel dan Ara belum memiliki uang untuk mengambil motor itu kembali.


"Terus Kakak pakai apa?". Tanya Mey.


Ara tersenyum mengelus lengan adiknya "Kakak akan naik bis saja". Ucap Ara "Kalau begitu Kakak berangkat ya". Ara mengambil tasnya dan menggantung dibahunya.


"Bu Ara berangkat dulu".


"Iya Nak hati-hati, jangan lupa makan siangnya". Pesan Wati. Ara tersenyum mendengar perhatian Ibunya dan dia hanya mengangguk saja.


Ara sampai didepan gedung pencakar langit dengan tulisan KMB Group, yang tidak lain adalah gedung tempatnya bekerja.


Ara masuk dengan langkah gontai. Tampak kantor masih sepi, karena dia adalah orang pertama yang datang kekantor selain satpam yang bertugas malam.


Ara menghampiri meja kerjanya dan dia heran melihat barang-barangnya sudah tidak ada, bahkan komputer yang biasanya berdiri rapih diatas mejanya kini juga hilang.


"Kemana barang-barang ku?". Gumam Ara memperhatikan seluruh isi meja dan lacinya, tidak terdapat satu pun barang Ara.


Ara terduduk lemas "Apa aku dipecat?". Lirih Ara menunduk "Hiks, kenapa kalian tidak mengerti?". Lirih Ara menangis sambil melungkupkan wajahnya diatas mejanya badannya bergetar "Aku harus bekerja dimana?". Gumam Ara.


Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Ara sudah berada dilapangan untuk briefing pagi bersama para karyawan yang lainnya.


Gadis itu semakin banyak diam, bahkan bisikan-bisikan para karyawan disampingnya sudah tak lagi Ara dengar dan dia juga tidak peduli.


Banyak yang mencibir Ara dan mengatakan bahwa karena Ara gaji mereka dipotong oleh sang CEO.


Ara masih berdiri tanpa ekspresi bahkan dia tak menyadari Martha yang sedari tadi memanggil namanya.


"Ra". Panggil Martha setengah berbisik. Ara hanya menoleh dan memaksakan senyum diwajahnya. Lalu kembali melihat kedepan tanpa ekspresi, karena dia baris paling depan.


Kayhan, Nathan dan Cody masuk kelapangan. Ketiga pria tampan seusia itu terlihat begitu mempesona walaupun dengan wajah yang sangat dingin tanpa ada senyum sedikit pun.


Tatapan mereka hanya satu objek yaitu Ara dan tumbennya gadis itu hari ini tidak terlambat, apa mungkin dia tahu bahwa dia sudah dipecat.


"Nona Kimara Ferarer". Panggil Cody "Silahkan maju kedepan". Suruh Cody.


Ara maju beberapa langkah mengsejajarkan langkah kakinya dengan Cody dan menghadap kearah barisan.


Lalu Nathan menyerahkan amplop putih pada Ara. Ara sudah tahu isinya pasti surat pemacatan dirinya. Ara membuka amplop itu dan wajahnya biasa saja tidak terkejut apalagi panik. Mau bagaimana lagi dia memang sudah dipecat.


"Mulai hari ini kamu dipecat dan sesuai perjanjian kita kemarin tidak ada pesangon dari perusahaan". Jelas Nathan dengan nada tegasnya, memperingati Ara. Awalnya dia simpati pada gadis ini tapi melihat Ara tidak masuk kemarin membuat pria tampan itu seketika emosi, pikirannya berlarian bahwa Ara sedang berkencan dengan kekasihnya.


"Iya Tuan, terima kasih". Hanya itu yang keluar dari mulut Ara, membuat mereka yang disana terheran-heran


Kayhan menatap Ara dengan dingin, dia tersenyum sinis pada gadis itu. Sedangkan Cody menatap kasihan, kedua Tuan-nya mengambil keputusan tanpa menyelidiki apa yang membuat Ara tidak masuk. Jangan sampai keduanya menyesal.


"Sekarang jelaskan pada kami semua kenapa kau bisa terlambat dan kemarin tidak masuk dan juga alasan cuti satu bulan. Kami semua curiga jika kau menikah diam-diam". Hardik Nathan terdengar nada kecemburuan disana.


Ara menghela nafas kasar. Dia menatap Kayhan dan Nathan secara bergantian, lalu menatap para karyawan yang sudah meremes kertas yang ada ditangannya dan siap melempar dirinya dengan kertas.


Ara menyeka air matanya dengan kasar, mengingat semua yang dia alami membuat hatinya kembali sakit. Tapi dia harus menceritakan semuanya dan tidak apa semua orang tahu, toh dia juga sudah dipecat.


"Satu bulan yang lalu saya cuti, karena..... Karena saya sakit dan masuk rumah sakit, saya juga harus operasi Kista Ovarium Sinistra, stadiun tiga". Ara menarik nafas dalam. Yang lain terdiam.


"Saya sengaja mengambil cuti, karena jika saya izin sakit perusahaan pasti akan mengeluarkan saya dan saya tidak mau keluar dari perusahaan karena saat harus tetap bekerja. Saya kaget ketiga mendapat surat panggilan pertama dari perusahaan. Saya harus masuk keesokkan harinya". Kayhan menatap Ara, dia teringat saat bertemu dirumah sakit dengan Ara.


"Hari pertama, saya terlambat karena....". Ara tak mampu menahan tangisnya "Ketika saya bangun, saya mendengar teriakkan orang rumah, saya pikir siapa ternyata Ayah saya jatuh dan pingsan dilantai, saya harus mengurus semua keperluan Ayah dirumah sakit dan juga menginap disana. Saya harus pulang kerumah untuk masak dan membawakan bahu ganti untuk Ibu, lalu mengantar adik saya kesekolah baru berangkat kekantor". Semua terdiam termasuk Kayhan dan Nathan.


"Hari kedua, saya harus mencari pinjaman untuk biaya berobat Ayah. Saya harus menginap lagi kerumah sakit, pulang ke rumah untuk menyiapkan makanan dan beka untuk adik saya, lalu pergi kerumah sakit untuk mengantar makanan dan mengantar adik saya kesekolah nya, karena dia sedang mengikuti ujian dan tidak boleh terlambat. Setelah mengantar adik saya, saya berangkat ke perusahaan dan ditengah jalan motor saya mogok, saya harus cari bengkel dulu dan baru berangkat ke kantor.....".


"Dan kemarin, saya tidak masuk, karena.....". Ara tak mampu menahan sesak didadanya, dia bahkan memukul dadanya berkali-kali. Supaya nafasnya tidak tersangkut.


"Ayah saya meninggal dan pergi untuk selamanya meninggalkan saya dan semua kenangan yang tak dia bawa pergi, hikss hiks hiks". Tangis Ara menggema. Sakit dan sangat sakit.


Semua mereka terdiam, Kayhan bahkan maju satu langkah berjalan ingin menghampiri Ara.


Sedangkan Nathan mematung ditempatnya.


"Jika bukan karena Ayah saya, saya juga tidak mau terlambat apalagi sampai tidak masuk berkerja. Saya tahu bahwa disini hanya sayalah pendidikan terendah, dan mungkin saya memang pantas berada disini....".


"Ra". Nathan berusaha memeluk Ara, tapi Ara menepisnya dengan kasar.


"Kalian tidak akan paham, apa yang sudah saya lewati selama ini? Kalian tidak akan tahu, bagaimana sulitnya perjuangan saya? Untuk sampai kekantor saja saya harus melewati beberapa rintangan, hiks".


Ara memegang perutnya yang terasa perih karena menangis dan itu menjadi pusat perhatian untuk mereka semua yang ada disana.


Ara melangkah pelan meninggalkan mereka yang masih mematung.


Tubuh Ara membeku saat sebuah tangan kekar memeluknya dengan erat. Ara tidak tahu siapa yang memeluknya


"Maafkan aku hikssss". Suara yang cukup familiar Ara dengar.


Ara membalikkan badannya "Tu-tuan". Seru Ara saat melihat Kayhan dengan mata sembab menatapnya.


Pandangan Ara mulai kabur, dan tiba-tiba gelap. Ara terjatuh dan untung saja Kayhan dengan sigap menangkap tubuh Ara.


"ARA". Teriak mereka semua.


Kayhan mengendong tubuh Ara sambil berlari dengan panik diikuti oleh Nathan, Martha dan Cody. Mereka panik bukan main, takut terjadi sesuatu pada Ara. Apalagi mereka merasa bersalah saat mengetahui alasan Ara


**Bersambung.......


Salam hangat


Kimara ❤️ Kayhan**.