Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 78. Pupus



Entah dimana dirimu berada hampa terasa hidupku yanpa diri, apakah disana kau rindukan aku sperti dirimu yang selalu merindukan mu yang selalu merindukanmu.


@AriLasso


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Seem tengah duduk dibalkon kamarnya, ditemani dengan secangkir kopi tanpa gula. Dia menikmati hujan salju yang berjatuhan. Mantel tebal, kaos tangan serta topi yang membungkus tubuhnya serasa tembus hingga ke sendi-sendi tulang nya.


Kopi didalam gelasnya terasa dingin seperti es bersama bongkahan salju yang berjatuhan.


Dia memilih menepi kembali ke London, Inggris. Tempat persembunyian nya selama belasan tahun terakhir. Sejak lima tahun silam, ketika dia dikhianati oleh pacarnya sendiri. Seem pernah menghabiskan malam dengan seorang perempuan, tapi dia tidak ingat siapa perempuan itu? Dan bagaimana wajahnya?


Sejak saat itu Seem, phobia terhadap wanita dan merasa jijik, apalagi saat mengingat penghianat sang kekasih dan ditambah setelah bangun tubuhnya tanpa sehelai benang pun.


Sampai akhirnya pertemuannya dengan gadis pendiam dan dingin bernama Ara yang membuatnya sembuh dari phobia itu. Namun sayangnya gadis itu adalah istri adiknya sendiri. Sekarang, gadis itu sudah bercerai dengan adiknya dan satu faktanya lagi bahwa kini gadis itu hilang entah kemana?


"Tuan".


"Ehem".


"Saya sudah mendapat informasi tentang penyakit Tuan Kay".


"Bacakan".


"Tuan Kay mengalami Sindrom Couvade".


"Apa itu?". Tanya Seem mengerjitkan dahi. Bukan bidang kedokteran tentu tidak tahu apa yang dimaksud John.


"Kehamilan simpatik Tuan".


"Hamil? Siapa yang hamil? Kay?". Racau Seem asal.


John menahan tawa, ternyata dibalik sifat dingin Seem dia memiliki humor yang terbilang ada. Meskipun sedikit karena kebanyakan wajah datar tanpa ekspresi. Namun masih sempat berkata dengan polosnya bahwa Kayhan hamil.


"Sindrom Couvade adalah kehamilan simpatik, yang biasanya dirasakan oleh seorang suami saat kandungan istrinya memasuki trimester". Jelas John.


"Mengandung? Maksudmu? Siapa yang mengandung?". Seem masih tak mengerti.


John mendekat kearah Seem "Menurut informasi yang saya dapat dari rumah sakit, bahwa Tuan Kay menderita Sindrom Couvade karena ikatan batin yang kuat dengan istrinya yang sedang hamil".


Seem terdiam mencerna penjelasan John.


"Maksudmu yang hamil Ara?". Tebak Seem menatap Assisten nya.


"Iya Tuan".


Deg


Seketika tubuh Seem mematung. Pupus sudah harapannya untuk merebut Ara. Sekarang Ara-nya tengah mengandung buah cinta mereka.


"Bukankah Ara mandul? Bagaimana mungkin dia bisa hamil?". Seem berkilah dengan pendapat John, barangkali pendapat assistennya itu salah.


Seem memejamkan matanya, menahan sesak didadanya. Apakah ini akan menjadi akhir perjuangannya untuk mendapatkan cinta Ara? Seem selalu berharap jika Tuhan menjodohkan Ara dengannya.


"Apakah sudah ada informasi tentang nya?".


"Maaf Tuan, sistem keamanan identitas Nona Ara semakin diperketat. Orang kita tidak bisa melacak keberadaan nya sekarang. Terakhir yang bisa kita temukan di Belanda, kemungkinan besar Nona Ara masih di Negara itu. Tapi kita tidak bisa membuktikan karena hingga kini keberadaan Nona Ara belum dipastikan". Jelas John.


"Baik. Kau boleh keluar".


"Kalau begitu saya permisi Tuan".


Seem melanjutkan lamunannya. Balkon kamar yang terasa dingin dengan butiran saldo yang menempel dimantel yang dia kenakan tak membuat hati pria itu mendingin.


"Ra. Apa ini artinya aku harus berhenti memperjuangkanmu? Jika aku tak bisa memiliki mu, maka aku berjanji bahwa kau dan Kay akan kembali bersama. Aku tak peduli bocah ingusan itu menolakmu lagi, dan kupastikan bahwa dia akan menyesal jika dia menolakmu. Namun, jika dia kembali menolakmu dan anak yang ada dalam kandungan mu, maka saat itu aku akan maju kembali untuk merebutmu tak peduli ini terdengar egois, aku hanya ingin memilikimu Ara-ku". Seem memegang dadanya mencoba menahan semua gejolak yang membuncah dan ingin terasa pecah.


Disisi lain, Nathan tengah mengerjakan semua berkas diatas mejanya. Sejak Kayhan memilih kembali ke Australia, Nathan kini harus mengurus semua masalah perusahaan meskipun masih harus dipantau oleh Kayhan dari sana.


Nathan menghela nafas berat, dia menyenderkan punggungnya dikursi kebesaran lalu memijit pelipisnya yang terasa pusing dan juga berdenyut karena seharian harus berhadapan dengan laptop.


Nathan bangkit dari duduknya dan bergegas keluar untuk pulang.


Langkah Nathan terhenti.


"Aku belum menemukan dimana keberadaan gadis mandul itu, Tuan. Tapi tenanglah aku akan segera memberitahu dimana dia". Jelas suara didalam sebuah ruangan.


Nathan terdiam sejenak, dia cukup familiar dengan suara itu. Suara seorang gadis cerewet didivisinya.


"Baik Tuan. Kupastikan Ara takkan kembali pada Tuan Kay. Tuan tenang saja, asal Tuan berjanji akan membantuku mendapatkan William". Nathan terkejut mendengar ucapan gadis itu dia bahkan menatap tak percaya.


Gadis itu adalah Martha, gadis cantik yang memiliki kecerdasan tinggi. Gadis yang berambius dengan segala keinginan nya. Yang membuat Nathan tak habis pikir, Martha adalah sahabat baik Ara, tapi kenapa wanita itu berbicara seperti itu?


Nathan melangkah meninggalkan gedung perusahaan, pikirannya campur aduk. Nathan mulai meragukan jika kepergian Ara ada hubungannya dengan Martha dan Ara pergi bukan karena mendua atau tidak mau memiliki suami lumpuh.


Nathan meronggoh saku celananya mencari benda pipih itu.


"Halo".


"Carikan aku informasi tentang wanita bernama Martha. Pastikan awasi gerak geriknya dari jauh. Laporan padaku, apa saja yang dia lakukan. Jangan ada yang terlewatkan".


"Baik Tuan".


Nathan kembali melajukan mobilnya. Dia sekarang memang bekerja sendirian. Nickho juga ikut Kayhan tinggal di Australia. Sementara Seem memilih pulang ke London dan tidak mau kembali ke tanah air.


Terpaksa Nathan yang harus bertahan disini, menjalankan semua perusahaan milik sahabatnya.


Bersambung.......


Kayhan ❤️ Kimara