Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 141. Pertemuan dengan Bagaskara



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ara, Aldo, Naro, Zero, Zeno dan Nara. Mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke galeri lukisan Ara. Hari ini galeri itu sudah dibuka, Ara juga sudah mendapat izin sewa dari tempat yang dia beli.


"Sudah siap semuanya?". Seru Ara.


"Siap Bunda".


"Siap Mommy".


"Ya sudah ayo kita berangkat". Ara menggandeng tangan putrinya dan tersenyum gemes.


Sementara Shella mengurus butik dan Jovan bertemu klien yang akan bekerjasama dengannya. Jovan tak khawatir membiarkan Ara dan anak-anaknya keluar tanpanya, karena dia dan Nickho sudah mengirim pengawal bayangan yang akan menjaga dimana pun Ara dan anak-anaknya berada.


Chittttttttttttttt


"Ada apa Paman?". Tanya Ara sedikit panik ketika sang supir mengerem mendadak. Bahkan tubuhnya dan anak-anaknya sampai terhuyung kedepan.


"Maaf Nona. Ada Kakek-kakek yang menyebrang dan hampir saja tertabrak". Jawab sang supir.


"Ya sudah biar saya periksa saja Paman". Ara melihat anak-anaknya "Kalian tunggu Mommy didalam mobil. Jangan keluar. oke".


"Baik Mom". Sahut keempatnya serentak.


"Bunda, Ado ikut". Aldo mencengkram lengan Ara.


Ara mengangguk dan dia membuka pintu. Ara segera berlari pelan melihat seorang Kakek-kakek memakai tongkat yang hendak bangun.


"Maaf Tuan, apa kau baik-baik saja?". Ara membantu pria berusia itu bangun "Ado bantu Bunda". Tintah Ara.


"Iya Bunda". Aldo membantu Ara memapah tubuh pria tua itu berdiri.


deg deg deg deg deg


Seketika jantung Ara seperti berhenti berdetak saat melihat siapa pria itu. Bahkan jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya. Ara membeku dari tempatnya.


"A-ara".


"Tuan Bagaskara".


Lidah Ara terasa kelu ketika tahu siapa yang ada didepannya ini. Kepingan kejadian yang membuat nya hancur ditayangkan kembali seperti sebuah film.


"Bunda, ada apa? Ayo kita tolong Kakek ini dia sedang terluka". Suara Aldo membangunkan lamunan Ara.


"Ahhh, Iya. Ayo Tuan". Ara berusaha tenang. Meski ada ketakutan tersendiri dihatinya. Namun dia tidak mau panik. Dia yakin Bagaskara takkan berani menyakitinya lagi.


"Bawa masuk kedalam mobil saja sayang".


"Iya Bunda".


Ara dan Aldo membawa Bagaskara masuk kedalam mobil


"Sayang, kasih ruang untuk Kakek ini duduknya. Naro bisa pangku Zero kan?". Naro mengangguk, Zero duduk dipangkuan Kakaknya "Zeno, duduk dipangkuan Mommy ya. Nara sama Kak Ado ya". Mereka menurut perintah Ara.


Ara memberi ruang Bagaskara duduk disampingnya. Dia melindungi anak-anak nya disebelah kiri. Takut jika Bagaskara menyakiti keempat anaknya dan Aldo.


Sedangkan Bagaskara mematung menatap keempat bocah kembar itu. Ketiganya begitu mirip dengan wajah Kayhan kecil, bahkan tak satu pun dari wajah-wajah pria menggemaskan itu yang berbeda dari cucunya Kayhan.


Bagaskara beralih menatap Aldo. Wajah Aldo begitu mirip dengan Seem. Tatapan matanya dan semuanya begitu mirip dengan cucunya Seem. Aldo adalah copyan Seem kecil. Siapa mereka?


"Ara?".


"Kami harus mengantarmu kemana Tuan?". Ara mengalihkan pembicaraan. Tak bisa dipungkiri bahwa dia masih merasa takut setiap kali melihat wajah Bagaskara. Dia teringat bagaimana mantan Kakek mertuanya ini memperlakukan.


"Antar ke Mansion saja". Bagaskara berusaha tersenyum ramah. Dia tidak mau membuat Ara dan anak-anaknya ketakutan.


Ara langsung kikuk ditempatnya. Dia takut jika Bagaskara merebut anak-anaknya. Dia menggenggam tangan Zeno dengan erat.


"Kenapa bertanya seperti itu Kek?". Tanya Naro dingin dia dapat melihat ketakutan diwajah sang Ibu


"Tidak". Kilah Bagaskara.


"Tuhan kenapa mereka mirip sekali dengan Kayhan dan Seem. Apa mereka adalah cicit-cicitku?". Batin Bagaskara berkaca-kaca


"Kau terlihat mencurigakan Tuan. Apa kau ada niat jahat pada kami?". Tatap Aldo mengintimidasi. Tentu saja Aldo tahu siapa Bagaskara. Meski waktu itu dia masih berusia lima tahun tapi dia cukup tahu siapa pria yang duduk disamping Bunda Ara-nya itu.


"Ado tidak boleh seperti itu Nak". Tegur Ara.


"Maaf Bunda".


Naro dan Aldo seperti kompak mengawasi gerak-gerik Bagaskara. Mereka adalah bocah-bocah yang bisa membaca situasi. Bocah cerdas yang dianugerahi kemampuan tak biasa.


Sampai dikediaman Bagaskara. Mereka langsung disambut oleh para pelayan. Jantung Ara kembali berpacu menatap bangunan mewah yang tak berubah sama sekali itu. Bangunan yang menjadi saksi bisu dia diusir dan dihina serta dianggap seperti bintang tak berharga.


Saat mereka turun dari mobil. Para pelayan mengangga dengan mulut terbuka lebar. Melihat Ara yang turun dari mobil sambil memapah Bagaskara serta melihat kelima bocah yang begitu mirip dengan Tuan Muda mereka


Jika ketiganya mirip dengan Kayhan kecil, maka bocah yang lebih besar dari mereka berlima sangat mirip dengan Tuan Muda mereka, Seem. Bahkan gambaran wajah Seem dan Kayhan tercetak sempurna diwajah mereka.


"Ayo Tuan, aku akan mengobati mu". Senyum Ara. Sebenarnya dalam hati sudah memberontak ingin pergi. Namun, Ara tak mau anak-anak nya curiga. Apalgi anak-anak Ara memili kecerdasan dan kemampuan tak biasa. Tentu bisa saja tahu apa yang terjadi pada orang dewasa.


"Terima kasih Ara". Bagaskara merasa terenyuh dengan wanita yang memapah nya ini. Dulu dia sangat jahat dan tega memisahkan kebahagiaan para cucunya dengan Ara. Namun Ara tak mendendam sama sekali.


Mereka masuk. Nara mengandeng tangan Aldo dengan senyuman menggembang. Gadis kecil itu belum mengerti dengan suasan yang terasa berbeda.


Naro, Zero dan Zeno berjalan tanpa ekspresi. Ketiganya bisa merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan Kakek tua yang ditolong oleh Mommy mereka.


"Apa kau tidak curiga dengan lelaki tua itu Kak?". Bisik Zeno pada Naro.


"Tentu saja aku curiga. Lihatlah Mommy, dia tampak ketakutan tapi berusaha tenang". Balas Naro juga setengah berbisik.


"Apa yang kalian bicara kan Kak?". Zero itu nimbrung. Mereka bertiga berjalan paling belakang mengikuti orang-orang yang ada didepan mereka.


"Nanti Kakak beritahu". Jawab Naro setengah berbisik.


"Dimana obatnya Tuan. Biar aku obati kakimu". Ujar Ara.


"Tunggu sebentar".


Tidak lama kemudian para pelayan datang dengan membawa kotak P3K.


"Tolong, buatkan minum untuk mereka ya". Perintah Bagaskara pada pelayan.


"Baik Tuan".


"Tidak perlu". Aldo menyela "Kami tidak lama. Setelah mengobatimu. Kami akan segera pergi, masih banyak yang harus kami kerjakan". Ucap Aldo dingin. Bagaskara terkesiap mendengar ucapan bocah itu. Tidak salah lagi jika Aldo benar-benar mirip Seem


"Iya benar. Kami harus segera pergi. Bukan, begitu Mom?". Naro ikut menimpali.


Ara mengangguk dengan polosnya. Sesungguhnya dia sudah tidak tahan berada disini.


"Tenang saja Tuan. Aku akan mengobatimu". Ara membersihkan luka dikaki Bagaskara.


Nara kecil yang masih polos menatap bangunan mewah itu dengan kagum. Mansion ini lebih mewah dari rumah Grandfa Van Derg mereka yang ada di Belanda.


Namun berbeda dengan keempat pria kecil itu. Mereka hanya diam sambil memperhatikan Ara yang membersihkan luka Bagaskara dengan sabar dan telaten.


**Bersambung.....


LoveUsomuch ❤️**