
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jovan melangkah dengan lebar dan tergesa-gesa bahkan pria itu setengah berlari. Ketika mendapat telpon dari Naro yang menangis sambil mengatakan jika Ara pingsan, jantung Jovan seakan berhenti berdetak. Dia menghentikan semua meetingnya ditengah jalan dan bergegas pergi kerumah sakit.
Jovan juga menghubungi Nickho agar membantunya. Dia tidak bisa membiarkan Ara seperti ini. Dokter memang sudah berpesan jika Ibu empat anak itu tidak boleh stress atau memikirkan sesuatu yang berat.
"Ayah". Nara langsung berhambur memeluk Jovan dengan Isak tangis.
"Nara". Jovan menyambut pelukkan putri angkatnya. Saat ini mereka sedang berada diruang tunggu, menunggu dokter memeriksa Ara
Aldo, Naro, Zero dan Zeno masih menangis. Bocah-bocah berusia 5 dan 10 tahun itu terlihat begitu takut. Mereka saling memeluk sama sekali.
"Shell apa yang terjadi?". Cecar Jovan pada Shella yang kebetulan juga sedang menunggu sambil memeluk Aldo
"Aku juga tidak tahu Jovan. Aldo menelponku dan mengatakan jika Ara pingsan". Jawab Shella sambil memeluk putranya "Aku curiga jika ada sesuatu yang membuat Ara seperti ini. Dia tidak boleh stress". Lanjut Shella lagi.
"Hikksss, Mami". Renggek Aldo.
"Stttt sayang, jangan nangis ya. Bunda pasti baik-baik saja". Hibur Shella.
"Ayah". Naro, Zero dan Zeno juga ikutan memeluk Jovan bersama Nara.
Jovan merangkul keempat bocah kembar itu. Berusaha menenangkan mereka bahwa Ara akan baik-baik saja. Jovan yakin jika Ara kuat. Saking bahagianya memiliki anak kembar empat Ara sampai lupa jika masih ada satu penyakit ditubuhnya.
"Bertahanlah Ra, aku mohon". Batin Jovan. Dia juga berusaha menguatkan hatinya agar tidak menangis. Kejadian lima tahun yang lalu saat Ara berjuang melahirkan keempat anaknya kembali lagi bermunculan dibenak Jovan.
Jovan masih memeluk anak-anak Ara yang setia menangis dipelukkannya. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain memeluk bocah-bocah menggemaskan itu.
Diperusahaan KMB Group.
Kayhan menyenderkan punggung belakangnya. Dia meretakkan jari-jari tangannya. Setelah menyelesaikan pekerjaan yang lumayan menumpuk. Jika bukan karena pekerjaan dia sangat tidak ingin kembali ke Indonesia.
Kayhan menatap ke jendela ruangannya. Jendela transparan yang langsung menyungguhkan kepadatan kota Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit terlihat menjulang tinggi. Namun tetap saja KMB Group yang paling mencolok dari yang lainnya.
Kayhan tersenyum kecut, ketika mengingat kejadian lima tahun lalu. Sampai hari ini dia tidak bisa melupakan semua itu.
"Apa kabarmu Ra?". Gumam Kayhan tersenyum kecut
"Sudah lima tahun berlalu. Tapi tetap saja kehilangan mu tak semudah yang kubayangkan".
"Apa kau bahagia bersama laki-laki itu? Apa dia menyanyangi anak kita?". Dia bermonolog sendiri.
Lima tahun bukanlah waktu yang mudah bagi Kayhan menjalani hidupnya. Setiap hari bagi Kayhan adalah mati. Kesepian adalah teman sejati. Tak peduli berapa banyak harta dan ketenaran yang dia miliki. Tetap saja dia merasa hampa dihati.
"Kau begitu mudah melupakan aku. Sedangkan aku sampai hari ini belum bisa melupakanmu". Kayhan berdiri dari duduknya. Dia mendekat kearah jendela. Menikmati pemandangan kota Jakarta.
"Tuan". Panggil Cody yang baru saja masuk kedalam ruangannya
"Setelah ini kita akan melakukan peninjauan dan menghadiri gladi bersih event melukis yang akan diadakan bulan depan". Jelas Cody.
"Baik, siapkan semuanya". Kayhan berbalik.
Kayhan dan Cody keluar dari ruangan. Aura dingin langsung terpancar diwajah CEO itu. Meski ketampanan berlipat kali ganda, tetap saja sikap dinginnya menjadikan dia pria yang banyak diincar oleh kaum hawa.
Semua karyawan menunduk hormat. Tak sedikit yang terpesona menatap wajah tampan Kayhan. Semua wanita berebut ingin mendekat padanya. Namun belum juga berbicara Kayhan sudah menunjukkan wajah tak sukanya. Ketampanan Kayhan benar-benar membuat lupa diri, entah siapa nanti yang akan berhasil menaklukkan hati duda tampan yang satu ini. Semua orang tahu jika Kayhan pernah menikah. Semua orang juga tahu jika istri Kayhan meninggalkannya dalam keadaan koma.
Kayhan masuk kedalam mobil. Dia duduk dengan tenang dibelakang. Sementara Cody menyetir dan fokus pada jalan. Meski sesekali dia melirik kearah kaca belakang mobil.
Kayhan menatap kearah luar jendela mobil. Tatapan sulit diartikan. Tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Crazy Rich CEO itu.
"Kita sudah sampai Tuan".
Kayhan segera turun tanpa menunggu Cody membukakan pintu.
Dia berjalan meninjau lokasi yang akan dibangun sebuah Mall baru disana.
"Luas nya tiga hecktar persegi. Waktu yang kita butuhkan untuk membangunnya sekitar lima atau enam bulan Tuan". Jelas Cody.
"Baik". Sahut Kayhan "Pastikan desain seperti yang aku mau". Tintahnya.
"Baik Tuan".
Mereka kembali melihat-lihat lokasi yang akan dijadikan bangunan Mall megah itu. Kayhan tak main-main dalam berbisnis. Dia menguasai semua bisnis sehingga dia dijuluki raja bisnis yang memiliki jutaan ide.
Mall yang akan Kayhan bangun, adalah Mall yang akan menduduki peringkat pertama sebagai Mall termegah di Indonesia. Kayhan memang sengaja membuat Mall dengan kapasitas lengkap dan fasilitas mewahnya. Karena bagi Kayhan Mall itu nanti akan dia jadikan sebagai salah satu asset berharga yang akan dia sumbangkan kepada orang yang membutuhkan.
Kayhan sudah membuat sketsa, akan seperti apa bangunan yang dia bangun. Dia sendiri yang turun tangan menjadi arsitek nya. Mengatur dan mendesain interior mau pun eksterior bangunan megah itu.
"Cody, apa bisa dipercepat pembangunan nya?". Kayhan tampak berpikir "Aku ingin, bangunan ini bisa selesai dalam waktu tiga bulan. Kau tahu kan aku tak ingin berlama-lama disini?".
Cody tercengang. Bagaimana mungkin bisa menyelesaikan bangunan itu dalam waktu tiga bulan. Bangunan dengan luas tiga hecktar persegi serta tinggi sampai seratus meter. Mustahil bisa selesai tiga bulan.
"Maaf Tuan, tiga bulan waktu yang terlalu singkat". Cody sedikit protes.
Kayhan menatap tajam kearah asisten nya "Apa gunanya aku menggajimu, jika menyelesaikan bangunan ini saja tidak bisa dengan waktu cepat? Gunakan cara berpikirmu Cody. Atur strategi". Cibir Kayhan sedikit kesal "Ini bangunan kecil, bahkan satu bulan saja bisa selesai jika kau benar-benar mengatur para pekerja dengan tegas". Timpal Kayhan lagi
"Baik Tuan". Cody mengiyakan saja. Percuma jika berdebat dengan Kayhan. Dia takkan menang. Kayhan adalah pemenang yang tak mau kalah, meski dia kalah dia akan tetap mengotot untuk menang.
Bersambung...
Kayhan ❤️ Kimara