
Aku takkan menyerah pada keadaan. Selama kau berdiri disamping ku. Aku akan terus berjuang, sampai tiba waktunya dimana kita akan menuai hasil segala yang kita perjuangkan sekarang....
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ara bangun pagi sekali. Tidak lupa dia menyiapkan semua kebutuhan suaminya sebelum berangkat kerja.
Kayhan menatap sang istri yang sudah berkutat didapur membuat sarapan pagi seperti biasa. Setelah acara tangis-tangisan beberapa Minggu lalu, keduanya semakin lengket dan saling menyanyangi. Kayhan juga begitu posessif pada istri kecilnya.
Dia selalu mengubungi istrinya satu jam sekali.
Pagi ini wajah Kayhan tampak cemberut. Entah apa yang membuat pria itu terlihat kesal.
"Pagi Hubby". Sapa Ara berjalan kearah suaminya sambil membawa satu piring nasi goreng.
"Pagi". Jawab Kayhan ketus. Dia duduk dengan wajah lemesnya di kursi plastik meja makan.
"Apa Ara lupa jika hari ini aku ulang tahun? Kenapa dia tidak mengucapkan selamat ulang tahun padaku?". Batin Kayhan kesal.
Meski kesal dia tetap saja menurut saat Ara menyuapinya dengan telaten.
"Kenapa Bby ada masalah?". Tanya Ara heran sebab tidak seperti biasanya, suami manjanya itu kesal dipagi hari. Apa karena semalam tidak dapat jatah? Bukan Ara tidak mau melayani suaminya, dia sedang ada tamu bulanan.
"Sayang, kau ingat hari ini hari apa?". Tanya Kayhan menatap istrinya.
Kening Ara berkerut "Hari Senin". Jawab Ara polos "Kenapa Bby?". Ara heran kenapa suaminya bertanya tentang hari ini.
"Apa kau tahu arti hari ini?". Tanya Kayhan tak puas, istrinya harus tahu jika dia ulang tahun. Tapi dia tidak mau ketahuan istrinya
"Ya Senin Bby, hari pertama dalam satu Minggu". Jawab Ara sambil memakan nasi dalam piringnya.
Kayhan kesal dan tak lagi kau mengubris apalagi bertanya pada istrinya.
"Bby, hari ini aku izin pulang agak malamnya. Soalnya Kak Shella, ada pertemuan dengan beberaps penerbit. Jadi aku disuruh jagain Aldo". Ucap Ara meminta izin pada suaminya.
Kayhan menatap Ara "Jam berapa pulang? Apa awal? Atau tengah malam?". Cecar Kayhan
Ara menggeleng dengan kekehan "Ehem, jam sepuluh mungkin". Jawab Ara mengangkat bahunya.
"Apa? Tidak, tidak itu terlalu tengah malam". Tolak Kayhan.
"Ayolah Bby. Bagaimana mungkin aku tega meninggalkan Aldo sendirian, jika Kak Shella belum pulang. Kasihan dia". Ara bergelut manja dilengan suaminya. Tidak lupa jurus baru Ara dikeluarkan supaya suaminya luluh.
"Ckkk". Gerutu Kayhan "Kalau begitu biar aku jemput saja, kita pulang bersama". Tegas Kayhan tak mau kalah.
"Jangan Bby! Kasihan Hubby tempat kerja Hubby dan aku kan jauh. Jangan khawatir nanti aku akan diantar oleh Kak Shella. Bagaimana?". Ara tak kehabisan alasan untuk membuat suaminya mengizinkan dirinya.
"Yah baiklah". Akhirnya Kayhan mengalah.
Ara tersenyum lebih kemenangan "Terima kasih Hubby ku". Ara mencium pipi Kayhan dengan gemes.
Kayhan langsung mematung merasakan ciuman istrinya. Jantungnya selalu saja berdebar ketika Ara menyentuhnya.
"Tidak". Tolak Ara, suaminya itu selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Baiklah, nanti aku akan menjemputmu". Kayhan melirik kearah Ara.
Ara kesal, dengan mengerutu dia mengecup bibir suaminya. Tentu saja hal itu tidak sia-siakan oleh Kayhan, dia menekan tengguk Ara agar memperdalam ciuman mereka. Kayhan ******* bibir Ara dengan lembut, dia mengabsen seluruh rongga mulut Ara.
Kayhan melepaskan pangutannya setelah merasakan istrinya sulit bernafas.
"Maaf sayang". Kayhan menyatukan keningnya dengan kening Ara, hidung mereka juga saling bersentuhan.
Ara tersenyum dan mengangguk. Kayhan selalu begitu jika selesai menyentuhnya akan meminta maaf pada Ara.
Kayhan melangkah dengan lesu. Seperti setiap hari dia akan naik bis kota untuk menghemat biaya.
Saat pertama Kayhan naik bis, semua orang terheran dan memberi hormat padanya. Siapa yang tidak kenal sang pewaris utama keluarga Bagaskara ini? Selain tampan dan kaya dia juga sangat berpengaruh. Namun, setelah dia diusir dan kehilangan segalanya, semua gelar dan tatapan kagum itu menghilang yang ada hanya tatapan sinis dan juga mengejek.
Kayhan bekerja dengan semangat tanpa lelah. Sebenarnya tabungan nya dan Ara sudah banyak dan cukup membuat usaha. Hanya saja Kayhan mengubah rencana, dia mengumpulkan uang bukan lagi untuk membangun usaha tapi untuk membawa Ara pergi jauh dari keluarga nya.
Kayhan akan membawa Ara ditempat yang keluarga nya tidak tahu, dia harus membuktikan bahwa dia bisa tanpa latar belakang keluarga.
Kayhan bisa saja bergabung dengan beberapa perusahaan yang pernah mengajak nya bekerja sama. Namun, Kayhan menolak dan tidak mau untuk terjun ke dunia bisnis dengan embel-embel bantuan orang lain, dia ingin membangun usaha dengan hasil keringatnya sendiri.
"Ini gaji mu Minggu ini". Jolenta menyerahkan amplop berwarna coklat pada Kayhan.
Kayhan menyambut dengan senyum "Terima kasih". Ucap kayhan. Ya setelah enam bulan masa training Kayhan memang menerima gaji perminggu.
"Maaf Kay, mulai besok kau tidak bisa bekerja disini lagi". Ucap Jolenta merasa tak nyaman.
Kayhan menatap Jolenta dengan ekspresi kaget "Kenapa, apa aku melakukan kesalahan?". Cecar Kayhan tak mengerti dan juga bingung.
"Maaf Kay, aku harus memecatmu karena Tuan Bagaskara mengancam jika tidak mengeluarkan mu dari caffe ini, dia akan menghancurkan caffe dan perusahaan ku". Jelas Jolenta
Kayhan mengepalkan tangannya, sepertinya Kakek nya itu takkan puas mengusik hidupnya.
"Baiklah". Ucap Kayhan "Terima kasih sudah mengizinkan ku bekerja. Aku pamit". Sambung Kayhan menepuk pundak Jolenta.
Kayhan mellengang pergi meninggalkan caffe. Cukup lama dia memandang gedung berdekorasi unik itu. Caffe ini menjadi saksi perjuangan Kayhan sampai akhirnya dia harus keluar karena ulah Keluarga nya sendiri.
Kayhan melangkah gontai, seperti biasa dia akan berjalan kaki jika pulang. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kayhan menghela nafas kasar, bingung apa yang harus dia jelaskan pada istrinya. Dia juga bingung harus kemana mencari pekerjaan baru.
Dengan dengan pendidikan Professor saja Kayhan tidak bisa mendapat pekerjaan yang menjamin. Beberapa akses memang diblokir oleh Bagaskara, itulah sebabnya kenapa Kayhan dan Ara susah mencari pekerjaan. Padahal jika dipikir latar pendidikan Kayhan yang sudah Professor tentu mudah mencari pekerjaan, nyatanya hal itu sulit.
Meskipun banyak menawarkan Kayhan untuk bergabung dengan perusahaan mereka. Namun Kayhan menolak, karena dia takut jika Bagaskara tahu hal itu akan berdampak buruk untuk perusahaan mereka.
Bersambung.......
Kayhan ❤️ Kimara