
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jovan dan anak-anak Ara, masih menunggu dirumah tunggu. Shella dan Aldo juga masih setia duduk disana. Aldo sudah tak menangis lagi, dia berusaha kuat supaya keempat adik angkatnya tidak menangis melihat dia menangis.
Sudah hampir dua jam, dokter belum juga keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka sudah was-was dan takut.
Nara masih menangi dipelukkan Jovan. Gadis kecil berambut panjang itu tak bisa menahan emosinya. Ketika melihat sang Ibu terpejam pikiran nya kalut dan khawatir jika Ibu nya sudah meninggal.
Cekrekkkkkkkkkk
Nickho keluar bersama beberapa perawat dan dokter lainnya. Dia tampak berbincang-bincang dengan para dokter. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Nick, bagaimana keadaan Ara?". Cecar Jovan sambil mengendong Nara menghampiri Nickho. Diikuti oleh mereka yang lain.
Nickho menghela nafas "Aku ingin berbicara denganmu. Ada hal penting yang ingin kubahas". Jelas Nickho.
"Baik".
Nickho beralih pada ketiga bocah kembar serta gadis kecil digendongan Jovan.
"Ck, kenapa mereka sangat mirip dengan pria brengsekkkk itu?". Umpat Nickho dalam hati ketika menyelidik wajah kembar anak-anak Ara.
"Ayo".
"Nara, sama Mami dulu ya sayang. Ayah ingin bicara penting dengan Uncle Koko". Bujuk Jovan lembut.
"Hiks, Tapi Nala takut Mommy tidul. Nala takut Mommy tidak bangun lagi, hiksss". Nara menangis segugukan.
"Tidak sayang. Mommy pasti baik-baik saja". Rayu Jovan. Nickho tersenyum gemes, Nara sangat mirip dengan Ara.
Nara mengangguk "Shell, tolong jaga mereka". Jovan menyerahkan Nara pada Shella.
"Iya Van". Sambut Shella.
"Hai putra-putra Ayah. Kalian masuk duluan kedalam ruangan Mommy ya, Ayah ada penting sama Uncle Koko. Kalian jangan nakal dan jangan berisik". Perintah Jovan.
"Siap Ayah". Jawab ketiganya kompak. Membuat Jovan tersenyum hangat.
Nickho dan Jovan masuk kedalam ruangan Nickho. Kebetulan Ara dibawa ke rumah sakit keluarga Bagaskara dan tentu saja dengan pengawalan yang ketat dan juga pengawasan. Nickho dan Jovan sudah mewanti-wanti bahwa Seem, Kayhan dan Bagaskara tidak akan tahu keberadaan Ara.
"Ada apa Nick?". Mereka berdua duduk disofa ruangan Nickho.
Nickho menghela nafas "Tunggu sebentar. Suster akan membawa hasil pemeriksaan". Jawab Nickho
Tok Tok Tok Tok
"Masuk".
"Ini dok hasil pemeriksaan Nona Ara". Seorang perawat menyerahkan amplop berwarna putih.
"Terima kasih Sus". Nickho mengambilnya.
Nickho membuka amplop putih itu. Jovan yang melihat merasa tidak sabar dengan hasil pemeriksaan Ara.
Mata Nickho membulat saat membaca hasil dari pemeriksaan tubuh Ara.
"Nick bagaimana?". Tanya Jovan tak sabar. Namun Nickho tak menjawab.
"Nick".
Jovan menyambar kertas itu dari tangan Nickho. Mata Jovan juga membulat bahkan dia menutup mulut tak percaya.
"Gagal Ginjal Terminal". Lirih Jovan menutup mulutnya.
Nickho mengangguk. Dia bingung harus menjalankan bagaimana masalah gagal ginjal terminal yang dimiliki Ara sudah memasuki stadiun lanjut.
"Apa ini Nick?". Tanya Jovan mengoyangkan kertas itu "Jelaskan padaku Nick". Desak Jovan tak bisa menahan air matanya.
"Gagal ginjal terminal adalah kondisi yang tidak reversibel dan berlanjut pada kematian. Ini juga merupakan kondisi ketika fungsi ginjal menurun bertahap akibat kerusakan jaringan ginjal".
Jovan terdiam mendengar penjelasan Nickho. Tubuhnya serasa mati rasa, apalagi penyakit yang hinggap ditubuh Ara? Sudah cukup wanita itu menderita, kenapa sekarang harus lagi?
"Lalu bagaimana cara penyembuhan nya?".
"Apa ada cara lain?". Tanya Jovan
"Ada. Mencari pendonor ginjal". Jawab Nickho.
"Kalau begitu ambil saja ginjalku". Ujar Jovan.
Nickho menggeleng "Golongan ginjalmu dan Ara berbeda. Ginjal langka yang dimiliki Ara hanya ada 10% dari penduduk dunia". Jelas Nickho "Kita hanya bisa melakukan cuci darah setiap minggunya. Itu pun tidak boleh terlambat, karena sekali saja Ara tidak cuci darah itu akan berbahaya untuk nyawanya".
Jovan terduduk lemas. Jiwanya serasa melayang mendengar apa yang dijelaskan Nickho. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Begitu juga dengan Nickho. Dia yang seorang dokter saja tidak bisa berbuat banyak. Ginjal Ara sudah sangat rusak. Dia hanya memiliki satu ginjal itu pun harus segera diangkat karena ginjalnya sudah rusak dan hampir bocor.
Jovan mengusar rambutnya kasar. Apa yang harus dia lakukan? Ara adalah tanggung jawabnya. Karena Jovan yang sudah berjanji akan menjaga Ara apapun yang terjadi.
"Tolong, rahasiakan ini dari anak-anak Ara. Jangan sampai mereka tahu. Mereka terlalu kecil untuk tahu penyakit Mommy-nya". Ujar Nickho.
Jovan mengangguk "Aku akan menjaga nya. Bantu aku Nick, Ara adalah wanita spesial. Aku yakin dia pasti bisa sembuh". Ucap Nickho
"Pasti".
Kedua lelaki tampan itu segera menuju ruangan Ara. Ara sudah sadar namun belum tahu kondisi tubuhnya.
Nickho dan Jovan tersenyum hangat saat melihat keempat anak Ara naik keatas ranjang sambil memijit tangan dan kaki Ara. Mereka kompak melakukan nya.
"Kak".
Semuanya melihat kearah pintu masuk saat Ara memanggil Jovan.
"Kak Nickho". Seru Ara tersenyum sumringah.
"Apa kabar Ra?". Nickho tersenyum ramah menghampiri wanita anak empat itu.
"Siapa dia Mom?". Nara menatap wajah tampan Nickho. Pria itu terlihat asing dimatanya.
"Sayang, perkenalkan ini Uncle Koko. Dia dokter baik". Ucap Ara.
"Ohhh Doktel baik". Nara manggut-manggut "Hallo Uncle pelkenalkan aku Nala. Adik nya Kak Nalo, Kak Zelo dan Kak Zeno". Ara mengulurkan tangan munggilnya.
"Hai sayang. Panggil Papa saja ya?". Senyum Nickho. Jovan mencibir
"Papa?". Nickho mengelus rambut Nara dengan senyum mengembang. Seandainya dia sudah menikah pasti dia juga akan memiliki putri kecil yang cantik seperti Nara.
"Naro, Zero, Zeno. Ayo salim dulu sama Uncle Koko". Perintah Ara.
"Panggil Papa". Sela Nickho. Ara hanya tersenyum menggeleng sekaligus gemes.
"Papa". Sapa ketiganya kompak.
"Naro".
"Zero".
"Zeno".
Ketiganya mencium punggung tangan Nickho secara bergantian. Nickho sangat merasa senang. Anak-anak Ara memang sopan luar biasa. Entah bagaimana Ara mendidik anak-anak itu hingga menjadi anak yang begitu sopan.
"Terima kasih Son". Nickho mengusap satu persatu kepala mereka.
"Ck, Papa jangan pegang kepalaku. Aku bukan anak kecil". Pekik Naro kesal.
"Naro".
"Maaf Mommy. Naro tidak suka ada yang usap kepala Naro kecuali Mommy. Naro bukan anak kecil lagi". Adu Naro dengan wajah lucu dan menggemaskan nya. Mereka semua tertawa mendengar ucapan pria kecil itu.
Nickho malah melonggos. Apa katanya bukan anak kecil? Nickho mendelik kearah Jovan yang terkekeh melihatnya. Nickho kesal, ingin mengumpat. Tapi maklumin saja namanya juga anak kecil.
Jovan berusaha tersenyum meski hatinya sangat sedih. Namun dia tidak mau membuat Ara semakin sedih melihat dirinya.
**Bersambung....
Kayhan ❤️ Kimara**