Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 118. Pencarian



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bagaskara dan Bagas sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Ayah dan anak itu sedang menuju Belanda. Selain tujuan bisnis, keduanya juga ingin mencari keberadaan gadis itu. Mereka harus menemukannya. Apapun, akan mereka lakukan agar Ara bisa ditemukan.


Bagaskara menggunakan Jet pribadi miliknya. Dia tidak bisa tinggal diam saja. Melihat Kayhan dan Seem yang sama sekali tak mau menuruti perintahnya. Membuat pria tua itu semakin geram dan marah besar.


“Apa kita akan menemukan gadis itu Dad?”. Tanya Bagas ragu.


“Tentu saja. Daddy sudah menyuruh orang mematai-matai Nickho. Sebentar lagi kita akan menemukannya”. Bagaskara tersenyum licik “Lihatlah gadis kecil, kau akan merasakan pembalasanku. Aku sudah memperingatkanmu untuk pergi menjauh tapi malah kau membuat kedua cucunya menjadi pemberontak”. Ucap Bagaskara tertawa smirk.


“Baiklah Dad”.


Bagaskara menatap kearah jendela pesawat. Tangannya terkepal saat mengingat perkataan Seem dan Kayhan. Pemberontakkan kedua cucunya itu disebabkan oleh Ara. Jika saja Ara tidak hadir dalam kehidupan dua cucunya, pastilah Kayhan dan Seem takkan melawan apa yang diperintahkan oleh nya.


Ditempat lain Wena, menghela nafas pelan. Entah apa yang akan dilakukan oleh suami dan putranya itu. Wena sudah memohon pada Bagaskara agar berhenti menganggu dan mencari Ara. Namun Bagaskara tak mengindahkan ucapan istrinya itu. Bagi Bagaskara selama Ara masih ada didunia ini, maka dia takkan hidup dengan tenang.


“Kuharap kau takkan menyesal Bagaskara. Semoga nanti kau menyadari bahwa semua yang kau lakukan adalah sebuah kesalahan”. Ucap Wena.


Dia tak bisa mencegah Bagaskara untuk tidak berangkat ke Bandara. Wena tidak ingin suaminya itu celaka, karena yang melindungi Ara bukan orang sembarangan. Tentu saja sebagai seorang istri Wena merasa khawatir dan juga takut.


“Mom”. Erna datang dengan membawa nampan yang berisikan dua cangkir teh hangat didalamnya “Minum”. Erna meletakkan teh hangat itu diatas meja.


Wena memaksakan senyum lalu mengambil cangkir itu dan menyesap isinya.


“Apa kau pernah merasakan gagal menjadi orangtua?”. Tanya Wena pada menantunya.


Erna terkesiap dengan pertanyaan mertuanya “Maksdu Mommy?”.


Wena tersenyum getir. Lalu menatap kedepan “Gagal menjadi orangtua adalah hal menyakitkan yang dirasakan seorang Ibu. Mom sadar atas apa yang Mom lakukan selama ini pada Seem dan Kay. Mereka adalah anak-anak yang mencintai kebebasan. Tapi Mom selalu mengatur hidup mereka dan bahkan menghancurkan kebahagiaan mereka”. Erna terdiam sambil menatap mertuanya.


“Kau ingat apa yang kita lakukan pada Seem lima tahun lalu? Kita menjebak gadis yang dia cintai hanya karena gadis itu terlahir dari keluarga yang berantakkan. Hingga akhirnya Seem menderita OCD, akut. Dia alergi wanita dan dingin tak tersentuh”. Wena menghela nafas pelan


“Kita juga melakukan hal yang sama pada Kay. Kita pikir dengan berpisahnya Ara dan Kay, bisa membuat dia kembali lagi pada kita. Tapi lihatlah kenyataannya. Kita menghancurkan kebahagiaan mereka, membuat mereka hidup dalam rasa kehilangan”. Tetesan bening itu mengalir dipipi keriputnya.


Erna ikut terdiam, dia merenungkan kata-kata Ibu mertuanya. Semua yang dikatakan Wena memang benar dan begitu adanya.


“Mom, rindu Seem, Kay dan Aira. Mom juga rindu Nickho”.


“Andai saja Mom tidak seegois itu pasti kita akan bahagia bersama dengan anak cucu yang memenuhi Mansion mewah ini”.


“Mom, merasa hampa dengan kekayaan yang ada. Percuma uang dan harta yang berlimpah jika cucu-cucu Mom membenci Mom”. Wena beralih pada menantunya.


“Erna, kita harus kembali menemukan Ara. Hanya dia yang bisa membuat Seem dan Kay kembali lagi ke Mansion ini. Sebelum Mom pergi, Mom ingin memeluk Seem dan Kay”. Lirih Wena terdengar memohon.


Erna tak mampu menahan air matanya “Mom jangan bicara begitu”. Erna mengenggam tangan mertuanya “Erna akan bantu Mom untuk menemukan dimana Ara. Mom benar jika Erna juga gagal menjadi seorang Ibu. Erna harusnya menjadi pendukung kebahagiaan Seem dan Kay tapi Erna justru menghancurkan kebahagiaan mereka”. Tandas Erna air mata jatuh dipipinya. Mendengar ucapan Wena membuat Erna sadar bahwa dia juga egois. Hanya karena menginginkan cucu dari Kayhan membuat Erna juga tega menghancurkan kebahagiaan Kayhan dengan menyingkirkan Ara.


Wena mengangguk sambil menyeka air matanya “Mom, ingin kembali ke Australia dan menemui Kay. Mom ingin minta maaf”.


“Baik Mom. Erna akan urus keberangkatan kita. Tapi bagaimana dengan Daddy dan Bagas?”. Tanya Erna.


“Biarkan saja”. Sahut Wena. “Belum saatnya kau tahu apa yang dicari Daddymu itu. Biarkan dia dengan penyesalannya”.


Meski bingung, Erna hanya mengangguk saja apa yang dikatakan oleh Ibu mertuanya itu. Apa Bagaskara memiliki masalah yang berhubungan dengan masa lalu? Apa masalahnya itu bersangkutan dengan Ara? Tapi apa harus mencari dan menyingkirkan Ara sejauh mungkin? Bukankah itu hanya akan membuat Seem dan Kayhan semakin menjauh.


Keesokan harinya, Wena dan Erna langsung terbang ke Sidney Australia. Sebenarnya Erna dan Bagas memang menetap di Australia, sedangkan Bagaskara dan Wena tinggal di Indonesia bersama Kayhan. Namun, sejak Kayhan menikah dia memutuska n untuk ikut tinggal di Indonesia dengan misi menyingkirkan Ara.


Wena tak ingin disisa hidupnya tidak mendapat maaf dari kedua cucu-cucunya. Wena ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Seem dan Kayhan serta Aira. Ketiga cucunya memang tidak mau tinggal bersama Wena dan Bagaskara karena mereka selalu suka ikut campur urusan pribadi cucu-cucunya.


Bersambung......


Kayhan❤️Kimara


Ayo guys kasih dukungan buat Author biar semangat nulisnya...