Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 30. Pengorbanan Ara



Apapun akan aku lakukan untuk mu. Jika perlu nyawaku yang tidak terlalu berharga ini akan aku pertaruhkan, agar membuatmu selalu berdiri disisiku.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Ara baru saja ingin memejamkan matanya, setelah dibuat pusing oleh sikap Kayhan yang luar biasa posesif padanya. Bahkan Kayhan tak mengizinkan Ara keluar tanpa dirinya.


"Awwwwww". Ara mendengar orang kesakitan.


"Siapa ya?". Gumam Ara terbangun dan duduk. Ara menyimak selimutnya lalu turun dari tempat tidur.


"Awwwwwww". Suara orang kesakitan itu semakin terdengar keras ditelinga Ara.


Ara membuka pintu dan segera berlari.


"Aawwwwwwww". Suara itu terdengar dikamar Mey.


"Mey". Ara langsung mendobrak pintu, Mey tersungkur diatas lantai sambil memegang perutnya.


"Mey". Ara langsung menghampiri adiknya dia terlihat sangat panik.


"Jangan sentuh aku". Mey menepis tangan Ara yang berpegang ditangan dan pundaknya.


Ara tidak peduli dia malah membantu adiknya untuk berdiri "Mey, dimana yang sakit?". Tanya Ara panik.


"Apa peduli Kakak sama aku, bukankah semua penderitaan ku ini karena Kakak?". Tuduh Mey mendorong Ara dan tidak mau disentuh oleh Kakaknya.


"Mey". Ara sampai berkaca-kaca melihat tingkah adiknya. Apa yang membuat Mey begitu membenci dirinya?


"Arggghhhhh". Mey berteriak menahan sakit diperutnya "Arggghhhhh". Pekik Mey kesakitan bahkan gadis itu sampai meronta hebat menahan sakit diperutnya.


"Mey". Teriak Ara ingin menghampiri adiknya. Lagi-lagi dirinya didorong sangat keras oleh Mey.


"Awwwwww". Ara memegang perutnya yang sakit karena benturan.


Brughhhhhhhhhh


Mey terjatuh pingsan dilantai.


"Mey, hiks". Ara memeluk adiknya yang sudah tak sadarkan diri "Mey bangun Mey". Ara menepuk-nepuk pipi Mey berulang kali, dan Mey tetap tak merespon.


"Mey". Ara masih berusaha membangunkan adiknya.


Ara memesan taksi online untuk membawa Mey ke rumah sakit dan meminta bantu supir taksi untuk mengangkat Mey sampai ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan Ara terus saja menangis sambil membangunkan adiknya, namun Mey tetap tidak bangun juga.


Sampai dirumah sakit, Mey langsung ditangani oleh dokter disana.


Ara menunggu dengan perasaan takut, dia tidak mau terjadi sesuatu pada Mey.


Tidak lama kemudian Dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Bagaimana Dokter?". Cecar Ara pada seorang dokter paruh baya.


"Mari ikut saya Nona". Ajak sang Dokter.


Dengan perasaan kalut luar biasa Ara mengikuti langkah Dokter itu.


"Bagaimana Dok?". Tanya Ara.


Sang Dokter menghela nafas kasar "Maaf Nona, adik anda mengalami kelainan rahim dan gagal ginjal terminal". Ara membeku mendengar penjelasan dokter.


"Lalu apa yang harus dilakukan Dok?". Tanya Ara.


"Kita melakukan dua operasi yang pertama pengangkatan rahim, karena disini sepertinya adik anda menderita Syndrom MRKH, dimana tidak memiliki lubang ******** dan harus dioperasi". Jelas Dokter "Yang kedua operasi pengangkatan dan pendonoran ginjal, menukar ginjal nya yang rusak dengan yang baru". Ara tak dapat berkata apa-apa saat mendengar penjelasan dokter.


"Ambil ginjal saya saja Dok. Saya yakin ginjal saya pasti cocok". Timpal Ara penuh keyakinan.


"Baik kita akan melakukan pemeriksaan". Ucap sang Dokter "Mari ikut saya". Ajak dokter itu.


Ara mengikuti Dokter Bayu, dan ikut dalam ruang pemeriksaan untuk memastikan kondisi ginjal Ara.


Setelah melakukan pemeriksaan, Ara kembali keruangan Dokter Bayu.


"Nona Ara, ginjal anda cocok untuk adik anda. Kita bisa segera melakukan operasi, dan silahkan siapkan uang administrasi nya". Ucap Dokter Bayu.


"Berapa biaya nya Dok?". Tanya Ara.


"Siapkan satu milyar". Mendengar ucapan Dokter Bayu, Ara kembali tak berkutip dari mana dapat uang sebanyak itu???


Ara menatap Mey dengan sendu, lalu duduk dikursi samping brangkar Mey. Ara mengelus kepala Mey dengan lembut.


"Bangun Mey. Kakak akan melakukan segalanya untukmu, cepat sembuh". Lirih Ara.


Ara berjalan gontai, entah kemana gadis itu akan melangkah dan mencari uang. Air mata kembali membanjir dipipi Ara.


"Ayah, Ibu". Isak Ara sambil menangis.


Ara menelpon Kayhan, dia akan meminjam uang pada pria itu meskipun harus membayar dengan apapun.


"Kak, aku ingin ketemu. Ditaman". Setelah melakukan panggilan Ara menutup telponnya.


Tidak lama kemudian Kayhan datang. Segera pria itu bergegas dengan sedikit berlari kearah Ara.


"Sayang". Kayhan langsung memeluk Ara dengan erat. Dia merindukan gadis ini, meskipun dia belum menemukan jawaban Ara, tapi dia yakin jika Ara juga menyukainya.


"Kak, aku".


"Sayang kenapa kau menangis? Katakan padaku, apa yang terjadi?". Tanya Kayhan panik sambil menyeka air mata Ara.


"Kak, aku boleh meminjam uang padamu?". Pinta Ara penuh harap "Aku pinjam uang satu milyar, aku janji akan menyicilnya dan aku juga mau menikah dengan Kakak". Ucap Ara menatap Kayhan.


Kayhan terkesiap mendengar ucapan Ara, bahkan dia menyelidik wajah gadis itu. Dia sangat merasa bahagia Ara secepat ini menerima lamarannya.


"Untuk apa uang sebanyak itu Ra?". Tanya Kayhan penasaran.


"Mey, akan melanjutkan study nya Kak, dia ingin menjadi Dokter". Sahut Ara asal, padahal adiknya baru kelas 2 SMA.


"Kapan kau butuh uangnya?". Tanya Kayhan lembut


"Besok Kak". Jawab Ara cepat.


"Baiklah, seminggu lagi kita akan menikah". Senyum Kayhan "Kau menikah denganku bukan hanya karena uang itu kan?". Tanya Kayhan.


"Aku akan belajar mencintai Kakak dan mungkin saat ini aku juga telah mencintai Kakak, tapi maaf Kak, aku tidak bisa memberimu keturunan". Ucap Ara dengan nada sendunya.


"Stttttttt, aku tidak peduli itu". Kayhan menarik kembali Ara dalam pelukkannya.


"Terima kasih Tuhan dia menerimaku, walaupun karena uang tapi aku yakin gadis ini yang kau kirimkan untukku". Batin Kayhan sambil mengecup ujung kepala Ara.


Ara terdiam dalam pelukkan Kayhan. Pelukkan ini selalu mampu membuat jiwanya merasa tenang dan nyaman. Meskipun mengorbankan harga dirinya, tapi apapun akan Ara lakukan untuk orang-orang yang ada didekatnya.


"Maafkan aku Kak". Ara membalas pelukkan Kayhan. Ara merasa dirinya murahan, tapi bagaimana lagi inilah jalan takdir hidupnya.


"Its okey". Kayhan melepaskan pelukkannya dan membawa gadis itu duduk dibangku taman.


Ara bersandar dibahu Kayhan. Ingin Ara menceritakan semua yang terjadi pada Kayhan, tapi dia takut pria itu akan repot karena dirinya.


"Ra, selama kamu berada di sisiku. Aku tidak akan pernah merasa takut". Kayhan mengenggam tangan Ara dengan erat, sedangkan kepala Ara bersandar dengan nyaman dibahu Kayhan.


Sepertinya Ara memang sudah jatuh cinta pada pria ini, Ara merasakan jantungnya berdegup kencang seketika berdekatan dengan Kayhan.


"Kak". Ara bangkit dan menatap Kayhan "Kemarin Kak Nickho mengungkapkan perasaannya padaku". Ara menarik nafas dalam.


Kayhan langsung menatap Ara, sebenarnya Kayhan sudah tahu saat dia melihat rekaman CCCTV dicaffe itu "Lalu?". Tanya Kayhan penasaran, dia ingin tahu apakah gadis disampingnya ini adalah gadis yang jujur atau bukan.


"Aku menolaknya Kak". Sahut Ara. Bibir Kayhan terangkat saat mendengar alasan Ara.


"Kenapa?". Tanya Kayhan.


"Karena aku sudah mencintai seseorang". Jawab Ara malu-malu.


"Siapa?". Tanya Kayhan tajam, bahkan sorot matanya seakan siap menerkam mangsanya


"Kak Han". Jawaban Ara seperti tebaran bunga yang berkeliaran diperut Kayhan.


Kayhan tersenyum, Kayhan mengacak rambut Ara dengan gemes nya.


"Kakak". Pekik Ara.


"Uwu uwu, terima kasih sayangku". Kayhan menarik Ara kembali dalam pelukan nya. Kayhan tak pernah merasa sebahagia ini dan ini adalah kebahagiaan yang Kayhan miliki selama dia hidup. Meskipun setelah ini dia tahu akan banyak hal yang harus mereka lewati.


Bersambung........


Salam hangat.


Kayhan ❤️ Kimara