
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Lima tahun kemudian……..
“Mommy”. Teriak seorang gadis kecil menghampiri sang Mommy yang baru saja masuk kedalam pintu rumah.
“Hai putri Mommy. Bagaimana kabar nya hari ini?”. Wanita itu menjongkokkan badannya dan menerima pelukkan sang putri. Selama sehari penuh dia meninggalkan putrinya ini.
“Nara baik-baik saja Mommy. Bagaimana dengan Mommy?”. Celetuknya bertanya manja pada sang Mommy.
“Sama sayang”. Balas wanita itu “Sayang dulu donkkk Mommy nya”. Gadis kecil itu menghujani wajah sang Ibu dengan banyak ciuman. Hingga membuat sang Ibu terkekeh geli dan juga senang.
“Kakak-kakak kemana?”. Dia mengendong putri kecilnya yang melingkarkan tangan dilehernya.
“Lagi belmain laptop dikamal”. Sahut gadis itu yang belum bisa menyebut huruf R “Kak Ado?”. Tanya sang Ibu lagi sambil berjalan masuk mengendong putrinya.
“Pelgi sama Mami Shella”. Jawabnya dengan cepat.
Wanita itu tersenyum menatap wajah putrinya yang masih bergelut manja digendongannya. Dia memasuki kamar kamarnya dan ketiga putranya. Ketiga putranya memang selalu suka dikamar entah apa yang mereka lakukan. Wanita itu membuka pintu kamar putranya, tampak tiga bocah tampan yang masih serius dengan laptop didepan mereka.
“Sayang”.
Sontak ketiga bocah kembar itu menoleh kearah sumber suara.
“Mommy”. Jawab ketiganya serentak. Mereka berdiri dan menghampiri sang wanita.
“Mommy”. Ketiganya memeluk kaki Ibu nya dengan manja.
Wanita itu terkekeh lalu berjongkok dan menurunkan anak perempuannnya. Dia memeluk keempat buah hatinya dengan sayang.
“Mommy pasti capek”. Si sulung mengambil tas wanita itu yang bergantung cantik dibahunya.
“Mommy tidak capek sayang”. Wanita itu tersenyum menggeleng ketika putranya begitu perhatian padanya.
“Ayo Mommy, istirahat”. Yang bertiga mengandeng tangan wanita itu dan menuntunnya untuk duduk disoffa kamar nya.
“Iya sayang”. Dia mengikuti langkah keempat bocah kembar menggemaskan itu.
“Mommy, biar Zeno buatkan minum untuk Mommy?”. Tawar sang putra.
“Memangnya Zeno bisa?”. Godanya. Padahal dia tahu jika para anaknya sudah bisa melakukan pekerjaan orang dewasa.
“Tentu saja bisa”. Dengan bangganya Zeno keluar dari kamar dan menuju dapur. Sang Ibu tersenyum lucu.
“Sini Mommy, bial Nara pijitin”. Nara mengambil tangan Ibunya lalu memijit tangan itu dengan tangan munggilnya.
“Sini Mommy Zero juga ikut”. Zero mengambil tangan Ibu nya yang sebelah kiri.
“Naro, pijitin kaki Mommy ya”. Naro juga tak mau kalah.
“Iya sayang terima kasih ya”. Senyum manis wanita itu terlihat bahagia. Anak-anaknya yang baru berusia lima tahun itu selalu begitu. Memperlakukannya dengan manis dan selalu membuatnya tersenyum gemes.
Tidak lama kemudian Zeno datang dengan membawa segelas air putih ditangan munggilnya. Pria kecil itu membawanya sangat pelan takut jika air dalam gelasnya sampai tumpah.
“Mommy, minum dulu”. Zeno membantu Ibunya meminum air dalam gelasnya. Wanita itu menyambut dengan senyum mengembang.
“Terima kasih sayang Mommy”. Ucapnya mengucapkan terima kasih pada putra ketiganya itu.
“Sama-sama Mommy”. Zeno mengecup pipi Ibunya dengan sayang. Melihat Zeno yang mencium pipi sang Ibu, saudaranya yang lain juga ikut mencium Ibu mereka dengan penuh rasa sayang.
Wanita itu adalah Ara. Setelah lima tahun berlalu Ara bisa membesar kan anak-anaknya meski tanpa suami. Keempat bayi Ara tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa. Masing-masing anak Ara memiliki kemampuan yang sama, keempatnya selalu membantu Ara dalam menyelesaikan pekerjaan atau masalah nya.
Sedangkan Roger dan Joana juga sudah memiliki rumah sendiri dan memiliki dua anak perempuan yang cantik. Roger masih focus mengurus perusahaan dan bisnis yang lainnya. Sedangkan Joana focus mengurus kedua putrinya yang berusia satu tahun dan empat tahun. Dia juga memutuskan resign dari dunia model dan meneruskan butiknya serta menghabiskan waktu dengan kedua putrinya.
Jolenta menetap di Amerika. Setelah menikah dia membawa istrinya untuk tinggal disana dan membangun usaha baru. Sebenarnya hanya peralihan agar dia bisa melupakan perasaannya dan mencintai sang istri dengan tulus. Jolenta dianugrahi satu anak laki-laki berusia empat tahun dan satu anak perempuan berusia dua tahun. Istrinya focus mengurus anak dan suami.
Shella melebarkan sayapnya didunia fashion. Butik yang dia kelola melesit dengan pesat, sehingga membuat Shella membuka beberapa cabang baru untuk usahanya. Sementara Aldo sudah masuk SMP, kecerdasan yang dia miliki membuat Aldo yang berusia 10 tahun sudah duduk dibangku SMP.
Jovan, pria yang satu ini masih setia menjomblo. Usianya 35 tahun. Namun sampai saat ini dia belum juga menemukan tambatan hatinya. Dia meneruskan dan membangun perusahaan baru diberbagai bidang. Kehadiran Ara dan keempat bocah kembar itu sudah lebih dari cukup bagi Jovan. Menjaga mereka seperti menjaga anaknya sendiri. Selama ini keempat bocah kembar itu memang lebih dekat dengan Jovan. Tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama
Hansel dan Jovanka juga dikaruniai seorang putri cantik berusia empat tahun. Kini keduanya memiliki tiga anak, dan dua bocah tampan yang menjaga adiknya. Hansel masih tetap focus menjadi seorang dokter. Sedangkan Jovanka membuka usaha baru didunia fashion, dia membangun salon dan beberapa usaha kecantikkan lainnya.
“Mommy, lihat ini”. Nara memperlihatkan hasil karya tangannya.
Ara melihat lukisan putrinya “Wah, bagus sekali gambar putri Mommy ini”. Ara mencubit pipi gembul Nara dengan gemes.
“Telima kasih Mommy”. Nara memeluk Ara saat dia mendapat pujian dari Ibunya.
Lalu Ara beralih pada ketiga putranya yang asyik dengan laptop yang ada didepannya. Ara yakin jika ketiga putranya ini sedang melakukan sesuatu.
“Naro, Zero, Zeno”. Panggil Ara.
“Iya Mommy”. Segera ketiga bocah itu meletakkan laptopnya dan melihat sang Mommy.
“Boleh Mommy tanya sesuatu?”. Ara menatap ketiga putranya dengan menyelidik.
Ketiganya mengangguk dengan wajah polos dan menggemaskan “Mau tanya apa Mommy?”. Seru Naro si sulung.
“Katakan pada Mommy bahwa kalian sedang melakukan sesuatu?”. Ara melipat tangan didada mengintrogasi ketiga putranya. Sedangkan Nara tertawa melihat wajah takut ketiga Kakaknya itu.
“Maaf Mommy”. Ketiga bocah itu mengucapkan kata maaf serentak.
Ara menghela nafas pelan. Lalu dia menatap ketiga putranya dengan lembut. Ara tak ingin keras dalam mendidik anak-anaknya. Dia selalu menjadi Ayah dan Ibu yang mengajarkan kebaikkan pada keempat buah hatinya.
“Sekarang katakan pada Mommy apa yang sedang kalian lakukan? Mommy tidak akan marah jika kalian berkata jujur”. Ujar Ara dengan suara lembut dan senyum yang mengembang.
Ketiga bocah itu saling menyenggol untuk memberi kode agar menjelaskan apa yang mereka lakukan.
“Kami meretas data perusahaan yang curang Mommy”. Jawab Naro mewakili.
Ara menghela nafas berat. Ini bukan hal yang asing didengar oleh Ara “Sayang, bisa dengarkan Mommy sebentar?”. Ara menatap ketiga anaknya dengan tegas.
“Iya Mommy”. Jawab ketiganya bersamaan.
“Bukan Mommy tidak setuju dengan apa yang kalian lakukan. Tapi kalian harus ingat, ini bukan sesuatu yang patut kalian lakukan. Biarkan saja, itu urusan mereka. Yang terpenting kalian menjaga diri kalian supaya tidak melakukan hal seperti itu ketika sudah besar nanti”. Nasehat Ara.
Naro, Zeno dan Zero hanya mengangguk dengan wajah polosnya “Iya Mommy. Maafkan kami”. Lagi-lagi ketiganya menjawab dengan serentak.
“Ya sudah. Ayo matikan laptopnya. Bantu Mommy masak”. Perintah Ara yang tidak mau memperpanjang masalah anak-anaknya.
“Iya Mommy”. Ketiganya dengan semangat mengikuti perintah Ara.
Jika berbicara tentang masak anak-anak Ara selalu suka membantu sang Ibu. Mereka suka sekali masakkan Ara. Apalagi ketika Ara memasak khas masakkan nusantara Indonesia, selalu menjadi makanan favorite mereka.
Naro, Zero, Zeno dan Nara, sudah terbiasa membantu sang Ibu. Keempatnya tak pernah membantah apapun perintah Ara. Selalu mengikuti keinganan sang Mommy.
Bersambung...
Kayhan ❤️ Kimara