Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 160. Penjelasan.



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Kayhan membisikkan sesuatu kepada MC. Entah apa yang dibisikkan oleh Crazy Rich CEO itu.


MC sepertinya mengangguk paham. Meski sempat bingung tapi dia mengiyakan perintah Kayhan.


"Kepada Ibu dari Keynara Mahendra, silahkan maju kedepan". Ujar MC


"Kami semua penasaran Ibu hebat dari Keynara Mahendra".


Ara enggan untuk maju. Bagaimana jika semua orang mengenalnya. Selama ini dia berusaha berdandan agar tak ada yang mengenalinya.


Jovan mengenggam tangan Ara memberikan. kekuatan pada wanita itu.


"Semua akan baik-baik saja. Kasiha Nara".


"Mommy". Teriak Nara melambaikan tangan kearah Nara


Ingin rasanya Ara berteriak dan menolak. Tapi ketika melihat wajah putri kecilnya itu membuat hatinya sakit, bagaimana bisa dia mengabaikan kebahagiaan putrinya demi egonya sendiri?


Ara tersenyum mengangguk. Naro dan Aldo juga memberi semangat. Tak lupa Nickho juga memberikan semangat untuk wanita itu. Wanita yang sampai saat ini masih menghuni hatinya.


Ara naik keatas panggung dengan senyum mengembang. Wig yang melekat dikepalanya terlihat seperti rambut asli, apalagi poni-poni kecil yang bertengger dikeningnya membuat wanita empat anak itu terlihat seperti gadis belasan tahun.


"Mommy". Nara berlari kearah Mommy nya sambil tergopoh-gopoh membawa piala dan mahkota dikepalanya.


"Sayang". Ara berjongkok menyambut pelukkan putrinya. Dia langsung mengendong putri kecilnya itu.


Sedangkan Kayhan mematung ditempatnya. Tiba-tiba saja seluruh penonton dibubarkan oleh Cody. Tentu saja orang berkuasa seperti Kayhan semudah membalikkan tangan untuk menyewa tempat ini.


Yang tersisa dikursi penonton hanya Seem, Shella, Jovan, Nickho, Aldo, Naro, Zero, dan Zeno. John dan Cody juga berada disana.


Tangan Jovan terkepal ketika dia tahu bahwa semua ini rencana Kayhan. Tapi Jovan tak bisa berbuat apa-apa memang sudah waktunya semua terungkap.


"Ara".


Ara langsung membeku ditengah keasikkannya mengendong putri bungsunya. Mendengar sapaan yang tak asing ditelinga nya.


"Kak Han". Gumam Ara.


"Mommy mengenal Uncle yampan iyu?". Tanya Nara polos "Kenapa semua olang pelgi?". Nara baru sadar jika hanya dia Mommy nya dan pria yang menyerahkan piala tadi.


"Nara, sini sama Papa sebentar".


"Iya Pa".


Ara menurunkan putri kecilnya dengan berat hati.


"Mommy, Nala sama Papa ya. Nala belat kasihan Mommy gendong Nala". Celetuk gadis kecil itu.


"Iya sayang".


"Selesaikan. Semua pasti baik-baik saja". Masih sempat-sempatnya Nickho jahil dengan mengelus kepala Ara.


Tangan Kayhan lagsung mengepal hatinya panas. Apalagi mendengar panggilan Nara untuk Nickho.


"Ara".


Kayhan mendekat kepada wanita ini. Wanita yang terpisah selama kurang lebih enam tahun.


Ara membeku ditempatnya. Dia tak menjawab panggilan sang suami, lebih tepatnya mantan suami. Hatinya membeku ketika Kayhan menuduhnya hamil dengan pria lain bahkan menuduhnya sebelum mendengar kan penjelasan Ara.


"Ara".


Air mata Kayhan luruh seketika. Melihat istri lembutnya yang hanya diam membuatnya tak bisa berkutip. Apa Ara sungguh tak ingin memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya.


"Aku bersalah. Aku berdosa. Aku bodoh. Aku jahat. Maafkan aku Ara, hikssss". Kayhan memang berlutut dikaki Ara untuk pertama kalinya.


"Kumohon maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak tahu Ara. Aku bodoh tidak percaya padamu. Aku malah menuduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku Ra. Maafkan aku". Kata maaf yang tak pernah Kayhan ucapkan pada orang lain bahkan kepada orangtuanya sendiri. Kini dia ucapkan sambil berlutut dikaki istrinya. Penyesalan yang membuatnya sadar akan semua hal ini.


"Hiks hiks hiks hiks". Kayhan sampai bersujud dengan kepala sampai kelantai.


"Papa, kenapa dia menangis di kaki Mommy?". Tanya Nara melihat Kayhan bersujud dikaki Ara.


"Dia sedang latihan drama sayang". Sahut Nickho asal. Padahal dia sedang menikmati moment penyesalan Kayhan.


Jovan mendelik kearah Nickho. Sungguh keterlaluan dokter menyebalkan itu disaat situasi seperti ini saja dia masih bisa-bisanya bercanda.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Aku bisa berkata benci. Aku bisa berkata ingin melupakanmu. Tapi hatiku tidak bisa berbohong bahwa aku mencintaimu Ara, hikssss". Kayhan menangis sejadi-jadinya. Dia tidak peduli dengan rasa gengsinya.


Zero dan Zeno terharu sampai kedua pria itu menangis. Apalagi mereka sudah tahu jika Kayhan adalah Ayah kandung mereka. Naro hanya bisa menunduk, pria kecil itu menangis dalam diam. Tak bisa berbohong bahwa dia juga merindukan sosok Ayahnya. Meski dia sakit hati mendengar tuduhan sang Ayah kepada Ibu-nya, namun nalurinya sebagai seorang anak tetaplah dia ingin keluarga utuh yang bahagia.


"Hiks hiks hiks hiks hiks". Ara menangis dengan menutup wajahnya.


Naro, Zero dan Zeno naik keatas panggung.


"Mommy". Ketiga nya memeluk Ara bersamaan sambil menangis. Tanpa peduli dengan teriakkab Jovan dan Nickho yang mencoba menghentikan mereka.


"Mommy". Naro juga menangis.


Merasakan pelukkan ketiga putranya, Ara membuka wajahnya dia menyeka air matanya dengan kasar.


"Sayang, kenapa?". Ara berjongkok. Sedangkan Kayhan langsung berdiri ketika ketiga putranya memeluk Ara sambil menangis.


"Apa dia menyakitimu Mom? Katakan pada Naro, biar Naro hajar saja dia, hiksss". Tanya Naro segugukkan sambil menghapus air matanya.


Ara terdiam. Dia tidak tahu harus jawab apa. Harusnya dia kuat dan tidak boleh menangis tapi sekarang anak-anak nya melihat air mata murahannya.


Ara berdiri kembali. Dia menatap Kayhan yang tampak kacau. Dasi yang tadinya rapihh sudah terlepas, jas nya juga terlihat berantakkan. Rambut Kayhan acak-acakan.


Hati Ara sakit melihat penampilan pria didepannya ini. Ini bukan salah Kayhan, suaminya hanya salah paham saja. Ara tahu bahwa Kayhan begitu menyesal karena terlihat dari raut wajah sembab pria itu.


"Kak Han". Suara Ara tertahan tangisnya juga seakan tertahan.


Ara merentangkan tangannya. Dia menangis tapi mencoba tersenyum sakit. Dia merindukan pelukkan pria ini.


"Sini Kak".


"Ara".


Gleppppppppppppppppppp


Kayhan memeluk Ara dengan isakkan tangis hebat. Tak peduli seberapa bodohnya dia. Tak peduli seberapa kacaunya dia. Dia ingin memeluk wanita ini sampai puas.


"Hiks hiks hiks, Maafkan aku Ara. Maafkan aku". Peluk Kayhan.


Tangan Ara melingkar ditubuh suaminya yang menjulang tinggi itu. Dia juga menangis. Dia juga patah. Dia juga terluka. Dia juga kecewa. Tapi dia juga cinta. Dia juga rindu. Dia juga tak bisa berbohong bahwa pelukkan ini selalu mampu membuatnya nyaman.


"Sayang, hikssss". Kayhan semakin erat memeluk Ara


"Kak Han".


Keduanya saling bertangisan melepaskan semua rindu yang mengembang. Perpisahan selama kurang lebih enam tahun menjadikan mereka menumpuk begitu banyak rindu.


Tubuh Ara adalah candu Kayhan. Dia kehilangan tubuh ini selama enam tahun. Sekarang dia tidak akan melepaskan tubuh ini. Tubuh ini miliknya akan selalu menjadi miliknya selamanya.


**Bersambung....


Kayhan ❤️ Kimara**