Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 111. Terbangun dari tidur panjang



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Seorang wanita masih terbaring lemah diatas brangkar. Kepala plontosnya terlihat begitu putih. Tak ada rambut yang tumbuh dikepalanya. Matanya terpejam damai, sudah hampir satu bulan dia koma tanpa terusik. Tidur panjangnya terlihat tenang dan nyaman.


Disampingnya ada empat box bayi yang sengaja diletakkan disisinya. Dua box disebelah kanan dan dua box disebelah kiri.


“Owe owe owe owe owe”.


“Owe owe owe owe owe”.


“Owe owe owe owe owe”.


“Owe owe owe owe owe”.


Tangisan bayi itu saling bersahutan satu sama lain. Seakan ingin membangunkan wanita yang ada disamping mereka. Setiap hari bayi-bayi itu pasti menangis.


“Cup cup cup cup sayang, jangan menangis ya”. Roger mengendong putri Ara dan berusaha menenangkan bayi munggil itu.


“Sayang Uncle Jojo jangan menangis ya sayang. Kasihan Mommy nya nanti bangun dengar suara jelekmu”. Celetuk Jovan juga mengendong bayi Ara.


Nickho mengendong bayi yang satunya. Dia tersenyum gemes melihat bayi tampan itu. Sialnya sangat mirip lagi dengan Ayah kandungnya.


“Hai sayang Uncle Koko”. Nickho menciumi wajah bayi Ara dengan gemes juga. Dia tersenyum senang saat bayi itu seperti ingin berbicara dengannya.


“Iya sayang iya”. Ucap Nickho ketika bayi itu mengajaknya berbicara.


Sementara Jolenta mengendong bayi yang satunya. Bayi yang digendong Jolenta adalah Kakak dari ketiga bayi lainnya. Bayi itu yang lahir duluan. Mereka belum memberi nama pada bayi-bayi itu karena menunggu Ara bangun. Ara sudah menyiapkan nama untuk keempat bayi kembarnya.


“Sayang, ayo bangun. Ara tidak ingin melihat baby Quadruplets. Mereka ingin mendengar suaramu sayang”. Ucap Roger sambil mengendong bayi Ara.


Jovan mendekat “Hai gadis kecil. Ayo bangun, lihatlah pria kecil ini. Dia juga merindukanmu”. Celetuk Jovan menatap Ara yang masih setia menutup mata.


Nickho dan Jolenta ikut mendekat dengan bayi yang ada digendongan mereka. Mereka menatap Ara dengan senyum juga.


“Hai Mommy. Ayo bangun Mommy. Aku belum memiliki nama. Apa Mommy tidak ingin memberiku nama?”. Ucap Jolenta menirukan suara anak kecil. Yang lain berusaha terkekeh meskipun sedih.


“Iya Mommy. Aku juga belum memiliki nama”. Celetuk Nickho.


Mereka berempat terus saja berceloteh pada Ara yang memejamkan matanya. Berharap jika wanita empat anak itu terbangun mendengar suara mereka. Berharap Ara segera bangun dari koma. Mereka berharap Ara tersenyum bahagia melihat keempat buah hati Ara.


Nickho dan Hansel cukup heran dengan bayi-bayi Ara. Mereka keluar premature dengan keadaan sehat bahkan tak perlu dimasukkan kedalam kaca. Bayi-bayi Ara sehat seperti bayi lahir normal pada umumnya. Bayi Ara juga cekatan dan diusia yang belum menginjak satu bulan bayi-bayi itu sudah mengerti dan bahkan cekatan ingin berbicara.


Jari-jari lentik Ara mulai bergerak perlahan. Bulu mata lentiknya juga bergerak-gerak.


“Nickho. Cepat periksa Ara”. Ucap Roger setengah berteriak saat melihat jari Ara bergerak lincah.


Segera Nickho meletakkan bayi dalam gendongannya. Lalu memeriksa gadis itu. Perasaannya senang bukan main, penantian yang cukup panjang bagi mereka.


“Bagaimana Nick?”. Tanya Roger tak sabar


Nickho tersenyum “Kondisinya sudah membaik dan sebentar lagi Ara akan sadar”. Ucap Nickho dengan senyum mengembang diwajah tampannya.


Perlahan mata Ara terbuka, meski pandangannya masih kabur dan tidak jelas. Orang pertama yang dia lihat adalah wajah Kakak nya.


“Sayang”.


“Ara”.


Keempat pria itu berkaca-kaca ingin sekali mereka menangis, tangis bahagia karena Ara kembali.


“Sayang”. Roger memeluk Ara dengan isak tangis. Tangis haru. Betapa dunia Roger serasa hancur saat Hansel mengatakan jika jantung Ara berhenti berdetak. Roger ketakutan bukan main, dan dia takkan sanggup melanjutkan hidupnya tanpa Ara.


“Kakak”. Ara membalas pelukkan Roger. Meski tubuhnya masih terasa sakit. Luka bekas operasi Ara juga terasa sakit “Awwwww”. Sontak Roger melepaskan pelukkannya.


“Sayang, dimana yang sakit?”. Tanya Roger cemas dan panic


“Ara”. Begitu juga dengan ketiga pria yang sedari tadi berdiri dengan mata berkaca-kaca, karena bahagia melihat Ara terbangun kembali setelah tertidur cukup lama.


Ara menggeleng “Tidak ada Kak”. Senyum Ara saat melihat wajah kepanikkan dari para Kakak nya.


“Kak Nickho”. Ara tersenyum kearah pria yang mengenakan jas dokter itu. Mereka semua heran kecuali Roger yang memang sudah mengenal Nickho melalui Ara.


“Ra”. Nickho mendekat dan memeluk wanita itu “Ra”. Nickho memeluk Ara dengan isak “Terima kasih sudah kembali Ra”. Ucap Nickho.


“Kak Nickho”. Ara membalas pelukkan Nickho. Terakhir dia bertemu Nickho saat acara pernikahannya satu tahun yang lalu.


Nickho melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Ara “Apa kabar? Dimana yang sakit?”. Tanya Nickho lembut. Hatinya terenyuh saat melihat wajah Ara yang pucat dan kepala plontos tanpa sehelai rambut pun.


Ara menggeleng “Aku baik-baik saja Kak”. Jawab Ara “Bagaimana Kakak bisa ada disini?”. Tanya Ara.


“Ceritanya panjang”. Sahut Nickho masih dengan isakkkan tangis bahagianya. Dia tak penting memiliki Ara tapi dia ingin menjaga wanita empat anak ini.


“Kak Jovan. Kak Jolenta”. Ara memanggil kedua pria kembar yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan rindu.


“Ra”. Jovan memeluk Ara, bahkan tanpa sadar pria itu menangis. Sungguh saat Hansel mengatakan bahwa mereka hampir kehilangan Ara. Rasanya Jovan tak mampu bernafas.


“Terima kasih sudah kembali”. Jovan melepaskan pelukkanya dan mengusap wajah Ara yang banjir dengan air mata “Wanita kuat”. Jovan memberis semangat pada wanita itu. Ara mengangguk dan tersenyum dengan air mata.


“Ra”. Jolenta menatap Ara dengan sangat rindu.


“Kak Jolenta”. Mereka saling berpelukkan satu sama lain. Melepaskan semua kerinduan selama hampir sebulan. Karena Ara koma sebelum dia dioperasi. Kondisinya menurun dan drop total.


“Bunda”.


Aldo langsung berlari masuk kedalam ruang rawat Ara. Setelah mendengar Ara sadar, Shella dan Joana segera berangkat kerumah sakit. Tampak juga Jovanka dan Hansel serta kedua putra kembar dalam gendongan mereka. Ada juga Syaneth dan Van Derg.


“Ado”. Ara merentangkan tangannya agar pria kecil itu masuk kedalam pelukkannya.


“Hiks Bunda, Ado lindu Bunda. Ado tungguin Bunda setiap hali, hiks hiks”. Isak Aldo menangis dalam pelukkan Ara. Dia menangis sepuasnya dipelukkan wanita yang dia rindukan ini.


Sejak Ara koma, Aldo seperti pria yang sedang patah hati. Setiap hari pria kecil itu menangis sambil memeluk foto Ara dikamarnya. Dia juga mengunjungi Ara setiap pulang sekolah. Kadang pria itu juga mengajak Ara berbicara.


Bersambung....


Kayhan ❤️ Kimara