
Orang yang mencintai mu takkan pergi meskipun ada 1000 alasan untuknya menyerah, tapi dia akan menemukan satu alasan untuk bertahan.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kayhan sedang duduk dengan kaki menyilang, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana, sedangkan punggungnya menyender disenderan soffa. Wajahnya terlihat dingin tanpa ekspresi.
"Apa yang ingin Daddy dan Grandfa bicarakan padaku?". Tanya Kayhan tanpa basa-basi.
"Apa kau masih ingin mempertahankan gadis mandul itu?". Tanya Bagaskara dengan tatapan mengejek.
Kayhan menatap Bagaskara dengan tajam, tangannya terkepal dan rahangnya mengeras "Aku akan mempertahankan Ara sampai kapanpun". Jawab Kayhan tegas.
"Hahaha Kayhan, Kayhan. Apa sebegitu butanya dirimu? Kau tidak lihat, gadis itu sangat tidak cocok untukmu? Berpikirlah jernih Kayhan, apa yang kau harapkan darinya? Lebih baik kau tinggalkan dia dan cari wanita lain yang bisa memberimu keturunan". Timpal Bagas menyambung.
Kayhan menatap tak percaya "Aku tidak akan meninggalkan Ara apapun yang terjadi, dia lah hidup dan nafasku". Bantah Kayhan dengan nada tegas dan juga dingin.
Wena dan Erna geram mendengar ucapan Kayhan "Buka pikiranmu Kayhan, pikirkan kami. Kami menginginkan kehadiran seorang cucu. Apa kau sudah tak menyanyangi kami?". Pekik Erna dengan setengah membentak Kayhan.
Kayhan tersenyum sinis "Apa kalian pernah bertanya pada diri kalian? Apa kalian menyanyangi ku?". Ucapan Kayhan terdengar sinis dan juga mengejek.
Wena tidak habis pikir, apa yang membuat Kayhan begitu mencintai Ara.
"Kau benar-benar, anak kurang ajar Kayhan". Wena sampai menunjuk wajah Kayhan dengan geram. Tak pernah cucunya itu membantah apa saja yang dia katakan, tapi lihatlah sekarang "Tinggalkan gadis mandul itu, atau kau memilih keluar dari keluarga ini?". Ancam Wena dengan nafas memburu dan tatapan penuh amarah.
Kayhan masih terlihat tenang, pria itu tak terusik dan sekali, malah dia tersenyum sinis menatap sang Nenek.
"Kalian ingin aku pergi?". Kayhan menatap Daddy, Mommy, Grandfa dan Grandma nya secara bergantian.
"Jika kau tak ingin pergi maka tinggalkan wanita mandul itu". Seru Bagas "Atau kau akan kehilangan segalanya, perusahaan, dan semua kemewahan yang ada?". Ancam Bagas menagap putranya dengan smirk.
Kayhan malah terkekeh "Perusahaan itu milikku, dan kalian tidak bisa merebutnya dariku!". Kayhan tertawa mengejek.
Bagaskara melemparkan iPad miliknya pada Kayhan "Silahkan lihat". Ucap Bagaskara.
Kayhan mengambil iPad yang dilemparkan oleh Grandfa nya. Mata Kayhan membulat sempurna, saat melihat semua data perusahaan berganti nama kepemilikan menjadi milik Grandfanya Bagaskara.
"Apa yang kau lakukan Grandfa?". Kayhan mengepalkan tangannya bahkan dia melempar iPad itu hingga layarnya pecah.
Bagaskara tertawa penuh kemenangan "Kau ingin melawan Grandfa kan? Semua fasilitas, termasuk Villa, Apartement, Restourant, mobil dan perusahaan semua menjadi milik Grandfa". Bagaskara menatap cucunya dengan kasihan "Kecuali kau mau meninggalkan wanita mandul itu, maka semua nya kembali kepadamu. Bagaimana?". Tawar Bagaskara. Dia yakin cucunya tidak akan bisa hidup tanpa kemewahan.
Kayhan malah tersenyum mengejek "Silahkan ambil semuanya, aku tidak butuh. Yang aku butuhkan adalah Ara, dia segala nya untukku dan aku tidak akan pernah meninggalkan". Tegas Kayhan membuat mereka tercenggang dan tak percaya, sebesar apa cinta Kayhan untuk Ara sehingga rela kehilangan segalanya hanya demi gadis itu?
Kayhan berdiri dan melangkah meninggalkan mereka "Selangkah lagi kau melangkah maka angkat kaki dari Mansion ini". Ancam Bagaskara berdiri.
Kayhan membalikkan badannya. Tatapan pria itu seakan siap membunuh siapa saja yang mengusik nya.
Martha dan William sedang menjelajahi bibir pantai, kebetulan weekend. Sudah menjadi kebiasaan kedua orang berbeda jenis itu menghabiskan waktu mereka dengan liburan bersama.
"Apa yang sedang kau pikirkan Will?". Tanya Martha memecahkan keheningan diantara keduanya. William lebih banyak terdiam sejak pernikahan Ara.
"Apa kau pernah jatuh cinta?". Tanya William tapi matanya masih terarah pada anak-anak ditepi pantai. Kaos oblong berwarna putih tulis itu, terlihat menyusut saat angin sepoi-sepoi menghantam tubuhnya, sehingga menampikan otot-otot perut milik William.
"Pernah". Jawab Martha singkat, matanya terarah pada William "Aku bahkan sedang merasakannya sekarang". Martha tersenyum menatap William, sedangkan William tak mengarahkan pandangan nya sama sekali.
"Bagaimana rasanya?".
"Indah, menyenangkan, bahagia, setiap kali dekat dengannya selalu merasa jantung berdegup kencang, dan ingin melihatnya setiap saat". Jelas Martha objek tatapannya masih pada pria yang tengah duduk disampingnya. Pria tampan yang memakai kacamata hitam itu begitu menarik pesona Martha.
Willim tersenyum, saat mengingat wajah polos seorang gadis yang mencuri perhatian nya. Gadis sederhana, gadis unik dan gadis langka yang membuat William ingin memiliki gadis itu. Namun, sayang seribu sayang, gadis pujaan nya sudah menjadi milik orang lain.
"Kau benar". Jawab William singkat.
"Siapa yang kau sukai?". Tanya Martha penasaran. Entah kenapa hati Martha berdenyut saat William tersenyum tapi bukan untuknya.
William menoleh kearah Martha sambil tersenyum manis dan itu justru membuat Martha salah tingkah dan gugup.
"Kenapa Will?". Tanya Martha gugup dan juga berharap gadis yang disukai William adalah dirinya.
"Kimara Ferarer". Jawaban William seketika membuat Martha terdiam membeku, awan-awan cerah yang tadinya menghiasi dunianya seketika gelap seperti akan turun hujan.
"Ara?". Beo Martha tak menyangka.
William mengangguk "Satu-satunya gadis yang tidak tertarik dan bersikap cuek pada pria adalah Ara. Mungkin sebagian orang mencibir sifat Ara yang terkesan cuek dan dingin, tanpa mereka ketahui bahwa Ara adalah idaman para lelaki". William menarik sudut bibirnya "Dan Ara adalah satu-satunya gadis yang tidak tertarik padaku, dia tidak genit apalagi kecentilan itulah yang membuat banyak pria penasaran dengan kepribadian Ara". Jelas William tanpa sadar hal itu menyakiti perasaan Martha. Bukan William tidak tahu jika Martha menaruh hati padanya. Tidak ada yang salah dengan Martha, hanya saja gadis itu terlalu agresif dan posessif.
"Tapi sayang, dia sudah menjadi milik orang lain". William tersenyum kecut "Andai saja aku mengenal Ara lebih dulu, pasti aku yang akan berada disampingnya". Ucap William.
Martha terdiam, dunianya seketika runtuh. Tidak salah, jika banyak pria yang menyukai sahabat nya itu, tapi haruskah pria yang dia cintai juga menaruh rasa pada Ara?
"Apa yang akan kau lakukan?". Tanya Martha pelan, kini matanya tak lagi sanggup melihat William rasanya terlalu sakit mendengar pengakuan William.
"Melupakannya". Sahut William singkat namun terasa berat, hatinya sakit saat mengucapkan kata itu.
Martha menatap William dengan sendu, andai saja pria disampingnya ini tahu betapa Martha mencintai William. Namun, pria itu malah hanya menganggapnya sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu.
Martha sadar, cinta tidak harus memiliki. Begitu juga dengan William yang sadar bahwa cintanya pada Ara tidak harus terbalas.
**Bersambung.......
Salam hangat
Kayhan ❤️ Kimara**