Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 50. Rencana



**Kita adalah rasa yang tepat diwaktu yang salah..


@FiersaBesari**


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dua pria berbeda usia tengah duduk saling berhadapan, yang satu sudah lanjut usia sedangkan yang satu hampir berkepala lima.


"Apa rencana kita sekarang Dad? Seperti nya gadis ****** itu tidak juga menyerah". Tandasnya sambil menyeruput kopi dalam gelasnya.


"Tidak ada cara lain selain menyingkirkan gadis ****** itu". Jawab sang Ayah, sorot matanya memancarkan kebencian. Sudah enam bulan berlalu dia harus terpisah dengan cucu kebanggaan karena gadis tidak tahu diri itu.


"Tapi bagaimana dengan Kay?". Tanya Bagas menatap kearah Bagaskara.


"Ya seperti Seem dulu, dia akan stress tapi lama-lama dia bisa ikhlas juga. Kay juga akan begitu nanti". Jelas Bagaskara enteng.


"Aku tidak mengerti kenapa Kau sangat mencintai gadis mandul itu? Apa kelebihan nya?". Bagas mengurut pangkal hidung nya merasa sangat pusing memikirkan kedua putranya "Apa tidak ada gadis lain yang cocok di jodohkan dengan Kay?". Sambung Bagas.


"Tidak ada". Sahut Bagaskara singkat "Pria itu tidak bisa dipaksa. Biarkan saja dulu dia bersama istrinya dan kali ini kita harus melenyapkan Ara, aku tidak mau dia jadi benalu dikeluarga kita". Timpal Bagaskara menyahuti putranya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?". Tanya Bagas.


Bagaskara tersenyum smirk sambil menyeruput kopi dalam gelasnya. Pria tua yang hampir berusia satu abad itu tetap terlihat gagah diusianya yang sudah lanjut.


Bagaskara menjelaskan pada putranya apa yang akan dia lakukan untuk menyingkirkan Ara. Hanya cara itu agar keduanya terpisah.


"Tapi bagaimana jika dia benar-benar meninggal?". Tanya Bagas, menatap tak percaya dengan ide yang direncanakan oleh Ayahnya.


"Bukankah itu lebih baik? Anggap saja alam yang memisahkan mereka". Sahut Bagaskara santai tanpa beban "Masalah Kay, dia tidak akan berlarut lama menangisi istrinya". Ucap Bagaskara lagi.


"Apa gadis itu sudah disingkirkan dari Toko Buku itu?". Bagas masih belum puas


"Tidak! Biarkan saja, toh itu bukan miliknya. Aku tidak tega dengan pemiliknya sepertinya Toko Buku itu terlalu kecil untuk di hancurkan". Jawab Bagaskara.


Entah apa yang direncanakan oleh Ayah dan anak itu. Mereka tampak kompak ingin menyingkirkan orang-orang yang tidak diharapkan dalam hidup mereka.


Seem, adalah putra kedua Bagas yang pernah mereka hancurkan. Tentu saja Seem tidak tahu jika dibalik patah hatinya semua adalah ulah dari keluarga nya sendiri. Namun, sepertinya pria itu tahu dan itulah mengapa dia bersikap dingin dan malas untuk bergabung dengan keluarganya.


Dilain tempat............


Seorang Dokter tampan tengah menatap kosong ke arah jendela pesawat. Hari ini dia harus kembali ke tanah air untuk meneruskan rumah sakit keluarga Bagaskara, dia adalah Nickho Darma Bagaskara.


Beberapa kali Dokter itu menghela nafas berat. Sebenarnya dia tak ingin kembali ke Indonesia, tapi desakkan sang Kakek membuatnya harus kembali. Jika tidak, pria tua itu akan terus memaksanya menikah.


"Ra". Lirihnya. Masih saja dia mengingat nama dari seorang gadis yang sudah mencuri hatinya. Gadis yang tak pernah lari dari pikiran Nickho selama enam bulan belakangan ini.


"Bagaimana kabarmu Ra? Apa baik-baik saja? Apa kau bahagia bersama Kay? Apa kau sudah mencintainya?". Nickho terus berperang dengan isi pikirannya. Bayangan Ara terus saja berlarian dibenak Nickho.


Bayangan Ara yang menangis dalam pelukkannya. Bayangan Ara yang tertawa saat bersamanya. Dan perkataan Ara yang menolaknya dengan alasan karena sudah mencintai pria lain. Terus saja terngiang dibenak Nickho.


Pernah Nickho berkeinginan untuk merebut Ara dari Kayhan. Mungkin dia bisa menang dari Kayhan tapi dia tidak akan bisa membuat Ara jatuh cinta padanya. Apalagi dia tahu jika Ara adalah gadis yang sulit untuk membalas perasaan orang lain. Terbukti bahkan Kayhan bisa menaklukkan Ara karena melakukan berbagai cara. Tak jarang pria itu terlihat seperti orang gila untuk membuktikan pada Ara bahwa dia adalah pria yang tepat berdiri disamping Ara.


Pesawat Nickho landing dibandara Soekarno-Hatta, dengan bergegas pria itu menyeret koper nya. Kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya. Tatapannya terlihat dingin dan tajam. Sejak Ara menolaknya saat itu Nickho berubah menjadi pria tak tersentuh.


Nickho memesan taksi online untuk sampai dirumah pribadi miliknya. Keluarga besar Nickho tinggal di Australia. Di Indonesia Nickho tinggal bersama adik perempuannya yang juga berprofesi sebagai Dokter dirumah sakit milik keluarga.


"Selamat datang Tuan". Sapa satpam dirumah mewah Nickho sambil memberi hormat


"Terima kasih Paman Mul". Balas Nickho.


"Mari Tuan, saya bawakan koper nya". Mul mengambil alih membawa koper milik Nickho. Nickho mengangguk.


"Apa Naira ada dirumah Paman?". Tanya Nickho.


"Ada Tuan, Nona Naira sudah menunggu Tuan". Sahut Mul.


Nickho berjalan masuk kedalam rumah mewah yang hanya dihuni oleh dua orang dan beberapa pelayan lainnya.


"Kakak". Seorang gadis berambut sebahu langsung menghampiri Nickho. Dia memeluk sang Kakak yang sudah enam bulan tidak pulang ke rumahnya "Kak, rindu". Renggeknya manja.


Nickho memutar bola matanya malas. Jika sudah begini adiknya pasti ada maunya "Iya, iya". Nickho melepaskan pelukannya adiknya.


"Ck". Naira merenggut kesal. Nickho selalu saja begitu.


"Bagaimana kondisi rumah sakit?". Tanya Nickho sambil duduk disofa ruang tamu mereka.


"Seperti biasa, tempat dokter bekerja dan tempat orang sakit". Jawab Naira Ketus sambil duduk disamping Nickho.


Nickho terkekeh mendengar jawaban sang adik "Apa kau sudah punya pacar?". Ejek Nickho pada adiknya. Usia mereka hanya beda dua tahun. Berarti Naira berusia 28 tahun tapi masih saja manja. Karena memang dibesarkan dalam keluarga yang memiliki segalanya.


"Kakak mengejekku?". Naira memincingkan matanya "Apa Kak Nickho sudah punya pacar? Jangan bilang masih stuck dengan Ara?". Tatapan Naira menyelidik.


Nickho acuh saja. Sambil menyenderkan punggungnya disofa.


"Ck, kapan Kakak move on nya dari Ara?". Tanya Naira.


"Entahlah". Jawab Nickho acuh.


"Kasihan sekali Kakakku yang tampan ini, jatuh cinta sendirian. Mandiri amat Kak?". Ejek Naira tertawa pelan, memikirkan nasib Kakaknya "Sayang, tampan-tampan tapi tidak laku". Naira tertawa melihat wajah kesal Kakaknya.


Nickho menatap Naira kesal, adiknya memang sangat suka sekali mengolok dirinya "Kau tidak tahu saja bagaimana rasanya jatuh cinta pada orang yang tepat". Jawab Nickho acuh.


"Hahhaha, Kakak jatuh cinta pada orang yang tepat tapi diwaktu yang salah". Omel Naira "Sudahlah Kak, lebih baik move on saja. Ara sudah bahagia bersama Kak Kay. Kakak coba buka hati untuk cinta yang lain, kali saja ada yang pas dihati gitu". Nasehat Naira.


"Susah".


"Bukan susah, Kakak hanya belum mencobanya". Ketus Naira "Mungkin Kakak akan menemukan Ara lain di raga yang berbeda". Sambung Naira.


"Arggh, sudahlah. Kakak mau istirahat". Nickho berdiri dari duduknya "Ara hanya ada satu dan tidak ada Ara lain selain Ara-nya Kakak". Ralat Nickho sebelum mellengang pergi.


Naira menggeleng kepala. Sudah enam bulan Kakak nya itu tak juga move on dari patah hatinya. Padahal jika dilihat, Ara hanya lah gadis biasa yang tidak memiliki apa-apa. Tapi kenapa Kakaknya itu sangat cinta mati pada Ara-nya?


**Bersambung....


Salam hangat


Kayhan ❤️ Kimara**