Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 74. Hamil



Terima kasih telah hadir buah cintaku😘 Terima kasih telah mempercayakan ku sebagai seorang Ibu yang harus bertanggung jawab memilikimu.


Aku mencintaimu, aku akan memperjuangkan mu hingga aku menemukan akhir dari usia....


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Diruang tunggu tampak lima orang berbeda usia.


"Bunda, hikss". Aldo masih menangis dari tadi pria kecil itu terlihat tak tenang.


"Sttt sayang jangan nangis. Bunda Ara pasti baik-baik saja". Shella memeluk putranya sambil menenangkan putra kecil nya itu.


"Tapi Mi.......".


"Kan Ado bilang Bunda Ara, wanita kuat". Shella menunjukkan ekspresi kuat.


Aldo mengangguk dengan isakkan seakan mengerti apa yang diucapkan oleh Maminya.


"Jadi Ado harus kuat dan jadi penyemangat Bunda ya". Bujuk Shella menyeka air mata putranya.


"Iya Mi. Ado akan kuat demi Bunda Ara". Aldo kembali memeluk Shella.


Joana tersenyum mengelus kepala Aldo. Pria tampan bertubuh kecil itu benar-benar menggemaskan dan lucu.


"Aunty Nana". Pekik Aldo kesal saat Joana mengelus kepalanya. Aldo masih seperti tabiatnya hanya Ara dan Shella yang boleh mengacak rambutnya jika ada orang lain yang mengelus nya pasti Aldo akan mengambuk.


Joana, Roger dan Jovan menggeleng dengan senyum. Aldo memang mirip seseorang, dari wajah dan cara bicaranya hanya saja mereka tidak bisa menebak dengan jelas.


Tidak lama kemudian, seorang Dokter wanita paruh baya keluar dari ruang pemeriksaan.


"Bagaimana keadaannya Dok?". Cecar Roger tak sabar.


Dokter wanita itu malah tersenyum hangat namun juga menghela nafas pelan "Tuan bisa ikut saya sebentar?".


"Baik Dok". Sahut Roger "Na, Shel kalian masuk dan lihat Ara. Aku dan Jovan akan menemui Dokter". Perintah Roger


"Baik".


"Baik Kak".


"Ayo Van". Mereka berdua pun pergi keruangan Dokter yang didepannya bertuliskan Dokter Maddy Jane, Dokter spesialis kandungan dan anak.


"Silahkan duduk Tuan". Dokter Maddy tersenyum sambil mempersilahkan mereka berdua duduk.


"Terima kasih Dok". Ucap Jovan mendidikan pantatnya di kursi depan Dokter Maddy.


"Bagaimana Dok?". Tanya Roger tak sabar. Roger takut ada sesuatu yang berbahaya terjadi pada adiknya.


Dokter Maddy tersenyum "Selamat Tuan, istri anda hamil, memasuki Minggu keempat".


Roger dan Jovan saling melihat dan juga tercenggang.


"H-amil?". Beo mereka berdua.


"Iya Tuan. Tapi.....".


"Tapi apa Dok?". Desak Jovan. Dia senang mendengar jika Ara benar-benar hamil.


Dokter Maddy menghembuskan nafas pelan.


"Ada tumor yang tumbuh didinding rahim Nona Ara. Kita harus memilih menyelamatkan salah satu dari keduanya, memilih Ibu atau anak nya. Bisa saja dengan obat-obatan atau kemoterapi, tapi sangat beresiko untuk Ibu hamil seperti Nona Ara. Karena bisa menyebabkan kelainan pada janin".


Roger dan Jovan membisu. Lidah keduanya terasa kelu. Baru saja mereka bahagia mendengar bahwa Ara hamil, dan harus di hadapkan dengan satu kenyataan lagi. Roger bingung, harus memulai dari mana untuk berbicara pada adiknya. Dia yakin jika Ara tidak akan mau mengugurkan kandungan.


"Apa ada cara lain Dok?". Tanya Jovan berharap ada jalan lain.


"Ada, biasa disebut dengan radioterapi. Sistem ini untuk mematikan sel dalam tubuh, tapi pengobatan dengan sistem ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan gagal jantung".


Lagi dan lagi kedua pria itu tak bisa berkutip. Harus pilih yang mana. Kedua nya sangat berbahaya untuk Ara.


Roger dan Jovan keluar dari ruang Dokter Maddy. Kedua pria tampan berwajah campuran itu, tampak lemah dan lesu. Pikiran mereka berlarian kemana-mana dan bingung harus melakukan apa dan menggunakan cara apa untuk menjelaskannya pada Ara.


Keduanya masuk kedalam ruang rawat Ara. Disana ada Shella, Joana dan Aldo yang sedang bercengkrama saling bercerita dengan Ara.


"Dimana yang sakit Bunda, kasih tahu Ado". Aldo mengacek bagian tubuh Ara.


Ara tersenyum hangat "Tidak ada sayang. Kalau lihat senyum Ado, sakit Bunda langsung hilang. Kalau Ado nangis kayak tadi, Bunda jadi sakit lagi". Celetuk Ara.


Aldo menggeleng. Dia mengaitkan jari nya dengan jari Ara "Ado janji, Ado tidak akan nangis lagi. Ado akan telsenyum untuk Bunda". Aldo menampilkan rentetan gigi putihnya membuat pria kecil itu tampak seribu kali lebih tampan dan menggemaskan.


"Kenapa aku baru sadar jika wajah Aldo sangat mirip dengan Kak Seem. Sifatnya juga. Apa mungkin Kak Seem Ayah kandung Aldo? Tapi bagaimana bisa?". Batin Ara memperhatikan wajah Aldo.


"Bunda".


Ara terkejut mendengar panggilan Aldo "Iya sayang". Sahut Ara saat baru tersadar.


"Sayang". Roger dan Jovan mendekat kearah brangkar milik.


"Iya Kak". Ara menampilkan senyum diwajah pucatnya.


Roger berusaha menampilkan senyum tegar dihadapan adiknya. Roger tidak bisa bayangkan jika dia berada diposisi Ara.


"Na, bisa bawa Aldo keluar sebentar ada yang ingin Kakak bicarakan dengan Ara". Perintah Jovan.


"Baik Kak". Sahut Joana "Ayo sayang". Aldo malah menggeleng.


"Tidak, Ado tidak mau". Tolak Aldo memeluk Ara. Dia tidak mau lagi meninggalkan Bunda nya.


"Ado sayang, nanti kita main mobil-mobilan mau? Uncle Jojo akan belikan Ado mobilan yang banyak sekali". Sambil Jovan membuat lingkaran dengan tangannya "Tapi Ado ikut Aunty Nana dulu". Bujuk Jovan lembut.


Aldo terdiam sejenak mendengar tawaran dari Uncle Jojo-nya. Lalu dia melihat kearah Ara.


"Bunda, Ado keluar sebentar. Bunda tidak apa-apa jika Ado tinggalkan?". Ucap Aldo menatap Ara. Ucapannya sudah seperti orang dewasa. Roger dan Jovan, terkesiap sampai melonggo tak percaya. Aldo benar-benar seperti pria dewasa yang sedang jatuh cinta.


"Ado cinta Bunda". Aldo mendaratkan ciuman dikening Ara. Lagi-lagi Roger dan Jovan menelan salivanya kasar. Apa Aldo tahu apa arti cinta yang dia ucapkan?


"Bunda juga sayang Ado".


Setelah dibujuk dan dirayu, akhirnya Aldo mau ikut Joana untuk keluar dari ruangan Ara. Karena Roger dan Jovan tidak ingin Aldo tahu kondisi dan penyakit Ara. Ini urusan orang dewasa.


Kini tinggal Ara, Roger, Jovan dan Shella. Ara menatap kearah dua pria didepannya yang terlihat lesu tak seperti biasa.


"Kak".


"Ra". Jovan dan Roger saling melihat dan memberi kode siapa yang akan mengucapkan kata duluan. Roger mengangguk tanda dia meminta izin untuk berbicara.


"Kak, ada apa?". Tanya Ara melihat hal yang berbeda di raut wajah Roger.


"Ra, kamu.....".


"Aku kenapa Kak?". Shella mengelus punggung Ara tanda menyuruhnya bersabar. Ara mengangguk paham.


"Kamu, hamil".


Deg


Jantung Ara berdegup kencang. Dia bahkan menatap Roger tak percaya.


"H-hamillll?". Ulang Ara sekali lagi masih dalam mode tak percaya. Shella juga tak jalah terkejut.


"Kak, aku hamil?". Tanya Ara memastikan, matanya berkaca-kaca terharu dan tak menyangka.


"Tapi.........".


"Tapi apa Kak?".


"Tapi Ara harus janji apapun yang Kakak katakan Ara harus tenang dan pilih salah satu nya". Roger mengenggam tangan adiknya dan duduk dibibir berangkar Ara.


"Maksud Kakak?".


"Ada tumor yang tumbuh di dinding rahim kamu. Dan jalan satu-satunya untuk mengeluarkan tumor itu adalah mengugurkan bayi yang ada didalam kandungan kamu. Jika tidak, itu akan bahaya untuk keselamatan kamu".


Deg


Bukan hanya jantung Ara yang berdetak, tapi juga Shella. Shella mematung ditempatnya. Tidak bisa Shella bayangkan bagaimana Ara menghadapi semua ini.


"Kamu harus memilih salah satunya Ra. Saran Kakak, sebaiknya gugurkan kandungan kamu".


Ara menatap Roger dan menggeleng "Tidak, aku tidak akan pernah mengugurkan bayiku Kak. Tidak Kak, aku tidak mau". Tolak Ara sambil memegang perutnya, seperti melindungi perutnya dari orang ingin mengelusnya.


"Tapi Ra......".


"Tidak Kak. Aku sudah lama menginginkan anak dan sekarang aku tidak mau membunuh anak yang tidak berdosa hanya demi keselamatan aku sendiri. Aku rela berkorban demi anakku Kak. Aku tidak mau". Ara menangis histeris.


"Ra". Jovan juga tercekat.


"Ra". Shella berusaha memeluk Ara tapi gadis itu menolak.


"Aku mohon Kak. Jangan bunuh bayiku. Aku tidak mau dan aku tidak bisa". Ara memohon pada ketiga orang yang menatapnya dengan sedih.


"Tapi Ra, nyawa kamu bisa jadi taruhannya". Roger berusaha membujuk.


"Tidak Kak. Tidak. Aku rela mati, agar anakku bisa lahir. Aku rela mengorbankan apapun agar dia bisa ada didunia ini". Tolak Ara tegas.


Shella tak mampu menahan tangisnya. Dia menarik Ara dalam pelukkannya. Shella paham bagaimana perasaan Ara. Sama seperti ketika dia dipaksa mengugurkan Aldo, karena hamil diluar nikah dan tanpa suami.


"Kakak paham. Kakak akan dukung jika Ara, ingin mempertahankan nya". Peluk Shella meneteskan air mata.


"Kak". Ara menangis dalam pelukkan Shella. Menangis sejadi-jadinya. Tidak, tidak akan Ara lakukan membunuh bayi yang tidak berdosa itu.


Roger melihat Ara dengan sendu. Roger sakit melihat Ara menangis, dia paham apa yang ada dipikiran adiknya. Tapi Roger tidak mau kehilangan Ara. Ara adalah satu-satunya keluarga yang saat ini Roger miliki.


"Ra". Roger mengelus kepala adiknya. Ara melepaskan pelukkannya dari Shella.


"Kak, Ara mohon jangan bunuh anak Ara. Ara mohon Kak. Ara janji akan berusaha sembuh agar bayi Ara bisa diselamatkan". Renggek Ara memegang lengan Roger.


Mata Roger berkaca-kaca, hatinya sangat sakit melihat orang yang dia sayang menangis seperti ini.


Roger menarik Ara dalam pelukkannya "Maafkan Kak. Kakak akan menemani Ara melewati semua ini". Peluk Roger, setetes air mata jatuh dipelupuk mata pria itu. Padahal dia pria yang pantang menangis, namun saat melihat adiknya rapuh seperti ini hatinya ikut rapuh bersama tangisan Ara.


"Kak hiks". Ara mengeratkan pelukkannya pada tubuh tubuh Roger.


Jovan memalingkan wajahnya, dia tak mau ketahuan bahwa dia juga menangis melihat kondisi Ara. Bagaimana Ara bisa melewati ini? Jovan takut, jika Ara yang akan menjadi taruhan demi bayi nya. Namun, Jovan juga paham bahwa Ara sangat menyanyangi anaknya. Walaupun harus berkorban nyawa. Benar kata pepatah, kasih Ibu sepanjang masa dan tak ada batasan dari masa itu.


Ara melepaskan pelukan Roger, dia beralih pada Jovan dari tadi pria itu juga menunjukkan wajah sedihnya.


"Kak Jovan". Renggek Ara.


"Ra". Jovan maju dan memeluk Ara. Dia sudah menganggap Ara sebagai adiknya sendiri. Meskipun Jovan tak bisa berbohong jika perasaannya untuk Ara masih ada. Namun, dia tidak mau egois dan mementingkan perasaannya sendiri. Kebahagiaan Ara lebih penting. Dia sudah berjanji akan membantu Roger dan Shella untuk menjaga Ara. Meskipun tak bisa memiliki sebagai orang yang dicintai, setidaknya masih bisa berada disamping Ara sudah lembut dari cukup.


"Kamu pasti bisa melewati ini semua". Peluk Jovan, Jovan mengigit bibir bawahnya supaya tangisnya tidak terdengar. Dia tidak mau ketika Ara melihat tangisnya membuat gadis itu nantinya semakin rapuh dan terluka.


"Terima kasih Kak". Ara melepaskan pelukkan Jovan.


"Jangan menangis". Jovan menghapus air mata Ara "Disini ada kami yang akan bantu Ara melewati semua ini. Ara harus janji untuk semangat sembuh, demi bayi yang ada dalam perut Ara". Jovan ingin mengelus perut Ara, tapi dia tidak punya keberanian. Dia hanya menunjuk dengan matanya, padahal hatinya sangat ingin memegang perut yang dihuni nyawa itu.


Ara mengangguk dengan senyum. Dia kuat karena ada orang-orang yang menyanyangi nya.


Bersambung..........


Kayhan ❤️ Kimara


Minta dukungannya dong guys😭