
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ara masih membersihkan luka di kaki Bagaskara dengan sabar dan telaten.
"Awwwwww".
"Maaf Tuan, ini sedikit sakit". Bagaskara mengangguk.
Sedangkan para bocah hanya terdiam menatap Ara yang begitu sabar mengobati luka Kakek tua itu.
"Mommy, apa setelah ini kita beltemu Ayah?". Seru Nara membuyarkan lamunan mereka. Bagaskara menatap Nara.
"Kenapa sayang?". Tanya Ara. Tangannya masih setia mengobati kaki Bagaskara.
Nara menggeleng "Semalam Ayah janji mau belikan Nala es clim". Ucap Nara dengan sendu "Tapi pas Nala bangun, es clim nya tidak ada". Timpal gadis kecil itu lagi.
"Jangan nangis Dek. Nanti setelah ini Kakak akan belikan Nara es cream yang banyak". Rayu Naro mengelus rambut panjang adiknya.
Nara mengangkat pandangan nya "Tapi Nala mau makan es clim sama Ayah". Renggek gadis itu.
"Setelah ini kita akan menemui Ayah". Sambung Aldo.
Ara tersenyum gemes mendengar percakapan anak-anak nya. Berbeda dengan Bagaskara yang hanya terdiam saja. Jika Ara sudah menikah berarti para bocah itu bukan cicit-cicitnya? Kenapa hati Bagaskara terasa sakit.
"Sudah selesai Tuan". Ucap Ara meletakkan obat-obat itu "Jangan terlalu banyak bergerak dulu". Pesan Ara.
"Terima kasih Ara". Senyum Bagaskara "Jika berkenan sebagai ucapan terima kasih, aku ingin mengajak kalian makan siang disini. Kebetulan disini banyak es cream untuk gadis cantik ini". Tangan Bagaskara terulur mengelus rambut panjang Nara.
Ara seketika terdiam "M-maaf Tuan. Bukan menolak saya harus membawa anak-anak menemui Ayahnya". Kilah Ara berbohong. Dia tidak mau terlalu dekat dengan Bagaskara.
"Saya tidak akan macam-macam Ara. Saya hanya ingin berterima kasih". Lirih Bagaskara. Bagaskara tahu jika Ara takut padanya.
Aldo menatap Bagaskara tajam. Pria berusia sepuluh tahun itu bisa melihat jika Bagaskara memang tulus. Namun tetap saja mantan penjahat akan tetap berbuat jahat, begitulah pikir Aldo.
"Mommy boleh ya. Nala mau makan es clim sama Kakek ini?". Renggek Nara.
"Dek".
Ara menarik nafas dalam "Baiklah". Ara tak bisa menolak permintaan putrinya.
"Tidak apa-apa kan sayang?". Ara menatap keempat pria kecil itu
"Iya Mom". Sahut Naro, Zero dan Zeno
"Iya Bunda". Sahut Aldo. Jika ara yang berbicara maka seketika mereka menurut.
Dimeja makan mereka telah berkumpul. Suasana meja makan yang biasanya dingin dan canggung. Kini benar-benar terasa ramai.
Ara, Ibu empat anak itu menyuapi keempat anaknya secara bergantian. Sedangkan Aldo makan tanpa ekspresi dia sama sekali tidak terganggu dengan keberisikkan keempat adik angkatnya.
"Maaf Tuan, menganggu makan mu". Ucap Ara tak enak hati.
"Tidak apa-apa. Saya tidak merasa terganggu". Seru Bagaskara tersenyum hangat.
Bagaskara sama sekali tidak terganggu dengan suara anak-anak Ara. Entah kenapa hatinya senang dan juga bahagia. Sekian lama dia tidak merasakan keramaian sejak Kayhan dan Seem memilih pergi, Bagaskara selalu merasakan kesepian. Kini Bagaskara bisa sedikit tersenyum melihat kebahagiaan anak-anak Ara.
"Apa kau sudah menikah?".
Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk
Ara langsung tersendak mendengar pertanyaan mantan Kakek mertuanya itu.
"Minum Mom". Naro menyerahkan gelas pada Ara. Dia menatap tajam pada Bagaskara.
"Jangan tanyakan hal yang tidak penting dimeja makan Kek. Jika Mommy ku sampai kenapa-kenapa aku takkan memaafkanmu". Ancam Naro.
"Naro". Ara menggeleng.
"Maaf Mom".
Bagaskara langsung kikuk saat Naro melabraknya. Sikap Naro benar-benar mirip cucunya Kayhan. Bulu kudung Bagaskara juga merinding ketika Aldo menatapnya dengan tajam dan juga dingin.
"Maafkan anak saya Tuan. Dia masih anak-anak". Ujar Ara merasa benar-benar tak nyaman dengan sikap Naro.
"Tidak apa-apa Ra. Aku hanya ingin tahu saja, kau boleh menjawab nya atau tidak juga tidak apa-apa". Seru Bagaskara.
"Zero".
"Kakek jangan ganggu Mommy kami, jika tidak ingin diserang oleh Ayah". Celetuk Zero seperti pria dewasa yang menjaga kekasih nya.
Ara menelan salivanya kasar mendengar ucapan putranya. Sedangkan Nara bingung. Setahunya mereka tidak punya Ayah. Jovan hanyalah Ayah angkat. Lalu kapan Mommy-nya itu menikah?
"Kau Kreeen sekali Kak". Bisik Zeno pada Zero
"Kau belum tahu kehebatan Kakak mu ini". Zero sedikit menyombongkan diri.
Jangan tanya bagaimana bingungnya Bagaskara. Dia langsung merasa kikuk mendengar jawaban putra Ara. Apakah benar Ara sudah menikah? Dan memiliki suami? Lalu kenapa para bocah itu sangat mirip dengan kedua cucunya.
Setelah selesai makan Ara dan anak-anaknya pamit pada Bagaskara.
"Terima kasih Tuan. Maaf merepotkan. Kalau begitu kami pamit". Ara menyalimi Bagaskara dengan hormat membuat pria lanjut usia itu membeku ditempatnya.
"Sayang, ayo salim dulu sama Kakek". Mereka berlima menurut saja termasuk Aldo. Meski Aldo merasa jenggah melihat pria tak tahu diri itu. Namun dia tidak mau membuat Ara malu karena sikapnya yang tidak sopan.
"Terima kasih. Kalian hati-hati. Jika ada waktu aku ingin berbicara dengan mu Ara". Pinta Bagaskara penuh harap. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Ara.
"Maaf Kek. Mommy kami sibuk, tidak ada waktu jika hanya membicarakan sesuatu yang tidak penting". Sela Naro terlihat dingin dan juga santai.
"Naro". Ara menggeleng
"Maaf Mommy". Naro menunduk.
"Saya akan usahakan Tuan. Mari, kami permisi"..
Mereka pun meninggalkan kediaman Bagaskara. Sejujurnya tubuh Ara bergetar tangannya juga sangat dingin ketika berdekatan dengan Bagaskara. Ara merasakan takut ketika mengingat apa yang sudah dialami di Mansion mewah itu.
Kediaman Bagaskara adalah tempat yang takkan bisa Ara lupakan. Tempat itu seperti neraka yang membawanya kedalam mimpi buruk. Dia disiksa membersihkan Mansion sebesar itu. Dia diusir bersama sang suami, kopernya dilempar begitu saja. Dia juga ditampar hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Dia juga pernah menjilati sepatu Bagaskara ketika meminta tolong agar pria itu mau mendonorkan darahnya untuk sang suami.
"Mommy".
"Bunda".
Kelima bocah itu langsung memeluk Ara. Ketika masuk kedalam mobil wajah Ara terlihat begitu pucat pasih menahan takut. Tangannya bergetar
"Mommy". Nara menangis melihat wajah Ara yang pucat
"Bunda". Ara tetap terdiam.
"Mommy, apa yang terjadi?". Naro, Zero dan Zeno ikut menangis melihat Ara yang hanya diam saja.
"Paman cepat jalankan mobil nya". Teriak Aldo yang juga panik.
"Mommy, hikkssss".
"Bunda".
Ara terjatuh dalam pelukkan anak-anaknya. Dari tadi dia berusaha kuat dan menahan sakit dibagian pinggang. Ditambah lagi bertemu Bagaskara membutnya stress hingga drop
"Naro, cepat telpon Ayah". Perintah Aldo yang juga menangis memeluk Ara
"Baik Kak". Naro segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Jovan yang sedang meeting bersama para klien.
"Tuan Kecil dan Nona Kecil. Tenang ya Ibu kalian pasti baik-baik saja". Hibur sang supir yang sebenarnya juga panik. Apalagi saat melihat wajah pucat Ara. Tidak biasanya Nona-nya itu terlihat lelah.
Sedangkan dikediaman Bagaskara. Setelah kepulangan Ara dan anak-anaknya. Bagaskara terduduk lemas disoffa. Tubuhnya bergetar karena menangis. Antara senang, bahagia dan juga merasa bersalah ketika bertemu Ara. Bagaskara merasakan hatinya remuk saat Ara memperlakukannya dengan baik. Teringat lagi pada kejadian enam tahun yang lalu bagaimana dia menyiksa cucu menantunya itu.
"Maafkan Grandfa Ra, hiks". Isak Bagaskara tanpa peduli bahwa dia menjadi tontonan para pelayan yang melihatnya
"Tuan". Tommy baru saja datang dan masuk kedalam Mansion.
Tommy adalah asisten sekaligus orang kepercayaan Bagaskara. Dia yang mengelola perusahaan dan semua asset Bagaskara.
"Apa yang terjadi Tuan?". Tommy sedikit panik karena tak biasanya Bagaskara rapuh begitu.
"Tom, hikssss". Kerongkongan Bagaskara terasa tercekat. Dia ingin mengatakan pada Tommy, tapi kenapa lidahnya serasa kelu dan seluruh tubuhnya terasa lumpuh dan mati rasa.
Bersambung...
Kayhan ❤️ Kimara