
Aku hanya butuh satu menit untuk jatuh cinta padamu. Tapi aku butuh seribu tahun untuk melupakanmu....
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kayhan POV.
Saat ini aku sedang berada di Sidney, Australia. Setelah hampir satu tahun lebih tidak kembali kesini, akhirnya aku kembali lagi tentunya dengan sebuah tujuan yaitu untuk sembuh dari lumpuh yang membuat kedua kakiku tidak bisa berjalan akibat benturan keras saat kecelakaan beberapa waktu lalu.
Aku duduk sambil memandang sebuah lukisan yang kini hanya tinggal kenangan. Lukisan yang sempat menjadi kado terindah saat aku ulang tahun pertama bersama seseorang yang begitu aku cintai.
Didalam lukisan itu, tergambar enam orang manusia dengan usia yang berbeda. Dua diantaranya orang dewasa dan empat bocah kecil yang memiliki wajah serupa. Entah apa maksud dari lukisan itu?, aku saja tidak mengerti. Lukisan ini menjadi satu-satunya kenangan yang tersisa, setelah perpisahan dengannya.
Aku masih tak mengerti apa yang terjadi saat aku koma. Ketika aku bangun, aku sudah tak mendapati istriku. Aku mencarinya, biasanya dia adalah orang pertama yang kulihat ketika membuka mata.
Aku tak mengerti mengapa dia pergi? Apa salahku? Apa dia tidak mau mencintai pria lumpuh seperti ku? Bukankah dia sudah berjanji apapun yang terjadi kami akan bersama sampai maut memisahkan? Tapi dia sendiri ingkar janji.
Aku tak pernah merasakan sesakit ini? Hatiku terasa mati. Beku sesuka hati. Aku, aku tidak tahu bagaimana lagi mengungkapkan segala perasaan sakit ini. Aku membencinya sangat membencinya, namun tak bisa dipungkiri dibalik rasa benci itu ada rindu yang mendalam.
Aku rindu padanya. Aku rindu masakkan nya. Aku rindu dia menyambut ku dengan senyum. Aku rindu melihat tingkah menggemaskannya ketika aku menciumnya tanpa izin. Aku rindu suara lembutnya yang berhasil mengusir segala resah yang menekan dadaku. Aku rindu dia menyuapiku ketika makan sambil mencuri kesempatan untuk satu sendok dengan nya. Aku rindu memeluknya sebelum terlelap dalam tidur. Aku rindu semuanya.
Ara pergi tanpa permisi, bahkan dia tak mengucapkan sepatah katapun sebagai ucapan perpisahan. Atau menulis surat untuk pamit. Dia benar-benar hilang tanpa jejak, bekas kakinya saja sudah tak terlihat. Kemana dia pergi? Dengan siapa? Apakah dengan Jovan? Pria yang mirip dengan Jolenta, lebih tepatnya saudara kembar Jolenta. Sulit untuk dipercaya jika dia benar mendua, tapi nyatanya dia benar-benar mendua. Menghianati cinta yang kami bangun berdua. Menghianati kepercayaan yang ada.
Sakit sekali rasanya? Bisakah aku menyesal karena memilihnya? Aku rela keluar dari rumah dan nama keluarga demi hidup bersamanya? Tapi apa balasannya, dia justru pergi tanpa permisi?
"Baik!!! Jika kau menganggapnya bersalah. Jangan menyesal suatu hari nanti jika kau tahu kebenaran nya. Dan satu lagi, aku yang akan merebut Ara darimu. Aku yang akan memiliki nya dan aku adalah pria yang tepat mencintai nya".
Ucapan Kak Seem terus terngiang dibenakku. Tanpa sadar tanganku terkepal. Antara percaya dan tidak ucapan Kak Seem ada benarnya. Namun, apakah ada yang bisa menyakinkan ku tentang itu? Bahwa kepergian Ara sudah direncanakan oleh seseorang? Apa mungkin Grandfa yang melakukan nya? Jika benar Grandfa, aku takkan pernah memaafkan pria tua itu. Namun, aku tak percaya aku yakin Grandfa tidak mungkin melakukan hal kejam itu. Bukankah Grandfa menyanyangi ku, tidak mungkin dia tega melihatku menderita? Meskipun dia tidak menyukai Ara, tapi dia takkan tega memisahkan kami dengan cara kejam.
Kalau pun iya Grandfa, harusnya Ara bertahan dan tak goyah oleh apapun. Harusnya Ara memperjuangkan cinta kami, bukan pergi. Lalu aku harus percaya pada siapa? Apalagi saat aku mengingat Ara melemparkan surat cerai ke wajah Grandfa dan perkataannya yang tidak mau mencintai pria lumpuh, hatiku sangat sakit. Dalam rekaman itu jelas wajah Ara, tidak mungkin itu editan atau orang yang mirip dengan istriku Ara.
"Arggghhhhh". Kenapa Ara tega? Apa dia tidak tahu jika aku sangat mencintainya? Apa dia tidak tahu hidupku hancur tanpa dia? Apa dia tahu aku benci padanya, itu hanya peralihan rasa rindu yang menyerang?.
"Kenapa? Hiksss".
Aku menjadi laki-laki yang cenggeng. Aku tidak tahu kenapa? Kepergian Ara benar-benar membuat duniaku runtuh dan hati hancur berkeping-keping. Kenapa Ara tega? Kenapa Ara meninggalkan ku? Harusnya Ara tahu jika aku tidak bisa hidup tanpanya. Terbukti setelah dia pergi, hidupku tak tentu arah. Aku berjalan tanpa tujuan yang jelas.
"Kimara Ferarer".
Kenapa, kenapa? Aku tidak bisa, dan takkan bisa hidup tanpa Ara. Aku merindukan gadis kecilku. Aku ingin dia kembali? Tapi dia kemana? Sampai hari ini, tak ada kabar yang menjelaskan dimana keberadaan nya?
Aku benci, tapi rindu. Aku ingin melupakan, tapi aku juga merindukan. Dia benar-benar membuat ku gila. Dia harus nya berterima kasih karena aku laki-laki yang mencintainya dengan tulus, bahkan saat dia tidak bisa memberiku keturunan aku tetap mencintainya. Arggh, kenapa jadi begini? Hatiku sakit sekali. Hatiku patah sekali. Seluruh tubuhku tak bertenaga. Sendi-sendi ku terasa rontok dan terpatah-patah.
"Ara-ku".
Katanya dia cinta, kenapa tidak ada sini? Katanya mau berjuang bersama, tapi kenapa menyerah ditengah gelap yang ada? Katanya dia tak bisa hidup tanpaku, tapi kenapa dia pergi tanpa pamit padaku? Katanya aku segalanya, namun dia pergi setelah aku tak bisa memberikan segalanya? Katanya aku berarti lebih dari apapun, tapi kenapa dia justru memilih uang, setelah yang kumiliki hilang?
Bolehkah saat ini aku benar-benar membenci nya? Menghapus nya dari hidupku? Apakah aku bisa? Apakah aku sanggup? Dia orang yang sangat aku cintai, lebih dari apapun dan lebih dari diriku sendiri.
Aku memasukan lukisan ini kedalam kotak, serta cincin pernikahan yang masih melingkar di jariku, kulepaskan juga. Foto-foto pernikahan yang sempat terabadikan, ku letakkan juga kedalam kotak ini. Mungkin dengan menutup kotak ini, aku bisa menutup hati dan kenangan tentangnya. Melupakan semua hal yang bersangkutan dengannya. Ingin kubuang barang-barang yang kuanggap tak berguna itu tapi entah kenapa hati kecilku mengatakan jangan.
Aku memutuskan untuk menyimpannya dalam kotak, dan menyimpan kotak itu ditempat yang tidak bisa dilihat oleh mataku. Saat aku menutup kotak ini, ini artinya kisahku dan kisahnya telah tertutup.
Ini akhir dari segala cerita dan cinta, yang pernah mekar dengan indah. Kini semua tinggal kenangan. Kini semua tinggal cerita yang tak layak dikenang. Aku sudah ikhlaskan dia bahagia bersama pria lain. Kadang benar kata orang cinta terbaik itu adalah ketika kita mengikhlaskan orang yang kita sayang bersama orang lain demi kebahagiaan nya.
**Bersambung........
Kayhan ❤️ Kimara**