
Ku ingin saat ini engkau ada disini, tertawa bersamaku seperti dulu lagi. Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkan lah bukannya diri ini tak terima kenyataan hati ini hanya rindu...
#Admesh Kamaleng.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Kayhan memandangi lukisan istrinya. Lukisan yang menjadi hadiah ulang tahun pertama bersama sang istri. Padahal lukisan itu sudah dia museum kan kedalam kotak. Namun, entah pikiran dari mana dia kembali mengambil lukisan itu. Memberinya bingkai dan meletakkan diatas meja kerjanya.
"Ra". Gumamnya pelan, tangannya mengelus lukisan itu dengan pelan. Menyentuh wajah Ara yang terdapat dalam lukisan itu.
"Rindu". Lanjutnya lagi "Kenapa aku tidak bisa membenci mu Ra? Bagaimana kabarmu dan bayi kita?". Lirih Kayhan
"Apa kalian baik-baik saja disana? Sampai saat ini aku masih bertanya, kenapa kau meninggalkanku Ra? Apa kelebihan pria itu dari aku? Apa karena aku lumpuh dan tidak bisa mengendongmu ke kamar mandi?". Ucap Kayhan, butiran bening itu jatuh lagi.
Sejak perpisahan nya dengan Ara, Kayhan tak pernah benar-benar hidup tenang. Dunianya seketika hancur ketika Ara pergi tanpa permisi. Kenapa istrinya tega? Apa salahnya? Begitulah pemikiran Kayhan pada istri kecilnya.
Kayhan menyeka air matanya, lalu dia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kotak berwarna merah. Kayhan membuka kotak itu, dan terdapat cincin pernikahan mereka. Sudah lebih dari lima bulan berpisah dengan Ara, selama itu juga Kayhan melepaskan cincin itu dari jari manisnya.
Kayhan mengambil cincin itu, memandangi cincin pernikahan yang pernah dipasang Ara dijarinya.
"Ra".
Kayhan menangis lagi dengan isakkan yang menyayat hati. Rindu dan sangat rindu. Kayhan merindukan Ara-nya, istri kecilnya.
Kayhan menyesal mengatakan pernah membenci Ara, karena hatinya bukan benci yang ada hanya rindu dan cinta yang semakin dalam.
"Kemana kau pergi Ra?". Isak Kayhan. Kayhan memasangkan kembali cincin itu dijari manis nya. Meskipun dia sudah berpisah dengan Ara, tapi Kayhan ingin cincin ini tetap melingkar di jari nya.
"Aku masih mencintaimu. Jika memang kita tidak bisa bersama dan kau lebih memilih dia, maka aku akan mencoba ikhlas. Tapi cincin ini akan tetap kupakai sampai kapanpun untuk melepaskan semua rinduku padamu. Meski pun sempat ku lepas tapi kini aku memutuskan untuk memakai nya kembali". Ucap Kayhan memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya.
Mungkin Kayhan bisa membohongi perasaannya dengan sebuah ucapan membenci Ara, tapi hati kecilnya selalu merindukan Ara-nya.
“Tuan”. Cody datang.
Segera Kayhan menyeka air matanya dia tidak mau Cody tahu bahwa dia sedang menagis.
“Ada apa?”. Tanya Kayhan dingin pada sang assisten.
“Maaf Tuan, keberangkatan kita ke Belanda sepertinya tidak jadi, karena JRA Group memutuskan hubungan pekerjaan dengan kita”. Lapor Cody.
Kayhan menatap Cody dengan tajam “Bagaimana bisa mereka memutuskan hubungan kerja begitu saja?”. Tanya Kayhan, tangannya terkepal. Kayhan tak suka jika ada orang yang bermain-main dengannya.
“Maaf Tuan, tapi mereka sudah mengirimkan surat pembatalan kerjasama dan mereka juga sudah menganti rugi uang yang kita keluarkan”. Jawab Cody.
Kayhan terdiam sejenak, dia memejamkan matanya menahan emosi yang tampak jelas dimata merahnya “Baik! Kau boleh keluar”.
“Saya permisi Tuan”. Cody pun keluar dari ruangan Kayhan.
Kayhan kembali menatap lukisan istrinya. Ara benar-benar luar biasa, lukisan itu sangat mirip dengannya serta keempat bocah kembar yang terdapat dalam lukisan itu.
“Apa kau akan melahirkan anak kembar empat Ra?”. Tanpa sadar sudut bibir Kayhan tertarik, sejak lima bulan lebih tak pernah tersenyum, kini dia bisa tersenyum lagi.
Ditempat lain…..
Nickho memasuki kamarnya. Hari ini rasanya lelah sekali, karena begitu banyak pasien yang harus dia tangani.
Nickho melempar tubuhnya diatas kasur king size miliknya. Saat ini dirinya menetap di Australia, karena jika di Indonesia dia jenggah harus berhadapan dengan sang Kakek yang terus memaksanya untuk menikah.
Drt drt drt
Ponsel Nickho berbunyi. Segera dia mengambil ponsel yang terletak di jas Dokternya. Keningnya berkerut saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
“Hallo”.
“Hallo Nickho bagaimana kabarmu?”. Tanya suara diseberang sana
“Baik”. Sahut Nickho “Tumben kau menghubungiku? Apa butuh suntikkan dana untuk perusahaan barumu?”. Ejek Nickho sambil terkekeh kecil, saat mendengar dengkuran kesal diseberang sana.
“Cih, kau pikir aku semiskin itu sampai kekurangan dana?”. Cibir nya kesal.
“Hahaha baiklah, kau memang pria kaya tapi sayang tidak laku”.
“Bukankah kau juga sama tidak laku?”. Sindirnya tak mau kalah
“Ada apa kau menghubungiku? Jangan bilang kau merindukanku?”. Goda Nickho
“Cih, aku masih normal”. Cibir suara diseberang sana terdengar kesal “Apa kau bisa datang ke Belanda?”.
“Ada apa? Kau sakit?”. Seloroh Nickho.
“Jangan banyak bertanya. Kau harus datang kesini, dan aku tidak menerima penolakkan”. Tegas suara itu.
“Apa komisinya kalau aku datang kesana?”. Goda Nickho
“Tenang aku akan mentraktirmu makan sepuasnya”. Dia terkekeh.
Nickho mencibik kesal “Baiklah, minggu depan aku akan kesana”. Ucap Nickho
“Terima kasih cintaku”.
“Kau……”.
Baru saja Nickho ingin membalas tapi telponnya sudah ditutup.
“Dasar bocah tenggik”. Gerutu Nickho melempar ponselnya diatas kasur king size.
Dia kembali merebahkan tubuhnya. Untung saja tinggal dengan orang tua jadi semua kebutuhannya sudah dipersiapkan dengan baik.
Tok tok tok
Pintu kamar Nickho diketuk.
“Masuk”. Suruh Nickho.
Seorang wanita paruh baya masuk dengan senyum mengembang melihat putranya yang sedang berbaring dengan santai.
“Mom”. Nickho terduduk melihat sang Ibu yang berjalan kearahnya.
Wanita paruh baya itu duduk disamping putra sulungnya itu. Dia tersenyum menatap sang putra yang bergelar dokter tersebut. Sedangkan putrinya menetap di Indonesia dan berprofesi sebagai dokter.
“Ada apa Mom?”. Tanya Nickho tidak seperti biasanya Ibu nya itu datang ke kamarnya.
“Bagaimana kabar Kay?”. Tanya sang Ibu.
“Dia baik-baik saja Mom”. Sahut Nickho
Nickho berbaring dipaha sang Ibu, Nickho memang paling dekat dengan Ibu nya di banding dengan Ayahnya.
“Boleh Mom tanya sesuatu?”. Tanya Ibu Nickho yang bernama Deltha
“Apa Mom?”. Deltha mengulas rambut putranya yang berbaring manja dipahanya.
“Siapa Ara?”. Nickho langsung spontan duduk dan menatap Deltha dengan menyelidik “Kenapa Son?”. Tanya Deltha yang malah heran dengan putranya yang tiba-tiba duduk.
“Darimana Mom tahu Ara?”. Tanya Nickho.
Melihat wajah putranya yang tak seperti biasa, Deltha menebak bahwa Ara adalah sosok yang disukai putranya ini.
“Mommy tahu dari Naira”. Jawab Deltha.
Nickho mengendus kesal selalu saja adik bandelnya itu bocor mulut dan tidak bisa jaga rahasia sama sekali.
“Jawab pertanyaan Mommy Son?”.
Nickho menghela nafas kasar lalu menatap Deltha. Perlahan Nickho menceritakan tentang Ara dan bagaimana dia bisa bertemu gadis itu. Dan bagaimana perasaannya tentang Ara, bahwa gadis itu pernah menolaknya sebelum kembali ke Australia.
Deltha cukup terkejut mendengar cerita putranya. Dia penasaran pada sosok Ara yang menjadi rebutan bagi Kayhan dan Nickho. Dan yang menarik lagi Seem juga jatuh cinta pada gadis itu.
“Lalu bagaimana perasaanmu sekarang Son?”. Tanya Deltha menatap putranya.
Nickho menghela nafas kasar “Aku masih sangat mencintinya Mom, tapi aku juga cukup kecewa padanya karena dia meninggalkan Kay dalam keadaan koma”.
Deltha tersenyum mendengar jawaban putranya “Apa kau yakin jika Ara yang meninggalkan Kay? Apa kau tidak curiga pada Grandfamu?”. Nickho terdiam “Mendengar ceritamu tadi, Mom yakin jika Ara bukan gadis yang seperti itu. Jika dia memang dia tidak menerima Kay, dia bisa saja meninggalkan Kay ketika Kay diusir dari rumah”. Sambung Deltha.
Nickho mencerna perkataan Deltha. Apa yang dikatakan Deltha memang benar. Bahkan dulu saja ketika Deltha dan Bima akan menikah mereka juga tak direstui dan bahkan ditantang oleh Bagaskara, sampai Bima memutuskan tinggal di Australia untuk menjaga istri dan anak-anaknya. Namun seiring berjalannya waktu, Bagaskara pun bisa menerima kehadiran Deltha dikehidupan putranya.
“Bagaimana Mommy yakin jika ini ada hubungannya dengan Grandfa?”. Tanya Nickho.
“Jangan lupa siapa Grandfamu itu Son!! Bukankah kau bilang dari awal dia tidak menyukai Ara dan bahkan tega mengusir Kay dan Ara dari rumah mereka. Jadi Mom rasa ini ada hubungannya dengan Grandfa. Bukan Ara yang meninggalkan Kay, tapi Ara pasti diancam untuk meninggalkan Kay”. Nickho tak lagi berkutip. Dia berpikir keras dengan ucapan Mommy nya. Apa Grandfanya setega itu? Memisahkan cucunya dengan istrinya sendiri, dan membuat cucunya menderita berpisah dari istrinya.
Bersambung..........
Kayhan ❤️ Kimara