
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Aku tenggelam dalam lautan luka dalam. Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, aku tanpamu butiran debu...
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Roger dan Jovan meninggalkan caffe Jolenta. Mereka akan kembali ke kantor setelah jam makan siang.
Sepanjang perjalanan Roger hanya diam dan termenung menatap keluar jendela mobil. Pria tampan itu beberapa kali menghela nafas berat, ingin dia rebut Ara dari pelukkan Kayhan dan membawa adiknya pergi jauh. Tapi hal itu sama saja menambah penderitaan Ara.
"Apa yang kau pikirkan?". Tanya Jovan melirik kearah Roger sedangkan tangannya serius menyetir.
"Aku mengkhawatirkan Ara". Roger menarik nafas dalam "Aku takut jika Bagaskara berani melukainya lagi. Dia sudah cukup menderita, penderitaan nya seakan tak berkesudahan". Ungkap Roger sendu. Dia adalah salah satu orang yang pernah membuat Ara menderita. Menghina adiknya bahkan memeras adiknya sendiri.
"Percayakan saja semuanya pada Kayhan. Dia pasti bisa menjaga Ara". Ucap Jovan berusaha menenangkan sahabatnya.
"Iya aku tahu. Tapi entah kenapa aku jadi takut jika Ara celaka? Kau tahu kan bagaimana kejamnya Bagaskara? Bahkan dia bisa menghancurkan kita hanya dengan jentikkan cari". Sergah Roger lagi, matanya masih menatap padatnya kota Jakarta.
"Bagaskara tidak akan berani bertindak lebih, jika dia sampai melakukan itu sama saja dia menyakiti cucunya sendiri". Sahut Jovan.
Roger hanya menghembuskan nafas kasar. Andai saja dia tidak merestui hubungan Kayhan dan Ara pastilah adiknya tidak akan menderita seperti ini.
Ara dengan telaten menyusun buku-buku yang baru saja datang dari penerbit. Gadis itu mengerjakan segalanya dengan senyuman tanpa beban. Gaji Ara tidak lah besar tapi setidaknya mampu menutupi kekurangan ekonominya.
"Ra". Panggil Shella.
"Iya Kak". Sahut Ara.
"Jagain di meja kasur dulu ya. Kakak mau jemput Aldo sekolah". Ucap Shella. Aldo anak Shella yang berusia lima tahun.
"Iya Kak. Hati-hati". Ucap Ara membereskan buku-buku itu.
"Iya Ra. Kakak pamit ya".
Ara mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ara duduk dikursi meja kasir, dia mengetik-ngetik komputer kasih untuk mangacek pendapatan dan pengeluaran nya.
Drt drt drt drt drt.
Ponsel Ara berbunyi. Gadis itu tersenyum senang saat melihat nama suaminya tertera dilayar ponsel.
"Siang Bby?".
"Siang sayang! Sudah makan siang?". Tanya baritone suara diseberang sana.
"Sudah Bby! Hubby?".
"Sudah juga sayang". Balas suara itu.
"Nanti, langsung pulang kerumah ya. Kalau lapar jangan tunggu aku. Kalau capek istirahat jangan dipaksa". Pesan Kayhan, mode cerewet nya kembali.
"Iya Hubby. Kakak juga ya". Balas Ara tersenyum hangat.
Begitulah kebiasaan mereka berdua, setiap kali makan siang Kayhan selalu menyempatkan waktu untuk menelpon istrinya. Sejenak mendengar suara Ara, membuat lelah Kayhan menghilang.
Sering juga Kayhan datang ke tempat kerja Ara hanya untuk membawakan istri kecilnya makan siang, meskipun menaiki ojek online yang jaraknya cukup jauh. Namun yang namanya cinta keujung dunia pun dikunjungi.
Kayhan dan Ara begitu pandai membagi waktunya. Tak teraza usia pernikahan mereka sudah memasuki bulan keenam. Pasangan suami istri yang terlihat serasi itu tak pernah bertengkar atau memperdebatkan hal yang tidak penting.
"Permisi".
Ara menangkat pandangannya. Saat seseorang meletakkan buku didepan meja kasir
Ara mengulas senyum ramah "Ada yang bisa saya bantu Tuan?". Tanya Ara ramah sambil memberi hormat "Apa nama anda Kak Jovan?". Karena pria yang ada didepannya ini sangat mirip dengan Jovan sahabat Roger.
Pria itu malah melonggo kebingungan, bukan bingung mendengar pertanyaan Ara tapi bingung melihat gadis cantik didepannya ini.
"Kak Jovan?". Panggil Ara.
Pria itu terkesiap bahkan alisnya naik turun "Jovan? Maaf saya Jolenta". Jelasnya.
Ara kikuk karena salah orang "Hehe maaf Tuan saya salah orang. Soalnya turun sangat mirip dengan teman Kakak sayang". Jelas Ara tersenyum malu. Dia merutukki dirinya sendiri.
Jolenta tersenyum simpul melihat Ara salah tingkah "Aku ingin membeli buku ini". Jolenta menunjuk buku yang dia letakkan diatas meja kasir.
"Tunggu sebentar Tuan". Ara mengambil buku itu lalu menscannya dengan alat scan yang sudah tersedia "Seratus lima puluh Tuan". Ucap Ara sambil memasukkan buku itu kedalam kantong.
Jolentah menyerahkan dua lembar uang seratus "Sebentar Tuan kembaliannya".
"Ambil saja untukmu". Jolenta sempat melirik jari Ara yang menekan tombol keyboard komputeri.
"Ternyata dia sudah menikah?". Batin Jolenta.
"Ehhhhh".
Jolenta mellengang pergi tanpa menunggu Ara mengucapkan terima kasih.
"Sudahlah, anggap saja rejeki". Ara memasukkan uang itu kedalam laci.
"Jika aku jadi penulis bisa, mungkin keuangan ku bisa stabil". Gumam Ara.
Plakkkkkkkkkkkk
Ara terkejut saat seseorang memukul meja kasir dengan keras.
"Astaga". Ara berjingkrak kaget.
"T-uan Bagaskara". Langsung Ara berdiri dari duduknya.
"Ohhh jadi gadis murahan sepertimu hanya bisa bekerja ditempat seperti ini?". Ejek Bagaskara menatap Ara dengan jijik dan juga benci "Kau tidak menyerah juga rupanya? Apa kau memang ingin melihat cucuku menderita hidup dengan gadis miskin seperti mu". Bagaskara menoyor kepala Ara dengan telunjuknya.
Ara hanya bisa menunduk, tangannya meremes ujung baju yang dia pakai. Tanpa Ara sadari, setetes air mata jatuh dipelupuk matanya.
"Tinggalkan Kayhan, dan pergi sejauh mungkin dari hidupnya". Bagaskara mencengkeram dagu Ara dengan kasar.
"Tu-tuan". Ara berusaha melepaskan cengkraman Bagaskara tapi tenaganya tak cukup kuat.
"Aku beri kau waktu selama satu bulan. Jika kau tidak meninggalkan Kayhan, maka aku akan melukai Kakak mu dan juga membuat Toko Buku ini bangkrut dalam hitungan menit". Ancam Bagaskara menghempaskan dagu Ara dengan kasar.
Plakkkkkkkkkkkk
Kembali satu tamparan melayang dipipi Ara, disudut bibirnya mengeluarkan darah. Tamparan Bagaskara bukan hanya menyisa kan luka fisik tapi juga menyisakan luka batin untuk Ara
Sreeeeeeeeettttttt
Bagaskara memotong rambut Ara setengah "Jangan Tuan". Pekik Ara.
"Hahah, sudah kubilang jangan pernah bermain-main denganku. Sampai aku mati, aku takkan pernah menerimamu sebagai cucu menantu ku". Bagaskara melempar rambut Ara sembarangan.
"Pastikan dia dipecat dari tempat ini". Perintah Bagaskara pada assissten nya.
"Baik Tuan". Sahut Cody.
Bagaskara mellengang pergi dari sana, meninggalkan Ara yang terduduk menangis dilantai.
Cody menatap Ara dengan kasihan. Betapa menderitanya gadis ini. Penderitaanya tak pernah berkesudahan. Jika didunia novel atau film, pelakor yang akan menjadi perusak hubungan rumah tangga. Tapi didunia Ara, keluarga suaminya sendiri yang ingin merusaknya.
"Maaf Nona". Cody merasa bersalah, dia mengulurkan tangan untuk membantu Ara berdiri.
Ara menyambut tangan Cody sambil menyeka air matanya "Tidak apa-apa Tuan Cody. Saya baik-baik saja". Lirih Ara memaksakan senyum sambil menghapus air matanya dengan kasar.
"Kalau begitu saya permisi Nona". Pamit Cody. Cody tidak tahan melihat penderitaan Ara.
Ara hanya mengangguk dengan wajah yang sudah lebam. Bahkan terlihat bekas tamparan lima jari Bagaskara menempel di pipi Ara.
Ara terduduk sambil memukul-mukul dadanya berkali-kali, melepaskan sesak didadanya.
"Hiks, hiks hiks hiks hiks". Tangis Ara pecah. Gadis itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ara takkan sanggup berpisah dengan Kayhan. Kayhan belahan jiwanya. Ara tak bisa melepaskan Kayhan, Ara mencintai Kayhan. Tapi jika Kayhan terus bersamanya. Pria itu akan menderita juga bersamanya.
"Ra, apa yang terjadi?". Shella panik melihat Ara yang duduk dikursi dengan menangis. Rambut Ara juga berserakkan dilantai.
"Aunty". Aldo putra kecil Shella juga ikut panik melihat Ara.
Ara menyeka air matanya lalu berdiri "Kak, maafkan aku". Ara menunduk takut.
"Ra, kenapa?". Shella memeluk Ara. Ara memang sudah dianggap oleh Shella seperti adik sendiri.
"Kak, hiksssss". Tangis Ara pecah. Shella memeluk Ara sambil mengelus punggung Ara dengan lembut.
"Aunty Ara kenapa?". Tanya Aldo polos, ikut memeluk Ara. Pria kecil itu memang akrab dengan Ara karena Ara memang menyukai anak-anak.
Shella mengajak Ara duduk disofa, ruang kerjanya. Shella menatap Ara dengan kasihan. Dia sudah tahu siapa Ara dan bahkan berteman baik dengan Ara. Gadis ini luar biasa menurut Shella. Ini bukan pertama kalinya Ara mengalami kekerasan dari keluarga suaminya. Namun, gadis itu sangat pandai menyembunyikan semuanya.
"Sabar ya Ra".
"Kak, maaf sepertinya aku harus keluar dari Toko ini. Maaf Kak, aku tidak mau keluarga Bagaskara melukai Kakak dan Aldo Kak. Maaf". Lirih Ara.
Shella menghela nafas kasar "Tidak Ra. Kita akan bersama-sama, melewati ini. Jangan takut. Dia hanya mengancam". Timpal Shella berusaha menenangkan Ara.
"Aunty Ara". Aldo mendekat memeluk Ara. Pria kecil itu menghapus air mata yang mengalir dipipi Ara "Jangan nangis lagi Aunty. Nanti Ado ikutan nangis". Celetuk Aldo dengan suara seraknya. Ya Aldo selalu menangis jika Ara menangis pria kecil itu begitu menyanyangi Ara seperti Ibu kandungnya sendiri.
Ara memaksakan senyum "Terima kasih sayang". Ara mengelus pucuk kepala Aldo dengan sayang.
Aldo adalah hasil satu malam kesalahan yang Shella lakukan bersama pria yang tidak dia kenal. Pria itu menghilang setelah mengambil hal berharga dalam hidup Shella.
Karena kejadian itu Shella hamil dan diusir oleh keluarganya sendiri. Shella merawat Aldo juga sendiri dengan bekerja membanting tulang, sampai akhirnya dia membuka Toko Buku kecil-kecilan miliknya. Shella suka membaca dan mengoleksi buku, sebab itu lah dia bekerja keras untuk membuka Toko Buku ini.
**Bersambung.......
Salam hangat.
Kayhan ❤️ Kimara**