
Meskipun aku sering berdebat denganmu, tapi sumpah aku tidak sanggup kehilangan mu.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹
Martha baru saja keluar dari gedung pencakar langit itu. Dia tersenyum sumringah saat mendapati William kembali bekerja diperusahaan yang sama dengannya. Meski menjadi asisten dan sekretaris Nathan setidaknya Martha masih bisa memantau laki-laki yang dia cintai itu.
Senyum Martha semakin melebar saat melihat William dan datang yang juga baru keluar dan menuju lobby.
"Will". Martha sedikit berlari mengejar William.
Langkah William dan Nathan terhenti. William memutar bola mata malas selalu dibuntuti oleh gadis itu. Padahal dia sudah berusaha menghindari Martha tapi tetap saja gadis itu tidak menyerah.
Sedangkan Nathan acuh saja, dia tidak mau tahu dan bukan urusannya. Meskipun ada rasa jengkel ketika mengingat apa yang sudah Martha lakukan pada Ara.
"Ada apa?". Tanya William dingin.
"Malam ini kau sibuk tidak? Aku mau mengajakmu menonton, ada film terbaru yang kreen banget". Tawar Martha "Aku sudah membeli dua tiket". Dia menunjukkan dua kertas kecil ditangannya.
"Aku tidak bisa". Tolak William.
"Tapi......".
Belum selesai Martha berbicara kedua pria itu sudah melenggang pergi. Martha kesal bukan main. Meski bukan pertama kalinya ditolak, tapi tetap saja dia merasa geram pada pria itu.
"Aku tidak akan menyerah Will. Kau akan kembali menjadi milikku". Dia tersenyum licik.
Martha berjalan menuju mobilnya. Kakinya dia hentak-hentakkan karena kesal.
Martha memasuki mobilnya, dengan wajah cemberut. Bibir yang mengerutu dan mengumpat dia menjalankan mobilnya.
"Ini semua gara-gara Ara". Dia masih saja menyalahkan Ara. Padahal Ara tidak tahu apa-apa.
William dan Nathan masuk kedalam mobil. William menyetir mobil, karena sebagai aissten Nathan dia harus melakukan segala pekerjaan yang bersangkutan dengan sang kakak.
"Kenapa tidak berusaha membuka hati untuk gadis itu Will?". Tanya Nathan heran pada adiknya. Setiap hari Martha selalu menganggu William dan gadis itu tidak menyerah sama sekali.
"Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya Kak. Aku tidak menyukai sikap agresif nya". Jawab William sambil menyetir.
"Dia tidak agresif Will. Dia hanya mencoba menarik perhatian mu. Lihat saja, dia tidak pernah mencari simpatik ku". Seru Nathan
William tampak berpikir memang benar adanya jika Martha tak pernah kecentilan dengan laki-laki lain, selain dirinya.
"Kulihat dia sangat mencintai mu Will. Kenapa tidak belajar membuka hati untuknya?". Nathan masih mengintrogasi adiknya.
"Dia jahat Kak. Bahkan dia menjadikan Ara sebagai ancaman ku". Sahut William.
Nathan justru tergelak "Dia hanya iri pada Ara Will. Sebenarnya dia tidak benar-benar ingin menjadikan Ara ancaman. Dia hanya ingin kau berada disampingnya".
"Tapi dia tega bekerja sama dengan Tuan Bagaskara menyingkirkan Ara". Kilah William.
"Itu semua dia lakukan agar bisa memiliki mu William. Sebelum kau datang, dia dan Ara adalah sahabat baik. Bahkan dia yang selalu mensupport Ara. Tapi saat dia tahu kau juga menyukai Ara, makanya dia melakukan kejahatan itu. Tapi aku yakin dia sebenarnya gadis yang baik. Dia hanya ingin di cintai oleh orang yang dia cintai".
William terdiam. Apa yang dikatakan Nathan memang benar. Awalnya semua baik-baik saja. Tapi saat William jujur akan perasaannya pada Ara, Martha berubah seratus persen. Gadis itu selalu mengancamnya dan menjadikan Ara kelemahan William.
Brakkkkkkkkkkk
Mobil didepan William terbalik ditengah aspal.
"Astaga". Pekik Nathan.
"Bukankah itu mobil Martha?". Tunjuk Nathan
William segera menepikan mobilnya "Iya Kak, mobil Martha. Ayo kita lihat".
Mereka berdua turun dari mobil. Tampak mobil Martha sudah terguling dan terbalik diatas aspal.
William segera menghampiri mobil itu.
"William". Martha mengulurkan tangannya. Wajahnya sudah penuh dengan darah.
"Mar". Lidah William seketika kelu dan kaku. Martha menutup matanya dan kehilangan kesadaran.
"Cepat bantu dia keluar Will, sebelum mobilnya meledak".
Nathan dan William berusaha mengeluarkan Martha dari dalam mobil. Mereka dibantu oleh beberapa orang yang kebetulan melintas disana. Seketika jalanan menjadi padat dan macet. Nathan dan William menolong Martha sebelum polis datang.
"Sedikit lagi Tuan. Jangan terlalu kencang, dia sudah terluka parah". Ucap salah satu pria yang ikut membantu.
William dengan pelan menarik tangan Martha. Sedangkan pecahan kaca mobil menempel dibagian tangan dan kaki Martha. Wajahnya luka-luka dan penuh darah.
"Ayo Will segera bawa kerumah sakit". Nathan membantu William mengendong Martha.
"Biar aku yang gendong Kak. Kakak bawa mobil saja".
"Baik".
Nathan menoleh pada beberapa orang yang membantu mereka "Tolong hubungi polisi dan bereskan semuanya. Laporkan pada polisi untuk menyelidiki kecelakaan". Ucap Nathan sambil mengambil beberapa lembar uang didalam dompetnya. Dan menyerahkannya pada mereka.
Nathan mengendari mobil. Sedangkan William memangku Martha dibangku kemudi.
"Aku mohon Mar, bertahanlah. Maafkan aku. Maafkan aku". William terus saja menepuk pipi Martha agar terbangun dan merespon semua ucapannya.
Nathan mengintip wajah William dari jendela mobil. Nathan bisa melihat jika ada raut penyesalan diwajah adiknya. Mungkin saja William sudah jatuh cinta pada Martha. Hanya saja dia terlalu gengsi dan takut mengakui perasaannya. Dia lebih mementingkan ego dari pada perasaan cintanya.
Sampai dirumah sakit, Nathan langsung turun membukakan pintu untuk William. William keluar dengan tergesa-gesa, sambil mengendong Martha. Wajah nya sangat panik.
"Kak Nathan".
Nathan dan William melihat kearah sumber suara.
"Ada apa Kak?". Gadis itu menghampiri mereka bersama.
"Tolong dia Nai". Nathan menunjuk Martha yang dalam pelukan William.
"Astaga".
"Mari Kak".
Gadis itu adalah Naira. Dia bertugas dirumah sakit ini mengantikan posisi Kakak nya Nickho yang sekarang menetap di Australia.
"Kak tunggu diluar, aku akan memeriksa nya".
Martha dimasukkan kedalam ruang pemeriksaan. Tubuhnya penuh dengan darah dan luka-luka disekujut tubuh nya. Wajahnya juga terdapat beberapa goresan diwajahnya.
Diruang tunggu, William tampak tak tenang. Dia sudah tak peduli dengan bajunya yang penuh darah. Yang dia inginkan gadis itu harus baik-baik saja. Entah kenapa William sangat takut, takut terjadi sesuatu pada Martha. Dia tidak mengerti dengan perasaan nya sendiri. Setelah percakapannya dengan Nathan tadi membuat nya sedikit bungkam.
Nathan menghela nafas sambil matanya melihat sang adik "Duduklah Will. Kau bukan setrikaan yang harus mondar mandir". Sindir Nathan sambil memegang gawai nya.
"Aku takut terjadi sesuatu padanya Kak?". William terduduk disamping Nathan.
"Apa kau mulai menyukai nya?". Nathan memincingkan matanya kearah sang adik.
"Ti-tidak. Mana mungkin aku menyukai gadis agresif itu". Bantah William padahal dia gugup mendengar pertanyaan sang Kakaknya.
"Jangan membohongi perasaanmu sendiri Will. Jangan menyesal dikemudian hari. Perasaan itu bukan hal yang bisa disepelekan". Nathan menepuk pundak adiknya berusaha memberikan pengertian pada sang adik.
Cekrekkkkkkkkkk
Naira keluar dari ruangan periksa. Nathan dan William langusng berdiri.
"Bagaimana Dok?". Tanya William
Naira menghela nafas kasar "Dia kehilangan banyak darah dan juga terkena benturan cukup kuat, sehingga membuat otaknya pendarahan".
Deg
"Dia mengalami kelumpuhan, karena sistem kerja otaknya terganggu. Dia masih masih belum melewati masa kritis nya. Jika sampai besok dia belum sadarkan diri. Kemungkinan dia akan mengalami koma".
Deg
Jantung William seakan berhenti berdetak. Kenapa dia takut sekali? Kenapa dia khawatir? Kenapa dia panik? Harusnya dia senang gadis penganggu itu takkan menghantui nya setiap hari.
"Aku akan segera memindahkan nya keruang ICU".
"Apa boleh saya melihat nya Dok?". Tanya William lemas.
"Silahkan. Tapi hanya satu orang". Jawab Naira.
William masuk kedalam ruangan Martha. Gadis berisik itu tampak terlelap, bagian tubuh dan wajah nya dipenuhi perban. Bahkan dia memakai oksigen uap. Kondisi terlihat mencemaskan.
"Mar".
Badan William bergetar hebat. Pria itu menangis dengan penyelesalannya.
"Maafkan aku". William mengenggam tangan Martha.
"Bangun Mar. Bangun". William menguncang tubuh Martha.
Nathan dan Naira berjalan menuju ruangan Naira.
"Apa kabar Kak Nathan?". Tanya Naira tangannya dia masukkan kedalam saku jas dokternya.
"Yahh seperti yang kau lihat". Sahut Nathan sambil tersenyum manis kearah dokter cantik itu.
"Syukurlah". Senyum Naira.
Nathan dan Naira sudah mengenal sangat lama. Karena Nathan adalah sahabat Nickho dan Kayhan. Dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama dirumah Nickho, melakukan hal-hal yang tidak terlalu penting.
Bersambung.....
Kayhan ❤️ Kimara