Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 163. Pengorbanan dan Kepergian Bagaskara



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Diruang tunggu Kayhan mondar-mandir seperti sertikaan. Dia terus saja melihat kearah pintu pemeriksaan. Dimana sang istri tengah diperiksa oleh Nickho dan para dokter yang lainnya.


Sementara anak-anak nya sengaja dibawa pulang oleh Jovan, Shella dan Seem. Meski anak-anak itu merenggek tidak mau karena ingin menemani sang Mommy. Namun Kayhan berusaha memberi pengertian dan tak lupa juga rayuan kepada para anaknya.


Cekreekkkk


Nickho keluar dari ruang pemeriksaan.


"Nick, bagaimana keadaan Ara?". Cecar Kayhan panik. Aldo mengikuti Kayhan dari belakang dia juga tidak mau ketinggalan jika masalah Ara.


Nickho mengembuskan nafas kasar.


"Ara harus segera melakukan transfalasi ginjal". Jawab Nickho.


"Transfalasi ginjal, maksudmu?". Tanya Kayhan tak mengerti.


"Ara menderita gagal ginjal terminal. Ginjalnya rusak. Sedangkan satu ginjalnya sudah tidak ada. Cuci darah sudah tidak berfungsi lagi karena tubuh Ara menolak".


Deg


Bagai tertimpa ribuan ton balok seluruh tubuh Kayhan serasa runtuh. Apa istrinya semenderita itu selama ini?


"Ambil saja ginjalku Nick".


Nickho menggeleng "Ginjalmu tidak cocok dengan Ara". Sahut Nickho membuat Kayhan semakin melemes.


Sedangkan Aldo sudah terduduk sambil menangis mendengar ucapan Nickho. Tidak bisa dipungkiri dia ketakutan bukan main.


Ditempat lain.


Bagaskara yang mendengar berita tentang Ara, langsung bergegas kerumah sakit bersama Nathan dan William. Pria tua itu ingin melihat kondisi Ara. Cucu menantunya. Meski dulu sering menyiksa dan benci pada Ara. Namun sekarang dia sadar bahwa Ara adalah wanita baik-baik dan dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa lalu Bagaskara.


"Kayhan. Nickho".


Kayhan dan Nickho yang sedang asyik berbincang dengan serius mengalihkan perhatian mereka pada Bagaskara yang berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menggunakan tongkatnya. Sedangkan Nathan dan William memapah nya.


"Grandfa". Ujar Nickho.


Sementara Kayhan membuang muka. Dia masih dendam pada Kakeknya itu. Kakeknya adalah penyebab penderitaannya.


"Bagaimana keadaan Ara?". Tanya Bagaskara.


Nickho menghela nafas berat "Ara harus segera melakukan transfalasi ginjal. Jika tidak, nyawanya tidak bisa diselamatkan".


Deg


Bagaskara terdiam mendengar ucapan Nickho.


"Ambil ginjal Grandfa saja". Ucap Bagaskara yakin


"Grandfa". Nickho, Nathan dan William menatap tak percaya


"Grandfa". Untuk pertama kalinya Kayhan memanggil nama Kakeknya.


"Kay". Bagaskara mendekat pada cucunya


"Maafkan Grandfa. Izinkan Grandfa untuk menebus semua kesalahan Grandfa pada Ara. Grandfa ingin Ara bahagia bersama kamu". Ujar Bagaskara.


"Tapi itu berbahaya untuk Grandfa". Ucap Kayhan.


Bagaskara menggeleng "Grandfa akan baik-baik saja". Senyum Bagaskara.


"Baiklah. Nickho akan segera melakukan pemeriksaan pada Grandfa jika cocok. Besok kita bisa melakukan operasi". Ucap Nickho.


Bagaskara mengangguk. Mungkin ini adalah permohonan maaf terakhirnya pada Ara. Meski belum bisa mengucapkan kata maaf secara langsung. Tapi dengan memberikan ginjalnya bukankah Bagaskara sudah memberi hidup pada cucu menantunya?


"Grandfa". Kayhan memeluk Bagaskara "Maafkan Kay". Kayhan terisak. Setelah sekian lama membenci pria tua itu. Akhirnya dia bisa memaafkan Bagaskara. Bukan karena Bagaskara mau mendonorkan ginjalnya untuk Ara tapi karena Bagaskara sadar bahwa Ara adalah wanita baik-baik.


"Maafkan Grandfa juga Kay". Grandfa ikut menangis memeluk cucu nya ini.


Nickho, Nathan dan William terharu. Mereka juga menyeka air mata. Mereka tahu betapa benci nya Kayhan pada Bagaskara.


"Kay yang harus minta maaf". Kayhan melepaskan pelukkannya.


"Grandfa".


Mereka semua menoleh.


"Seem".


"Seem". Bagaskara tak menyangka jika Seem juga mau memaafkannya.


"Maafkan Seem Grandfa. Maafkan Seem". Isak Seem.


"Grandfa yang minta maaf". Bagaskara melepaskan pelukkan cucunya. Mungkin ini akan menjadi pelukkan terakhirnya.


"Grandfa, ini Ado putra Seem". Seem menunjuk Aldo yang sedang duduk menatap mereka.


Bukan hanya Bagaskara yang terkejut tapi Kayhan, Nathan dan William ikutan terkejut.


"Ado, ayo salim sama Grandfa".


Aldo berdiri dan menurut.


"Ado, Grandfa". Aldo salam kepada Bagaskara.


Lagi-lagi Bagaskara berkaca-kaca. Dia memeluk Aldo dengan Isak tangis bahagianya.


Keesokan harinya


Diruang operasi, Nickho dan dibantu oleh adik nya Naira, sedang melakukan operasi besar. Menyelamatkan dua nyawa paling berharga.


"Nai, lancarkan transfusi darahnya".


"Baik Kak".


Operasi yang dilakukan selama kurang lebih lima jam itu cukup menyita waktu yang sangat lama.


Sedangkan diluar ruangan. Para anggota keluarga juga sudah menunggu. Disana ada Roger dan Joana serta kedua putrinya. Van Derg dan Syaneth. Jovanka dan Hansel bersama tiga anaknya. Jolenta dan juga kedua anaknya. Mereka langsung meluncur ke Indonesia setelah mendengar kabar bahwa Ara di operasi.


Bagas dan Erna juga ada disana, mereka sudah tahu semuanya dan kedua pasangan paruh baya itu sibuk memangku sambil menimang anak Kayhan dan Ara. Aira dan Zico juga ada bersama kedua anak mereka yang berusia sepuluh dan tujuh tahun. Serta Bima dan Deltha yang juga ikut terbang ke Indonesia ketika mengetahui Ayah nya mendonorkan ginjalnya untuk Ara.


Setelah kurang lebih lima jam operasi berlangsung. Lampu ruang operasi dimatikan. yang menandakan bahwa operasi telah selesai dilakukan.


Nickho keluar dari ruang operasi. Wajahnya sendu dan juga kecewa. Entah bagaimana nanti dia menjelaskan semuanya. Bagaimana pun kehilangan tak pernah sebercanda itu. Bagaiamana pun kesalahan seseorang dimasa lalu, ketika dia hilang dan pergi dia akan terasa berarti dikemudian hari.


"Nick, bagaimana operasinya?". Cecar Kayhan. Mereka semua menghampiri Nickho.


Nickho menghela nafas panjang "Operasi nya berjalan lancar". Jawab Nickho.


"Sykurlah". Ucap mereka semua bersamaan.


"Hanya saja......".


"Hanya saja apq Nick?". Desak Seem.


Nickho menggeleng "Grandfa .....".


"Grandfa kenapa?".


"Daddy kenapa?". Cecar semuanya bergantian


"Grandfa tidak bisa diselamatkan. Fisiknya lemah dan jantungnya juga sudah bocor".


Deg


Semuanya mematung tak percaya. Inikah yang dimaksud permintaan maaf abadi?


"Daddy". Lirih Bagas dan Bima bersamaan menutup mulut mereka tak percaya.


"Grandfa". Ujar Kayhan dan Seem juga.


Bagaskara dimakamkan dipermakaman dekat istrinya. Banyak dari rekan bisnisnya yang berdatangan mengucapkan belasungkawa atas kepergian raja bisnis itu.


"Terima kasih Grandfa. Maaf tidak pernah membuat mu bahagia. Kay menyanyangi mu". Kayhan mengusap batu nisan Bagaskara.


"Maafkan Seem. Maafkan Seem. Selamat jalan Grandfa. Semoga kau bahagia disana. Aku menyanyangimu". Batin Seem


"Selamat jalan Daddy. Maaf belum sempat mengucapkan kata maaf. Maaf aku sudah membencimu. Tapi sekarang aku sadar bahwa semua yang kau lakukan hanya demi kebahagiaan anak dan cucumu. Semoga kau abadi disana". Batin Bagas.


"Selamat jalan Dad. Semoga kau tenang dialam barumu. Maaf belum bisa membuatmu bahagia. Sampai bertemu dikehidupan kedua". Batin Bima


Kepergian Bagaskara cukup menimbulkan rasa kehilangan dihati para anak dan cucu serta cicit-cicitnya. Meski dulu kesalahan Bagaskara sangat fatal, namun ucapan maafnya terbukti dengan dia yang mengorbankan nyawanya untuk Ara.


**Bersambung......


Kayhan ❤️ Kimara**