Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 73. Memulai lembaran baru



Aku akan memulai langkah baru. Menyusun strategi untuk mencapai mimpiku...


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ara tengah menyusun beberapa lukisan yang baru saja di selesaikan. Jovan, Roger dan Aldo ikut membantu Ara. Sedangkan Shella fokus pada dunia modelingnya yang dimentori oleh Joana.


Roger dan Jovan membangun perusahaan baru yang bergerak dibidang arsitektur, mereka berdua juga memiliki keahlian dibidang jurnalistik dan gambar bangunan. Ara ikut bekerjasama bersama Roger dan Jovan. Ara juga ahli dalam membuat gambar bangunan, karena bakat Ara memang lebih menonjol dibidang gambar menggambar.


Mereka memulai semuanya dari Nol. Ara kembali membuka galeri lukisan dan lukisan-lukisan Ara akan dipromosikan oleh Roger. Ara juga menjalin kerja sama dengan perusahaan Roger dan Jovan. Mereka bertiga kompak membangun perusahaan yang baru.


"Bunda, ini diletakkan dimana?". Aldo memegang lukisan itu dan menunjuknya pada Ara.


"Disini saja sayang". Aldo mendekat pada Ara dan memberikan lukisan itu pada Ara. Aldo sekarang memanggil Ara Bunda. Karena Aldo ingin Ara menjadi Bunda nya juga.


Roger tersenyum melihat kearaban dua manusia berbeda gender itu. Dia bangga pada Ara, setelah terpuruk cukup jauh adiknya itu berhasil bangkit. Tentu dengan Roger, Jovan dan Shella yang tak henti-hentinya memberi semangat pada Ara.


"Ado istirahat dulu ya. Biar Uncle Roger dan Uncle Jojo yang bantuin Bunda". Ucap Ara lembut.


Aldo menggeleng "Ado mau bantu Bunda". Pria kecil itu tak mau membiarkan Ara kecapean barang sedikit pun.


"Ra, mending kamu yang istirahat. Biar Kakak sama Kak Roger yang susun semua". Jovan menimpali. Dia kasihan melihat Ara yang bekerja keras.


Ara tersenyum dan mengangguk "Ara buatkan minum saja untuk Kakak". Tawar Ara.


"Boleh". Jawab keduanya serentak.


"Ado, mau ikut Bunda atau disini?". Ara menjongkokkan badannya agar mencapai tubuh munggil Aldo.


"Ikut Bunda".


"Ya sudah ayo kita kedapur". Aldo langsung mengandeng tangan Ara.


Roger dan Jovan menggeleng melihat tingkah Aldo. Aldo memang selalu menempel pada Ara, hampir 24 jam. Shella kadang merasa tidak nyaman, takut menganggu Ara. Namun Ara memberi pengertian pada Shella, karena Aldo ingin menunjukkan perhatiannya pada Ara. Kadang sikap Aldo mengingatkan Ara pada seseorang yang jelas bukan suaminya. Aldo seperti mirip seseorang yang cukup Ara kenal, tapi Ara sendiri tidak bisa berasumsi. Ingin Ara menanyakan dimana Ayah kandung Aldo, tapi takut mengungkit luka lama Shella.


"Bagaimana Ger, apa Bagaskara masih mencari keberadaan Ara?". Tanya Jovan sambil menyusun lukisan milik Ara.


"Iya. Sepertinya Bagaskara benar-benar ingin menyingkirkan Ara". Roger menghela nafas "Kau tahu Kakak nya Kayhan, yang bernama Seem?". Jovan mengangguk.


"Dia juga sedang mencari keberadaan Ara". Sahut Roger


"Apa hubungannya?". Jovan menautkan keningnya "Apa dia membantu Kayhan?". Sambung Jovan.


Roger menggeleng "Seem, ingin merebut Ara. Sedangkan Kayhan dia seperti sangat membenci Ara". Roger menghela nafas "Menurut orang suruhan kita, Kayhan sudah kembali berjalan normal. Dia menetap di Australia".


"Kita harus memperketat sistem keamanan Ara. Jangan sampai ada lagi yang tahu keberadaan kita".


"Baik. Aku jamin tidak akan ada yang bisa menemukan Ara". Sahut Roger.


Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Ara dan Aldo datang dengan membawa nampan yang berisikan beberapa gelas minuman dan cemilan yang Ara buat.


"Dimakan dulu Kak". Ucap Ara meletakkan nampan itu diatas meja.


"Terima kasih Ra". Senyum Jovan tulus sambil duduk disofa. Ara membalas dengan senyuman juga.


"Kak". Ara menyerahkan segelas minuman padanya.


"Terima kasih sayang". Roger duduk didekat Jovan.


"Bunda". Aldo merenggek manja sambil menyenderkan kepalanya dilengan Ara.


"Ada apa sayang, hmm?". Ara mengelus lembut kepala Aldo.


Aldo tersenyum hangat menatap wajah Ara. Tiba-tiba wajah Aldo berubah "Kenapa wajah Bunda pucat?". Tanya Aldo panik. Sontak saja Roger dan Jovan juga menatap Ara.


"Sayang, kau baik-baik saja 'kan?". Roger mengenggam tangan Ara.


"Ra". Jovan juga ikut mengenggam tangan Ara sebelah kirim.


Ara merasakan pusing dikepalanya. Sakit seperti ditusuk-tusuk.


"Sayang, kenapa? Dimana yang sakit?". Tanya Roger panik bukan main.


Wajah Ara pucat pasih, dan Ara langsung terpejam jatuh dipelukkan Aldo.


"Bunda, hiksss".


"Ara". Roger dan Jovan menyambut Ara.


"Jovan siap kan mobil. Kita bawa Ara ke rumah sakit". Perintah Roger mengendong adiknya.


"Baik". Jovan sambil mengendong Aldo yang menangis ketika melihat Bunda Ara-nya


Roger dan Jovan membawa Ara ke rumah sakit. Roger terus saja berusaha membangunkan Ara.


"Sayang bangun". Sambil menepuk-nepuk pipi Ara dengan pelan.


"Bunda, hiksss". Aldo mengoyang-goyangkan tangan Ara "Jangan tinggalin Ado Bunda. Ado sayang Bunda, hiksss". Tangis Aldo pecah.


"Ado sayang, jangan nangis ya. Bunda Ara pasti baik-baik saja". Roger menenangkan Aldo supaya pria kecil itu baik-baik.


"Tapi Bunda.....".


"Sttttttt, Bunda baik-baik saja sayang". Jovan mengulurkan tangannya untuk menggapai kepala Aldo. Sedangkan tangan kanan nya fokus menyetir.


Dilain tempat, Joana dan Shella tengah melakukan pemotretan dengan beberapa agengsi model yang bekerja sama dengan mereka berdua.


"Shella, sedikit membungkuk".


"Menyamping".


Berbagai fose mereka lakukan untuk mengambil beberapa foto untuk model iklan mau pun model pakaian.


"Istirahat dulu".


Joana duduk disamping Shella sambil menunggak air minum dari botol nya.


Drt drt drt drt


Ponsel Shella berbunyi. Dilayar nama Roger tertera. Dahi Shella berkerut, tak pernah Roger menelponnya. Namun dia juga panik jika ada sesuatu yang terjadi dengan Aldo.


"Siapa Kak?". Tanya Joana.


"Roger". Sahut Shella mengangkat telponnya.


"Ada apa Roger?".


"Apa? Ara dibawa ke rumah sakit? Apa yang terjadi Roger? Bagaimana bisa? Baik, aku dan Joana segera kesana.


"Ara kenapa Kak?". Cecar Joana.


"Ara masuk rumah sakit. Ayo kita segera kesana".


Tanpa menunggu lama, kedua wanita beda usia itu segera meluncur menyusul Ara kerumah sakit.


Shella sangat panik, apalagi riwayat penyakit Ara yang pernah dioperasi dua Ki. Ara juga hanya punya satu ginjal karena ginjalnya sudah didonorkan untuk adik nya Mey.


"Kak apa yang terjadi kenapa Ara bisa sampai masuk rumah sakit?". Cecar Joana yang tak tenang duduk didalam mobil.


"Kakak juga tidak tahu Na. Kata Roger selesai buat minuman Ara langsung pingsan, mungkin karena kelelahan". Jawab Shella yang juga tampak tak tenang "Paman, bisa cepat sedikit". Perintah Shella pada supir yang membawa mereka.


"Iya Nona". Sahut supir pribadi milik Joana.


Mobil Shella dan Joana sampai disalah satu gedung mewah dan elit. Rumah sakit terbesar di Belanda dengan fasilitas lengkap dan Dokter terbaik yang bekerja disana.


Bersambung......


Kayhan ❤️ Kimara