Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 101. Kelahiran Quadruplets.



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Disebuah ruangan, tampak dua beberapa Dokter dan perawat tengah bekerja membelah perut seorang wanita. Mereka tampak serius mengerjakan nya dan keringat membasahi kening mereka.


“Kasa”.


“Gunting”.


“Percepat deteksi jantung”.


“Naikkan suhu oksigen”.


Para perawat melakukan tugas yang diperintahkan oleh Dokter.


Mereka kembali focus pada apa yang dikerjakan. Kerjasama yang solit dan clop membuat operasi yang mereka lakukan bisa berjalan baik.


Tit tit tit tit tit tit


“Dok, jantung pasien melemah”.


“Percepat tekanannya”.


“Baik Dok”.


“Han, segera keluarkan bayinya”.


“Baik”.


“Owe owe owe owe”.


“Owe owe owe owe”.


“Owe owe owe owe”.


“Owe owe owe owe”.


Keempat bayi kembar itu keluar dari dalam perut Ara dengan beberapa selang beberapa menit saja.


“Cepat bersihkan bayi nya dan masukkan dalam box”. Perintah Hansel.


“Baik Dok”.


Nickho dan Hansel kembali melakukan operasi. Mereka akan mengeluarkan tumor yang ada dirahim Ara.


“Tumornya sudah membesar Nick. Sepertinya bayi Ara kembar lima, tapi bayi yang satu mati dan dihisap oleh tumor ini”. Hansel mengeluarkan benda berwarna merah darah itu, dengan akar-akar yang menempel disekitarnya.


Nickho sampai bergidik ngeri dan tak terbayang bagaimana Ara bisa mampu menahan rasa sakit yang menghisap tubuhnya.


“Dok, pasien kehabisan darah”. Ucap salah satu perawat.


“Cepat tambahkan kantong darahnya”. Perintah Nickho.


“Baik Dok”. Mereka kembali melakukan tugas masing-masing.


Nickho dan Hansel bermandikan keringat. Sesekali perawat yang bertugas menyeka keringat mereka dengan tissue, agar kosentrasi mereka tidak terganggu.


Nickho dan Hansel beralih pada transfalasi ginjal Ara. Mereka berjuang dengan susah payah agar ginjal yang didonorkan kepada Ara akan cocok tubuh Ara menerima.


“Nick, sepertinya ginjal ini tidak cocok”. Ucap Hansel


“Bagaimana bisa Han? Bukankah kau sudah memeriksanya dari awal?”. Tanya Nickho tangannya masih terfokus mencoba memasang ateri didalam perut Ara.


“Iya. Tapi sekarang ginjal ini menolak lantaran banyaknya darah yang keluar dari dalam tubuh Ara, ginjal ini tidak mampu memompa dan ini efek dari kemo yang dijalani Ara”. Jelas Hansel melakukan hal yang sama dengan Nickho.


“Jika begitu jangan dipaksakan. Ini akan berbahaya untuk tubuh Ara”. Sahut Nickho


“Lalu bagaimana dengan ginjal Ara? Apa dia akan masih memiliki satu ginjal?”. Mereka berdua terus beradu argument. Sedangkan para perawat dan dokter yang lain hanya mengerjakan bagian mereka dan sesekali mendengarkan percakapan keduanya.


Tit tit tit tit tit tit tit


“Dok, jantung pasien berhenti”.


“Cepat ambil oksigen uap”. Teriak Nickho.


Nickho memasangkan oksigen uap itu kedalam mulut Ara, sedangkan Hansel mamantu alat monitor.


“Dok……..”. Para perawat itu terdiam sejenak saat melihat garis lurus dilayar monitor.


Nickho dan Hansel menatap layar monitor tak percaya.


“Cepat ambil CPR”. Nickho merebut kasar CPR itu dari tangan perawat yang menyerahkannya.


Hansel mengontrol peredaran darah Ara, tangannya sampai bergetar hebat saat darah-darah yang dialirkan pada tubuh Ara berhenti.


“Ara, aku mohon bertahan Ara. Apa kau tidak ingin melihat keempat anakmu tumbuh. Kumohon Ara bangunnnnnnnnnnnnn”. Nickho berteriak sambil menekan-nekan CPR itu kedada Ara.


“Ara”. Gumam Hansel, tubuhnya terasa dingin saat layar monitor jantung itu bergaris lurus dan bersahutan dengan bunyian alat lainnya.


“Dok…..”.


“ARA”.


Pranggggggggggggggg


Gelas yang dipengang Kayhan terhempas dilantai. Saat hendak mengambill minum gelas itu tiba-tiba terjatuh.


“Awwwwww”. Pekik Kayhan saat pecahan gelas itu mengenai kakinya.


“Kenapa perasaanku tidak enak? Apa yang akan terjadi?”. Gumam Kayhan


“Tuan, ada apa?”. Cody langsung menghampiri Kayhan saat mendengar bunyi gelas pecah diarah dapur, segera Asissten setia itu menghampiri Tuan-nya.


“Panggil pelayan untuk membersihkannya Cody”. Ucap Kayhan berjalan tertatih karena kakinya terluka.


“Kau keruanganku sebentar”. Ujar Kayhan lagi


Kayhan merasakan perasaannya tidak nyaman, dia gelisah tak menantu. Perasaannya khawatir tapi dia tidak tahu apa yang sedang dia khawatirkan.


Cody membawa kotak P3K untuk mengobati luka Kayhan.


“Biar aku saja Cody”. Ujar Kayhan saat Cody ingin mengobati lukanya.


“Baik Tuan”. Sahut Cody tak memaksa karena jika dia memaksa sudah dipastikan pria itu akan memarahinya.


Kayhan membersihkan luka dikakinya, dia menarik dengan pelan pecahan kaca yang melekat dikakinya.


“Cody, memasuki bulan ke berapa kandungan Ara?”. Tanya Kayhan tangannya masih membersihkan lukanya.


“Menurut hitungan saya, sudah memasuki bulan ke tujuh Tuan”. Sahut Cody sembari sedikit membungkuk memberi hormat.


“Apa hitunganmu benar Cody?”. Ketus Kayhan sedikit kesal.


“Iya Tuan”. Sahut Cody yang heran melihat Kayhan tiba-tiba seperti kesal padanya


Kayhan menyenderkan punggungnya “Cody, perasaanku tidak enak. Apa terjadi sesuatu pada Ara?”. Lirih Kayhan pelan tapi masih didengar oleh Cody.


Cody terkesiap mendengar lirihan Kayhan yang terdengar begitu sendu dan menyentuh hati, didalamnya terdengar kekhawatiran.


“Maaf Tuan, itu hanya perasaan anda saja saya yakin jika Nona Ara baik-baik saja”. Sahut Cody merespon.


“Katanya benci, tapi terus saja memikirkan istrinya. Sungguh sikapmu terlalu egois Tuan”. Batin Cody dia memutar bola matanya malas dan tentunya tanpa sepengetahuan Kayhan.


“Apa kau sudah mengajukan kerjasama dengan Van Derg?”. Tanya Kayhan dia memijit pelipihnya yang terasa sakit.


“Sudah Tuan. Tapi mereka menolak kerjasama dengan kita. Alasan mereka, mereka sudah memiliki banyak proyek dan kerjasama dengan perusahaan lain”. Jelas Cody.


“Apa?”. Kayhan langsung dududk tegak “Apa maksudmu? Apa mereka tahu jika aku yang mau bekerjsama dengan mereka?”. Tanya Kayhan dengan nafas memburu “Ini pasti ulah Jovan yang sengaja menjauhkan Ara dariku”. Rahang Kayhan mengeras bahkan giginya saling bergelemetuk menahan amarah.


“Sepertinya mereka memang sudah tahu Tuan. Saya sudah berusaha melakukan negosiasi dan penawaran”. Jelas Cody, dia kikuk melihat kemarahan diwajah Kayhan. Sebenarnya Cody tahu keberadaan Ara melalui Nickho, namun Nickho menegaskan agar Cody merahasiakan tentang itu karena takut jika mereka mengincar Arad an menyakiti Ara lagi.


“Apa tidak ada cara lain Cody?”. Tanya Kayhan sedikit memaksa. Dia tidak boleh gagal bekerjasama dengan Van Derg Corp, karena dia harus menemukan dimana Ara berada.


“Tidak ada Tuan”. Sahut Cody singkat.


“Persiapkan keberangkatan kita ke Belanda besok, aku harus menemui Jovan secara langsung dan bertemu Ara”. Tintah Kayhan berdiri dari duduknya.


“Baik Tuan”.


Cody menatap punggung Kayhan yang menghilang dibalik pintu. Dia menghela nafas pelan, ternyata berbohong cukup menguras tenaga.


“Maaf Tuan, saya tidak bermaksud berkhianat. Tapi sayang tidak mau jika anda hanya ingin menyakiti Nona Ara. Anda tidak tahu bagaimana menderitanya istri anda itu?”. Batin Cody keluar dari ruang kerja Kayhan.


Diam-diam Nickho dan Cody bekerjasama untuk menyembunyikan keberadaan Ara. Nickho langsung memberitahu Cody dimana Ara berada, karena Nickho tahu jika Cody tahu apa yang dilakukan Bagaskara pada Ara melalui video yang ditunjukkan Roger padanya. Cody takkan mengatakan pada Kayhan dimana keberadaan Ara, dia akan melindungi Ara sebisanya. Karena Ara adalah Nona Muda nya yang baik hati dan menghargai Cody yang hanya sebagai asissten dari suaminya. Kayhan.


Bersambung...


Kayhan ❤️ Kimara