
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Disebuah ruang rumah sakit, seorang gadis tengah melakukan terapi untuk kesembuhan kakinya.
“Harus kuat”. William menyemangati Martha. Sejak mereka datang ke Amerika William selalu berada disamping gadis itu menyemangatinya dengan senyuman manis.
“Terima kasih Will”. Ucap Martha. Masih terasa bermimpi jika pria idamannya ini benar-benar ada dalam hidupnya. Martha teringat bagaimana perjuangannya mendapatkan hati William. Jika saja dia tidak mengalami kecelakaan mungkin dia masih tetap mengejar cinta pria ini
William membawa Martha ke dokter terapi terbaik di Negara itu. Tentu saja dengan perawatan yang sangat mahal dan terapi ini akan bisa membuat Martha berjalan kembali.
Martha terharu, melihat bagaimana William memperlakukannya. Pria itu sabar menghadapi sifat cerewet dan berisik nya. William juga tak pernah mengeluh mengendong Martha ke kamar mandi saat dia ingin membersihkan diri.
Martha merasa ada yang mencintainya dengan tulus tanpa memandang penyakitnya yang lumpuh dan tak bisa berjalan. William menjadi penguat tersendiri untuk Martha. Sedangkan Ibu nya sendiri sibuk dengan dunianya.
Martha membalas genggaman tangan William dengan erat sambil menahan sakit dari terapi yang dia jalani. Dia mengigit bibir bawahya, merasakan sakit yang luar biasa dibagian kakinya.
Setelah satu bulan kemudian, Martha akhirnya bisa berjalan kembali. Dia bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan kedua untuk bisa berjalan. Meski bersyukur sudah terlambat tapi Martha tak mau menyerah pada keadaan.
Martha menatap jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis cantik itu. Beberapa kali dia menghela nafas kasar. Ada penyesalan yang sulit Martha ungkapkan.
“Ara”. Lirihnya.
Martha kembali teringat pada sahabatnya itu. Terakhir kali bertemu Ara, saat dia bertemu dengan Ara di sebuah minimarket. Saat itu penampilan Ara sudah jauh berubah. Seorang istri dari CEO ternama hanya mengenakan baju merk rendahan. Martha teringat bagaimana dia menghina sahabatnya itu dan memaki-makinya, hanya karena obsesi dan ambisi.
“Apa kabarmu Ra?”. Gumam Martha menyaksikan salju yang berjatuhan diluar “Aku rindu kamu Ra. Maafkan aku. Aku menyesal”. Dia menatap butiran yang jatuh ketanah. Hatinya terasa dingin sama dengan keadaannya saat ini.
“Harusnya aku menjadi sahabat yang mendukungmu. Namun malah sebaliknya, aku justru mendorong kamu jatuh. Maafkan aku Ra. Aku tidak pantas disebut sahabat”. Martha menyeka air matanya.
Sudah hampir satu tahun dia tidak bertemu Ara. Sejak Ara menikah dengan Kayhan, Martha tak pernah lagi bertukar cerita dengan sahabatnya itu. Selain karena Ara yang tinggal jauh. Martha juga sibuk dengan pekerjaannya. Padahal dulu dia dan Ara bagai paku lekat dipapan kemana-mana selalu bersama dan berbagi cerita.
“Mar”.
William masuk kedalam kamar kekasihnya. Dia tersenyum bahagia saat Martha sudah bia berjalan seperti sedia kala.
Martha membalikkan badannya menghadap William, dia membalas dengan senyuman diwajah cantiknya.
“Iya Will”. Sahut Martha.
William memeluk Martha dengan sayang. Dia tidak percaya pada dirinya sendiri yang bisa bucin akut pada gadis dipelukkannya ini. Padahal dulu dia sangat membenci gadis ini. Namun saat melihat Martha yang penuh dengan darah membuat William merasakan ketakutan yang luar biasa. Benar kata orang cinta dan benci adalah dua kata yang berbeda namun memiliki makna yang hampir sama. Jika terlalu membenci bisa berubah menjadi mencintai, jika terlalu mencintai bisa juga merasakan kebencian.
William melepaskan pelukkannya “Ada apa hm?”. Tanya William, dia bisa melihat jika wajah kekasihnya itu sembab yang artinya dia menangis.
“Apa masih sakit?”. William menyeka air mata Martha.
Martha menggeleng dengan senyum “Tidak ada. Aku sudah baik-baik saja”. Sahut Martha.
“Kenapa kau menangis?”.
Martha menghela nafas kasar, lalu beralih menatap jendela. Dia merasakan jika perasaan penyesalan dan bersalahnnya ini adalah hukuman yang Tuhan berikan karena telah jahat pada sahabatnya sendiri.
“Aku merindukan Ara”. Sahut Martha singkat.
William membalikkan badan Martha “ Aku menyesal telah mencelakai Ara. Aku merasa orang paling jahat yang tega mendorong sahabatnya sendiri. Aku jahat Will”. Lirih Martha, air matanya tak bisa lagi dibendung “Padahal Ara adalah sahabat terbaik. Kami selalu bersama selama bertahun-tahun. Kami selalu berbagi dalam suka dan duka. Dia tahu semua tentangku dan begitu juga dengan aku. Tapi karena obsessi dan ambisi aku tega menyakitinya, hiksss”. Martha mengungkapkan semua perasaan dan penyesalannya.
“Apakah dia masih mau memaafkan aku Will?”.
Martha melepaskan pelukkannya “Will, ayo kita cari Ara?”. Ucap Martha pada kekasihnya.
“Kita mau cari kemana Mar? Aku, Kak Seem dan Kak Nathan sudah mengelilingi dunia tapi kami tidak menemukan dimana keberadaan Ara”.
“Ara ada di Belanda Will. Aku yakin Kak Roger dan Kak Jovan membawa dia kesana”. Ucap Martha memberitahu William.
“Tapi bukankah Kak Seem dan Kayhan sudah pernah mencari Ara kesana. Mereka tidak menemukannya”.
“Percaya padaku Will. Ara pasti sengaja disembunyikan oleh Kak Roger. Kak Roger pasti takut jika Ara dicelakai lagi”. Tandas Martha berusaha menjelaskan agar William mau mengikuti perkataannya.
William tampak berpikir “Tapi Kak Nathan melarangku mencari Ara”. William masih berusaha menolak. William tidak mau bertemu Ara, takut jika perasaannya akan kembali lagi pada gadis muda itu.
“Will, carilah Ara karena aku. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya”. Renggek Martha berharap jika William mau membantunya.
“Baiklah aku akan bantu”. Senyum William.
“Tapi jangan sampai Bagaskara tahu”.
“Kenapa?”. Tanya William heran
“Karena dia tidak akan membiarkan Ara hidup tenang. Dia tidak ingin Ara kembali. Dia akan kembali menyingkirkan dan menyakiti Ara”.
William terjingkrak “Kau serius? Jangan bilang yang merencanakan perpisahan Kayhan dan Ara adalah Bagaskara?”. Tanya William.
Martha menangguk “Aku sudah pernah katakan padamu waktu itu”. Timpal Martha lagi.
“Baiklah kita akan cari Ara”. Sahut William.
William meronggoh saku celananya mencari benda pintar itu dan menghubungi orang kepercayaannya.
“Besok kita akan berangkat ke Belanda”.
“Benarkah?”. Martha memeluk William dengan penuh cinta “Terima kasih sayangku”. Martha mengecup pipi William.
“Ulangi sekali lagi, tadi aku memanggilku apa?”. Goda William
Martha tersipu malu. Dia menyembunyikan wajahnya didada bidang pria itu. Wajahnya sudah merah seperti tomat menahan malu.
William tertawa gemes. Padahal dulu gadis dipelukkannya ini sangatlah agresif seakan ingin memakan William. Tapi lihatlah sekarang, sungguh lucu dan menggemaskan saat Martha malu-malu.
William memegang wajah Martha. Tatapannya teralih pada bibir merah muda yang menggoda itu. William langsung meraup bibir itu dengan lembut. Martha membalas ciuman kekasihnya. Ini adalah ciuman pertama Martha, selama ini dia tidak pernah dekat dengan laki-laki, sama seperti Ara.
“Ciuman pertamamu?”. Tanya William, melepaskan panggutan mereka.
Martha mengangguk dengan malu. William tersenyum bangga, karena dia yang pertama. Dia tak menyangka, gadis seagresif Martha belum pernah berciuman, padahal dia juga sama.
William kembali ******* bibir Martha dengan lembut, menyesap rasa manis dari benda kenyal yang membuatnya tak mampu menahan. Bibir Martha terasa manis dan membuat birahinya naik. Martha juga membalas ciuman William. Dia menerima sesapan lidah William. Mereka saling membelit lidah. William menekan tengguk Martha memperdalam ciuman mereka, dia mengakses rongga mulut Martha mencari kenikmatan disana.
**Bersambung.....
Kayhan ❤️ Kimara
Maaf ya guys jarang up banyak, novel ini belum lulus kontrak. jadi tunggu review dulu, kalau udah fiks lulus author bakal up sebanyak-banyaknya 😁**