Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 136



Happy Reading..........


Jovan melangkah kearah dapur, terdengar canda dan tawa yang menggema dari arah sana.


“Pagi anak-anak Ayah”.


“Pagi Ayah”.


Nara berhambur memeluk Jovan dengan sayang.


“Dek, jangan lari-lari, nanti jatuh”. Tegur Naro, Zero dan Zeno bersamaan, ketika melihat adik kecil mereka berlari.


Nara tak peduli dia tetap bergelut manja di gendongan Ayah angkat nya itu. Ara hanya bisa menggeleng sambil melanjutkan makannya.


“Anak Ayah masak apa?”. Jovan melihat masakkan Ara dan anak-anaknya sambil mengendong Nara.


“Nasi goreng telur kecap Ayah”. Sahut keempat bocah kembar itu dengan kompak.


Para pelayan yang melihat keharmonisan mereka tersenyum kagum. Jovan yang mereka kenal sangat dingin bisa menghangat ketika bersama keempat bocah menggemaskan itu. Mereka terlihat seperti keluarga utuh yang begitu harmonis.


Jovan yang masih tampan diusianya yang sudah matang, ditambah dengan wajahnya yang blasteran Indonesia-Belanda membuat pria itu terlihat sexy yang cool dimata kaum hawa. Ara yang sudah melahirkan empat anak pun masih terlihat begitu cantik bahkan sangat cantik. Wajahnya mulus tanpa jerawat dan komedo, hidung mancung, bulu mata lentik ditambah dengan rambut wig sebahu membuat Ibu anak empat itu seperti gadis belasan tahun.


Ara dan Shella menyajikan makanan mereka dibantu oleh para pelayan. Sedangkan para anak-anak dan Jovan sudah duduk dengan manis sambil menunggu. Aldo juga sudah duduk dengan tak sabar sambil tersenyum kearah Ara yang menyajikan makanan itu dengan sabar dan juga telaten.


“Silahkan makan”. Senyum Ara mengambilkan makanan untuk keempat anaknya. Seperti biasa keempatnya akan disuapi oleh Ara.


“Nara, sama Ayah saja ya?”. Tawar Jovan. Ara mengangguk dengan senyum mengembang.


Pagi yang indah untuk mereka semua. Shella tersenyum hangat melihat betapa telaten dan sabarnya Ara menyuapi ketiga anaknya, sedangkan Jovan menyuapi Nara. Aldo hanya makan dalam diam, dia menatap tak suka saat Ara menyuapi adik-adik angkatnya. Jiwa posessif dan cemburu nya kembali lagi.


“Ado, makan yang banyak”. Ucap Ara memberikan senyuman pada Aldo.


“Siap Bunda”. Sahut Aldo dengan senyuman juga. Dia bahagia saat Ara masih mengingatnya. Jika dulu sebelum keempat adik angkatnya lahir, dia menjadi prioritas utama tapi sekarang setelah mereka ada posisinya digeser.


Setelah sarapan pagi selesai. Ara akan mengunjungi tempat baru untuk dibuka galeri miliknya. Sedangkan Shella juga sudah membuka cabang baru untuk butiknya.


“Sayang, kalian hari ini main sama Ayah ya. Mommy akan pergi mengurus galeri sebentar”. Pesan Ara memperbaiki baju anak-anaknya satu persatu.


“Iya Mommy”. Sahut mereka serentak.


“Kak, titip anak-anak ya”. Ucap Ara.


“Iya sayang. Kakak pasti akan jaga mereka”. Jawab Jovan dengan tersenyum.


Aldo memutar bola mata malas mendengar jawaban Jovan. Pria tua itu masih saja genit pada Ibu angkatnya, padahal sudah ribuan kali ditolak.


“Kami berangkat”. Pamit Shella.


Ara, Shella dan Aldo pun berangkat. Mereka satu mobil meski ditujuan yang berbeda.


“Kak bagaimana butik kakak?”. Tanya Ara sambil melihat permandangan diluar


“Puji Tuhan tempat strategis Ra”. Sahut Shella dengan senyum.


Shella singgah dibutiknya. Sedangkan Ara dan Aldo melanjutkan perjalanan untuk menuju galeri lukisan milik Ara.


Ara membuat kembali galeri lukisan dengan desain yang begitu menarik dengan interior hutan yang lebat serta suasana dingin. Ara meronggoh kocek yang tidak sedikit, tentu saja Jovan turun tangan meski sudah ditolak oleh Ara, namun dia tetap membantu wanita empat anak itu.


“Bunda tempat nya bagus”. Ucap Aldo sambil menelusuri galeri itu.


“Iya sayang”.


Ara dan Aldo mengatur para pekerja yang sudah Ara angkat menjadi pengawai tetapnya untuk membantunya mengelola galeri itu.


Lukisan-lukisan itu adalah karya Ara, Aldo dan Nara. Mereka bertiga bekerjasama dan kompak membuat lukisan dengan kemampuan masing-masing. Kemampuan melukis Ara memang menurun pada putri kecilnya itu.


Ara tampak berpikir “Boleh sayang. Malah bagus kalau Ayah mau bantu”. Timpal Ara.


Aldo memang memanggil Jovan dengan panggilan Ayah atas perintah pria yang sempat dia panggil Uncle itu.


Ditempat lain.


Roger menyenderkan punggungnya setelah berkutat dengan pekerjaan yang cukup banyak dan menumpuk. Dia merenggangkan otot-otot jarinya.


“Bagaimana keadaan Ara?”. Gumamnya.


Roger meronggoh ponsel disaku jasnya, dan menelpon adiknya itu.


“Hallo sayang”.


“Iya Kak?”.


“Bagaimana keadaanmu dan anak-anak disana?”.


“Puji Tuhan, Ara sehat Kak. Bagaimana dengan Kak Roger dan Kak Nana? Kedua keponakkanku Ranti dan Ratna?”.


“Mereka sehat sayang. Maaf ya Kakak belum bisa menemui kalian di Indonesia. Nanti jika pekerjaan kakak sudah selesai kakak akan menyusul kalian. Ranti dan Ratna terus mencarimu”.


“Iya Kak. Kakak jaga kesehatan ya”.


Setelah mengobrol cukup lama Roger mematikan sambungan ponselnya. Roger menghela nafas berat, sebenarnya dia khawatir saat membiarkan adiknya kembali ke Indonesia, karena takut jika Bagaskara kembali mencari Ara dan anak-anaknya.


“Kak”.


Roger tersenyum melihat sang istri datang dengan membawa bekal makan siang untuknya.


“Iya sayang”. Roger berdiri dari kursi kebesarannya dan menyambut sang istri.


“Aku membawakan makan siang untuk suami tampanku ini”. Celetuk Joana sambil mencolek dagu Roger dia juga mengedipkan mata kearah sang suami.


Roger tertawa gemes. Istrinya itu masih saja suka menggodanya dan membuatnya selalu ingin memakan istrinya.


“Aku makan siang itu saja”. Roger mengusak bibir ranum istrinya.


“Kak”.


Roger mengambil rantang nasi istrinya. Dia meletakkannya diatas meja.


“Sayang aku butuh asupan ini. Boleh ya?”. Bisik Roger dengan suara serak, dia merasakan tubuhnya seperti disentrum.


“Tapi ini dikantor”. Kilah Joana menyembunyikan rona wajahnya.


“Ini kantorku sayang, tidak akan ada yang melarang”.


Roger langsung menyambar bibir Joana dengan brutal tanpa mendengar suara istrinya yang protes padanya. Roger mencium bibir Joana dengan lembut, dia mengecap bibir itu mencari kenikmatan disana. Bibir istrinya sungguh tak ada duanya selalu membuatnya kecanduan ingin dan ingin setiap saat,


Joana juga membalas pelukkan Roger dia membuka mulutnya membiarkan sang suami mengabsen rongga mulutnya mencari kenikmati ciuman mereka.


Roger memopong tubuh Joana menuju kamar pribadi diruangannya. Lidah mereka masih saling membelit satu sama lain. keduanya sampai terengah-enggah.


Roger membaringkan tubuh Joana dengan lembut, dia menatap wajah merah istrinya karena malu membuat Roger tertawa gemes. Meski sudah menikah selama lima tahun tetap saja Joana masih malu-malu padahal mereka sudah dikaruniai dua putri cantik sekaligus.


Roger melucuti pakaian istrinya dengan lembut dan sebenarnya tak sabar untuk menuntaskan hasratnya. Dia langsung menyambar dua bukit kembar yang terlihat mengoda milik sang istri. Roger menghisap putting payudara istrinya sambil tangan yang satu memilin ujung benda kenyal berwarna pink itu.


Suara ******* saling bersahutan. Joana mengeliat dibawah Roger dan belum juga benda pusaka itu masuk kedalam goanya, Joana sudah merasakan tubuhnya serasa disengat listrik.


Bersambung......


Kayhan ❤️ Kimara