Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 157. Penyesalan Kayhan



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Nathan, William, Bagaskara, Naira dan Martha sedang menuju kediaman Kayhan. Sementara para anak-anak mereka dititipkan pada Wilona dan Wilson, orangtua Nathan dan William.


Keringat dingin membasahi kening Bagaskara sebenarnya dia belum siap bertemu Kayhan. Tapi dia tidak mau mengulur waktu dan membuat cucu nya itu semakin salah paham pada Ara.


"Grandfa, tenang ya. Semua pasti baik-baik saja". Ujar Naira mengenggam tangan Bagaskara.


Bagaskara mengangguk sekaligus memaksakan senyum.


Nathan dan William duduk ditempat, William menyetir dan memang sengaja tidak mengajak supir pribadinya.


Sementara Naira dan Martha duduk dibelakang menghimpit Bagaskara yang duduk ditengah-tengah berusaha memberikan kekuatan dan ketenangan pada pria berusia yang sudah memakai tongkat itu.


"Grandfa takut jika Kau mengusir Grandfa". Ujar Bagaskara dengan lirihan. Ucapannya seakan menandaka bahwa dia akan ditolak.


"Grandfa tenang, ada kami. Kau tidak akan berani macam-macam". Ucap Nathan menanangkan.


"Iya Grandfa". Sambung William dan Martha bersamaan.


Sampai di rumah mewah milik Kayhan. Nathan dan William segera turun, membukakan pintu untuk tiga orang dibelakang mereka.


"Pelan-pelan Grandfa". Ujar Naira dan Martha bersamaan membantu Bagaskara keluar dari mobil.


Mereka masuk kedalam rumah mewah itu. Kawasan elit yang hanya ada satu bangunan. Tentu saja Crazy Rich seperti Kayhan akan memilih tempat paling terbaik untuk dihuni. Meski hanya ada dia dan Cody yang tinggal disana, tetap saja Apartement itu terlihat rapih dan bersih serta terjaga.


"Silahkan masuk Tuan". Sambut Cody berdiri didepan pintu


"Apa Kau ada?". Tanya Nathan.


"Tuan Kayhan, ada di kolam belakang Tuan. Mari. Saya akan panggilkan".


Mereka masuk dan duduk soffa ruang tamu Kayhan. Rumah mewah itu benar-benar terlihat elit. Terbukti dari barang-barang mewah yang tertata rapih. Lukisan dari para seniman ternama juga terpampang disana.


Tidak lama kemudian kayhan datang. Wajahnya datar, dingin dan bahkan tak sentuh. Dia memasukkan kedua tangannya disaku celananya.


Kayhan duduk dengan tenang. Kakinya dia lipat kedua tangannya juga terlipat didada.


"Kay". Suara Bagaskara seakan tercekat apalagi melihat tatapan dingin Kayhan.


Kayhan tak bergeming. Dia diam tanpa ekspresi. Tatapanya tajam kearah depan.


"Maafkan Grandfa". Lirih Bagaskara menunduk.


"Aku tidak suka basa-basi. Katakan ada apa kalian datang kesini?". Ujar Kayhan tanpa menatap lawan bicaranya.


Cody berdiri disamping Kayhan. Dia seperti manekin disebuah butik. Berdiri tanpa ekspresi sambil kedua tangan didepan saling melipat.


"Ada yang ingin Grandfa bicarakan". Bagaskara menarik nafasnya dalam.


"Katakan". Suruh Kayhan dingin


"Tentang Ara".


Kayhan langsung menatap Bagaskara dengan tajam.


"Jangan sebut wanita ****** itu lagi". Pekik Kayhan dengan nafas memburu. Setiap kali menyebut nama Ara, dia selalu tidak bisa mengendalikan emos. Apalagi mengingat anak-anak itu memanggil Jovan dengan panggilan Ayah.


"Dengarkan dulu Kay". Sanggah Nathan "Setelah mendengar semuanya, itu terserah padamu mau percaya atau tidak. Jangan sampai kau menyesal setelah tidak bisa memperbaiki semuanya lagi". Ucap Nathan yang kesal pada Kayhan.


Kayhan langsung terdiam. Dia berusaha menahan emosiny agar tidak meledak. Meski beberapa hari ini perasaan kacau karena bayangan Ara masih saja terngiang dikepala nya


"Sebelumnya Grandfa mau meminta maaf atas semua kesalahan Grandfa". Kata Bagaskara.


"Katakan". Suruh Kayhan dingin.


Bagaskara menarik nafas dalam. Lalu dia menceritakan semuanya. Dari awal kecelakaan Kayhan, Kayhan koma. Bahkan ketika Ara meninggalkan Kayhan. Bahwa video yang itu hanya hasil editan Bagaskara.


"Brengsekkkk". Kayhan memukul mejanya.


"Kay". Tegur Nathan "Kondisikan emosi mu".


Kayhan menatap Cody tajam. Cody hanya bisa menunduk dia memang bersalah.


"Brengsekkkk"


Bugh bugh Bugh Bugh Bugh bugh bugh.


Kayhan memukul Cody dengan membabi buta. Asisten yang sudah menemaninya selama puluhan tahun itu tega mengkhianati nya. Padahal Cody selama ini tahu tentang Ara tapi Cody tega membohongi Kayhan seakan tidak tahu apa-apa.


"Kau sudah kuanggap saudara sendiri. Tapi kenapa kau tega mengkhianati ku, hah?". Kayhan mencengkram kerah baju Cody.


Sedangkan Cody hanya diam menunduk wajahnya sudah babak belur. Darah segar mengalir disudut bibirnya.


Bugh Bugh Bugh Bugh Bugh Bugh.


"Hentikan Kay". Nathan dan William melerai Kayhan "Kau bisa membunuhnya".


"Lepaskan". Kayhan menghempaskan tangan Nathan dan William dengan kasar.


Sedangkan Naira dan Martha menutup mulut tak percaya saat melihat Kayhan yang begitu emosi. Apalagi ketika Kayhan memukul Cody tanpa rasa kasihan sedikit pun.


Kayhan menatap Bagaskara dengan tajam.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku benci padamu". Setelah mengucapkan katanya Kayhan mellengang pergi


Sementara Bagaskara langsung tersungkur dilantai. Dia menangis hebat menutup wajah nya dengan penuh penyesalan.


"Grandfa". Naira dan Martha membantu pria tua itu berdiri. Lalu memeluk Bagaskara yang terisak menangis. Tangisan penyesalan yang tak bisa Bagaskara hentikan.


Kayhan masuk kedalam mobilnya. Pria itu menangis dengan hebat.


"Arggghhhhh. Maafkan aku Ara. Maafkan aku". Kayhan memukul stir mobilnya dengan keras. Perasaan bersalah nya semakin menjadi ketika mengingat perkataan nya pada Ara.


"ARA".


"ARA".


Teriak Kayhan menggema. Apakah Tuhan menghukumnya? Suami macam apa dia yang tidak tahu apa istrinya alami.


Hati Kayhan semakin sakit saat ingat video Ara menjilat sepatu Kakek nya. Betapa berdosanya dia menuduh istrinya selingkuh. Bahkan dia sempat meragukan keempat bocah kembar itu


"Hiks hiks Ara". Kayhan masih menangis dengan hebat sampai badannya bergetar.


"Maafkan aku".


Kayhan tidak tahu apakah Ara masih mau memberinya kesempatan? Apakah Ara masih mau menerima cintanya? Dalam hati paling dalam Kayhan masih mencintai Ara. Dia sama sekali tidak bisa melupakan istri nya itu. Ara-nya.


Penyesalan Kayhan semakin mendalam mengingat anak-anak nya lahir tanpa dirinya.


"Maafkan Daddy Nak, hikssss".


Kayhan melajukan mobilnya entah kemana pria itu akan pergi. Dia juga tidak tahu. Dia ingin mencari keberadaan istri dan anaknya. Dia ingin meminta maaf dia ingin menebus semua kesalahan nya. Dia ingin bertemu memeluk istri dan anak-anaknya.


Kayhan merasa dirinya pria paling berdosa yang pernah ada. Dia tega menuduh tanpa bukti. Padahal Ara menderita karena dirinya. Penyesalan Kayhan tak bisa dia kendalikan. Hatinya rasanya pecah ketika mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Ara.


Kayhan tidak tahu bagaimana perjalanan hidupnya nanti? Kayhan ingin kembali bersama Ara. Mengukir kisah mereka lagi. Merawat anak-anak mereka bersama. Bahagia seperti ketika dan saat itu.


Kayhan ingin menebus semua kesalahan yang dia lakukan. Dia ingin hidup bahagia bersama sang istri. Dia akan membuat istri dan anak-anaknya bahagia. Apalagi setelah Kayhan tahu jika Ara dipaksa untuk menandatangani surat cerai itu, jadi Ara masih sah istrinya dan mereka belum bercerai.


Bersambung......


Kayhan ❤️ Kimara