
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹 🌹🌹
Ara menatap kosong keluar jendela. Seketika hatinya membeku ketika mendengar tuduhan mantan suaminya, apalagi sang suami menuduhnya hamil dengan pria lain. Hati Ara seketika merasakan sakit dan pedih terasa teriris-iris.
"Mom". Naro mengenggam tangan Ara. Dia bisa melihat jika Mommy-nya ini sedang rapuh dan memikirkan kejadian tadi.
"Iya sayang". Ujar Ara memaksakan senyum diwajah cantiknya.
"Menangislah Mom". Naro memeluk Ara. Saat ini mereka sedang berada didalam kamarnya. Sedangkan Zero, Zeno dan Nara sedang membantu Jovan dan para pelayan memasak dibantu oleh Aldo.
Ara terdiam dia merasakan usapan lembut tangan putrinya dipunggungnya.
"Menangislah Mom. Naro tahu Mom lelah". Ucap pria kecil itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks". Tangis Ara pecah. Dari mobil tadi dia berusaha menahan tangis karena tidak mau anak-anak nya melihat.
"Menangislah Mom". Usap Naro pada punggung Ara. Dia juga ikut menangis bersama sang Ibu. Namun Naro kecil berusaha menahan air mata dia tidak mau air matanya membuat sang Ibu semakin sedih.
"Menangislah Mom. Setelah ini Naro tidak akan mengizinkan Mom menangis lagi. Naro akan menjaga Mom. Naro juga tidak akan membiarkan pria itu menyakiti Mom lagi". Ucap Naro tulus sambil melepaskan pelukkan nya pada Ara
"Maafkan Mommy sayang". Lirih Ara merasa bersalah. Dia merasa gagal menjadi Ibu saat putranya harus menyaksikan penderitaanya..
Naro menggeleng "Mommy tidak perlu minta maaf. Sekarang Naro mengerti perasaan Mommy. Mom, Naro berjanji akan melindungi mu. Naro sayang Mommy". Naro kembali memeluk Ara.
Ara membalas pelukkan putra kecil nya. Ara tahu jika Naro diam-diam mencari informasi tentang Ayah kandungnya. Sebab itu lah kenapa Naro bersikap dingin pada Kayhan. Ada kekecewaan yang terlihat dibola mata pria kecil itu.
"Mom". Zero dan Zeno masuk kedalam kamar. Mereka disuruh Jovan untuk memanggil Ara dan Naro karena makan siang sudah siap
"Iya sayang". Secepat kilat Ara menghapus air matanya "Ada apa hmmmm?". Ara memaksa senyum sambil melepaskan pelukkannya pada Naro.
"Mommy, menangis?". Zeno mengusap pipi Ara.
Ara tersenyum sambil menggeleng "Tidak sayang. Tadi Mommy lagi baca buku sedih bersama Kak Naro, makanya Mommy sedih membaca kisahnya". Kilah Ara.
"Ohhh begitu. Ya sudah Mom. Ayo kita makan". Zeno dan Zero mengandeng tangan Ara. Mereka bukanlah bocah yang bisa dibohongi. Mereka tahu jika Ara selesai menangis.
Sementara Naro mengikuti dari belakang. Wajahnya semakin dingin dan sulit ditebak. Dia berjanji akan membuat perhitungan pada Daddy-nya sendiri. Daddy-nya itu sungguh keterlaluan. Jika tidak mau mengakui keberadaan nya tidak apa, tapi setidaknya jangan menuduh sembarang.
Mereka makan, kali ini Jovan yang ambil alih untuk memasak bersama keempat anak angkatnya. Aldo juga turut belajar memasak bersama Jovan. Dia tahu jika Ayah nya itu sedang berusaha menghibur sang Bunda.
"Mommy, makan yang banyak". Naro menyuapi Ara. Meski Ara sempat menolak tapi Naro tidak menerima penolakkan. Dia memaksa untuk menyuapi sang Ibu. Biasanya Ara yang menyuapi anak-anaknya. Namun kali ini bergantian.
"Minum Bunda". Aldo menyerahkan gelas berisi air minum pada Ara.
"Terima kasih sayang". Ucap Ara menyambut.
"Biar Zero bantu Mommy".
Keempat bocah tampan dan menggemaskan itu bergantian melayani Ara. Mereka seperti orang dewasa yang tengah merawat orang sakit. Mereka berempat kompak.
Sedangkan Jovan geleng-geleng kepala gemes. Setidaknya anak-anak Ara bisa sedikit membuat nya menghangat, setelah dirudu rasa ketakutan saat bertemu Kayhan.
Setelah selesai makan. Jovan mengajak Ara untuk bicara.
"Ado, Naro, Zero, Zeno dan Nara. Kalian main dulu. Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Mommy".
"Baik Ayah". Kelimanya patuh.
Jovan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat sebagai teman dalam menemaninya berbicara dengan Ara malam ini. Jovan tersenyum hangat melihat wanita itu duduk dengan tatapan kosong dibangku taman. Sementara anak-anak Ara sedang fokus belajar.
"Ra".
Ara menoleh dengan tersenyum.
"Iya Kak?".
"Ini". Jovan memberikan secangkir teh yang masih terlihat mengempul asapnya.
"Terima kasih Kak". Ara mengambil cangkir dari tangan Jovan. Lalu dia menyeruputnya dengan pelan.
Jovan duduk disamping Ara. Malam ini bintang dan kemerlapan malam terlihat begitu memukau.
"Apa kau baik-baik saja?". Tanya Jovan menatap wanita cantik itu.
Ara mengangguk dengan senyum "Kalau aku tidak baik-baik saja itu wajar Kak". Lirih Ara. Dia memalingkan wajahnya kedepan "Pria yang aku cintai tega menuduh ku hamil bersama Kakak ku sendiri. Jika dia tidak mau mengakui anak-anak tidak apa-apa Kak. Tapi saat dia mengatakan aku meninggalkannya karena memilih menikah dengan pria lain, rasanya sakit, patah". Ungkap Ara. Matanya sudah berkaca-kaca sambil menatap taburan bintang dilangit malam.
"Kau tahu Kak? Aku sangat mencintai Kak Han. Aku pernah bermimpi bahwa suatu hari nanti kami akan kembali bersama, merawat anak-anak kami hingga dewasa. Tapi, setelah pertemuan tadi aku sadar bahwa aku dan dia tidak akan pernah kembali bersama". Ujar Ara.
Jovan menatap Ara. Hatinya juga terluka. Apalagi Ara mengatakan mencintai Kayhan. Entah kenapa hatinya masih sakit. Padahal dia sudah berjanji akan membuang perasaannya sejauh mungkin dan melupakan wanita ini.
Ara menyeka air matanya dengan kasar "Aku tidak boleh lemah 'kan Kak? Aku harus kuat". Ujar Ara memaksakan senyumnya sambil melihat kearah Jovan yang menatapnya.
"Ra". Jovan memeluk Ara. Dia berusaha kuat untuk tidak menangis. Dia tahu betapa rapuh nya wanita ini. Betapa tak berdayanya wanita yang ada dalam pelukkannya ini.
"Aku berjanji akan menjagamu. Bersama kelima buah hati kita. Izinkan aku selalu berada disampingmu, menjadi seorang Kakak dan Ayah yang melindungi". Ucap Jovan. Dia memejamkan matanya mengungkapkan kata itu. Sebenarnya tak ikhlas harus menganggap Ara hanya sebagai adik, tapi Jovan juga tahu bahwa hati Ara hanya untuk Kayhan.
"Hiksss, terima kasih Kak Jovan". Isak Ara menangis hebat dipelukkan Jovan. Pria yang setia menemaninya dari dulu. Bahkan pria yang selalu menghapus air matanya saat dia menangis.
Mereka berdua saling bertangisan dibawah taburan bintang malam. Jovan ikut menangis bersama Ara. Jovan juga teringat pada penyakit gagal ginjal Ara. Mungkin setelah perlombaan Nara selesai, Jovan akan kembali membawa Ara ke Belanda.
"Ra". Jovan melepaskan pelukkanya "Setelah Nara selesai lomba, kita kembali ke Belanda ya. Disana kita aman". Jovan menghapus air mata Ara.
Ara menggeleng "Tidak Kak. Aku akan tetap disini. Disinilah aku lahir. Mungkin ini jalan tadi hidupku".
"Tapi.............".
"Kan ada Kakak yang selalu ada buat Ara. Kenapa Ara harus takut?". Ujar Ara tersenyum membuat pria tampan itu juga ikutan tersenyum. Meskipun senyum itu hanya lah palsu.
Bersambung......
Kayhan ❤️ Kimara