Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 128. Karma



Happy Reading đź’—đź’—đź’—đź’—đź’—đź’—


Seorang pria berumur tengah berjongkok disamping pusara istrinya. Hari ini tepat tiga tahun sudah kepergian istri tercintanya.


“Hon”. Lirihnya mengelus pusara sang istri. Air mata lagi-lagi air mata berjatuhan dipipi keriputnya “Maafkan aku. Aku merindukanmu”. Ucapnya penuh kerinduan “Maafkan aku yang membuatmu pergi”. Lirihnya lagi penuh penyesalan.


Dia menangis sejadi-jadi nya. Kejadian tiga tahun silam masih melekat diotaknya. Bagaimana sang istri memaksanya untuk mencari keberadaan cucu menanantunya? Namun dia menolak karena tidak mau gadis mandul itu hadir lagi dalam kehidupannya.


“Maafkan aku”. Gumamnya lagi. Tangisnya begitu rintih dan penuh penyesalan.


Pria tua itu adalah Bagaskara. Kematian Wena membuat hidupnya hancur. Sang istri yang menemaninya lebih dari lima puluh tahun. Kehilangan itu membuat Bagaskara sadar atas apa yang dia lakukan terhadap kedua cucunya, Kayhan dan Seem.


Kematian Wena disebabkan oleh keras kepalanya Bagaskara. Istrinya meminta dia mencari dimana keberadaan Ara, karena Wena ingin Ara dan Kayhan bersatu kembali. Namun Bagaskara yang masih tidak akan pernah sudi menerima gadis mandul itu menolak dengan keras permintaan istrinya. Hingga akhirnya Wena jatuh sakit dan ngedrop total sampai menyebabkan dia meninggal dunia.


Bagaskara terpukul. Menyesal pun tidak ada gunannya. Sang istri sudah pergi menghadap sang pencipta karena tugas-tugas nya sudah selesai didunia ini. Bagaskara merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Sekarang Bagaskara paham bagaimana perasaan Kayhan dan Seem. Dia yang memisahkan cinta kedua cucu nya itu. Bagaskara merampas dengan paksa kebahagiaan yang sudah dibangun dengan susah payah oleh kedua cucunya itu. Ternyata kehilangan memang tak sebercanda ini.


Kepergian Wena membuat Bagaskara disalahkan. Putranya Bagas ikut menyalahkannya, bahkan Bagas sangat membenci Ayahnya. Ayahnya adalah penyebab kematian sang Ibu. Jika saja Ayahnya tidak mementingkan keegoisannya pastilah sang Ibu sekarang masih bersama dengannya. Bagas dan Erna memutuskan untuk pulang ke Australia dan meninggalkan Bagaskara seorang diri.


Bagaskara benar-benar merasa tak memiliki siapa-siapa. Kekayaan yang dia miliki tak mampu membuat keluarganya utuh kembali. Anak dan menantunya membenci dan meninggalkannya sedangkan kedua cucunya, Kayhan dan Seem sampai hari ini juga tak mau memaafkan atau sekedar melihat keadaannya.


“Ara”. Lirih Bagaskara.


“Maafkan Grandfa, maafkan Grandfa”. Dia terus memanggil nama Ara.


Jika saja bukan karena ingin bertemu dan meminta maaf pada Ara. Bagaskara sudah pasti ingin mengakhiri hidupnya dan menyusul sang istri. Namun, dia ingin menyelesaikan semua masalahnya sebelum dia pergi menghadap sang ilahi.


Selama tiga tahun Bagaskara, berusaha mencari keberadaan Ara. Namun dengan uang dan kekuasaan pun tak bisa menemukan cucu menantunya itu. Keberadaan Ara memang seperti disembunyikan oleh orang yang berkuasa. Sehingga membuat Bagaskara tak bisa menemukan dimana keberadaan Ara.


Bagaskara putus asa, dia menyerah dan hanya bisa berserah pada sang penguasa. Hidupnya sudah tak ada artinya lagi. Hidupnya hampa dan penuh penyesalan. Memang benar bahwa karma itu berlaku pada siapa saja yang bermain-main dengannya.


“Maaf Tuan, sepertinya hujan akan turun. Sebaiknya kita kembali”. Ucap sang assisten mengingatkan.


“Baik”. Bagaskara berdiri dan dibantu oleh sang assisten.


Selama tiga tahun berlalu Bagaskara hidup sebatang kara, tak ada anak atau cucu yang peduli padanya. Selain cucunya Naira yang lebih sering mengunjungi dan mengacek kesehatan sang Kakek.


Bagaskara menatap kearah luar jendela. Tatapannya kosong seperti hati dan jiwanya yang juga kosong. Usia yang sudah tak muda lagi membuat daya pikirannya juga tak tentu arah. Dia selalu memikirkan penyesalan dan kematian. Andai saja waktu bisa diulang kembali, dia tak ingin terlahir menjadi orang yang menaruh dendam. Pasti kehidupan masa tuanya takkan seperti ini.


Sampai di Mansion mewah keluarga Bagaskara. Sang assisten membukakan pintu untuk Tuan-nya, sambil membantu pria lanjut usia itu berjalan. Karena Bagaskara sudah memakai tongkat untuknya berjalan. Usia yang tak muda lagi tentu membuatnya tak bisa berjalan dengan lancar, bahkan keseimbanga tubuhnya juga tak mampu ditopang kedua kaki rapuhnya.


“Grandfa”.


Seorang wanita berjas dokter bersama seorang pria tampan dengan setelan jas lengkap ditubuhnya. Ada juga tiga bocah dua laki-laki dan satu perempuan. Bocah laki-laki yang satu kira-kira berusia lima tahun, bocah laki-laki kedua berusia tiga tahun dan bocah perempuan berusia satu tahun.


“Naira”. Senyum Bagaskara menyambut cucu satu-satunya yang peduli padanya.


“Grandfa”. Kedua bocah itu berlari memeluk Bagaskara. Kecuali bocah berusia lima tahun dia hanya menampilkan wajah datar saja


“Hai cucu-cucu Grandfa”. Bagaskara menerima pelukkan ketiga cicitnya itu.


“Bagaimana keadaanmu Grandfa?”. Naira mengelus lengan tua Bagaskara.


Bagaskara tersenyum “Grandfa baik-baik saja Nai”. Balas Bagaskara.


“Grandfa”. Nathan juga menyalami Bagaskara.


“Kau sehat Son?”. Bagaskara mengelus pundak Nathan.


“Sehat Grandfa”. Senyum Nathan.


Meski diawal pernikahan keduanya sempat ditolak oleh Bagaskara. Nathan yang notabene hanya anak pengusaha biasa. Bahkan dia hanya menjadi CEO yang diperusahaan milik Kayhan. Membuat Bagaskara menolak dengan keras lamaran Nathan.


Namun Nathan dan Naira berusaha membuktikan bahwa cinta keduanya adalah cinta sejati. Hingga akhirnya Bagaskara memberi restu pada cucunya Naira sampai mereka memiliki tiga anak.


Nathan dan Naira tidak menaruh dendam pada pria tua itu. Meski awalnya Naira sempat menolak ketika kedua Kakak sepupunya menitipkan Bagaskara padanya. Namun Naira tetap berusaha memaafkan kesalahan Kakek nya dan merawat pria tua itu.


“Ayo masuk”. Naira dan Nathan mengambil alih untuk membantu Bagaskara berjalan


Sedangkan ketiga bocah itu mengikuti dari belakang sambil saling mengandeng tangan satu sama lain. Sementara sang asissten melaksanaan tugasnya yang lain.


“Grandfa kemana saja?”. Tanya cicit laki-laki nomor dua


“Grandfa tadi jalan-jalan”. Sahut Bagaskara mengelus kepala cicitnya dengan sayang. Dia tidak mau menjelaskan darimana dirinya.


“Grandfa, ngobrol sama Nathan dan anak-anak dulu ya. Naira mau menyiapkan makan siang”.


“Iya Nak”. Bagaskara membalas dengan senyum. Setidaknya masih ada yang peduli padanya.


“Nathan, ada yang ingin Grandfa bicarakan padamu?”. Bagaskara menatap Nathan.


“Baik Grandfa”. Ucap Nathan “Leon, Leo, Lea. Kalian masih kesana ya Daddy sedang ada pekerjaan dengan Grandfa”. Ucap Nathan pada ketiga anaknya “Leon, bawa adik-adikmu bermain ya. Minta temani pelayan. Jangan dekat kolam renang dan jangan keluar dari pagar”. Tintah Nathan.


“Baik Dad”. Sahut Leon. Putra sulung Nathan dan Naira. Leon membawa kedua adiknya bermain, agar tidak menganggu percakapan Grandfa dan Daddy-nya.


“Apa yang ingin Grandfa bicarakan?”. Ucap Nathan dengan lembut. Meski dia pernah membenci pria tua in, namun saat melihat wajah rapuh itu hati Nathan mengiba.


“Apa ada informasi tentang Ara?”. Tanya Bagaskara penuh harap.


Nathan menghela nafas, lalu menggelleng “Belum Grandfa. Nathan dan William masih terus mencari dimana keberadaan Ara”. Sahut Nathan dengan nada beratnya. Sudah beberapa tahun terakhir ini dia mencari keberadaan Ara. Namun tetap saja tak menemukan mantan Kakak iparnya itu.


Bagaskara menunduk “Ini semua gara-gara Grandfa”. Ucap Bagaskara penuh penyesalan.


“Sudah Grandfa. Jangan menyalahkan diri terus”. Tandas Nathan mengelus punggung tua itu. Memberinyaa kekuatan. Bagaskara memang selalu menyalahkan dirinya.


Bersambung....


Kayhan ❤️ Kimara