Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 124.



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹


Kayhan disibukan dengan berkas yang ada ditangannya. Sekarang pria itu tak lagi stress seperti sebelum-sebelumnya. Dia harus tetap hidup dan bahagia dengan hidupnya sendiri. Entah sendiri atau berdua Kayhan berhak bahagia, bukan?


“Hufffffffffhhhhh”. Kayhan menghirup udara melepaskan lelahnya. Dia merenggangkan otot-otot tangannya.


“Tuan”.


Cody datang dengan membawa beberapa berkas ditangannya


“Ini berkas kerjasama kita Tuan. Silahkan anda lihat dulu, jika ada tambahan anda bisa menghubungi saya”. Jelas Cody


Kayhan mengambil dokumen ditangan Cody dengan wajah datar. Dia memeriksa dokumen itu dengan teliti.


“Okee.. Acc saja”. Dia mengambil bolpoin dan menandatangani berkas itu “Rincian biaya yang kita butuhkan. Pastikan kita mendapat profit 35%. Lakukan penasaran yang lebih tinggi, Tarik semua investor agar mau bekerjasama dengan kita”. Tintah Kayhan.


“Baik Tuan”. Cody mengambil dokumen itu kembali dari tangan Kayhan.


“Maaf Tuan. Dokter Nickho ingin bertemu dengan anda”.


Kening Kayhan berkerut. Bukankah Nickho hilang tanpa kabar tapi sekarang sepupunya itu malah ingin bertemu dengannya.


“Suruh dia masuk”.


“Baik Tuan”.


Cody keluar dari ruangan Kayhan. Tidak lama kemudian Nickho datang dengan jas dokter yang masih melekat ditubuhnya.


“Ada apa?”. Tanya Kayhan ketus. Dia kesal pada sepupunya itu yang hilang disaat Kayhan membutuhkan Nickho.


Nickho menyelonong duduk disofa ruang kerja Kayhan. Terasa lama juga dia tidak melihat sepupunya itu.


“Kemana saja kau selama ini?”. Kayhan ikut duduk disofa bersama sahabatnya.


“Biasalah. Urusan”. Jawab Nickho acuh dia malah memperbaiki posisi jam yang melingkar ditangannya


Kayhan memincingkan mata jenggah. Dia tidak merespon lagi hanya diam tanpa ekspresi.


“Bagaimana kabarmu?”. Tanya Nickho mengalihkan pembicaraan saat merasa suasana kembali dingin.


“Seperti yang kau lihat”. Sahut Kayhan juga tak kalah acuh.


Kayhan menyenderkan punggungnya, dia melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Setelah dia memutuskan untuk kembali bangkit, Kayhan membangun beberapa perusahaan baru. Sebenarnya dia sudah tidak butuh uang karena uang nya sudah banyak. Namun demi mencari kesibukkan agar bisa melupakan semua masalahnya.


“Kau terlihat sibuk akhir-akhir ini?”. Ujar Nickho menatap wajah lelah Kayhan. Dia kasihan pada sepupunya ini. Tapi tidak bisa berbuat banyak, karena jika dia mengatakan tentang istrinya pasti Ara akan kembali dalam bahaya.


“Yahhh begitulah. Aku sedang membangun beberapa cabang perusahaan baru di Eropa”. Sahut Kayhan “Apa tujuanmu datang kesini?”. Tanya Kayhan


“Hanya ingin melihat dan memastikan kondisimu. Aku dengar dari Cody sakit”.


Kayhan mencibir “Cihh, kemana saja kau? Aku hampir mati kau malah tidak ada”. Cibir Nickho.


Nickho memang sengaja menemui Kayhan diperusahaannya. Ada banyak hal yang ingin Nickho sampaikan pada Kayhan. Namun saat Nickho tahu bahwa Kayhan tak lagi meratapi kepergian Ara dia mengurungkan niatnya. Nickho tidak mau membuka luka lama Kayhan. Meski dia juga ikut dalam menyebabkan luka itu dengan menyembunyikan Ara.


Kayhan keluar dari gedung perusahaannya. Pekerjaan hari ini cukup menguras tenaga dan pemikiran sehingga membuat pria itu terlihat lelah.


“Aku harus membiasakan diri”. Ucap Kayhan menyemangati dirinya.


Namun wajah Kayhan semakin dingin. Dia juga jarang berbicara jika tidak penting. Dia tidak suka bertemu orang luar selain rekan bisnis dan Cody. Sejak perminta maafapan Wena dan Erna Kayhan tak pernah lagi bertemu orang luar. Meski sudah memaafkan kedua wanita itu namun tetap saja sifat Kayhan sama. Dia akan mengingat sampai akhir orang-orang yang menyakiti dirinya


Sampai di Apartementnya Kayhan segera membersihkan diri. Di Apartement mewah itu dia hanya tinggal bersama Cody dan dua orang pembantu nya. Seorang pria paruh baya yang berjaga sebagai satpam didepan gerbang Apartement. Satu wanita paruh baya istri dari si satpam sebagai tukang masak dan bersih-bersih rumah. Dia tidak suka banyak orang yang bekerja di Apartement miliknya.


Di London Inggris. Seem tampak duduk melamun menikmati bintang yang bertebaran dilangit malam. Sepintas kejadian enam tahun yang lalu saat dia terbangun tanpa busana. Dia terkejut bukan main.


“Apa kabar wanita itu? Apa dia hamil? Tidak mungkin aku kan melakukannya hanya sekali. Tapi dia masih virgin”. Gumam Seem menatap langit malam.


Kejadian enam tahun lalu terus saja berlarian diotak Seem. Sejak dia memutuskan untuk melupakan Ara. Sejak saat itu bayangan itu kembali menyerangnya.


“Argghhhhhhhhh”. Seem frustasi.


“John”.


“Iya Tuan”.


“Cepat cari rekaman CCTV di hotel Webren City enam tahun lalu. Aku mau rekaman itu segera ada ditanganku”. Tintah Seem.


“Baik Tuan”.


John tetap melakukan perintah Seem, meski dia bingung rekaman apa yang dimaksud karena sejak enam tahun silam Seem tak pernah lagi membahas tentang hotel. Dia trauma ketika mendapati kekasihnya tengah memadu kasih diatas ranjang tanpa sehelai benang pun ditubuh mereka.


Pikiran Seem tidak tenang. Selama ini dia memang tidak mencari wanita itu. Namun dia masih mengingat wajah wanita yang mendesah dibawah kungkungannya. Seem yang kala itu dipengaruhi obat perangsang tidak memperdulikan permohonan gadis itu. Dia melampiaskan semua hasratnya pada gadis yang sama sekali tidak bersalah padanya.


Seem masih mengingat betapa nikmatnya percintaan mereka. Seem melakukannya berulang kali tanpa memberi wanita itu istirahat. Adik kecilnya yang kala itu dibalut oleh lembah sempit yang sialnya membuat Seem mabuk kepayang.


“Arghhhhhhhhhhh. Sial”. Umpat Seem. Gairahnya kembali lagi naik saat mengingat kejadian itu. Seem benar-benar ingin bertemu gadis yang dia tiduri itu. Ingin meminta maaf dan bertanggung jawab.


Setelah sekian lama adik kecilnya tidak bangun kini terasa sesak hanya karena mengingat percintaan mereka. Dulu hanya Ara yang bisa membuat adiknya bangun. Namun setelah Seem melepaskan Ara, ada hal baru yang membuat adiknya itu bangun.


“Sial”.


Seem masuk kedalam kamarnya. Dia segera menuju kamar mandi untuk menidurkan adik kecilnya yang serasa mendesak dibawah sana.


Seem mengeram kesal. Ada-ada saja membuatnya harus meluangkan waktu menidurkan kembali barang berharga itu.


Setelah menidurkan adik kecilnya. Seem keluar dari kamar mandi dengan wajah ditekuk kesal. Apa yang harus dia lakukan? Hanya Ara dan gadis yang pernah menghabiskan malam dengannya yang bisa membuat hasratnya terpuaskan. Tidak mungkin Seem mencari Ara hanya untuk melampiaskan nafsunya. Meski Seem tak bisa berbohong jika dia masih mencintai gadis nya itu.


Seem melempar tubuhnya di kasur king size miliknya. Dia menatap langit-langit kamarnya, berusaha mencari cara agar dia bisa menuntaskan hasratnya. Dia tidak mungkin menyewa wanita lain karena itu hanya aka n semkain membuatnya akan semakin alergi pada wanita. Apalagi bersama wanita sewaan mungkin belum dia mencapai puncak kenikmatan dia sudah muntah duluan dan adiknya langsung loyo begitu saja.


**Bersambung......


Kayhan ❤️ Kimara**