
Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta atau dekat dengan ssseorang. Jika aku mulai menyukai dan menaruh rasa padamu, percayalah kau orang yang sangat special untukku. Kuharap kau mengerti dan belajar membuka hati, hanya untuk sekedar membalas rasaku.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Ara sudah bersiap-siap dengan rapih dan sekarang dia sedang berkutat didapur menyiapkan sarapan pagi untuknya dan untuk sang adik. Tidak lupa juga dia membuatkan bekal untuk Mey, adik kecilnya itu sudah terbiasa membawa bekal saat kesekolah.
Ara juga membuatkan bekal untuk Roger dan hari ini gadis itu akan mengunjungi Kakaknya dipenjara.
"Sarapan dulu Mey". Tawar Ara ramah saat melihat adiknya duduk dikursi meja makan "Ini bekal untuk mu, jangan lupa dimakan ya". Ucap Ara lembut pada adiknya.
Mey memutar bola matanya malas "Kakak pikir aku anak kecil yang harus bawa bekal setiap hari ke sekolah? Aku malu Kak, semua teman-teman itu menertawakan dan menghina aku karena miskin. Harusnya Kakak kasih aku uang jajan yang banyak, bukan malah kasih bekal seperti ini".
Pranggggggggggggg
Mey melemparkan kotak nasi itu, hingga isinya tumpah dan berceceran dilantai.
"Mey". Ara sampai menggeleng kepala melihat tingkah adiknya.
"Mana yang jajanku, dan buat bayar uang sekolah". Mey langsung menggeledah tas Ara dan mengambil semua uang dan kartu kredit Kakaknya.
"Mey, jangan ambil semua. Itu untuk biaya makan kita sehari-hari". Cegah Ara inging mengambil tasnya. Tapi terlambat Mey sudah mengambil semua uang Ara.
"Itu bukan urusanku". Mey mellengang pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Ara terduduk dikursi meja makan. Jika dulu Kakaknya yang bersikap seperti itu, sekarang adiknya dan bahkan lebih parah.
Ara membersihkan bekas makanan yang berserakkan dilantai, setelah selesai Ara bersiap-siap kekantor sambil menenteng kedua bekal ditangannya.
Seperti biasa Ara menaiki bis, dan duduk didekat jendela bis sambil menikmati indahnya pagi di Kota Jakarta. Tatapan gadis itu kosong beberapa kali dia menghela nafas dengan kasar. Dia harus mulai terbiasa dengan hidup baru dan suasan baru.
Sampai disebuah gedung pencakar langit, Ara langsung turun dari bis dan masuk kedalam gedung perusahaan.
Meskipun suasana hatinya sedang tak baik, gadis itu tetap saja menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.
Saat Ara hendak masuk kedalam lift, dia terkejut ketika melihat Kayhan, Nathan dan Cody yang juga berada disana. Biasanya ketiga pria itu selalu memakai lift khusus Presdir.
"Selamat pagi Tuan". Sapa Ara ramah dan juga canggung, bagaimana tidak canggung karena Kayhan pernah memeluknya sangat erat dan melihat dirinya rapuh.
"Pagi Nona Ara".
"Pagi". Sahut Kayhan dan Nathan bersamaan. Nathan dan Cody menatap Kayhan tak percaya, ini adalah pertama kalinya Kayhan mau membalas sapaan pagi seseorang dan biasanya selalu dijawab dengan wajah datar dan dingin.
Ara masuk dan berdiri didekat Cody, membuat Cody tersimpul senang. Cody senang melihat Ara dekat dengannya. Sedangkan Kayhan menekuk wajahnya kesal, ingin dia tarik Ara untuk tidak berada didekat Cody.
Pintu lift terbuka, keempat orang itu keluar dari lift dan menuju tempat masing-masing.
"Pagi Kimara Ferarer". Sapa Martha yang baru juga datang.
"Pagi juga Ta". Sahut Ara singkat sambil duduk di kursinya.
"Ra, kenalin ini William, di karyawan baru di divisi kita". Martha memperkenalkan seorang pria blasteran yang lumayan tampan.
"William".
"Ara".
Setelah berkenalan mereka kembali ke meja masing-masing. Hari ini tidak ada briefing pagi, karena sesuai kesepakatan setiap hari Senin tidak ada briefing.
Ara mengerjakan semua pekerjaannya dengan santai dan lihai, jari lentik gadis itu berlarian dikeyboard komputer miliknya.
Jam makan siang telah tiba dan pekerjaan Ara juga sudah selesai. Ara membereskan mejanya untuk makan siang bersama Kakaknya Roger karena setelah ini dia akan menjengguk Roger dipenjara.
"Ra, makan siang yuk". Ajak Martha bersama William.
"Duluan saja Ta, aku mau keluar sebentar". Balas Ara tersenyum sambil menyangkutkan tasnya dibahu, keduanya tangannya meneteng bekal masing-masing.
"Kemana Ra?". Sambung William.
Ara hanya tersenyum lalu mellengang meninggalkan Martha dan William. Ara tidak ingin menjelaskan dia kemana, baginya tidak perlu orang lain tahu seperti apa hidup Ara.
Ara menunggu taksi yang dia pesan melalui aplikasi online. Tiba-tiba mobil mewah sport berhenti didepan Ara.
"Masuk". Suruh seorang pria dengan suara dinginnya.
"Tidak Tuan". Tolak Ara halus.
"Apa mau saya peluk dan gendong untuk masuk kedalam mobil?". Ancamnya.
Ara langsung kesal dan masuk dengan wajah ditekuk. Pria itu selalu saja membahas hal-hal memalukan seperti itu.
"Mau kemana?". Tanya pria itu masih fokus menyetir mobilnya.
"Kantor polisi". Sahut Ara singkat.
Pria itu tak merespon dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, menuju kantor polisi.
"Selamat siang Tuan Kayhan, ada yang bisa kami bantu?". Tanya salah polisi ramah pada Kayhan, sementara Ara hanya diacuhkan begitu saja.
"Saya ingin bertemu dengan Roger Ferarer". Sahut Kayhan dingin.
"Baik Tuan, silahkan tunggu". Sahut sang polisi.
Ara dan Kayhan duduk dengan tenang sambil menunggu Roger datang. Tampak diwajah Ara ketidaksadaran, bahkan gadis itu seperti duduk tidak tenang.
"Tenang lah". Tegur Kayhan mengenggam tangan Ara. Dimana genggaman tangan Kayhan itu justru membuat Ara membeku seketika, kenapa pria ini jadi bersikap lembut padanya.
"Iya Tuan". Ara berusaha melepaskan genggaman tangan Kayhan, namun Kayhan semakin kuat mengenggam nya. Kayhan seakan tak rela jika Ara melepaskan genggaman tangannya.
"Ara".
"Kak Roger".
Ara langsung berhambur memeluk Roger "Kak hiks". Isak Ara dipelukkan Roger.
Roger membalas pelukkan adiknya itu. Sejujurnya Ara adalah gadis yang sangat manja pada Roger, bahkan adiknya itu dulu tidak bisa tidur jika tidak dipeluk Roger.
"Rindu?". Ara hanya mengangguk.
Roger melepaskan pelukkan Ara dan menyeka air mata adiknya itu "Sudah jangan menangis lagi, nanti tambah jelek". Goda Roger sambil mengacak rambut adiknya.
"Kakak".
"Dimana Mey?". Tanya Roger karena sedari tadi tidak melihat adiknya "Tuan Kayhan". Sapa Roger ramah.
Kayhan hanya merespon dengan anggukan saja.
"Ayo Kak duduk. Ara bawakan makanan kesukaan Kakak". Ucap Ara menuntun pria itu duduk disampingnya.
Ara membuka rantang nasi yang dia bawa dari rumah. Ara menata makanan itu dengan rapih, senyuman nya terlihat manis. Ara berusaha menyembunyikan semua rasa sakitnya di depan Roger.
"Kita makan bareng ya sayang". Pinta Roger.
"Kakak, makan saja duluan". Tolak Ara.
"Tidak sayang. Kakak akan suapin Ara". Roger tak mau kalah, dia mengambil makanan dan sendok itu lalu menyuapi adiknya. Moment langka yang sudah lama tak Kayhan lakukan pada adiknya.
"Tuan Kayhan apa mau juga ikut makan?". Tawar Ara menyerahkan kotak nasinya pada Kayhan
"Boleh". Kayhan mengambil makanan Ara.
"Enak sekali". Batin Kayhan menikmati masakkan Ara.
Roger menyuapi Ara dengan telaten dan sesekali juga menyuapi dirinya sendiri. Mereka berdua makan dengan lahap saling melepas rindu satu sama lain.
Entah kenapa Kayhan merasa janggal dan tidak suka melihat Roger memperhatikan Ara, menurut nya hal itu terlalu berlebihan. Tapi Kayhan tak punya hak untuk cemburu apalagi marah.
"Ini Kak minum dulu". Ara menyerahkan sebotol minuman pada Ara "Ini untukmu Tuan". Ucap Ara juga menyerahkan sebot mineral pada Kayhan.
"Ara jaga diri baik-baik, Kakak janji setelah keluar dari sini Kakak akan jaga Ara". Roger mengenggam tangan adiknya yang terletak diatas meja.
"Kakak juga baik-baik". Ucap Ara berkaca-kaca.
"Dimana Mey, sayang?". Tanya Roger sekali lagi karena dari tadi Ara tidak menjawab pertanyaan nya. Roger tahu jika Ara menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kak". Suara Ara seakan tercekat. Ara tak ingin menceritakan tentang adiknya pada Roger, karena dia tahu Kakaknya pasti akan murka jika tahu apa yang dilakukan Mey padanya.
"Mey masih disekolah Kak. Nanti Ara akan ajak Mey jengguk Kakak disini". Jawab Ara memaksakan senyum manis.
"Ra, jangan bohong Kakak tahu bah.....".
"Maaf Tuan, jam besuk nya sudah habis dan silahkan kembali ketempat anda". Salah satu polisi memotong perkataan Roger.
"Tunggu sebentar pak, saya harus.....".
"Maaf Tuan, mari ikut kami". Paksa polisi.
"Kakak tenang ya. Ara baik-baik saja". Ara kembali memeluk Roger.
Roger membalas pelukkan adiknya "Jika ada sesuatu jangan ditahan sayang, cerita pada Kakak. Kakak tidak akan membiarkan Ara melewati semuanya sendirian". Roger mengecup kening Ara dengan sayang.
Kayhan yang melihat hal itu, seketika hatinya memanas. Entah kenapa dia cemburu? Ya Kayhan menyukai Ara dan sangat menyukai gadis itu? Tapi masalah nya bagaimana dengan Ara? Apakah juga memiliki perasaan yang sama padanya?
**Bersambung......
Salam hangat.
Kayhan ❤️ Kimara**.