
**Sewindu sudah ku tak mendengar suaramu, ku tak lagi lihat senyuman yang selalu menghiasi hariku.
Sewindu sudah kau berada disisi kau menghilang dari pandangan ku, tak kini kau dimana....
#StevanPasaribu**.
Happy Reading đšđšđšđš
Kayhan membaringkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa lelah karena aktifitas hari ini. Karena merasa tubuhnya lengket Kayhan membersihkan diri sebelum melalang buana kealam mimpi.
Setelah selesai mandi, Kayhan memilih piyama tidurnya. Lagi-lagi dia teringat akan istrinya biasanya, istrinya selalu menyiapkan baju ganti untuknya diatas ranjang. Kini dia harus menyiapkan segala sesuatu nya sendiri tanpa bantuan sang istri lagi.
âDimana dirimu Ra?â. Gumam Kayhan sambil memakai piyama tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya didepan cermin. Biasanya sang istri selalu membantu mengeringkan rambut basahnya.
Kayhan merasakan kesunyian yang luar biasa dalam dirinya. Perpisahannya dengan Ara seakan menghancurkan bangunan yang mereka bangun dengan susah payah. Padahal Ara sudah berjanji untuk tidak meninggalkan dirinya tapi kini justru Ara sendiri yang ingkar janji dan meninggalkan Kayhan sendirian.
Kayhan memeluk erat bantal guling itu. Kerinduannya memeluk sang istri benar-benar terasa berat. Kebiasaannya memeluk Ara sebelum tidur membuatnya candu dan enggan menutup mata tanpa memeluk Ara-nya.
Ucapan selamat tidur yang tidak pernah lagi Kayhan dengar dan ucapkan. Dulu ucapan itu bagai nyanyian yang mengiringi tidurnya sebelum terlelap kealam mimpi. Kini ucapan itu bahkan tak lagi bisa didengar olehnya dengan baik atau dalam keadaan sadar.
Hidup Kayhan terasa mati. Meskipun dia menyibukkan diri dengan berbagai macam pekerjaan atau kegiatan. Tetap saja Ara-nya tak pernah lari dalam pikiran Kayhan dan masih terus memikirkan istri kecilnya itu. Bayangan Ara tak pernah lepas dalam pandangan Kayhan. Dimana pun dia berada, Ara tetap ada dalam hati dan jiwanya.
Seem duduk ditaman belakang Mansionnya. Ditangannya kanvas disampingnya ada beberapa cat yang dia gunakan untuk melukis. Jari-jarinya menari dengan cepat diatas kanvas itu. Entah apa yang sedang dia lukis. Karena melukis adalah dunia Seem, dia mengeluarkan semua emosinya melalui lukisan dan dengan melukis dia dapat melihat dunia dengan mata nya sendiri.
Lukisan Seem selesai, dia tersenyum puas dengan hasil coretan tangannya. Tidak heran jika galeri lukisan Seem banyak diminati oleh para pencinta lukisan.
âDimana dirimu Ra?â. Gumam Seem sambil mengelus lukisan yang baru saja dia selesaikan. Ya dia melukis wajah Ara yang tergambar rapih diatas kanvas itu.
âAku rindu kamu Ra? Bagaimana kabarmu disana? Apa kau dan kandunganmu baik-baik saja?â. Seem mengalihkan pandangannya keatas langit yang bertaburan bintang. Dia teringat saat pertama kali bertemu Ara dimalam hari, ditaman yang menjadi tempatnya mencurahkan semua isi hatinya.
Ara yang saat itu sedang menangis, justru terlihat sangat lucu dan menggemaskan dimata Seem. Pertama kalinya Seem merasa tidak gatal-gatal saat berdekatan dengan seorang wanita setelah sekian lama dipatahkan oleh penghianatan dari mantan kekasihnya.
âTuanâ.
âAda apa John?â. Tanya Seem tanpa mengalihkan pandangan pada sang assisten yang sedang berdiri disampingnya.
âTuan Besar dan Nona Martha bekerja sama untuk menjebak Nona Ara, supaya dia keluar dari persembunyianâ. Penjelasan John sontak membuat Seem menatap sang asissten. Jika berbicara tentang Ara, maka dia adalah orang pertama yang akan maju.
âMaksudmu?â.
âNona Martha menaruh dendam pada Nona Ara Tuanâ. Sahut John âKecelakaan yang dialami Tuan Kay, memang kerjasama dari Nona Martha dan Tuan Besarâ.
Seem mengeraskan rahangnya. Tatapan matanya seakan mampu menebus tembok âSudah kuduga wanita itu bukan wanita baik-baik. Peringatkan William untuk hati-hati padanyaâ. Tintah Seem
âBaik Tuanâ.
âBagaimana tentang Ara, apa sudah ada informasi?â. Tanya Seem tanganya melanjutkan lukisannya.
âBelum ada informasi Tuan. Orang kita sedang berusaha mencari keberadaan Nona Ara. Sepertinya orang yang melindungi Nona Ara bukan orang biasaâ. Ucap John.
âJovander Van Derg, apa kau sudah menyelidiki siapa pria itu?â.
âSudah Tuan. Identitasnya sengaja di sembunyikan dan orang kita tidak bisa masuk kedalam system keamanannyaâ.
Terdengar helaan nafas berat dari mulut Seem. Seem tak mempertanyakan apapun lagi, dia masih focus pada lukisannya dan menyelesaikan lukisannya dengan baik.
âSaya permisi Tuanâ. Tak ada sahutan dari Seem. John menghela nafas berat. Sifat Seem kembali lagi seperti semula, dingin dan tak tersentuh.
John mellenggang pergi meninggalkan Seem. Karena jika menunggu sahutan dari Seem maka dia takkan beranjak dari tempat tidurnya.
Nathan masuk kedalam apartementnya. Dia benar-benar jengkel pada sahabatnya Kayhan itu, yang sangat menyebalkan dan menyuruhnya mengurus perusahaan sebesar itu seorang diri. Bagaimana tidak semua usaha Kayhan yang ada di Indonesia semua harus ditangani oleh dirinya. Hampir setiap hari Nathan mengomeli karyawan nya yang tidak becus bekerja.
Nathan duduk disofa sambil memijit pelipihnya. Jika genting begini sangat butuh seseorang untuk menjadi sandaran atau sekedar teman curhat.
âDimana dirimu Ra?â. Malah Ara yang ada didalam pikirannya. Dua tahun bekerja dengan Ara membuat Nathan terbiasa. Gadis pendiam itu selalu saja bisa diandalkan dalam segala hal. Padahal jika dilihat dia pendidikannya paling rendah dari yang lainnya.
âArggghhh ini semua gara-gara Kayhan. Harusnya dia kembali kesini bukan malah menghukumku dengan mengurus perusahaan jeleknya ituâ. Gerutu Nathan âAku harus cari asissten untuk membantukuâ. Guman Nathan lagi tampak berpikit âTapi siapa ya? Selain Ara, siapa lagi yang multitalenta? Harusnya William, tapi bocah itu malah mengundurkan dirinyaâ. Nathan mengendus kesal.
Dia meronggoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.
âHallo Will, bisa datang ke apartementku sekarang? Baik aku tungguâ. Setelah selesai melakukan panggilan, Nathan mematikan handphonenya
Tidak lama kemudian William datang. Wajahnya ditekuk kesal. Selalu saja Nathan memanggilnya dalam keadaan darurat.
âAda apa dengan wajahmu?â. Ledek Nathan.
William memutar bolan matanya malas âAda apa Kakak memanggilku kesini?â. Tanya William ketus.
Nathan malah terkekeh mendengar pertanyaan adiknya itu âJangan ketus begitu dengan Kakak mu yang tampan ini. Kau mau dikutuk jadi adik durhaka?â. Ejek Nathan.
âSudahlah Kak, cepat katakan ada perlu apa Kakak menyuruhku kesini?â.
Nathan menghela nafas âKembalilah bekerja dan jadi asisstenkuâ. Pinta Nathan dengan menatap adiknya.
William memincingkan mata âKenapa aku harus jadi asisstenmu? Aku mau kembali ke Amerikaâ. Sahut William.
âKakak tidak menerima penolakkan Will. Bantu Kakak mengelola perusahaan Kayâ.
âCih, itu bukan perusahaanmu Kak. Kenapa kau yang repot mengurusnya? Harusnya kan Kay yang mengurus semuanyaâ. Ucap William. Dia masih kesal saat mengingat Kayhan yang menepis tangannya saat dia hendak mengucapkan selamat pada Ara.
âIni perintah Kak Seemâ. Sahut Nathan.
âPerintah Kak Seem, atau perintah Kakak?â. Sindir William
Nathan hanya cenggesan, adiknya ini memang cerdas dan susah sekali untuk dikelabui.
âMulai besok kau harus kembali bekerja dan jadi asisstenkuâ. Perintah Nathan seperti tak mau menerima bantahan dari adiknya.
âTerserah padamu Kakâ. William berdiri menuju kamar Nathan.
âEhhh mau kemana?â.
âNumpang tidur. Malas balik malam-malamâ. Tanpa menunggu suara protes dari Kakak nya William langsung merebahkan tubuhnya dikamar Nathan.
Sedangkan Nathan mengendus kesal. William memang selalu begitu, menyebalkan dan manja. Namun Nathan menyayangi adiknya itu.
Nathan dan William adalah saudara beda Ibu. Ibu Nathan adalah istri pertama dari Ayah nya yang sudah meninggal sejak Nathan kecil. Ayah Nathan menikah dengan Ibu William janda beranak dua yang juga ditinggal mati oleh suaminya. Dari pernikahan mereka lahirlah William. Meskipun beda Ibu namun keduanya saling menerima satu sama lain. Nathan menyanyangi William seperti adik kandungnya sendiri dan begitu juga dengan William.
Nathan memang memilih tinggal sendiri dan tidak mau merepotkan Ayah dan Ibunya. Ibu tiri Nathan sangat menyanyangi Nathan juga seperti anak kandungnya.
Bersambung.......
Kayhan â¤ď¸ Kimara