Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 98. Penyesalan William



Seseorang akan sangat berarti setelah kita kehilangan dia.......


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹


William masih mengenggam tangan Martha yang terasa dingin. Dia tidak beralih dari sana barang sejenak pun.


Penyesalan William dan rasa bersalah yang teramat sangat. Tanpa dia sadari sebenarnya dia sudah jatuh cinta pada gadis ini. Dia hanya membohongi dan berusaha untuk tidak melupakan Ara dan tidak mau memberi celah Martha masuk. Padahal nyatanya Martha sudah masuk kedalam hatinya, dia menyangkal dengan mulutnya, tapi kadang hatinya sering merindukan ocehan gadis berisik itu.


"Mar". Tangan William terulur mengusap kepala gadis yang tertidur lelap itu. Setelah tidak sadarkan diri selama dua hari, Martha di nyatakan koma.


"Maaf".


"Bangunlah. Maafkan aku Mar. Maafkan aku. Aku merindukan perusuh berisik seperti mu. Jangan tinggalkan aku. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Bangun Mar". Lirih William. Tak bisa William bohongi jika dia merasakan ketakutan jika sampai terjadi sesuatu pada Martha. William takkan memaafkan dirinya.


Brakkkkkkkkk


"Martha".


Seorang wanita paruh baya masuk dengan keadaan menangis. Dia langsung memeluk Martha yang terbaring lemah.


"Hikssss maafkan Mama". Dia menguncang tubuh putrinya.


"Bangun Nak. Jangan tinggalkan Mama. Maafkan Mama yang selama ini tidak peduli padamu. Maafkan Mama yang mengabaikanmu, hiksssss". Wanita paruh baya itu masih terus memeluk putrinya, menguncang tubuh Martha agar bangun dan mendengar suaranya.


William menyingkir. Dia berdiri mematung. Sekarang William paham kenapa Martha mengejarnya dan menginginkan cinta nya. Karena Martha memang tidak mendapatkan kasih sayang dari sang Ibu yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.


"Bangun Nak". Wanita itu masih menangis sambil mengenggam tangan putrinya. Putri kecil yang dulu sangat manja, namun setelah kepergian sang Ayah dia tidak lagi peduli pada putri kecil itu.


"Maafkan Mama. Maafkan Mama. Bangun sayang, Mama menyanyangi mu. Maafkan Mama yang selalu melukaimu. Maafkan Mama".


Wanita itu hanya mampu mengucapkan kata maaf. Selama ini dia tidak pernah memberikan kasih sayang pada putri satu-satunya itu. Dia terlalu asyik dengan kenikmatan dunia dan mencari uang dengan cara yang tak biasa. Sehingga membuat Martha menjadi gadis keras kepala dan sangat membenci Ibu nya.


William mundur perlahan. Dia keluar dari ruangan Martha. Dia sudah tak sanggup lagi mendengar ucapan Ibu Martha yang mengatakan tidak pernah memberikan nya kasih sayang.


William selalu teringat, bagaimana Martha bermanja-manja padanya seakan wanita itu minta diperhatikan lebih dari dirinya sendiri.


"Will". Nathan menepuk pundak adiknya yang tengah duduk didepan ruang rawat Martha.


William menangkat pandangan nya "Kak". Sahut William dengan suara seraknya.


Nathan duduk disamping William. Dia menatap adiknya dengan kasihan. Kadang benar, seseorang akan sangat berarti setelah kita kehilangan dia.


"Apa kau mencintai nya?". Tanya Nathan.


William sejenak terdiam dia mengembuskan nafas perlahan "Aku tidak tahu Kak. Tapi aku takut kehilangannya. Aku takut dia pergi meninggalkan ku. Aku juga merindukan ocehan dan suara berisiknya. Aku rindu dia yang selalu membawakan ku makan siang yang sama sekali tak pernah ku makan".


Nathan tersenyum mendengar jawaban William. Dia menepuk kembali pundak adiknya.


"Percayalah Will kau sudah jatuh cinta padanya". Senyum Nathan menurunkan tangannya kembali.


"Cinta memang unik, kadang dia jatuh pada orang yang kita anggap tidak tepat. Kadang juga dia jatuh pada orang yang kita anggap adalah cinta kita. Tapi pada kenyataannya cinta selalu berpulang pada tempatnya".


Nathan menatap adiknya "Jika kau mencintainya, perjuangan kan dia. Jangan menyesal setelah kau benar-benar kehilangan nya. Bantu dia bangkit dari keterpurukan dan balas semua perasaan nya". Ucap Nathan.


William terdiam dan membisu. Dia tidak tahu harus memberi respon apa atas ucapan Kakak nya. Dia juga tidak tahu harus melakukan apa agar Martha segera bangun dari komanya.


"Kakak akan membantumu". Lanjut Nathan lagi.


"Terima kasih Kak". William memeluk Kakak nya. Nathan memang Kakak terbaik bagi William. Mereka berdua saling mendukung satu sama lain, saat ada masalah atau harus mengambil keputusan besar tak jarang William meminta pendapat Nathan.


William melepas kan pelukkannya "Apa Kakak sudah menyelidiki tentang kecelakaan Martha?". Tanya William menyenderkan punggungnya.


"Kecelakaan ini sengaja disabotase. Rem mobil Martha blong dan oli nya kering. Seperti kecelakaan yang Kayhan alami, ini sudah direncanakan oleh seseorang". Sahut Nathan.


"Siapa kira-kira Kak?". Tanya William.


Nathan mengangkat bahunya "Kakak tidak tahu pasti. Karena polisi seperti sengaja untuk tidak menyelidiki kecelakaan ini".


"Apa mungkin orang dibaliknya bukan orang sembarangan? Tapi apa hubungannya dengan Martha. Setahuku selama ini Martha tidak pernah memiliki munsuh". Gumam William.


William berpikir keras, siapa kira-kira yang memiliki masalah dengan Martha. Setahu nya Martha selalu memiliki hubungan yang baik dengan semua orang, kecuali Ara karena memang Martha sangat membenci Ara. William tahu jika Martha tak benar-benar membenci Ara, dia hanya cemburu dan juga iri pada gadis itu.


"Sebaik nya kau pulang lah dan ganti baju. Mom dan Dad mencari mu. Kakak akan mengutus bodyguard untuk menjaga Martha".


William mengangguk "Apa Kakak akan kembali ke kantor?". Tanya William.


"Tidak! Kakak akan makan siang bersama Dokter Naira". Jawab Nathan sambil tersenyum.


William memincingkan mata "Gebetan Kakak?". William menyelidik.


"Calon". Celetuk Nathan "Doakan saja jodoh dan kau segera punya Kakak ipar". Nathan cekikian melihat wajah kesal adiknya.


"Ck, terserahmu saja Kak. Sepertinya jiwa playboy mu kembali lagi". Sindir William.


Bukannya tersinggung William malah tergelak "Seperti nya akan kumat lagi". Nathan menimpali sambil beranjak meninggalkan William.


William menggeleng kepala. Nathan memang playboy kelas kakap. Gelar playboy sudah melekat dalam dirinya sejak duduk dibangku SMA. Tak jarang dia mendapat julukan yang aneh dari parah sahabat.


Namun, setelah dia bertemu Ara dan gadis itu gadis satu-satunya yang tidak tertarik padanya. Dia merasa jiwa playboy nya turun pasaran, berbagai cara dia lakukan untuk mendekati Ara tapi tetap saja dia kalah langkah oleh sahabat nya Kayhan.


William meninggalkan rumah sakit dan menjalan kan mobilnya. Dia pulang sebentar untuk menganti baju, karena dari kemarin dia tidak pulang-pulang dan setia menemani Martha dirumah sakit.


Sampai dirumahnya William memarkir mobil dihalaman.


"Selamat siang Tuan Muda". Sapa satpam dipost.


"Siang Kang Asep". Sahut William melempar kunci mobilnya pada Asep agar memasukkan mobilnya kedalam garasi mobil keluarga miliknya.


William masuk sambil melepaskan dasi dan jasnya. Dia mengulung kemeja yang melekat ditubuhnya.


"Son".


"Mom".


William memberikan kecupan singkat dipipi sang Mommy.


"Apa kau baik-baik saja?". Tanya Wirna menatap putranya.


William menghela nafas "Apa Kakak sudah menceritakan semua nya pada Mom?".


Wirna mengangguk "Apa kau mencintai gadis itu?".


"Aku tidak tahu. Tapi aku merasa nyaman didekatnya".


"Jika memang mencintainya perjuangankan dia. Jangan permainkan perasaan anak orang". Nasehat Wirna.


"Apa Mom menyetujui hubunganku dengan nya?".


Wirna tersenyum simpul "Jika memang itu bisa membuat mu bahagia Mom pasti akan merestui. Mungkin selama ini Mom memang tidak menyukainya tapi mendengar cerita Kakak mu, Mom yakin jika dia gadis yang tepat dan baik untukmu". Sahut Wirna mengelus lengan putra bungsunya.


"Tapi.......".


"Tapi apa? Apa karena dia lumpuh? Cacat?". William tersendak mendengar pertanyaan sang Ibu. Dia menatap Ibu nya dengan sendu. Ibu nya sudah tahu kondisi Martha.


"Mom, tidak pernah mempermasalahkan itu Son". Wirna menghela nafas pelan "Mom, pernah bertemu seorang gadis yang tulus mencintai suami nya dengan tulus. Dia rela berkorban demi sang suami. Meski dia harus pergi dengan cara yang salah". Mata Wirna berkaca-kaca. Dia teringat pada seorang gadis yang pernah menolongnya beberapa waktu lalu. Dia terkejut saat mengetahui bahwa gadis tersebut terpaksa meninggalkan sang suami yang koma dirumah sakit.


"Siapa Mom?". Tanya William penasaran. Tak pernah Ibu nya itu tertarik pada seorang wanita apalagi kebanyakkan wanita hanya modus dan mencari perhatian.


Wirna menghela nafas "Mom tidak tahu siapa namanya. Tapi dia sangat cantik dan juga baik. Mom sudah mencarinya tapi Mom tidak menemukan nya".


"Dari mana Mom tahu jika dia meninggalkan suaminya dalam keadaan koma dan apa alasannya?".


"Mom, tidak sengaja mendengar ucapannya saat dia berbicara dengan suami nya yang tengah koma".


Bersambung........


Kayhan ❤️ Kimara