
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jovan dan Ara mengantar anak-anaknya kesekolah serta Aldo ke sekolah nya. Hari ini hari pertama mereka masuk sekolah selama pindah ke Indonesia.
Ara dan Jovan beserta Aldo turun dari mobil mengantar para anak-anak mereka kedepan kelas.
"Sayang, belajar yang baik ya. Ingat jangan nakal-nakal nanti Mommy jemput". Ucap Ara memperbaiki leher dasi keempat anaknya secara bergantian.
"Iya Mommy". Jawab mereka kompak.
"Ayo peluk Mommy nya". Keempatnya kembali kompak memeluk sang Ibu.
"Ayah nya juga donkkk". Jovan menjongkokkan tubuhnya juga menyamakan tingginya dengan keempat buah hatinya.
"Ayah". Mereka berempat memeluk Jovan dengan penuh kasih sayang.
Hati Jovan selalu menghangat ketika Quardruplets KM itu memeluk nya. Dia merasakan benar-benar memiliki anak.
Jovan dan Ara melanjutkan ke sekolah Aldo. Sementara Shella sudah berangkat ke butik miliknya karena dia sedang mendapat orderan gaun yang cukup banyak.
"Bunda, Ayah. Ado masuk ya?". Aldo menyalimi kedua orangtua angkatnya itu yang sudah menjadi kebiasaan nya sejak kecil.
"Iya sayang. Hati-hati. Semangat belajarnya. Jangan lupa makan siang". Seru Ara memperbaiki topi rambut Jovan serta dasinya. Jovan sudah duduk dibangku sekolah menengah pertama.
"Iya Bunda".
Cup Aldo mencium pipi Ara dengan sayang. Membuat wanita beranak empat itu tersenyum simpul.
"Ayah tidak disayang?". Sindir Jovan memasang wajah cemberut.
Aldo malah menggeleng "Ado masih normal Ayah". Celetuk Aldo.
Membuat Jovan dan Ara mendelik. Ara menahan tawa melihat wajah kesal Jovan. Aldo selalu saja membuat Jovan tak berkutip. Padahal Jovan hanya ingin menggoda Aldo tapi malah dia dibuat bungkam dengan ucapan putra angkatnya itu.
Jovan melanjutkan untuk mengantar Ara ke galeri miliknya. Dia tersenyum hangat melihat wanita disampingnya yang sedang menatap kearah jendela mobil.
"Ra".
"Iya Kak?". Segera wanita itu melihat lawan bicaranya "Ada apa?". Tanya Ara lembut.
"Bagaimana pertemuan mu dengan Bagaskara?". Jovan masih fokus menyetir.
Ara menampilkan senyum "Baik-baik saja Kak. Dia sepertinya tidak sejahat dulu". Sahut Ara.
"Syukurlah". Senyum Jovan. Tangannya terulur mengusap kepala wanita empat anak itu. Seandainya Ara adalah istrinya. Jovan ingin sekali memeluk Ara dengan erat.
"Terima kasih Kak". Ara membuka selbeth nya.
"Iya Kak". Senyum Ara. Tak lupa dia bersalaman dengan Jovan. Rutinitas biasa yang dia tetapkan sampai sekarang.
Jovan melajukan mobilnya hingga sampai diperusahaan miliknya. Berita tentang dirinya yang sempat viral dan dituduh berselingkuh dengan istri dari seorang CEO ternama kini hilang bak ditelan bumi. Tentu saja, Van Derg yang menghilangkan berita tentang putranya itu. Sehingga tidak ada lagi yang mencibir dan menuduh Jovan merebut istri orang.
Jovan masuk kedalam perusahan dengan langkah gontai. Pesona nya membuat nya menjadi pria idaman para wanita. Karyawan yang berjenis kelamin perempuan pasti berlomba-lomba mengejar cinta CEO tampan itu.
Jovan masuk kedalam ruangannya. Dia menghela nafas kasar. Perusahaan yang hampir bangkrut karena ulah dari Bagaskara kini bisa berdiri kembali dibawah naungannya. Tak heran jika Jovan bisa mengembangkan perusahaan miliknya dengan pesat. Tentu dengan bantuan Roger dan Jolenta.
Jovan menjemput anak-anak Ara. Sebelumnya dia terlebih dahulu menjemput Aldo. Jovan sudah berjanji pada para anak angkatnya itu bahwa dia akan mengajak mereka bermain di arena permainan.
"Kita mau kemana Ayah?". Tanya Zeno penasaran.
"Hari ini Ayah akan ajak kalian jalan-jalan". Seru Jovan dengan senyuman sambil menyetir.
"Hore". Sorak Zero, Zeno dan Nara. Sementara Aldo dan Naro hanya diam saja tanpa merespon.
Sampai di Mall, Jovan langsung membawa kelima anaknya turun. Nara bergelut manja digendongan Jovan, tangan munggilnya tak lupa melingkar dengan sempurna dileher Jovan.
Tangan kanan Jovan mengandeng tangan munggil Zeno. Sedangkan Naro dan Also hanya berjalan sambil memasukkan kedua tangan mereka kedalam saku celana. Mereka kompak dalam menunjukkan ekspresi wajah dinginnya.
Sementara Ara, dia baru keluar menutup galerinya. Hari ini pelanggan berdatangan cukup banyak dan lukisan Ara juga sudah banyak yang laku.
"Jalan Paman". Suruh Ara pada sang supir.
"Baik Nona".
Ara tersenyum menatap kearah luar jendela entah apa yang dipikirkan oleh wanita cantik berkepala plontos itu.
"Seperti nya Nona sedang bahagia?". Goda sang supir melihat Ara dari kaca mobil.
Ara mengangguk tersenyum "Iya Paman. Hari ini Kak Jovan mengajak anak-anak jalan-jalan. Mereka sudah lama sekali ingin bermain, tapi aku selalu saja belum sempat mengantar mereka. Syukurnya Kak Jovan bisa meluangkan waktu untuk mereka
Sang supir ikutan tersenyum "Iya Nona. Tuan Jovan Ayah yang sangat cocok untuk anak-anak". Senyum sang supir "Kenapa tidak menikah saja dengan Tuan Jovan, Nona. Kalian tampak serasi sekali. Pasti banyak yang menyangka bahwa kalian pasangan suami istri". Ujar sang supir lagi.
Ara hanya menganggapi dengan senyuman "Dia Kakak ku Paman. Bagaimana bisa jadi suamiku. Dia menjadi Ayah dari anak-anak ku saja sudah lebih dari cukup. Aku menyanyangi nya sebagai Kakak ku". Jawab Ara santai.
Sang supir kembali tersenyum hangat saat mendengar jawaban Ara.
Supir pribadi bernama Mul itu sudah lama bekerja dengan Jovan, bahkan sejak Jovan duduk dibangku menengah atas. Mul cukup tahu kisah Jovan dan Ara. Jovan yang memang memiliki perasaan pada Ara. Jovan yang juga selalu melindungi Ara.
Ara adalah wanita sederhana yang mampu mengobrak-abrik perasaan Jovan. Namun Jovan sadar diri bahwa Ara terlalu tinggi darinya.
**Bersambung.......
Kayhan ❤️ Kimara**