Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 61. Welcome to Amsterdam, Belanda



Disinilah aku akan memulai hidup baru, menjalani hari tanpamu. Maaf, aku akui aku tak mampu tapi aku harus kuat. Bukankah katamu, aku adalah wanita yang kuat?


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jet pribadi milik Jovan mendarat di Bandara Internasional Belanda.


Ara terbangun dari tidurnya. Roger tersenyum hangat melihat wajah bantal adiknya yang terlihat imut dan menggemaskan.


"Ayo sayang".


Beberapa bodyguard berbaju hitam membawa koper mereka.


Aldo mengandeng tangan Ara dengan gembira. Pria kecil yang mengaku jatuh cinta pada Aunty-nya itu terlihat tak sabar ingin sampai. Wajahnya sumringah dan bahagia, karena Aunty Ara-nya tidak lagi menangis.


"Ado senang?". Tanya Ara.


"Senang-senang". Sahut Aldo gembira.


Ara, Roger, Jovan dan Shella tertawa kecil melihat tingkah bocah berusia lima tahun itu. Aldo memang sangat menyanyangi Ara, bahkan lebih dari dia menyanyangi Mami-nya, Shella.


"Sayang, jangan lari-lari". Tegur Shella.


"Iya Mami". Sahut Aldo sambil terus menggoyangkan tangan Ara. Ara menggeleng kepala gemes, Aldo seakan menjadi pengobat rasa lukanya.


Mereka dijemput oleh supir pribadi yang ditugaskan oleh orang tua Jovan menjemput anaknya ke Bandara.


Sampai dikediaman keluarga Van Derg, rumah mewah yang seperti istana itu benar-benar mengangumkan.


"Wah lumah Uncle Jojo besal sekali". Aldo berdecak kagum, suaranya yang tak tembus menyebut huruf R terdengar begitu lucu dan menggemaskan.


"Iya sayang, Ado suka?". Jovan mengelus kepala Aldo dan tersenyum.


"Suka, kalau Aunty Ara suka. Ado juga suka". Aldo menengadah kepala untuk melihat wajah Ara.


Ara tersenyum gemes "Aunty Ara suka sayang". Sahut Ara.


Begitulah Aldo, apa yang disukai Ara juga disukai olehnya. Apa yang tidak disukai Ara tidak juga disukai olehnya. Apapun yang berhubungan dengan Ara, Aldo selalu saja suka. Ketika Kayhan dan Ara masih bersama, kadang Kayhan selalu merasa kesal jika Aldo menempel pada istrinya. Tak ubahnya kedua pria beda generasi itu memperebutkan Ara.


Aldo juga suka melukis walau awalnya dia menyukai bacaan atau membuat puisi. Tapi sejak mengenal Aunty Ara-nya, bocah tampan itu beralih hobby. Dia sering belajar melukis digaleri Ara.


"Ayo masuk". Ajak Jovan.


Mereka semua masuk dan para pelayan sudah bersiap menyambut Tuan Muda mereka.


"Selamat datang Tuan dan Nona". Sahut mereka serentak sambil memberi hormat.


"Terima kasih". Sahut Ara dan Shella bersamaan.


Mereka masuk. Bangunan itu memang sangat mewah, bangunan yang khas dengan Belanda itu benar-benar membuat mata tak bosna memandangnya.


Van Derg atau Ayah Jovan memang pengusaha terkenal yang bergerak dibidang IT, tak heran jika Jovan juga mewarisi kemampuan Ayahnya. Omset kekayaan tak kalah banyak dari keluarga Bagaskara.


"Vader, Moeder". Sapa Jovan.Vader (Ayah), Moeder (Ibu) Bahasa Belanda


"Kau sudah sampai Son?". Wanita paruh baya menyambut Jovan dengan pelukkan hangat.


"Jovan merindukanmu Moe". Wanita itu melepaskan pelukkan putranya.


"Cih, paling lama-lama kau akan stress mendengar ocehan Mommy mu ini". Celetuk Ibu Jovan. Jovan terkekeh, Ibu nya memang wanita bar-bar, jika masalah ngomel-ngomel Ibunya adalah seorang jawara.


"Vader". Jovan juga memeluk pria yang berkebangsaan Belanda itu.


"Apa kabarmu Zoon?". Van Derg membalas pelukkan putranya. Jovan melepaskan pelukkan Ayahnya. Zoom (Anak laki-laki).


"Hai Roger". Ibu nya Jovan langsung memeluk sahabat putranya itu.


"Apa kabar Moe?". Tanya Roger membalas pelukkan Syaneth, Ibu Jovan.


"Moeder selalu baik dan sehat". Sahut Syaneth.


"Moe, perkenalkan ini Ara yang sering Jovan ceritakan, dan ini Shella bersama anaknya Aldo". Jovan memperkenalkan satu persatu mereka.


"Jadi ini yang namanya Ara?". Tanya Syaneth. Ara mengangguk "Sini sayang, peluk Mommy". Walaupun bingung dan heran Ara tetap memeluk Ibu Jovan "Jovan sering menceritakan mu. Kamu wanita hebat". Syaneth mengelus punggung Ara.


"Terima kasih Moe". Ara tersenyum canggung.


"Tidak perlu sungkan. Anggap saja Moeder ini Ibu kamu juga ya". Syaneth mencubit pipi Ara gemes.


"Salam kenal Bi". Shella mengulurkan tangannya.


"Panggil Moeder saja. Temannya Ara kan?". Shella mengangguk "Sini, peluk Moeder juga". Syaneth ikut memeluk Shella.


Aldo menatap heran wanita paruh baya itu, kenapa main peluk-peluk.


"Hai pria tampan". Syaneth mendekat kearah Aldo.


Aldo langsung berlindung dibelakang Ara "Kenapa takut sayang?". Tanya Ara heran. Aldo menggeleng.


"Ayo sayang, salam sama Oma?". Suruh Shella namun Aldo menggeleng, entah kenapa dia takut melihat Syaneth.


Ara menjongkokkan badannya "Sayang, jangan begitu ya. Aldo harus sopan sama orangtua. Oma bukan orang jahat, yuk lihat Oma cantik 'kan?". Bujuk Ara lembut.


Seketika Aldo mengangguk dan menurut, yang lain hanya bisa menggeleng.


"Siapa nama mu hmm?". Tanya Syaneth lembut.


"Ado". Dengan cepat Aldo memeluk Ara "Oma, jangan lebut Aunty Ara dari Ado. Aunty Ara punya Ado". Sergah Aldo memeluk kaki Ara dengan erat. Untung saja Aldo tidak memanggil Ara dengan panggilan Ala, karena penyebutan huruf R nya belum tembus.


"Paman". Ara mengulurkan tangan kearah Van Derg yang sedari tadi tersenyum hangat.


"Panggil Vader, seperti Jovan. Karena kamu sudah bagian dari keluarga ini. Jangan sungkan Ara". Senyum Van Derg menyambut uluran tangan Ara.


"Terim kasih Vad". Balas Ara tersenyum.


Keluarga Van Derg memang sangat hangat dan juga harmonis, tak pernah ada pedebatan yang sengit atau kabar miring terhadap keluarga tersebut.


"Ya sudah ayo duduk duluan. Kalian pasti lelah". Van Derg mengajak mereka keruang tamu.


"Cornel, bawakan koper mereka ke kamar yang sudah disediakan. Setelah itu siapkan makan". Suruh Syaneth.


Mereka duduk diruang tamu. Canda dan tawa terdengar begitu menggema. Ara, gadis itu walaupun dengan mimik wajah yang dipaksakan tapi berusaha berinteraksi dengan keluarga Jovan.


"Selamat siang everybody". Pekik suara lengikkan diarah pintu masuk.


"Joana". Tegur Syaneth mendengar putri bungsunya itu sudah berteriak.


Joana ikut bergabung "Wah ada tamu. Ya ampun Kak Roger, kapan datangnya Kak?". Joana main nyelonong saja memeluk Roger.


Roger terkejut, namun juga membalas "Baik Na". Sahut Roger tersenyum.


"Kakak semakin tampan saja". Goda Joana.


"Joana?". Tegur Van Derg, melihat putrinya yang seperti cacing kepanasan itu.


"Hehhe Vad". Joana cenggegesan dan melepaskan pelukkan nya.


"Kakakku paling tampan". Joana mengalihkan pelukkannya pada Jovan yang duduk disamping Roger.


"Jangan erat-erat peluknya Na. Kakak sudah nafas nihhhh?". Gerutu Jovan.


"Ck, Kakak ini bukan nya rindu pada adiknya malah diomelin". Joana berdecak kesal.


"Hai, ini pasti Kimara yang sering diceritakan Kak Jovan?". Joana mendekat kearah Ara.


"Iya Nona". Ara tersenyum canggung.


"Jangan panggil aku Nona, aku ini adiknya Kak Jovan yang paling cantik. Panggil saja Joana". Ralat Joana.


"Aku panggil Kakak saja. Seperti Kakak lebih tua dariku". Senyum Ara.


"Ahhh baiklah". Joana memeluk Ara.


Lalu beralih pada Shella "Hai Kak". Joana mengulurkan tangan kearah Shella.


"Joana".


"Shella".


"Wah, ada pria tampan. Siapa namanya sayang?". Joana memegang pipi cabby Aldo.


Aldo tak menjawab dia malah memeluk lengan Ara dengan posessif. Joana mengerjitkan dahinya heran.


"Sayang, ayo kenalan dulu sama Aunty Nana". Rayu Ara "Nanti, setelah ini kita main lukis-lukisan ya". Rayu Ara lagi.


Aldo mengangguk dengan polos "Ado". Dia menyalimi Joana dengan sopan.


Joana gemes sendiri pada Aldo. Dia mengacak rambut Aldo dengan gemes. Aldo mencibik kesal. Tidak ada yang boleh mengacak rambutnya selain Ara.


"Aunty Ara". Adu Aldo mengerenggek manja.


Mereka hanya bisa tersenyum, Shella berkali-kali menghela nafas. Putra kecil nya itu memang sangat lengket dengan Ara. Entah bagaimana, Shella menghadapi sifat putra nya itu. Shella takut sifat nya itu akan menurun sampai dewasa nanti.


"Vader, Moeder". Suara perempuan dan laki-laki datang secara bersamaan. Masing-masing mengendong bayi didalam pelukkan mereka.


"Jovanka". Jovan berdiri menyambut saudara kembar nya itu.


"Ehhh Van, kau sudah datang?". Tanya Jovanka pada Kakak kembarnya.


"Iya Ka". Jovan beralih pada bayi yang dipeluk Jovanka "Hai, kesayangan Uncle Jovan. Tampan sekali ya seperti Uncelnya". Jovan menghujani wajah bayi itu dengan ciuman bertubi-tubi.


Jovan mengenalkan Jovanka pada Ara dan Shella, karena Roger memang sudah mengenal keluarga besar Van Derg.


"Ini yang namanya Ara?". Tanya Jovanka menatap Ara.


"Iya Kak". Senyum Ara. Kenapa semua anggota keluarga ini mengenalnya?


"Jangan sungkan ya, anggap saja rumah sendiri". Seru Jovanka tersenyum hangat.


Aldo berdecak kesal, melihat semua orang memeluk Aunty Ara-nya. Pria kecil itu, tak suka ada orang yang merebut kasih sayang Ara. Dulu dia sangat kesal jika ada Kayhan yang selalu merebut Aunty Ara-nya, sekarang saingannya banyak.


Tentu semua orang mengenal Ara di keluarga Van Derg, karena semua tentang Ara selalu diceritakan oleh Jovan. Pria kembar tiga itu pernah jatuh cinta pada gadis yang usianya sembilan tahun lebih muda darinya. Termasuk Roger juga tahu, tapi dia tidak bisa memaksa Ara untuk mencintai sahabat nya Jovan.


Bersambung...........


Kayhan ❤️ Kimara


Yuk ikuti terus kisah mereka ya guys......


Apakah suatu hari nanti Ara dan Kay akan kembali bersama?


Bagaimana caranya Ara hidup tanpa suaminya?


apa reaksi Kay saat bangun dari koma tidak mendapati istrinya, Ara?