Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 114. Tertahan



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Kayhan menatap kue yang berada diatas mejanya. Dia menatap kue itu dengan sedih. Diatasnya tertanam lilin denagn angka 22 tahun. Tertuliskan nama “Selamat ulang tahun istriku” ya Kayhan mengingat ulang tahun Ara. Entah inisiatif dari mana dia meminta Cody untuk memesankan kue untuknya.


“Selamat ulang tahun sayang. Selamat bertambah umur. Selamat berbahagia dengan kehidupanmu yang baru. Semoga kau dan dia bahagia. Aku bahagia jika kau bahagia”.


Kayhan meniup lilin yang tertanam diatas kue itu. Bersamaan air matanya luruh kembali. Ternyata melupakan tak semudah ini. Rasa sakit dan kerinduannya menjadi satu padu.


Kayhan teringat lagi pada sang istri yang merayakan ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu. Kayhan ingat bagaimana bahagianya wajah sang istri saat memberinya kejutan. Ara merayakannya dengan sederhana namun bermakna.


Kayhan memotong kue itu. Air matanya tak berhenti mengalir, dengan isakkan pelan dia menyuapi dirinya sendiri. Kue itu bercampur dengan air mata sehingga terasa asin dimulut Kayhan.


“Aku rindu”. Gumam Kayhan sambil mengunyah kue itu. Dia memakannya sambil menangis. Terlihat sekali bahwa pria itu sangat rapuh dan tak berdaya.


Kayhan seperti anak kecil yang menangis sambil makan. Tak peduli lagi dengan ekspresi dan raut wajahnya. Dia ingin kembali menjadi anak kecil, agar tak merasakan sakit.


Cody menatap Kayhan dengan perasaan bersalah. Tanpa sadar satu tetes air mata jatuh dipipi Cody. Dia melihat betapa menderitanya Kayhan, betapa tersiksa nya CEO KMB Group itu. Wajahnya berantakkan tak terurus. Tubuhnya juga kurus karena kurang makan.


“Tuan”. Cody berjalan kearah Kayhan. Dia juga terluka melihat kondisi CEO tampan itu.


Kayhan tak menjawab dia tetap memakan kue itu sambil menangis dengan sendu dan segugukan seperti orang gila.


“Tuan, cukup”. Cody merampas kue itu dari tangan Kayhan “Cukup Tuan”. Cody menjauhkan kue itu dari Kayhan.


Kayhan menatap Cody dengan tajam “Minggir Cody”. Kayhan mendorong asisstennya hingga Cody tersungkur dilantai.


Kayhan kembaliu mengambil kue itu dan memakan nya dengan menangis.


“Anda tidak bisa begini terus Tuan. Anda harus bangkit dan anda berhak bahagia. Ikhlaskan Nona Ara. Biarkan dia bahagia Tuan. Anda harus ingat bahwa yang sudah pergi takkan kembali lagi”. Teriak Cody menujuk Kayhan.


Kayhan terdiam mendengar ucapan Cody. Kue ditangannya terjatuh. Ucapan Cody membuatnya membeku seketika. Benarkah Ara nya sudah bahagia? Benarkah Ara-nya takkan kembali lagi?


Kayhan tersungkur dilantai. Kue ditangannya berserakkan dilantai. Dia benar-benar gila dengan penampilannya yang sudah tak terurus sejak kemarin.


“Hiks hiks hiks hiks hiks”. Kayhan memeluk kedua lututnya sambil menangis segugukan. Selama ini Kayhan berusaha menahan semua rindunya pada Ara. Berusaha membenci istrinya itu. Namun tetap saja hatinya tak bisa berbohong bahwa dia sangat ingin bertemu dengan istrinya.


Cody memeluk Kayhan dan ikut menangis bersama Tuan-nya itu. Bagi Cody, Kayhan bukan hanya sebagai majikan tapi juga seorang Kakak. Kayhan begitu peduli padanya dan selalu memberi Cody nasehat dalam mengambil keputusan. Cody merasa bersalah karena ikut menyembunyikan Ara, dia ingin mengatakan yang sejujurnya. Tapi Cody tak ingin jika Ara kembali dicelakai oleh Bagaskara.


“Tuan”. Cody memeluk Kayhan dengan isak tangis juga. Dia juga terluka sama seperti Tuan-nya. Cody tidak bisa berbuat apa-apa, selain mendampingi Kayhan.


“Cody, benarkah istriku Ara tidak akan kembali? Benarkah Ara sudah menjadi milik orang lain? Lalu bagaimana denganku Cody? Aku tidak bisa melupakan Ara Cody. Dia berarti untukku tapi kenapa dia meninggalkan ku? Kenapa dia pergi Cody? Padahal dia sudah berjanji takkan pernah pergi apapun yang terjadi?”. Racau Kayhan menangis dengan hebat dan sehebat-hebatnya.


Cody tak menjawab dia ikut menangis bersama Tuan-nya itu. Biarlah perasaan bersalah Cody menyiksa dirinya. Yang penting Ara tetap bahagia dan aman bersama anak-anaknya.


Di Mansion mewah keluarga Bagaskara.


“Mom”. Erna duduk disamping mertuanya. Dia menatap kearah wanita berumur itu “Ada apa Mom?”. Erna merangkul bahu rapuh Wena. Umur Wena yang hampir kepala tujuh itu, membuat daya tahan tubuhnya kian menyurut juga.


Wena menatap menantunya “Mom, rindu Seem dan Kay. Apa kabar mereka?”. Wena tersenyum getir “Mom rindu. Dulu taman ini adalah tempat mereka berdua bermain kejar-kejaran”. Wena tertawa getir. Bibir wanita berumur itu juga bergetar.


“Apa kabar mereka disana?”. Lirih Wena “Mom, ingin bertemu mereka dan meminta maaf”. Ucap Wena menatap menantunya “Mom merasa bersalah telah memisahkan Kay dan Ara”. Erna tercenggang mendengar ucapan Ibu mertuanya. Bukankah Ibunya ini yang merencanakan memisahkan Kayhan dan Ara. Kenapa wanita itu merasa bersalah?


“Mom”. Erna hanya mampu memeluk Wena. Dia tidak tahu harus memberi tanggapan apa. Dia masih tidak merestui hubungan Kayhan dan Ara. Jadi dia tidak merasa bersalah sama sekali. Baginya wajar jika seorang Ibu ingin yang terbaik untuk anaknya.


“Mom rindu cucu-cucu Mom. Aira juga tidak pernah mau menjengguk kita disini”. Adu Wena.


Aira memang tidak pernah pulang ke Indonesia. Sejak dia menikah dengan suaminya. Dia memang memutuskan menetap di Australia. Dia juga tidak suka orangtuanya yang selalu merendahkan suaminya. Padahal Zico sudah berhasil membuktikan bahwa dia bisa juga sukses.


Bagaskara mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan sang istri. Dari tadi dia berdiri dibelakang Wena dan Erna. Niat hati ingin menemui istrinya dan mengajak wanita berusia itu jalan-jalan untuk menghilangkan stress. Ternyata Bagaskara harus mendengar pengakuan bersalah istrinya. Yang Bagaskara takutkan jika Wena akan menyatukan Kayhan dan Ara kembali.


Bagaskar berbalik dan meninggalkan Wena dan Erna. Dia tidak akan membiarkan gadis mandul itu kembali lagi pada cucunya. Dia akan menyingkirkan Ara bagaimana pun alasannya.


“Ada apa Dad?”. Tanya Bagas yang sedang berpapasan dengan Ayahnya. Wajah Ayahnya tampak merah.


Bagaskara menghembuskan nafas kasar “Ikut Daddy keruangan”. Ajak Bagaskara. Meski bingung Bagas tetap mengikuti Bagaskara keruangannya.


“Kenapa Dad?”. Bagas duduk disoffa ruang kerja Bagaskara.


“Kita harus cari cara untuk menemukan gadis mandul itu. Sudah hampir satu tahun dia hilang tanpa jejak. Dad tidak mau jika Mommy mu berusaha mencarinya dan menyatukan Kayhan dan Ara kembali”.


“Bagaiamana mungkin Mommy mau menyatukan mereka bukankah Mommy sangat membenci si mandul itu?”. Tanya Bagas heran.


“Kau tidak tahu Bagas, jika Mommy mu itu tampak menyesal karena telah memisahkan Ara dan Kayhan. Kau tahu kan jika mommy mu itu orang yang sangat keras dan apa saja yang dia mau harus dituruti”. Jelas Bagaskara.


Bagas menanggguk paham “Lalu apa rencana kita?”. Tanya Bagaskara.


“Daddy curiga pada Nickho. Menurut informasi yang Daddy dapat, sekarang Nickho berada di Belanda kemungkinan dia juga mencari gadis itu. Kau tahu kan jika Nickho juga menyukai Ara, jadi Daddy rasa sekarang Nickho sudah menemukannya, karena dia sudah lama di Belanda dan belum kembali”. Jelas Bagaskara


“Lalu apa yang akan kita lakukan?”.


Bagaskara tersenyum licik “Mengawasi Nickho dari sana. Karena Daddy yakin jika Van Derg, tidak tahu jika kita mengawasi Nickho. Dia hanya memperketat penjagaannya terhadap Ara”.


Mereka berdua mendapatkan dan bertemu Ara. Mereka akan membunuh Ara jika bertemu dengan gadis itu.


Bersambung.....


Kayhan ❤️ Kimara