
**Kau harus bahagia walau tak bersamaku. Namun kau juga harus mengerti bahwa aku benci kalimat itu.
@Kimara**
Happy Reading πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Seorang gadis tengah duduk disofa, dengan jari saling bermain satu sama lain. Gadis itu bahkan menunduk dan tak berani melihat tatapan orang-orang yang seperti siap menelannya hidup-hidup.
"Ada apa kau kesini?". Tanya Erna ketus, saat melihat Ara yang hanya bisa menunduk.
Ara tak menjawab dia malah menunduk kian dalam, berusaha menetralisir perasaan gugup dan juga takut. Takut jika Bagaskara tidak mau membantunya.
"Selain tidak tahu diri, ternyata kau juga bisu ya?". Sindir Wena menyimak rambutnya kebelakang sambil memperbaiki kacamata yang bertengger dihidung nya.
Bagaskara menatap Ara dengan tersenyum sinis "Katakan apa yang kau cari kesini?". Hardik Bagaskara.
Ara terkesiap "Tu-tuan tolong saya. Saya mohon". Ara menangkupkan kedua tangannya didada, dengan wajah memelas dan memohon sangat supaya Bagaskara mau menolong nya.
Bagaskara tersenyum licik "Apa yang bisa aku bantu?". Tanya Bagaskara, tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Sebenarnya tidak lah terlalu buruk, yang membuatnya membenci Ara karena gadis itu yang membuat Kayhan meninggalkannya.
"Tolong Tuan. Sekarang Kak Han sedang koma dirumah sakit, dia butuh donor darah dan dia juga harus melakukan operasi karena ada pendarahan diotak vitalnya. Hanya Tuan yang bisa menolong Kak Han, dan hanya Tuan juga yang memiliki golongan darah yang sama dengan Kak Han". Pinta Ara dengan berkaca-kaca bahkan air mata mengiringi perkataannya.
Bagaskara, Bagas, Wena dan Erna terkejut bukan main mendengar ucapan Ara. Mereka tak mengira jika kecelakaan itu bisa sangat parah.
Namun Bagaskara berusaha tenang, dia akan mengunakan kesempatan ini untuk menjauhkan Ara dan Kayhan.
"Ehem, kalau aku tidak mau bagaimana?". Timpal Bagaskara.
Ara berlutut dikaki Bagaskara "Saya akan melakukan apapun Tuan, jika perlu dengan nyawa saya. Saya mohon Tuan". Ara bersujud dikaki Bagaskara, memohon kepada pria tua itu agar mau membantu dan menolongnya.
Entah kenapa hati Erna menjadi tersentuh melihat Ara berlutut dibawah kaki Ayah mertuanya. Namun, Erna berusaha menepis perasaannya. Karena mereka sudah sepakat takkan tergoyahkan oleh apapun. Ara tidak perlu ada dalam kehidupan keluarga mereka.
"Benarkah?". Seringai licik tergambar diwajah Bagaskara.
"Iya Tuan, saya akan melakukan apapun". Sahut Ara yakin.
"Kalau begitu, coba kau jilat sepatuku ini dan setelah itu lap lah dengan rambut jelek mu itu".
Ara mendongkrak kan kepala tak percaya. Menjilat sepatu kotor? Dan membersihkan nya dengan rambut Ara sendiri.
"Tapi......".
"Kenapa kau tidak mau?". Tantang Bagas menatap Ara. Bagas yakin jika Ara takkan mau menjilat sepatu Ayahnya.
Bagaskara, Wena dan Erna menatap Ara dengan ejekkan. Gadis mandul itu takkan berani menjilat sepatu kotor miliknya. Sungguh lucu rasanya seorang pewaris utama keluarga Bagaskara menikahi gadis mandul yang takkan bisa memberinya keturunan.
"Baik Tuan". Sahut Ara yakin
Mereka tercenggang dengan perkataan Ara. Mereka pikir Ara takkan berani melakukan hal itu.
"Baiklah, cepat lakukan". Bagaskara menyerahkan kakinya yang terbalut sepatu mahal yang harganya ratusan juga itu.
Ara menunduk dan menggapai kaki Bagaskara.
"Apapun akan aku lakukan untukmu Kak. Kau segalanya bagiku. Maaf jika aku harus merendahkan diri. Kaulah belahan jiwaku". Batin Ara, air mata jatuh lagi.
Ara menjilat sepatu Bagaskara dengan lidahnya, beberapa kali gadis itu menahan nafasnya saat beberapa pasir yang menempel masuk kedalam mulut Ara.
Cody memalingkan wajahnya tak sanggup melihat penderitaan Ara.
"Sungguh sangat besar cintamu Nona. Kau membuatku iri. Semoga saja, kalian bahagia suatu saat nanti. Dan aku berharap keluarga kejam itu akan berlutut dikakimu". Batin Cody, tanpa sadar tangan asisten itu terkepal hingga menampilkan buku-buku tangannya. Ingin membantu Ara tapi dia tidak memiliki keberanian.
"Hahahaha". Tawa Bagas, Wena dan Erna mengejek Ara sekaligus jijik.
Ara menjilati sepatu Bagaskara dengan pelan air mata ikut menetes dikulit sepatu itu. Ara juga mengelap sepatu itu dengan rambut pendeknya. Gadis itu melakukan nya dengan ikhlas tanpa paksaan, bahkan jika nyawa Ara harus dikorbankan dia juga rela.
Ara mengangkat kepalanya setelah menjilati dan membersihkan sepatu Bagaskara.
"Sudah Tuan". Ara berdiri dan duduk kembali disofa.
"Siapa yang menyuruh mu duduk disofa? Duduk dilantai". Hardik Bagaskara.
Bagaskara cukup merasa puas dengan keberanian Ara. Gadis mandul itu mau saja melakukan sesuatu menjijikkan.
Bagaskara membuka sepatunya dengan jijik. Lalu dia melemparnya kewajah Ara.
"Aawwwwwwww". Pekik Ara kesakitan saat sepatu itu mendarat dikeningnya. Hingga menimbulkan bekas kemarahan disana.
"Ini baru seberapa. Harusnya kau lebih menderita dari ini, karena dirimu aku hampir kehilangan cucuku".
Cody maju dan meletakkan sebuah maff diatas meja.
"Tanda tangani surat itu, maka aku akan menolong suami mu". Bagaskara melempar kan maff itu pada Ara.
Ara menyambutnya dengan cepat, jika tidak bisa jadi semua isi maff itu akan berhamburan dilantai.
Ara membuka dengan pelan, matanya membulat sempurna saat melihat isi maff itu.
"Apa maksudnya ini Tuan?". Tanya Ara menggeleng tak percaya.
"Apa kau tidak bisa membacanya?". Sindir Bagaskara "Tanda tangani surat itu dan tinggalkan Kayhan. Maka aku bersedia mendonorkan darahku ini". Jelas Bagaskara.
"Tidak Tuan, tidak! Saya tidak mau berpisah dengan suami saya". Tolak Ara.
"Ya terserah padamu saja! Dan maaf aku tidak bisa menolongmu. Silahkan cari pendonor yang lain karena aku tidak mau". Sergah Bagaskara "Ternyata kau lebih rela kehilangan suamimu dari pada mengorbankan hatimu?". Cibir Bagaskara.
"Cepat tandatangani". Bentak Bagas menarik tangan Ara dengan paksa, untuk menandatangani surat cerai itu.
Ara menggeleng tidak mau. Ara tidak mau berpisah dari suaminya, Ara tidak bisa hidup tanpa Kayhan-nya.
"Tidak Tuan". Tolak Ara.
"Baiklah, silahkan pergi dari sini dan jangan menyesal jika sampai kau kehilangan Kayhan selama nya". Bagas menghempaskan tangan Ara dengan paksa.
Ara termanggu. Jika dia tidak menandatangani surat itu, maka suaminya tidak akan tertolong. Tapi jika dia menandatangani nya maka dia akan sah berpisah dengan Kayhan suaminya. Ara harus apa?
"Baik Tuan. Saya akan tandatangi". Ara menyerah.
"Bagus". Bagaskara tersenyum penuh kemenangan.
"Cepat tandatangani". Bentak Bagaskara.
Dengan tangan bergetar, Ara mengambil pulpen untuk menandatangi surat perceraian itu. Bahkan Ara sampai memejamkan matanya tak sanggup.
Bagaskara, Bagas, Wena dan Erna tertawa kemenangan. Akhirnya mereka bisa menyingkirkan gadis itu.
"Ambil ini". Bagaskara menyerahkan selembar cek pada Ara "Pergi sejauh mungkin dari kehidupan Kay dan jangan pernah temui atau muncul lagi dihidupnya. Kayhan sudah bukan suami mu lagi". Ucap Bagaskara.
Deg
Jantung Ara berdenyut sakit. Benarkah Ara tak boleh bertemu suaminya lagi? Benarkah Ara dan Kayhan kini kalah dan terpisah?
"Tidak perlu Tuan. Saya berjanji akan pergi sejauh mungkin. Tapi saya mohon selamatkan Kak Han". Ara berdiri dari duduknya. Ara mengembalikan cek itu, dia tidak butuh uang. Untuk apa uang jika dia tidak bahagia.
"Nona". Batin Cody. Pria itu ikut menangis saat Ara mendatangi surat itu.
"Cih, sombong sekali". Cibir Erna menatap Ara jijik.
"Saya permisi".
Ara melangkah dengan kaki yang sangat berat. Dia memeluk lengannya.
Rasanya seperti bermimpi saat perpisahan yang dia hindari benar-benar terjadi.
Ara rela berpisah dengan Kayhan tapi Ara takkan bisa jika harus kehilangan Kayhan. Tak apa mereka berpisah, asalkan Kayhan-nya masih tetap hidup meskipun tak bersama lagi.
Terkadang memang mengalah lebih baik untuk sesuatu yang sulit diperjuangkan, meski pun hati tak sanggup namun tak ada pilihan selain meninggalkan.
Ara tak bisa membayangkan bagaimana reaksi suaminya ketika tahu bahwa dia menyerah. Ara yakin jika Kayhan akan terluka parah dan mungkin saja suaminya akan membenci Ara.
"Maafkan aku Bby hiks hiks hiks".
Ara menangis dibawah guyuran hujan. Setelah ini statusnya sudah bukan lagi istri Kayhan. Dia akan meninggalkan pria itu dan pergi sejauh mungkin.
Bersambung.
Kayhan β€οΈ Kimara
πππππππAuthor sampe nangis nulisnya. Kebayang banget jadi Ara gimana rasa sakitnya....π
Terkadang memang benar melepaskan lebih baik, bukan karena tak cinta tapi itu adalah jalan terakhir yang harus dipilih....
Vote, like dan komennya Guys.
tambahkan juga di rak favorite kalian.