
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹
“APA?”. Pekik Bagaskara setelah mendengar penjelasan dari asisstennya.
“Benar Tuan. Tuan Kay dan Tuan Seem sekarang berada di Belanda dan mencari keberadaan Nona Ara”. Sahut Tommy assisten Bagaskara yang masih terlihat muda dan gagah.
“Brengseekkkkkkk”. Umpat Bagaskara.
“Kedua bocah itu benar-benar tidak tahu rasa takut ternyata”. Geram Bagaskara “Apa mereka menemukan gadis mandul itu?”. Tanya Bagaskara lagi.
“Tidak Tuan, seperti yang kita duga bahwa keberadaan Nona Ara tidak mudah ditemukan”. Jelas Tommy menunduk saat melihat kemarahan diwajah Bagaskara.
“Baik. Kau boleh keluar”. Usir Bagaskara.
Bagaskara tak habis pikir pada kedua cucunya itu. Kenapa bisa gila hanya karena seorang gadis? Apa kelebihan Ara? Masih banyak wanita diluar sana yang lebih cantik dari Ara dan bisa memberikan mereka keturunan.
“Honey”. Wena masuk kedalam ruangan suaminya. Tadi dia mendengar Bagaskara yang marah-marah pada sang assisten membuat Wena penasaran apa yang terjadis amapi suaminya semarah itu?
“Honey”. Bagaskara berdiri menyambut istrinya. Kedua pasangan lanjut usia itu terlihat romantic dan hangat, meski memiliki ambisi yang sama yang disifat yang keras.
Wena dan Bagaskara duduk disoffa ruang kerja Bagaskara, karena sekarang Bagaskara sendiri yang turun tangan mengurus perusahaannya.
“Ada apa? Kenapa marah-marah?”. Tanya Wena.
Bagaskara menghela nafas pelan “Kayhan dan Seem sekarang berada di Belanda dan mereka berdua berusaha mencari keberadaan gadis mandul itu”. Sahut Bagaskara.
“Kau tahu ‘kan, aku takkan pernah membiarkan gadis itu kembali lagi ke keluarga kita?”. Tungkas Bagaskara lagi.
Wena terdiam, dia tidak bisa memberi tanggapan atas ucapan suaminya. Wanita berumur itu merasa bersalah, mereka harusnya menjadi pendukung dalam kebahagiaan cucu nya. Namun, hanya karena menginginkan cicit dan tidak sudi memiliki cucu menantu dari asal keluarga yang rendah membuat mereka menyingkirkan Ara.
“Sayang, kenapa?”. Tanya Bagaskara melihat istrinya yang hanya diam saja.
“Aku merasa bersalah pada Kay. Apa kita sudah keterlaluan memisahkan dia dan istrinya?”. Ungkap Wena pada sang suami.
Bagaskara menatap Wena tak percaya, ada apa dengan istrinya ini? Kenapa Wena mengatakan hal itu, bukankah Wena sendiri yang menginginkan perpisahan Kayhan dan Ara ?
“Apa maksudmu Hon?”. Tanya Bagaskara menatap istrinya yang melamun.
Wena beralih pada sang suami “Aku merasa bersalah pada Kay. Dia menjadi hancur setelah berpisah dari Ara. Ku pikir setelah kita memisahkan Ara dari Kay, Kay akan kembali pada kita. Tapi nyatanya Kay malah menjauh dan bahkan membenci kita”. Ucap Wena.
“Hon, apa kau salah bicara? Kay, tidak pantas bersama wanit mandul itu. Kau tahu kan Hon, kita butuh pewaris untuk meneruskan warisan Bagaskara”. Timpal Bagaskara yang tak percaya dengan ucapan Wena, yang benar saja istrinya menyesal.
“Apa pentingnya pewaris? Jika cucu kita saja membenci kita Bagaskara. Kau lihat kedua cucu kita malah menjauh dan sejauh-jauhnya, bahkan mereka rela keluar dari nama keluarga karena kehilangan wanita itu. Kau ingat semarah-marahnya Seem saat kita memisahkannya dengan wanita itu dia tetap mau menerima kita sebagai orangtuanya, tapi saat kita menyingkirkan Ara, apa yang terjadi mereka melakukan apa saja agar gadis itu bisa ditemukan”. Bentak Wena dengan air mata yang luruh “Aku sakit mendengar ucapan Seem yang tak sudi memiliki orangtua seperti kita. Aku merasa gagal menjadi seorang Nenek yang seharusnya mendukung kebahagiaan cucunya”. Wena sampai menujuk dadanya, menjelaskan dengan tangis “Aku menyesal Bagaskara, hiks”. Ucap Wena terisak.
“Kebahagiaan apa? Apa Kay dan Seem bahagia setelah kita merebutnya? Seem malah menderita OCD akibat perbuatan kita”. Isak Wena.
Wena berdiri dari duduknya, dia berjalan meninggalkan Bagaskara. Dia tak peduli dengan panggilan sang suami. Dia merasa bersalah dan perasaan bersalah itu takkan hilang sampai kapanpun
Bagas menatap Erna dengan heran. Sejak kemarin istri dan Ibu dari anak-anaknya itu lebih banyak diam dan tak mau berbicara banyak seperti biasanya.
“Sayang, kau kenapa?”. Tanya Bagas duduk disamping istrinya.
“Bagas, bagaimana kabar Kay dan Seem, sudah lebih dari enam bulan mereka tidak menghubungi kita?”. Lirih Erna menatap suaminya dengan berkaca-kaca “Aku merindukan mereka, Bagas”. Gumam Erna lagi.
Bagas menghela nafas berat “Ini pilihan mereka sayang. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Aku juga merindukan kedua putraku itu, dan ditambah dengan Aira yang juga yang tidak mau menemui kita membuatku merasa sangat rindu pada kedua cucuku”. Curhat Bagas.
“Ini semua gara-gara wanita mandul itu. Andai saja kita tidak merestui hubungan mereka pasti keluarga kita masih utuh”. Geram Erna. Dia memang tidak menyukai Ara, gadis lusuh itu sungguh tidak pantas bersanding dengan putranya yang kian sempurna.
“Kau benar sayang. Aku bersyukur karena gadis itu tidak bisa ditemukan oleh mereka. Semoga saja tidak ditemukan sampai kapanpun”. Sambung Bagas.
Pasangan suami istri yang tadinya bersedih itu, kini menatap penuh kebencian saat mengingat nama Ara. Bagi mereka Ara adalah pembawa kesialan karena gadis itu, keluarga mereka jadi berantakkan dan terpecah belah bahkan kedua putranya memilih keluar dari nama keluarga demi membela gadis lusuh yang jauh dari level mereka.
Wena masuk kedalam kamarnya, dia mengunci kamarnya agar tidak diganggu oleh sang suami. Wena menangis sepuasnya didalam kamarnya. Wajah yang sudah berkeriput itu, dipenuhi dengan lelehan bening yang berasal dari matanya.
“Hikss, maafkan Grandma Kay. Maafkan Grandma Seem”. Lirih Wena duduk dipinggir tempat tidurnya.
Wena menatap foto Seem dan Kayhan ketika masih kecil, usia mereka hanya beda dua tahun saja. Dulu dua cucu nya itu sangat penurut dan penyayang. Tak pernah keduanya membantah kata dan perintah Wena, keduanya juga sangat menyayangi Wena dan menghormati Nenek nya itu.
“Grandma memang egois yang hanya memikirkan perasaan sendiri, tanpa memikirkan masa depan dan kebahagiaan kalian”. Wena memeluk foto cucunya.
Wena rindu Seem dan Kayhan yang dulu, yang selalu bermanja-manja dan berbaring dipangkuannya. Kadang Seem sangat suka sekali curhat padanya tentang masalah wanita dan meminta pendapat Neneknya. Kayhan, selalu meminta saran tentang membangun perusahaan karena Wena seorang pembisnis dan juga model ternama pada masanya, tentu dia memiliki banyak pengetahuan tentang membangun perusahaan dan berbinis. Wena juga merindukan cucu perempunanya Aira, wanita beranak dua itu dulu tumbuh bersamanya. Namun, saat dia meminta restu untuk menikah dengan pria pilihannya yang tentu tidak selevel dengan mereka membuat Wena, bersikeras melarang hubungan mereka berdua. Tapi karena kekuatan cinta yang kuat Aira akhirnya bersatu dengan sang suami.
Wena semakin menangis saat mengingat semua kenangan bersama para cucu tersayangnya. Nickho juga cucu yang sangat penurut dan menyanyangi Wena, namun sejak Kayhan menikah dengan Ara, Nickho berubah menjadi pria yang dingin terhadapnya.
“Ternyata Ara adalah pengaruh yang hebat bagi kalian bertiga. Aku kagum pada gadis itu, dia wanita hebat yang pantas diperjuangkan. Tapi maaf aku yang justru memisahkan kalian”. Lirih Wena merasa bersalah ketika mengingat apa yang pernah dia lakukan pada Ara.
Bersambung........
Kayhan ❤️ Kimara.
Ternyata Wena menyesal?
bagaimana kelanjutan nya.
yuk ikuti terus ya...