
**Aku mengagumi mu dalam segala hal. Kau selalu bisa mengalihkan duniaku. Tak ingin aku beranjak dari disini dan melewatkan satu moment pun denganmu, karena bersama denganmu adalah hal terindah dalam hidupku.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹**
Ara keluar dari caffe, dia sesekali menghembuskan nafas berat. Pikiran Ara terbayang pada ucapan Nickho, Ara benar-benar tidak tahu jika Nickho menyukai dirinya. Ara pikir sikap Nickho padanya hanya sikap sebagai seorang Kakak pada adiknya.
"Ra". Ara membalikkan badan nya
"Kak Seem". Balas Ara tersenyum lembut saat melihat siapa yang berjalan kearahnya "Kak Seem dari mana?". Sambung Ara.
"Tadi, ada urusan sama teman". Jawab Seem "Kau sendiri, kenapa ada disini?". Tanya Seem
"Sama ketemu teman". Sahut Ara sambil tersenyum.
"Ehem, bagaimana kalau kita ke taman saja, sambil melihat sunset". Ajak Seem.
Ara tampak berpikir, lalu dia meronggoh tas munggilnya.
"Sebentar ya Kak". Seem hanya mengangguk dan menunggu Ara menelpon seseorang.
"Hallo sayang kau dimana? Apakah sudah bertemu dengan Dokter menyebalkan itu? Apakah perlu aku jemput?". Cecar suara diseberang sana.
Ara terkekeh sambjl menggeleng kepala tidak percaya mendengar suara cerewet itu "Sudah Kak! Kak aku izin ingin jalan sebentar bersama temanku, tidak jauh hanya ditaman dekat rumah".
Terdengar helaan nafas berat "Pria atau wanita?".
Ara tersenyum "Pria Kak!! Kakak tidak perlu khawatir, dia bukan orang jahat". Jelas Ara sambil melirik kearah Seem yang tersenyum padanya.
"Baiklah, tapi setelah itu langsung pulang". Tegas Kayhan.
"Iya Kak". Ara menutup telponnya.
"Ayo Kak". Ajak Ara sambil memasukan kembali ponselnya kedalam tas kecil miliknya.
Seem dengan senyuman mengembang membukakan pintu mobil untuk Ara, bahagia nya wajah Seem tak bisa diukur dengan apapun. Dia tak menyangka bertemu gadis kecil itu lagi ditempat ini, untung saja tadi dia setuju meeting dicaffe. Biasanya Seem paling malas bertemu di caffe apalagi banyak wanita-wanita seperti cacing kepanasan.
Dikursi kerjanya Kayhan sedang menggila sejadi-jadinya. Nafasnya memburu dan bahkan tangannya terkepal, saat mendengar Ara akan berpergian dengan laki-laki. Semua orang menjadi sasaran nya termasuk Cody dan Nathan.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, tarik semua investor untuk bekerja sama dengan kita. Kalau tidak mau blacklist saja supaya tidak ada yang mau bekerja sama dengan mereka". Tintah Kayhan
"Baik Tuan". Sahut Cody gegelapan sebab Kayhan marah-marah tidak jelas.
Nathan hanya bisa menggelengkan kepala. Ada apa sebenarnya yang terjadi pada Kayhan?
"Than, berikan laporan pendapatan bulan ini padaku". Tintah Kayhan lagi.
"Kau lupa atau amesia? Ara tidak ada bagaimana bisa aku membuat laporan itu?". Celetuk Nathan kesal.
"Aku tidak mau tahu, cepat suruh anak buah didivisimu. Masa hanya membuat laporan segampang itu tidak bisa". Pekik Kayhan.
"Baiklah". Nathan keluar dari ruangan Kayhan dengan wajah kesal dan mengumpat berbagai macam binatang.
"Perhatian semuanya". Tegas Nathan pada semua karyawan yang ada didivisinya.
"Cepat buatkan laporan pendapatan bulan ini". Tandas Nathan dengan tegas.
Para karyawan berbisik-bisik, padahal ini adalah bagian Ara dan batang hidung Ara malah tidak kelihatan setelah jam makan siang tadi.
"Martha".
"Iya Tuan?".
"Apa kau tahu dimana Ara?". Tanya Nathan.
"Maaf Tuan saya tidak tahu, sejak jam makan siang tadi Ara keluar dan tidak kembali".
Nathan menarik nafas dalam "Baik, kembali ke pekerjaan kalian masing-masing".
Martha dan William kembali ke meja kerjanya dan melakukan pekerjaan.
Dalam hati William bertanya-tanya, kenapa semua orang mencari Ara? Siapa sebenarnya gadis itu?.
"Iya Wil".
"Memang nya tidak ada disini yang bisa mengerjakan pekerjaan Ara?". Tanya William berbisik.
Martha hanya menggeleng. Dan memang benar tidak ada yang bisa mengerjakan pekerjaan Ara, selain Ara sendiri.
Nathan memijit pelipihnya, kepalanya terasa pusing melihat tingkah Kayhan yang seperti anak kecil. Pria itu seperti orang putus cinta saja?
Ditempat lain.
Seem memarkir mobilnya ditaman, mereka berdua turun dari mobil secara bersamaan. Ara melangkah dengan senyum menikmati sunset dikursi taman.
"Indah ya". Senyum Ara.
"Iya". Balas Seem juga tersenyum lebar, tapi matanya menatap Ara. Ingin sekali rasanya Seem mengungkapkan perasaan nya tapi dia takut jika Ara menolak nya.
"Besok aku akan kembali ke London". Ucap Seem.
Ara mengarahkan pandangan melihat Seem "Oh ya? Kenapa cepat sekali Kak?". Tanya Ara "Job Kakak banyak disana ya? Kalau boleh tahu Kakak kerja apa?". Cecar Ara penasaran. Jika dilihat dari penampilannya Seem sepertinya bukan orang biasa.
Seem mengaruk tengguknya yang tidak gatal "Aku hanya sebagai pelukis biasa". Sahut Seem singkat "Aku mau melanjutkan galeri lukisan ku disana". Kilah Seem berbohong. Padahal dirinya ingin mengurus masalah perusahaan disana.
"Wah hebat donk pelukis". Puji Ara "Aku juga suka melukis Kak, tapi aku lebih sering menulis". Jelas Ara sambil tersenyum sumringah.
Seem terpaku menatap senyum Ara, sungguh manis dan menggemaskan sekali gadis yang ada disampingnya ini.
"Oh ya? Tunggu sebentar". Seem berlari kearah mobilnya untuk mengambil sesuatu.
Seem kembali dengan membawa kanvas dan beberapa cat untuk melukis.
"Ini". Seem menyerahkan kanvas itu pada Ara "Bisa lukis aku?". Pinta Seem.
Ara menyambut dengan gembira "Bisa". Ucap Ara "Kakak duduk melihat ke aku". Perintah Ara sambil menata tubuh Seem.
Jari lentik Ara berlarian sangat lincah diatas kanvas itu, sesekali dia melihat fose Seem. Lalu menggambar nya dan memberikan beberapa warna pada kanvas itu.
"Ini Kak, lihat dulu". Ara menyerahkan hasil karyanya.
Seem tercenggang melihat gambar yang dibuat Ara, sangat mirip dengan dirinya. Ya ampun gadis ini benar-benar membuat Seem kagum
"Bagaimana Kak?". Tanya Ara saat melihat Seem hanya diam sambil menatap lukisan nya.
"Its so amazing Ra". Ucap Seem terkagum-kagum "Ini kalau dijual bisa jutaan harganya". Celetuk Seem. Ara terkekeh.
"Aku boleh bawa ini pulang kan?". Ucap Seem menatap Ara.
Ara tertawa pelan "Ya boleh lah Kak, itu untuk Kakak". Balas Ara sambil meletakkan kembali Kanvas.
"Jaga diri baik-baik ya, soalnya besok aku sudah kembali". Ungkas Seem terasa berat berpisah dengan gadis itu.
"Iya Kak, semangat kerjanya". Ara sambil mengepalkan tangannya diudara memberi semangat.
Seem terdiam, gadis disampingnya sangat polos bahkan tak ada raut sedih diwajah nya ketika harus berpisah dengan dirinya.
**Bersambung.......
Kok kayaknya Ara cocok sama Seem ya, dari pada sama Kayhan????
Yuk yang penasaran ikutin terus ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini, author sangat butuh dukungannya.
terima kasih.
Salam hangat....
Kayhan ❤️ Kimara**