
Aku juga mencintaimu. Aku bangga memilikimu. Semoga cinta ini takkan terpisahkan oleh ruang dan waktu.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Bunda". Aldo langsung berlari kearah brangkar Ara.
"Aldo". Tegur Joana.
Semua orang yang berada diruangan itu sontak menoleh kearah pintu masuk. Mereka terkejut melihat Aldo yang berlari menghampiri Ara sambil menangis.
"Bunda, hiksss". Aldo langsung memeluk Ara, bahkan pria kecil itu memaksa untuk naik ke brangkar Ara.
"Ado, kenapa sayang?". Tanya Ara sedikit panik. Aldo tak menjawab dia makin menangis dengan kencang.
"Na, ada apa dengan Aldo?". Cecar Jovan pada adiknya.
Joana menghela nafas "Tadi Aldo mendengar Ara menangis, dia memaksa untuk masuk dan terus menangis. Belum juga aku mengizinkan dia masuk, dia malah sudah turun dari gendonganku dan berlari masuk sambil menangis". Jelas Joanq menatap Aldo yang masih betah menangis sambil memeluk Ara.
Shella benar-benar merasa tidak nyaman dengan sikap Aldo, yang seperti orang dewasa itu.
"Do". Ara memberi kode dengan gellengan tangan supaya tidak menganggu pria kecil itu saat Shella ingin menegur putranya.
"Sayang". Ara melepaskan pelukkan Aldo dan dia menatap wajah pria tampan berbadan kecil itu "Kenapa, hmmmm?". Tanya Ara dengan suara lembutnya.
Aldo masih segugukan sambil menyeka air matanya "Bunda, kenapa menangis? Bunda ada Ado yang sayang Bunda. Bunda jangan menangis". Ucap Aldo yang masih terisak dengan tangisnya.
"Stttttt, Bunda menangis karena bahagia sayang".
"Bahagia? Memang bahagia kenapa Bunda?". Tanya Aldo penasaran tapi dia masih segugukan dan itu sungguh terlihat menggemaskan dimata mereka.
"Sebentar lagi Ado akan punya Dedek".
Aldo bingung "Dedek siapa Bunda? Ado punya Dedek?". Tanyanya polos "Memang Dedek untuk mainan Bunda?". Tanyanya lagi. Yang lain hanya bisa tersenyum. Terkadang sikap Aldo bisa mengundang tawa bagi mereka, meski harus dibuat tercenggang dengan sikapnya yang bisa berubah dewasa dalam sekejap.
"Dedek itu akan jadi adiknya Ado. Dia nanti akan menemani Ado bermain. Tugas Ado adalah menjaganya. Dan Ado harus sayang sama Dedek nya". Jelas Ara dengan senyuman manis.
Aldo mengangguk dan beroh-ria "Memangnya sekalang adik Ado kemana Bunda?". Tanya Aldo lagi.
"Disini". Ara menunjuk perutnya sambil mengelus dengan lembut.
Aldo melihat perut Ara "Kenapa Dedek bayi nya ada disini Bunda?". Aldo menunjuk perut Ara.
Jovan mengelus kepala Aldo "Dedek bayi nya memang tinggal disini sayang. Nanti perut Bunda Ara akan membesar, setelah sembilan bulan baru Dedek bayi nya lahir". Jovan menimpali dan ikut menjelaskan pada pria kecil yang seperti nya dengan antusias nya ingin tahu.
"Kenapa bisa begitu?". Tanya Aldo lagi "Memang nanti kalau lahil sebesal Ado ya?". Tanya Aldo polos.
"Memang Dedek bayi harus tinggal didalam perut dulu sayang. Sama seperti Ado dulu tinggal diperut Mami. Nanti kalau sudah lahir, akan besar seperti Ado". Shella ikut menjelaskan.
Seketiba wajah Aldo berubah muram "Kenapa sayang?". Tanya Jovan heran tiba-tiba melihat wajah Aldo muram.
"Hiks hiks. Kalau Dedek bayi nya lahil pasti Ado tidak disayang lagi".
Mereka semua tersenyum mendengar ucapan Aldo.
"Sayang, Bunda Ara akan tetap sayang sama Ado". Seru Ara lembut
"Ado sayang Bunda Ara". Aldo kembali memeluk Ara. Pria kecil itu tampak bahagia bisa memeluk Bunda Ara nya.
"Sayang Bunda dulu donk".
Aldo menghujani wajah Ara dengan ciuman bertubi-tubi. Ara terkekeh merasa geli saat bibir munggil itu menyentuh kening, wajah, pipi dan hidung.
Yang lain ikut juga tertawa. Shella menggeleng kepala. Sejak Ara hadir dalam hidup mereka, Aldo menjadi pria kecil yang ceria. Sebelumnya, Aldo itu seperti pria tak tersentuh, dia bahkan tak sudi disentuh dan dipeluk orang lain. Bahkan Shella sendiri sebagai Mami Aldo juga harus meminta izinnya jika ingin mencium atau memeluk putranya.
Sifat Aldo memang mengingatkan Ara pada seseorang, tapi Ara lupa dan tidak ingin entah mirip siapa putra kecil Shella itu.
Sejak mengenal Ara, Aldo menjadi pria kecil yang aktif dan ceria. Meski kecerewatan nya masih sama, namun setidaknya berkurang. Aldo juga memiliki tingkah kebersihan yang tinggi, dan juga dia seperti tidak menyukai wanita kecuali, Shella dan Ara. Kadang Aldo suka cemberut atau kesal saat Joana memeluk atau menciumnya. Dia merasa jijik dan geli.
"Ara".
Semua orang menoleh ke pintu masuk.
"Moe". Sahut mereka semua bersamaan.
Van Derg dan Syaneth masuk kedalam ruang rawat Ara. Saat mendengar Ara jatuh pingsan kedua paruh baya itu ikut panik dan meminta supir untuk mengantar mereka ke rumah sayang.
Ara tersenyum "Ara baik-baik saja Moe". Balas Ara dengan senyum menyalimi Syaneth "Vader". Ara juga menyalimi Van Derg.
"Cepat sembuh ya Nak". Vader mengelus kepala Ara
"Oppa, jangan sentuh Bunda Ara ku". Pekik Aldo memeluk lengen Ara. Dia tidak mau turun dari brangkar Ara.
Yang lain terkesiap dan menggeleng "Ado sayang Oppa tidak akan merebut Bunda Ara dari Ado". Van Derg mencubit pipi Aldo dengan gemes.
"Oppa". Pekik Aldo tidak suka "Bunda". Dia merenggek manja, meminta Ara untuk mengelus pipinya. Mereka hanya bisa tertawa.
"Vad, Moe. Ara hamil". Jelas Jovan.
Kedua paruh baya itu terkejut "H-hamil?". Tanya Syaneth tak percaya menatap Ara.
Ara mengangguk "Selamat ya sayang. Akhirnya Tuhan jawab doamu". Syaneth memeluk Ara dengan senyum bahagia.
"Terima kasih Moe". Balas Ara.
Syaneth melepaskan pelukkannya lalu mengarahkan pandangan pada Jovan dan Joana.
Jovan dan Joana menelan ludah, pasti Ibu mereka akan menyindir keduanya yang belum juga menikah padahal umur mereka jauh diatas Ara.
"Hei, kau Jovan. Kapan kau akan menikah dan memberikan Moe cucu?". Sindir Syaneth.
Benar kan? Pikir Jovan dan Joana.
"Jovan belum dapat yang pas Moe". Jovan menjawab dengan memutar bola mata malas.
"Alah, banyak alasan". Cibir Syaneth "Kau juga Na, kapan bawa pacar kerumah? Moe ini sudah tua, kalian mau Moe meninggal tanpa melihat anak kalian". Syaneth beracting sedih.
Joana dan Jovan menghela nafas. Ahh ditanya kapan menikah, calon saja tidak punya.
"Doain saja semoga Joana cepat dapat jodoh Moe". Joana memeluk Ibunya dengan manja.
"Awas saja kalau tidak, Moe akan jodohkan dengan anak rekan bisnis Moe". Ancam Syaneth menatap kedua anaknya tajam.
Jovan jenggah mendengar ucapan Ibunya. Sedangkan Van Derg menahan tawa.
"Sebaiknya kau menikah dengan Roger saja". Celetuk Syaneth.
Roger terkejut, sedangkan Joana salah tingkah. Memang sudah lama, Joana menyukai sahabat Kakak nya.
"Sudahlah Moe, biarkan saja mereka memilih pasangan sendiri". Potong Van Derg.
Mereka saling berbincang satu sama lain. Ketika mendengar Ara mengandung, sikap Syaneth sangat memperdulikan Ara. Dia tak henti-hentinya menasihati Ara supaya menjaga pola makannya.
Begitu juga dengan Aldo, pria kecil itu menempel pada Bunda Ara-nya. Shella bahkan dibuat pusing oleh sikap putranya, karena semenit saja berpisah dengan Ara, pria kecil itu langsung menangis dan merenggek mencari Ara.
Sedangkan Jovan dan Roger di buat kalang kabut karena permintaan Ara yang aneh. Ara yang biasanya mandiri dan tidak suka bermanja-manja, kini berubah seratus persen, gadis itu sangat manja dan baperan. Sensitif dan mudah menangis. Kecerdasan Ara dalam melukis juga semakin menjadi-jadi. Kecerdasan dalam mendesain gambar bangunan tak kalah hebat, Jovan dan Roger saja di geser posisi oleh kemampuan Ara sendiri.
Bersambung.....
Kayhan ❤️ Kimara
Kadang orang suka nanya sama aku. Kenapa sih kamu suka banget nulis? Gak pusing apa! belum tentu juga orang suka sama apa yang kamu tulis, bisa aja orang bosan yang mencela karya kamu.
Aku hanya tersenyum. Aku menulis berdasarkan dengan hobby dan skill yang aku memiliki, masalah orang suka atau mau baca itu udah bukan bagian aku. Tugas aku hanya menyelesaikan apa yang aku mulai.
Trus mereka bilang lagi, sedih gak sih saat tulisan kita gak dapat respon baik dari pembaca?
Kesedihan itu manusiawi! gak ada orang yg gak sedih saat karyanya di tanggapi dengan negatif oleh orang lain.
Tapi kembali lagi, apa sih makna menulis itu buat kamu. Apakah kamu hanya ingin orang tahu kalau kamu bisa nulis? atau kamu pengen ngebagiin cerita kamu ke orang lain.
Aku jawab simple aja. Menulis adalah dunia yg membuatku merasa nyaman, aku menulis bukan ingin orang lain tahu kalau aku bisa menulis. Aku menulis mencurahkan semua perasaan dan imajinasi yang ada di otakku. Ya pasti donk gak semua orang bakal Survive sama tulisan aku but i don't care. Tujuan aku nulis buat menumpahkan apa yang ada di otakku, mau orang terima atau gak itu udah urusan mereka...
Sekian guys.....
Ayo ikuti terus cerita mereka ya. like komen dan Vote nya ya guys sangat dibutuhkan penulis pemula ini.
terima kasih.