
**Kau sangat berarti untukku, apapun akan aku lakukan untuk membuatmu selalu berada disisiku, bahkan jika nyawaku menjadi salah satu taruhannya aku siap mengorbankan nya.
#KayhanMahendraBagaskara**
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kayhan mengandeng tangan istrinya dengan wajah gembira dan juga bahagia. Hari ini mereka berdua, akan menghabiskan waktu bersama, karena kebetulan weekend.
Ara menggeleng melihat tingkah suaminya, siapa sangka pria dingin tak tersentuh seperti Kayhan bisa bucit akut pada istri kecil nya.
"Khusus, hari ini kita akan makan mewah direstourant mahal, tempat langganan aku dulu". Timpal Kayhan.
"Boleh, asal Kakak yang bayarin". Ara mengedipkan mata kearah suaminya.
Kayhan tertawa gemes "Bagaimana kalau uangnya tidak cukup? Paling kita dihukum cuci piring". Celetuk Kayhan.
"Wah, bayangin CEO KMB Group, mencuci piring karena tidak mampu bayar makanan. Pasti viral". Ejek Ara sambil tertawa lepas.
"Ck, bahkan mereka sudah memiralkanku sebelum itu". Kilah Kayhan.
Lalu mereka berdua kembali tertawa. Penghasilan dari galeri lukisan milik Ara, lumayan menjanjikan. Bahkan dalam waktu satu bulan saja omset mereka bisa naik drastis.
Kayhan ingin membeli sebuah mobil, agar bisa mengajak istrinya jalan-jalan kemana saja. Namun, Ara menolak tidak perlu beli mobil jika ingin jalan-jalan, naik taksi saja bisa. Lebih baik yang yang mereka miliki digunakan untuk investasi atau melebarkan usaha mereka
Kayhan dan Ara sampai direstourant mahal, langsung saja Kayhan disambut hangat oleh pemilik restorant. Meski sudah tahu jika Kayhan tak lagi memimpin KMB Group, namun masih banyak yang menghormati Kayhan. Karena pria berpengaruh itu, terlalu sayang untuk dilewatkan.
"Silahkan Tuan, dan Nona". Ujar pemilik restourant "Apa perlu saya pesankan ruang VVIP?". Tawarnya lagi.
"Tidak perlu". Jawab Kayhan, dia menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Terima kasih Bby". Senyum Ara sambil duduk.
Kayhan juga duduk dikursi berhadapan dengan istrinya. Sudah hampir setahun berumah tangga, baru kali ini dia bisa mengajak istrinya makan direstourant mahal.
Mereka menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Pakaian yang dikenakan keduanya, sangat tidak cocok untuk menjadi pengunjung restorant tersebut. Baju yang Kayhan dan Ara pakai, hanyalah baju kalangan bawah.
Tapi baik Kayhan mau pun Ara tidak peduli. Terserah bagaimana orang lain menganggap mereka, toh mereka juga yang menjalani bukan orang lain.
"Silahkan dinikmati Tuan dan Nona". Sang pelayan meletakkan pesanan Ara dan Kayhan.
"Terima kasih". Balas Ara mengambil makanan itu.
"Ayo sayang, aku suapi". Kayhan mengarahkan sendoknya kemulut Ara.
Ara menyambutnya dengan tersenyum. Seperti biasa mereka akan suap-suapan satu sama lain, membuat semua pengunjung direstourant menatap iri kearah pasangan suami istri itu.
"Jangan makan pedas ya sayang". Pesan Kayhan. Ara mengangguk saja dan patuh pada semua perkataan suami nya.
Dinner sederhana itu, terlihat romantis. Kedua pasangan yang tengah dimabuk asmara itu terlihat sangat menikmati. Tak peduli sebesar apa badai yang menghalangi perahu keduanya, mereka terus saja mengayuh perahu nya dengan hati-hati dan penuh perasaan. Meskipun dayung mereka terasa ingin patah, namun keduanya tetap saling berpegang tangan dan bekerja kompak.
Bukan hanya sekali saja mereka diancam oleh Bagaskara, bahkan galeri lukisan Ara yang sedang buming tak lepas dari Bagaskara yang ingin menghancurkan usaha cucunya. Namun, Kayhan tak tinggal diam dia sendiri yang turun tangan agar usaha istrinya tidak gulung tikar. Dan semua itu berhasil, berkat kerja keras Ara yang tak berhenti berkarya dan kegigihan Kayhan untuk terus mempromosikan lukisan sang istri.
Kayhan dan Ara keluar dari restorant. Kayhan tersenyum bahagia karena bisa mengajak istrinya makan ditempat yang mahal dan juga enak. Karena selama ini mereka selalu makan sederhana, dan tak jarang mereka hanya makan sayur tanpa daging.
"Senang?". Tanya Kayhan sambil mengandeng tangan istrinya, mereka menyebrang jalan.
Ara mengangguk dengan senyum manis.
Tiba-tiba mobil datang dari arah kanan tanpa memperhatikan keduanya. Mobil itu berlari dengan kencang
Brughhhhhhhhhh. Brakkkkkkkkkkk
Tubuh Ara terpental ke tepi jalan.
Sedangkan Kayhan terpental ditengah aspal, dengan darah yang mengalir dikepala dan juga bagian lainnya.
"Sayang". Lirih Kayhan samar, sebelum akhirnya hilang kesadaran.
"Awwwwww". Pekik Ara berdiri, merasakan sakit dibagian kakinya.
"Bby". Teriak Ara saat melihat suaminya terpental ditengah aspal.
Segera Ara berlari menghampiri Kayhan yang sudah tak sadarkan diri "Hiksss Bby". Kayhan memangku kepala Kayhan "Bangun Bby". Ara menepuk-nepuk pipi suaminya berulang kali.
"Tolong".
"Tolong".
"Tolong".
Teriak Ara sambil menangis, memeluk suaminya yang sudah bersimpuh darah.
"Apa yang terjadi Nona?". Tanya beberapa pria datang saat mendengar teriakkan Ara.
"Tolong suami saya". Sahut Ara dengan tangis histeris.
"Tuan Kayhan". Ucap semuanya kompak.
"Mari Nona, kita langsung kerumah sakit". Beberapa orang mengangkat Kayhan dan memasukkan nya kedalam mobil salah satu dari mereka.
Didalam mobil Ara terus saja menangis sambil memeluk suaminya "Aku mohon Bby, jangan tinggalkan aku. Aku tidak memiliki siapa-siapa selain kamu. Kamu alasanku untuk kuat. Ku mohon jangan menyerah, kuatlah demi aku". Pekik Ara erat.
Beberapa pemuda yang membawa mereka kerumah sakit, merasa terharu dengan ucapan Ara. Mereka yakin jika pasangan suami istri ini sangat mencintai.
"Kita kerumah sakit mana Nona? Apa kerumah sakit Bagaskara hospital?". Tanya sang supir.
"Rumah sakit lain saja Kak". Sahut Ara masih memeluk Kayhan dengan erat.
Tubuh Ara juga sudah dipenuhi darah. Ini adalah pengorbanan Kayhan yang paling besar dalam hidup Ara. Yaitu rela mengorbankan nyawanya demi sang istri.
Ara menggeleng menghilangkan pikiran buruknya tentang kondisi Kayhan. Ara berharap Kayhan tidak apa-apa. Ara berharap Kayhan-nya akan selalu berada disampingnya untuk selamanya.
"Bangun Bby". Peluk Ara erat.
"Apa masih lama Kak? Bisakah cepat sedikit? Suamiku badannya sudah dingin, aku takut terjadi apa-apa padanya?". Pinta Ara penuh harap, air mata juga mengiringi ucapan nya.
"Maaf Nona, sedang macet. Kita berada dilampu merah". Sahut sang supir, saat mereka berhenti dilampu merah. Malam yang macet dan ditambah banyaknya kendaraan membuat jalan mereka terhambat.
Ara tak henti-hentinya mengucapkan doa dia takut jika Kayhan-nya juga pergi meninggalkannya. Dia takut jika Kayhan hilang dan pergi selamanya.
Jika Kayhan pergi mungkin Ara benar-benar akan gila. Kehadiran Kayhan dalam hidupnya dapat mengobati rasa sakit dan kehilangan kedua orangtua serta adiknya Mey. Ara tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Kayhan, hari-harinya akan muram dan hampa. Kayhan segalanya. Kayhan hidupnya.
Bersambung......
Kayhan ❤️ Kimara